Makan Badulang, Tradisi Makan Ala Orang Belitong

Perjalanan sehabis menikmati matahari tenggelam di Pantai Tanjung Pendam harus berakhir lebih cepat saat tiba-tiba saja hujan turun deras mengguyur kota Tanjung Pandan. Kami pun bergegas menuju penginapan yang letaknya tak jauh dari pusat kota Tanjung Pandan, Pandan Inn, menjadi pilihan kami untuk menginap 2 hari ke depan.

Pandan Inn ini sekilas tidaklah istimewa karena dari tampak luar seperti sebuah ruko berlantai 3 dengan bagian sampingnya dijadikan sebuah mini market dan Rumah Makan Padang, sementara untuk pintu depan penginapan berada persis di samping mini market.

Kamar kami bersama tim dari KitaINA berada di lantai 2. Total ada 2 buah kamar yang kami inapi. Saya, Bastian dan Khoerul berada dalam 1 kamar yang ternyata hanya terdiri dari 2 buah bed, untuk itu butuh 1 ekstra bed yang diletakan di atas lantai.

Selepas bersih-bersih dan sejenak meregangkan kaki setelah seharian berkeliling beberapa bagian Pulau Belitong, kami melanjutkan petualangan kami.

Kali ini kami akan mencicipi hidangan makan malam pada sebuah restoran yang bergaya vintage dan letaknya berada di pusat kota Tanjung Pandan.

Yang lebih istimewa adalah, cara penyajian dan menu yang akan kami makan ini sangatlah khas masyarakat Belitong.

makan badulang, source: twitter garuda indonesia

Makan Badulang adalah salah satu tradisi makan secara bersama-sama di atas sebuah nampan seng bulat. Lauk yang dihidangkan adalah Ayam ketumbar, Sate ikan, Gangan ikan Ketarap, Oseng-oseng ati ampela, lalapan yang dikukus, kuah petis, sambal lumpang atau sereh dan minumnya adalah es jeruk kunci.

belitong timpo duluk

Sebuah rumah tradisional khas Belitong pada era lima puluhan dengan jendela tinggi dan berjumlah banyak serta atap yang terbuat dari seng, telah menyambut kami di malam yang kebetulan hujan rintik-rintik.

Dari kejauhan samar-samar terlihat pengunjung yang memenuhi meja-meja restoran. Yang membuat restoran ini unik adalah penggunaan rumah tinggal yang dijadikan restoran, maka tak heran dari ruang tamu hingga kamar dijadikan tempat bersantap para pengunjung.

suasana di rumah makan belitong timpo duluk

Satu hal yang unik lagi adalah, interior ruangan yang banyak dihiasi oleh barang-barang jadul mulai dari lukisan, caping, alat pertanian dan hiasan unik lainnya. Terkesan sangat ramai dan hangat tentunya.

Malam itu kami tidak bisa langsung memesan meja makan karena harus antre menunggu pengunjung yang sudah selesai makan. Suasana malam itu riuh dan ramai antara orang berbicara, mengunyah hingga suara peralatan makan yang saling beradu satu sama lainnya.

Ketika ada tempat kosong, kami pun langsung menempatinya walaupun sisa hidangan masih menumpuk di atas meja dan beberapa saat kemudian para pelayan langsung sigap membersihkannya. Kebetulan juga kami mendapatkan meja makan di dalam bekas sebuah kamar tidur yang antara satu kamar dengan kamar lainnya diberi jendela terbuka sehingga bisa melihat pengunjung di kamar sebelah.

Tidak butuh waktu lama untuk kemudian sebuah nampan seng berbentuk bulat sudah datang dan tersaji di atas meja. Karena menu yang disajikan dalam satu paket Badulang isinya hampir sama maka tidak butuh waktu lama untuk para pelayan menyajikannya kepada pelanggan.

Nampan seng tadi masih tertutup rapat oleh penutup (saji) dari anyaman bambu dan 1, 2,3 kami pun bersama-sama membukanya.

Peralatan makan yang digunakan mulai dari piring, sendok dan cangkir pun jadul karena beberapa terbuat dari seng bercorak khas peralatan dapur zaman nenek buyut kita dulu.

Ayam yang dimasak mirip rendang dan kuat dengan aroma sereh langsung saya raih dengan pendamping bakso ikan, oseng kacang panjang-ati ampela dan tak lupa urap daun singkong yang sudah dikukus lengkap dengan sambal yang tidak terlalu pedas. Setelah mencicipi langsung masakan khas Belitong, saya langsung jatuh cinta karena rasanya tidak beda jauh dengan masakan Jawa yang cenderung manis dan tidak terlalu kuat aroma rempahnya.

Saat yang lain sengaja makan sedikit karena sudah malam, saya malah sebaliknya. Rasanya sayang jika begitu banyak hidangan tersisa begitu saja dan mubazir (padahal aslinya karena rakus hehehe). Makan badulang ini dulunya merupakan tradisi makan orang Belitong dalam acara-acara adat, pernikahan, hajatan dll. Kini beberapa restoran banyak yang mengadopsi cara makan seperti ini dan menjadi ciri khas Pulau Belitong.

Makan Badulang ini memang cocok jika dimakan secara beramai-ramai karena tentu saja porsinya yang cukup banyak. Saya melirik meja sebelah yang saat itu ada seorang pengunjung yang makan sendirian dan terlihat apa yang dia pesan masih banyak sisa, jadi sayang jika membuang-buang makanan yang super enak ini hehehe.

Selepas makan kami buru-buru pulang karena tidak bisa lama-lama di sini, selain tempatnya yang terbatas dan tentu saja banyak pengunjung yang juga ingin antre ikutan makan juga.  Ada hal unik saat kami makan yaitu, ada seorang pengunjung yang tersedak hingga batuk-batuk cukup lama saat makan dan pengunjung lainnya pun berbisik-bisik mencari sumber suara tadi.

Makan Badulang malam itu, kami tutup dengan berfoto bersama menggunakan topi petani dengan latar belakang lukisan dan hiasa vintage di dinding restoran.

Hujan semakin deras malam itu dan kami bergegas menuju mobil menuju penginapan, sampai jumpa besok pagi. Tujuan kami berikutnya kemana besok? Tunggu kelanjutan ceritanya…

blogger paruh waktu dari Kota Dawet Ayu Banjarnegara

Leave a Reply