Manulalu, Si Ayam Jantan di Punggung Bukit

Post

20151031_171908

Dalam bahasa Bajawa, manu berarti ayam dan lalu berarti jantan. Oleh karena itu Manulalu dapat diartikan sebagai ayam jantan. Manulalu terletak di kecamatan Jerebuu, kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Manulalu Panorama

Manulalu merupakan sebuah gardu pandang yang memiliki tinggi 1172 MDPL. Karena ketinggiannya tersebut, kita dapat melihat hamparan lembah Jerebuu. Manulalu terletak di punggung bukit. Sehingga, jika memperhatikan dengan baik-baik, kita dapat melihat kampung adat Bena dari kejauhan yang terlihat sangat kecil. Selain itu, gunung Inerie yang tinggi menjulang pun tampak cantik dipandang mata dilihat dari Manulalu Panorama.

Villa Manulalu

Di samping Manu Lalu Panorama, terdapat dua buah papan dari kayu. Papan diatas bertuliskan MANU LALU Bed & Breakfast sedangkan papan di bawah bertuliskan Coffee & Beer. 

20151031_174327
Plang Villa Manulalu Bed & Breakfast, Coffee & Beer

Papan tersebut diarahkan untuk pengunjung yang hendak berelaksasi di Villa Manulalu yang jaraknya tak jauh dari Manu Lalu Panorama.

Menurut saya, villa ini recommended banget untuk wisatawan yang hendak mencari penginapan yang tenang dan damai.

Villa ini menyuguhkan pemandangan alam yang masih asri dan terkesan mewah. Jajaran pohon cemara mengelilingi halaman penginapan, membuatnya tampak sejuk dipandang.

Mengapa tenang? Mengapa sejuk dipandang? Karena penginapan tersebut terletak jauh dari keramaian kota. Meskipun begitu, penginapan ini memiliki fasilitas yang cukup bagus, termasuk fasilitas antar jemput dari pihak penginapan.

Tahun lalu, tepatnya pada tangal 6 November 2015 untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Manulalu Panorama.  Saya pergi bersama teman saya,Nia, dengan menggunakan motor. Kami memulai perjalanan dari kampung Kolokoa. Perjalanan kami menuju Manulalu Panorama tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu 15 menit saja. Namun, apabila ditempuh dari kota Bajawa, paling tidak membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit menggunakan motor. Dari Bajawa, kita bisa mengikuti jalan Trans Bajawa - Jerebuu. Hingga tiba di sebuah pertigaan dusun Batakengo belok ke kiri (belok kanan ke kampung adat Bena) dan ikuti jalan mendaki. Dari Batakengo menuju Manulalu hanya memerlukan waktu 5 menit dengan motor. Manulalu ada di sebelah kanan jalan.

Kembali pada perjalanan saya dengan Nia, kami tiba di Manulalu Panorama. Pintu masuk seolah menyambut kami, dengan papan yang menggantung diatasnya bertuliskan “MANU LALU PANORAMA”. Papan tersebut tampak cantik karena dikelilingi oleh bunga-bunga yang menjalar diatas papannya.

Setelah memarkir motor yang kami kendarai, saya dan Nia pun segera masuk. Berniat untuk mencari ayam raksasa, seperti yang sering diceritakan orang-orang. Apa mungkin ada ayam raksasa di perbukitan ini?

Hanya perlu membayar Rp. 2.000,- /orang saja untuk dapat memasuki kawasan gardu pandang. Murah sekali kan? Ya, sangat murah untuk harga keindahan alam yang ditawarkan.

20151031_174211
Tiket masuk seharga Rp. 2.000,-/orang.

Kami beruntung karena cuaca dikala itu cukup bersahabat. Tanpa menunggu lama, kami pun segera masuk. Suguhan pertama sungguh luar biasa cantik. Lembah Jerebuu menyapa kami. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, saya dan Nia segera berfoto ria. Sejenak lupa dengan misi mencari ayam raksasa.

20151031_173512
Nia sedang berfoto menghadap lembah Jerebuu.
20151031_172949
Foto berlatar lembah Jerebuu favorit para pengunjung.

Di sisi kanan, gunung Inerie tampak kokoh berdiri. Saya dan Nia pun tak mau membuang kesempatan bagus ini untuk mengambil foto berlatar gunung yang terakhir meletus pada tahun 1970 tersebut. Saya sampai kehabisan gaya karena terlalu banyak berfoto. Tapi tidak apa, justru disitulah keseruannya.

20151031_173114
Foto berlatar gunung Inerie tak kalah gagah.

Hari sudah semakin petang, pencarian ayam raksasa pun dilanjutkan. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkannya. Karena ukurannya yang memang besar, kami tak kesulitan untuk mencarinya. Rupanya, ayam raksasa yang dimaksudkan adalah patung ayam jantan yang berperan sebagai simbol dari Manulalu.

Patung ayam jantan tersebut terletak di luar pagar. Sesegera mungkin saya dan Nia datang mendekat. Benar saja, ayam jantan ini ukurannya tak sama dengan ayam biasa, sangat besar. Namun tak se-raksasa yang saya bayangkan. Kira-kira sama besar dengan badan saya, hehehe...

20151031_172717
Mengabadikan foto dengan patung ayam, simbol Manulalu
20151031_172834
Nia berfoto dengan patung ayam dengan latar lembah Jerebuu.

Karena misi untuk menemukan ayam raksasa sudah dijalankan, dan hari mulai gelap, saya dan Nia memutuskan untuk segera pulang.

20151031_172157
Sebelum pulang menyempatkan diri untuk berfoto bersama di depan pintu masuk.

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.