Keeksotisan dan Keunikan Maninjau yang Merindu

Kampuang nan jauah di mato
Gunuang sansai bakuliliang
Den takana jo kawan-kawan lamo
Sangkek basuliang-suliang

Lagu Kampuang Nan Jauah di Mato membuatku #ingetkampung halaman. Sebuah kampung yang sangat eksotis dan unik baik dari keindahan alam, kuliner maupun tradisi kesenian.

Adalah Maninjau, sebuah kampung yang terletak di kecamatan Tanjung Raya, kabupaten Agam, Sumatera Barat. Maninjau terletak di tepi sebuah danau seluas 99,5 km² bernama Danau Maninjau. Meskipun sudah lama merantau tapi Maninjau selalu membuatku rindu. Beruntung lebaran tahun ini, rinduku terhadap Maninjau kesampaian. Yap, aku pulang kampung dan menikmati eksotisnya Maninjau.

Untuk menuju Maninjau, aku melewati kota Bukittinggi. Perjalanan dari Bukittinggi ke Maninjau ditempuh sekitar 90 menit. Setelah 60 menit perjalanan, aku melewati kelok 44 yang menantang. Kenapa menantang? Karena kelok 44 memiliki banyak kelok, tikungan patah, jalananpun sempit. Sehingga akan menyulitkan pengemudi saat melewati setiap kelok-keloknya. Tak heran sering terjadi kecelakaan di sana. Sebenarnya pemerintah daerah sudah membuat peraturan untuk meminimalisir kecelakaan. Peraturannya pengemudi dari atas harus berhenti dan mengalah saat akan berpapasan dengan pengemudi dari bawah. Supaya tidak kesulitan melihat kendaraan yang akan berpapasan, setiap pengemudi diharuskan membunyikan klakson saat akan berkelok. Sayangnya tidak semua pengemudi mengetahui peraturan tersebut apalagi pengemudi yang berasal dari luar Maninjau dan Agam. Tak jarang banyak terjadi kesalahpahaman antar pengemudi saat melewati kelok 44.

Meskipun perjalanan kelok 44 itu menantang, tapi aku tidak pernah bosan melewatinya. Karena selama perjalanan, aku menikmati keindahan Danau Maninjau dari ketinggian. Danau Maninjau terlihat seperti cekungan besar diapit perbukitan dengan bentuk yang proposional. Keindahannya seolah-olah memanggil-manggil orang untuk segera memeluk Danau Maninjau.

Maninjau

Satu per satu kelok-kelokpun dilalui hingga sampailah di Pasar Maninjau yang merupakan ujung dari kelok 44. Dari Pasar Maninjau, aku belok kiri ke arah rumah nenekku yang terletak di Bancah. Daerah Bancah searah dengan Museum Buya HAMKA. *Buya HAMKA? Yap, Buya HAMKA yang seorang tokoh agama sekaligus sastrawan kebanggaan Indonesia itu berasal dari Maninjau. Banyak orang yang menyenangi karya-karyanya termasuk aku. Menurutku karya-karyanya fenomenal dan tak pernah basi. Bahkan beberapa karyanya sudah di-filmkan dan menjadi top 10 penonton terbanyak di Indonesia, seperti Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Di bawah Lindungan Ka’bah.

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 10 menit dari Pasar Maninjau, tibalah aku di rumah nenek. Akupun langsung bersantai di teras rumah sambil memandangi hamparan sawah serta burung-burung yang bersuara menentramkan jiwa. Kelelahanku selama perjalanan hilang setelah bersantai di teras rumah.

Selepas lelah hilang, kemudian aku berjalan-jalan di sekitar rumah nenek sambil menghirup udara segar yang menentramkan jiwa. Sesekali aku menemukan penduduk setempat dan saling bertegur sapa. Penduduknya sangat ramah dan tidak individualis. Sebenarnya aku tidak kenal semua penduduk di sekitar rumah nenek. Tapi mereka kenal dengan nenek, ibu dan keluargaku yang lain. Tak heran saat bertemu, mereka menyapaku, menanyakan kabarku, menanyakan kapan aku sampai di kampung dan pertanyaan lainnya yang membuatku akrab dengan mereka. Keramah-tamahan penduduk menjadi salah satu alasanku nyaman di kampung.

