Manado Short Trip

Perjalanan singkat ke Manado merupakan rangkaian perjalanan pulang saya dari Sangihe.  Dimulai ketika saya menyeberang dari Pelabuhan Tahuna menuju Pelabuhan Manado, Jum’at 8 Juli 2016. Kapal berlayar pukul 6 sore, dan tiba di pelabuhan Manado pukul 5 pagi, Sabtu 9 Juli 2016. Hari itu sangat cerah. Matahari mulai mengintip untuk terbit. Pelabuhan Manado indah sekali waktu itu.

Pelabuhan Manado waktu subuh
Pelabuhan Manado waktu subuh

Saya dan Nino menunggu saudara yang akan menjemput. Akhirnya, saudara sayapun datang dan menjemput kami untuk diantar ke rumah ma embo Nita di daerah Malalayang, Selama beberapa hari di Manado, kami tinggal disana. Sesampainya dirumah ma embo, kami disambut hangat oleh keluarga di Manado. Makanan khas Manado pun sudah tersaji. Ya. Tinutuan alias bubur Manado beserta sambal roa, dan ikan asin. Nikmat mana yang kau dustakan? 😀

Tinutuan
Tinutuan dan Sambal Roa
This is mine :)
This is mine 🙂

Selesai mandi, kami sarapan bersama, sambil menunggu saudara yang lain datang berkumpul. Akhirnya, saudara-saudara mulai berdatangan dan ikut bersantap tinutuan bersama. Selesai makan, kami bergegas pergi berkeliling kota Manado. Destinasi pertama adalah kawasan Citraland. Kawasan perumahan mewah yang banyak terdapat taman untuk sekedar duduk duduk dan berfoto dengan latar belakang patung Tuhan Yesus Memberkati. Kami berhenti disatu sudut taman pinggir jalan, menata barisan, dan foto bersama 😀

Citraland, Manado
Citraland, Manado
Family photo. Backlight :D
Family photo. Backlight 😀

Patung Tuhan Yesus Memberkati ini konon katanya merupakan patung tertinggi di kawasan Asia, yang tingginya sekitar 30 meter dan lebar 17 meter.

:)
🙂

Kemudian perjalanan berlanjut ke destinasi berikutnya. Kami menuju Puncak Baru Rurukan, di Tomohon, Sulawesi Utara. Cuaca cukup panas siang itu. Sesampainya disana, kami masuk dan membayar kontribusi, sekitar dibawah Rp. 10.000,- .

New Puncak Rurukan. (Under Construction)
New Puncak Rurukan.
(Under Construction)

Tempatnya cukup luas, namun masih ada area-area yang dibangun. Terdapat kebun bunga di sisi kiri, dan disebelah depan nampak pemandangan kota Tomohon. Sangat cantik. Namun sayang, awan hitam tiba-tiba datang menyelimuti langit cerah. Kami bergegas menuju tempat tujuan kami berikutnya.

Terdapat pondok-pondok kecil untuk istirahat.
Terdapat pondok-pondok kecil untuk istirahat.
In frame, Nino. Di kebun bunga.
In frame, Nino. Di kebun bunga.
Sisters :)
Sisters 🙂

Destinasi selanjutnya adalah Bukit Kasih, di desa Kanonang, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Bukit Kasih merupakan bukit belerang. Dan disini terdapat monumen perdamaian berupa tugu di depan area masuk kawasan Bukit Kasih.

Sulawesi Utara terkenal dengan semboyan “Torang Samua Ba’sudara”, yang berarti “Kita semua bersaudara”,semboyan ini menggambarkan keadaan lokasi di Bukit Kasih, yang terdapat banyak rumah ibadah.

