Mari Jaga Kebersihan Salah Satu Destinasi Wisata di Kendari, Sulawesi Tenggara

Source: www.mtnweekly.com

Saya dan keluarga berkesempatan mengunjungi ibu kota Sulawesi Tenggara pada Juli 2016 lalu. Wah, jujur saja ini pertama kalinya bagi saya mengunjungi tanah Sulawesi walau hanya tiga hari dua malam. Perjalanan kali ini pun disponsori karena kerabat suami saya melangsungkan pernikahannya di salah hotel berbintang di Kendari sana. Maka, dapat dikatakan ya perjalanan kali ini agak mewah. Terima kasih pula jika kamu-kamu masih ingin membaca tulisan ini hingga akhir.

Apakah kamu suka dengan first flight? Jika pertanyaan tersebut ditanyakan kepada saya, saya akan menjawab, “Tidak.” Sayangnya, saya harus (dengan rela) menuju bandara Haluoleo Kendari dengan penerbangan pertama. Saya ingat sekali, sepanjang perjalanan di udara saat itu, yang saya lakukan hanya tidur sambil memangku putri saya tercinta.

Tepat pukul sembilan pagi Waktu Indonesia bagian Tengah, saya dan keluarga telah tiba di bandara Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara. Wah, pagi yang cukup cerah di tanah Sulawesi saat itu. Bandara Haluoleo memang bukan sebuah bandara besar, bahkan bandara Halim Perdanakusuma pun lebih besar dibandingkan bandara yang berada di Kabupaten Konawe Selatan ini. Kemudian, untuk menuju hotel tempat kami akan menginap, kami pun memanggil taksi untuk mengantar kami ke tempat tujuan.

Source: www.busbandara.com

Di dalam taksi, saya dapat melihat keadaan perumahan dan jalan raya di ibu kota Sulawesi Tenggara ini. Jarang terlihat gedung-gedung pencakar langit seperti di Jakarta, saya juga sangat yakin arah dari bandara menuju hotel itu lurus saja layaknya air yang mengalir. Tiga pulu menit kemudian, saya dan keluarga pun telah tiba di sebuah hotel bintang empat di kota Kendari. Ternyata, hotel-hotel berbintang juga telah mudah ditemukan di kota satu ini. Sambil menunggu waktu masuk kamar, saya pun menikmati saja segelas minuman hangat di lobi hotel. Oh iya, saat itu musim hujan tengah melanda kota Kendari.

Malamnya, kami menikmati makan malam di sebuah restoran khas makanan Sulawesi. Saya menikmati sop ikan pallumara. Percayalah, kamu akan langsung ketagihan dengan makanan khas Sulawesi satu ini. Rasa asam dan pedasnya beserta ikan bandeng yang empuk sangat menyegarkan di mulut. Paginya di hotel, untuk pertama kalinya saya dapat merasakan makanan khas dari Kendari, yakni Sinonggi. Makanan satu ini terbuat dari sagu. Sangat kenyal di mulut, tetapi enak juga dan pas untuk sarapan bagi kamu yang anti-mainstream.

Source: www.suarakendari.com

Malamnya saya dan keluarga pun harus menghadiri pernikahan kerabat suami saya yang diadakan di hotel yang sama. Pesta tersebut berlangsung meriah yang dihadiri banyak tamu. Seusai pesta, saya pun langsung beristirahat karena esok adalah hari terakhir kami di Kendari. Karena jadwal penerbangan kami ke Jakarta pukul tujuh malam, maka kami pun dibawa berjalan-jalan selama beberapa jam oleh sopir hotel yang kami sewa untuk menjadi guide. Selain membeli buah tangan di sebuah toko khusus, kemudian di dalam mobil kami pun berbincang-bincang mengenai pariwisata di Kendari.

“Iya, ‘Bu, kebanyakan turis ke Wakatobi kalau di Kendari. Dari sini harus naik pesawat lagi,” katanya kepada kami.

“Terus di sini pantai yang banyak dikunjungi tapi gak jauh-jauh amat di mana?” tanya saya.

“Ada, ‘Bu. Pantai Toronipa. Tapi ada lagi yang lebih bagus, Pulau Bokori. Harus nyebrang dulu naik kapal nelayan.”

“Wah, ke Toronipa aja, Pak. Takut kemalaman nanti,” ujar suami saya, yang menghitung waktu dan risiko jika kami ke Pulau Bokori.

Akhirnya kami pun menuju Pantai Toronipa. Empat puluh menit kemudian (tanpa macet) kami pun tiba di salah satu destinasi wisata di kota Kendari ini. Kami ditinggal beberapa jam untuk menikmati tempat wisata satu ini.

Bukannya menikmati, saya malah sedih melihat keadaan Pantai Toronipa ini. Pasirnya yang putih harus menampung berbagai macam sampah, pondokannya yang kotor, dan warung-warung sekitar yang sepi. Apakah ini karena hari kerja sehingga sepi pengunjung? batin saya. Hujan pun turun (lagi) di kota Kendari ini. Saya dan keluarga pun harus berteduh di warung terdekat.

Sambil menunggu mobil hotel yang datang menjemput kami kembali, saya pun tetap memandangi pantai yang dijadikan destinasi wisata ini. Sedih rasanya, apakah sesulit itu membuang sampah pada tempatnya? Apakah sulit menjaga kebersihan di sekitar tempat destinasi yang dikunjungi? Maka, maaf tidak ada foto yang indah untuk destinasi yang saya kunjungi saat itu.

Kelak, jika saya berkesempatan mengunjungi Kendari dan ke Pantai Toronipa kembali, pantai ini dapat lebih baik dan lebih indah dari terakhir kali saya mengingatnya. Yuk, jangan rusak dan kotori destinasi wisata, alam yang diberikan kepada-Nya untuk Indonesia yang dapat kita nikmati dengan bijak.

Educating the mind without educating the heart is no education at all.

Leave a Reply