Sekitar 200 meter berjalan di sekitar rumah nenek, aku menemukan rumah tua yang dijadikan lokasi syuting film Negeri 5 Menara. Film Negeri 5 Menara yang diadaptasi dari novel best seller karya A.Fuadi pernah sukses dalam perfilman Indonesia. Jujur, saat film Negeri 5 Menara akan ditayangkan, aku sangat excited menyambutnya. Karena film tersebut berlokasi di kampung halamanku. Pastinya aku bangga kampung halamanku masuk layar bioskop.

Setelah puas berjalan-jalan, aku balik ke rumah nenek. Dari rumah nenek, aku pergi ke dapur belakang sambil membuka jendela. Terlihat matahari sudah <200. Akupun pergi ke halaman belakang rumah nenek dan menghampiri bibir Danau Maninjau. Sebelum matahari tenggelam, aku bermain-main dengan ikan nila yang terkurung dalam keramba terapung. Keramba terapung merupakan budidaya ikan nila yang tidak hanya dijadikan sumber makanan sehari-hari tapi juga dijadikan sumber mata penghasilan bagi penduduk dan pengusaha luar daerah. Bahkan hasil ikannya didistribusikan sampai ke luar Sumatera Barat seperti Riau dan Jambi.

Danau Maninjau

Mataharipun makin bergerak ke ufuk Barat. Rona jingganya sangat indah terlihat dari Danau Maninjau. Sungguh pemandangan sunset yang indah dari danau ini dan bahagianya lagi sunset tersebut bisa dilihat dari belakang rumah nenek. Amazing!

Danau Maninjau

Matahari tenggelam dan adzan maghribpun berkumandang yang artinya waktu berbuka puasa telah tiba. Aku balik ke rumah nenek untuk berbuka puasa. Sajian makanan khas Maninjau seperti rinuak si ikan super mini, pensi si kerang mini dan ikan bada seukuran telunjuk terhidang di meja makan. Hasil perikanan danau tersebut diolah nenek dengan apik dan lezat seperti perkedel rinuak, ikan bada goreng dan pensi balado dengan paria. Ondeh mandeh lamak bana rasonyo.

Selesai berbuka puasa dan sholat, aku pergi bersama keluarga melihat malam takbiran. Bisa dibilang malam takbirannya lebih meriah dari tahun baru. Karena ada pertunjukan rakik-rakik yang dimeriahkan hampir seluruh nagari di Maninjau. Rakik-rakik (rakit-rakit) dibuat dari bambu yang dirakit dan dihiasi lampion, lampu obor dan telong (rakik-rakik kecil yang digantung di samping rakik-rakik utama). Sambil mengumandangkan takbir, rakik-rakik dijalankan di sekeliling Danau Maninjau. Sesekali terdengar letusan badia batuang (meriam bambu) dan kembang api yang menggema di selingkaran danau.

Kemeriahan rakik-rakik semakin heboh dengan pertunjukan kesenian tambua tansa. *Tambua merupakan alat musik pukul yang terbuat dari kulit kambing berbentuk tambur. Tansa adalah alat musik gendang kecil yang terbuat dari aluminium berlapis kulit kijang. Lantunan nadanya sangat meriah dan indah sehingga membuat penonton ikut bergoyang atau bertepuk-tepuk tangan. Perpaduan rakik-rakik dan tambua tansa membuat pertunjukan malam takbiran sangat meriah dan membuatku senang disini.

Cerita Lain: Menyapa Wajah Baru Gunung Kelud

Danau Maninjau

Aku bangga dengan kampung halamanku. Menurutku Maninjau sangat layak dikunjungi karena mempunyai keeksotisan dan keunikan yang membuat rindu. Rindu akan pemandangannya yang indah, udaranya sejuk, kulinernya lezat, keseniannya attractive. Berlibur disini membuatku damai, tenang dan tentram. Ah, Maninjau membuatku selalu #ingetkampung.

Rizka. Lecture who love traveling and blogging

Leave a Reply