MAJALENGKA YANG KURINDUKAN

Hello, Majalengka apa kabar? Lama aku tak jumpa denganmu. Saat aku terdampar di tanah rantau, aku merindukanmu, merindukan kenangan, dan pastinya aku merindukan orang-orang spesial yang ada di kotamu. Rinduku membuncah tak lagi terbendung hingga buncahannya bancuh karena aku terlalu merindukanmu. Tinggal di kota orang memang tak senyaman tinggal di desa sendiri.

Majalengka, kamu baik-baik saja kan? Saat ramadan tiba, aku ingin sekali Ramadan bersamamu. Menyambut Ramadan di kotamu dan menghabiskan setiap detik yang ku punya bersamamu. Sholat tarawih dengan shaf penuh yang memadati masjid-masjid di kotamu saat Ramadan tiba, dilanjutkan dengan tadarus Al-Quran yang menggemakan langit Majalengka yang disuarakan generasi qur’ani masa depan. Saat tiba waktu sahur, obrog-obrog akan berkeliling kampung membangunkan orang-orang yang hendak sahur, lalu dengan nikmatnya aku sahur dengan menyantap masakan mama yang tlah tersaji di meja makan. Saat ku nantikan waktu imsak, aku bertadarus bersama keluarga hingga adzan subuh berkumandang. Seharian ku jalani ibadah puasaku ditemani desir angin khas kotamu dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Saat sore tiba, aku rindu ngabuburit di kotaku walau sekedar hanya jalan-jalan dan membeli menu takjil. Saat matahari tenggelam dan adzan magrib berkumandang, ku santap menu khas berbuka puasa dengan orang-orang tersayang yang ada di kotamu.
Aku sungguh merindukan momen-momen itu di kotamu, Majalengka.

Saat aku di tanah rantau seperti saat ini, tak kudapatkan momen indah Ramadan seperti bersamamu. Disini aku sendiri, hidup sebatang kara tanpa keluarga dan orang-orang tersayang yang hidup di kotamu. Tak ada masakan Mama yang menjadi santapan lezat saat sahur dan berbuka, tak ada suara obrog-obrog yang membangunkanku sahur, dan pastinya tak ada momen ngabuburit menjelajahi setiap jengkal kotamu. Majalengka, aku rindu. Aku ingin Ramadanku bersamamu.

Cerita Lain: Menjejakkan Kaki Di Tanah Tertinggi Jawa Tengah

Aku rindu dengan jajanan khas kotamu “jalakote” yaitu semacam aci isi yang di goreng dadakan dibumbui dengan rasa pedas yang menggoyang lidahku,tepat setelah pulang teraweh di sisi alun-alun Majalengka.

Rinduku semakin membludak ketika aku lihat teman-temanku mempost kegiatan ngabuburit mereka ditempat-tempat wisata dikotamu, banyak tempat yang indah seperti Panyaweuyan dengan pesona terasering terindah di dunianya, Curug Muara Jaya yang mempesona dan bukit paralayang yang menggoda untuk ber-selfie-ria.

Oh… Majalengka kota anginku ,kota dengan pesona seribu curugnya, saat ini aku rindu, tunggu aku di Lebaran terbaikku.

#ingetkampung

Majalengka

Hendrik Hendriana Asal Kota Majalengka Bekerja di bidang Production House (Sinetron) sebagai editor offline sedang rindu kampung halaman

1 Comment

Leave a Reply