Welcome Gate Bukit Kasih
Welcome Gate Bukit Kasih
Tugu Bukit Kasih
Tugu Bukit Kasih
Halo, anak tangga :')
Halo, anak tangga :’)

Dinamakan Bukit Kasih karena di area ini, terdapat lima rumah ibadah yaitu Gereja Katolik, Gereja Kristen, Kuil Budha, Candi Hindu dan Masjid. Itulah mengapa tempat ini dinamakan Bukit Kasih, karena mencerminkan simbol perdamaian antar umat beragama. Untuk menuju tempat-tempat tersebut, kami harus melewati ribuan anak tangga naik.  Untuk mengatasi kelelahan, kami berfoto di beberapa titik perhentian, sambil mengatur nafas 😀

Semangat menaiki anak tangga!
Semangat menaiki anak tangga!
Wefie :)
Wefie 🙂

Sayangnya, kami tidak bisa menaiki anak tangga sampai akhir. Karna waktu itu tiba-tiba hujan deras, kami harus berteduh di aula yang terdapat di perhentian anak tangga. Cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk turun.

Setelah itu, kami pergi mengunjungi saudara kami yang lain, dan kemudian melewati pinggiran Danau Tondano. Karna waktu hampir malam, kami tidak sempat memasuki kawasan danau Tondano. Kami hanya berhenti dipinggiran jalan, dan mendapatkan spot cantik untuk berfoto didekat danau Tondano.

Cantik kan ? :)
Cantik kan ? 🙂
Danau Tondano.
Danau Tondano.

Menjelang malam, kami melanjutkan perjalanan untuk berkunjung kerumah saudara-saudara yang lain. Saat diperjalanan, kami melewati tempat yang masih di daerah Tondano, rumah-rumah seperti rumah orang Belanda, tepat di pinggir jalan. Biasanya jika siang hari ada banyak orang yang berhenti disitu hanya sekedar ingin mengabadikan momen di tempat yang  unik tersebut. Sayangnya, kami tidak berhenti, hanya melewati saja dan saya ambil gambar sebisanya 🙂

bpro0741-01
Beautiful Scenary

 

Ada kolam disamping-samping rumahnya
Ada kolam disamping-samping rumahnya.

Minggu, 10 Juli 2016, adalah hari terakhir saya liburan di Manado. Cukup singkat memang, namun saya bahagia bisa berjumpa dengan saudara-saudara ibu saya yang ada di Manado. Hari Minggu itu kami gunakan untuk pergi ke gereja, kemudian sore harinya kami berkunjung ke makam pa embo Decky, suami dari ma embo Nita, yang kebetulan pada saat itu bertepatan dengan 40 hari kepergian beliau. Kami mengunjungi makam beliau.

Ma embo Nita (baju hitam) dan makam pa embo Decky
Ma embo Nita (baju hitam) dan makam pa embo Decky
Berfoto bersama dengan anak dan istri pa embo.
Berfoto bersama dengan anak, istri dan saudara pa embo.

Selain berkunjung ke makam pa embo, masih di area pemakaman yang sama, kami mengunjungi makam opa dan oma akang, kakak dari opa saya. Makamnya cukup bersih, terawat.

Makam opa dan oma akang
Makam opa dan oma akang
Lokasi Pemakaman
Lokasi Pemakaman

Malam harinya, sebagai pesta perpisahan untuk saya yang akan kembali ke Solo, ma embo Nita membuat Ragey untuk makan malam. Ragey adalah daging babi yang dipotong lalu ditusuk dengan tusukan bambu, lalu dibakar, semacam sate, dibumbui jeruk nipis, garam dan bawang, kemudian dibakar. Biasaya masyarakat Manado membuat Ragey untuk acara Pengucapan.

Ragey, dibakar di atas bara api serabut kelapa .
Ragey, dibakar di atas bara api serabut kelapa .

Senin, 11 Juli 2016 saya terbang pulang ke Solo. Manado, juga Sangihe menyimpan begitu banyak kenangan manis. Suatu saat saya ingin kembali kesana lagi dengan petualangan yang lebih seru lagi, tentu saja saat saya sudah tak lagi sendiri. 🙂

Welcome home..Solo
Welcome home..Solo

 

 

 

 

 

#KitaINA

Menikmati indahnya setiap detail Indonesia adalah mimpi dan cita-cita. Berada ditengah keluarga yang memiliki perbedaan latar belakang budaya, membuat saya mencintai Indonesia lebih dalam.

Leave a Reply