Mandorak oh Mandorak

Post

Setiba kami di Pelabuhan Waikelo pada tanggal 16 Agustus 2016, kami menunggu Willy di pelabuhan karena dia ternyata di perahu kayu satunya, engga seperahu dengan kami dan Angel. Selagi nunggu Willy kami mencari toilet dan ternyata engga ada! Padahal ini udah ngempet pipis selama dari pelabuhan Sape akhirnya kami numpang di  rumah penduduk sekitar pelabuhan. Sekilas tentang Angel dan Willy ini, kami bertemu di Pelabuhan Sape tapi ternyata kami satu bis mulai dari Mandalika, perkenalan kami ini pun secara  tidak sengaja gara-gara ngobrol tentang kapal yang ditunda ke Sumba dan kami pun bersama-sama untuk naik perahu kayu menuju Sumba. Mereka berdua ini sangat sangat baik :”) Willy ini orang asli Sumba Barat, waktu kita masih di Sape kita sempat ngobrol dan memberitahukan kalo kami rencana akan explore Pantai Mandorak dan Danau Weekuri, Willy sempat tanya kami kesana dengan siapa dan kami bilang sendiri dan reaksinya kaget. Dari situ kami diberitahu kalo rawan jalan sendiri tanpa warga lok

al di Sumba Barat, oke ini kami uda ngerti karena sebelum berangkat kami diberitau temen kami yang di Waingapu kalo mau jalan di Sumba Barat ini rawan tapi kami tetep santai aja soalnya dipikiran kami toh paling Cuma rawan begal ato rawan apa? Udh biasa soalnya di Surabaya juga banyak jadi kami fine gitu gataunya ini asli bahaya tapi Willy malah nawarin kami buat nganterin dengan senang hati padahal kenal juga baru dan kami akhirnya bertukaran nomer hp.

Setelah 30 menit akhirnya kapal yang dinaiki oleh Willy sudah didermaga segera kami menghampiri dan buat janji untuk besok pagi, sebelum berpisah Willy dan Angel sempat mengantarkan kami ke tempat penginapan, Willy menawarkan untuk menginap di Hotel Sinar Tambolaka, kami dianter menggunakan mikrolet dari Pelabuhan Waikelo ke penginapannya tapi nih supir mikroletnya rese masa kita berempat kena Rp. 100.000 ? padahal jaraknya Cuma 5 menit sampai, bener-bener deket dan tadi waktu didalem mikrolet aku sempet tanya ke Angel kena berapa dan dia bilang sediain aja uang pecahan, paling ga Rp. 10.000 – Rp. 15.000 tapi gataunya malah kena berapa kali lipat!! jadi mungkin sebaiknya kalian sebelum naik mikrolet ada baiknya buat deal harga dengan sopirnya, jadi ga tertipu gini.

17 Agustus 2016, kami merayakan ulangtahun Indonesia dengan mulai explore Sumba Barat, ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu tapi pagi ini tidak semua berjalan dengan lancar.  Nomer hp Willy gabisa dihubungi, oke mungkin dia masih tidur, akhirnya kami cari sarapan dideket penginapan. Sarapan kali ini juga di warung Jawa nasi kuning tapi ga terlalu mahal. Selesai makan kami menghubungi Willy namun lagi-lagi gabisa, hubungi Angel juga gabisa karena kemarin dia cerita kalo hpnya ketinggalan dikosnya di Mataram (dia kuliah di Mataram) hopelesslah kami, mau gamau akhirnya kami jalan sendiri dengan mengandalkan waze menuju Pantai Mandorak karena petunjuk jalannya masih minim untuk menuju kesana. Segala resiko bahaya didepan, kami hanya bisa berdoa agar diberi keselamatan. Setelah mengendarai motor (kalian bisa sewa motor di Hotelnya, sehari hanya 50k) cukup lama kami berhenti diwarung untuk beli air mineral sekaligus untuk tanya arah,  setelah kami diberitau arah tujuannya kami berpamitan tapi sebelum berpamitan orang yang jaga warung menyarankan agar kami berhati-hati dan tidak mengeluarkan HP, maka kami tidak lagi menggunakan waze dan murni tanya terus dijalan. Waktu kami melewati jalan yang kanan kiri pepohonan, ada beberapa orang yang kumpul dipinggir jalan dan memegang parang, oke fix ini aku udah takut aku udah minta buat balik aja tapi ini udah setengah perjalanan, mau balik jauh lagi dan eman banget yaudah akhirnya kami meneruskan perjalanan ini. Ada sekitar 3 kali kami berhenti dan tanya ke orang yang berpapasan dengan kami dijalan, sampai akhirnya pada warung terakhir kami berhenti dan tanya arah lagi-lagi kami diberitau agar hati-hati ditanya kami ini dari mana dan baru udah pernah keasini atau belum, kami jawab sejujurnya dan mereka merasa kasian kepada kami, yang gatau apa-apa dan dalam bahaya kalo tetep ngelanjutin perjalanan maka dengan baik hati pemilik warung itu memanggil suaminya untuk memberi kami solusi, awalnya beliau mau mangantarkan kami namun ternyata  ada jam kerja nanti sore jadi akhirnya beliau memutuskan untuk yang mengantarkan kami adalah ponakannya yang ternyata seumuran dengan kami. Mereka bilang kalo mau menuju kesana (pantai) harus ada orang lokalnya yang menjaga/tanggungjawab terhadap kami, kami cerita kalo sebenarnya udah ada teman, Willy, namun gabisa dihubungi jadi kami akhirnya memutuskan untuk jalan sendiri, gataunya beneran rawan bahkan penduduk sana sendiri yang bilang dan menyarankan kami harus ditemanin oleh warga lokal dan membantu kami. Namanya Ari, ponakan bapak pemilik warung tadi, kami bertiga akhirnya berangkat menuju Pantai Mandorak. Kami melewati jalan pintas yang mana jalan ini masuk perkampungan, sepi kadang ada orang yang berlalu lalang atau orang yang sedang duduk-duduk di depan rumah, rumahnya masih berbentuk kayu semua ciri khas rumah adat sana. Sepanjang perjalanan kanan kiri kebun yang ditanemi ubi atau jagung atau sekedar tumbuhan liar, jalannya masih tanah jadi hati-hati. Padahal suasannya juga ga terlalu serem-serem banget tapi ya demi keamanan dan keselamatan bersama. Finally! Kami sampai di Pantai Mandorak, sepiiii banget cuma ada kami, pantai disini berbatasan langsung sama laut lepas jadi banyak tebing-tebing tapi ada  yang menarik bahwa Pantai Mandorak ini mempunyai cekungan yang cukup lebar dari belahan dua tebing yang memudahkan air pantai masuk, biasanya para nelayan keluar masuk ke laut dengan perahunya melawati ini. Kami parkir motor di halaman vila milik orang bule (katanya sih aku juga kurang tau) vilanya bagus dan private tapi kami diperbolehkan masuk, sembari berfoto-foto tiba-tiba kami ngelihat orang yang ga asing, ternyata dia Willy!!! Kelihatan dari wajahnya kalo dia seneng ngelihat kami. Kok bisa Willy disini?dia cerita ternyata Willy juga cari kami karena kami ga ngehubungi dia, Willy jauh-jauh dari Kodi (tempat dia tinggal) ke penginapan kami tapi ga ketemu kayanya dia kesana pas kami keluar cari sarapan, berhubung Willy kemarin tanya kami akan pergi kemana aja, dia segera mencari kami awalnya dia cari di Danau Weekuri tapi ga kelihatan kami sampai ditanyain ke orang-orang disana terus langsung dia menuju ke Pantai Mandorak ketemulah kita disini terharu juga ngelihat Willy mencari kita dan yang bikin kaget ternyata Ari dan Willy ini dulunya temen SD wakakakk dunia emang sempit semua bisa terjadi kebetulan gini, akhirnya kami bermain dipantai bersama, melepas penat dan ngobrol-ngobrol santai.

ini nih yang namanya Willy (yang make baju merah dan luarnya kemeja) dan Ari (bajy putih, tanpa lengan)
ini nih yang namanya Willy (yang make baju merah dan luarnya kemeja) dan Ari (bajy putih, tanpa lengan)
hamparan pasir putih yang meninggalkan bekas kaki
hamparan pasir putih yang meninggalkan bekas kaki
diatas tebing Pantai Mandorak
diatas tebing Pantai Mandorak
panasnya pantai tidak menurunkan semngat untuk berfoto-foto
panasnya pantai tidak menurunkan semngat untuk berfoto-foto

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.