Megahnya Puncak Gunung Marapi di Sumatera Barat

marapi

“It is not the mountain we conquer, but ourselves.” – Edmund Hillary

Kata Sir Edmund Hillary sih gini, “Bukan Gunung yang harus kita taklukan, Tapi diri kita sendiri”.  Yap! bener banget kata si mbahnya pendakian gunung ini. Beliau adalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di puncak gunung tertinggi di dunia, puncak Everest di Himalaya pada 29 Mei 1953. Quotes nya yang ini emang paling terkenal terutama di kalangan para pendaki di seluruh dunia. Makna yang sangat dalam dari kalimat singkat ini. Bukan gunung yang harus kita taklukkan, tapi diri kita sendiri. Saya pun ketika mendaki, jika mengingat kalimat ini jadi semakin bersemangat. Memang perihal pendakian, jika kita bisa menaklukan ego diri sendiri dan tetap berusaha, rasa optimis akan selalu menemani pendakian saya.

Salah satu gunung yang pernah saya daki adalah Gunung Marapi di Sumatera Barat. Orang-orang sering sekali salah arti jika saya menyebutkan gunung ini, kebanyakan menganggap Marapi sama dengan Merapi. No! It’s totally different!! Gunung Marapi adalah sebuah gunung berapi aktif dan terletak di Provinsi Sumatera Barat, sedangkan Merapi terletak di Provinsi Jawa Tengah. Memang secara sekilas, puncaknya terlihat cukup mirip, makanya saya sebut Marapi dan Merapi si Kembar yang terpisah. 😀

Pendakian ke Gunung Marapi merupakan salah satu yang terbaik dan tak akan terlupakan. Gunung Marapi adalah Gunung Pertama yang saya daki di Pulau Sumatera. Ternyata, kegiatan pendakian di Sumatera belum seramai di Pulau Jawa. Kebanyakan gunung-gunung di sumatera masih sepi pendakian, apalagi dihari non-weekend. Kebetulan saya melakukan pendakian ke Gunung Marapi pada saat hari kerja, memang tujuannya agar tidak terlau ramai dan pendakian jadi lebih terasa menenangkan.

Perjalanan saya dimulai dari Jakarta, menumpangi pesawat terbang menuju Kota Padang, perjalanan sekitar satu setengah jam. Sesampainya di bandara kota padang, saya langsung di hampiri beberapa orang yang menawarkan jasa travel. Berdasarkan pengalaman teman saya yang orang Padang, saya disuruh menaiki Damri karena supir travel di Bandara Padang suka menaikkan harga jika kita tidak memesan travel ke agen terlebih dahulu. Setelah menemukan pull damri ke arah kota Padang, saya naik dan membayar tiket sebesar Rp 22.000. Tujuan saya sebenarna bukanlah kota Padang, melainkan Kota Payakumbuh, tak jauh dari Bukittinggi. Di Payakumbuh, saya sudah di tunggu seorang teman lama yang akan menemani saya mendaki Gunung Marapi. Dari kota padang saya menuju Kota Payakumbuh dengan mobil sejenis minibus. Ongkosnya cukup murah, sekitar Rp. 25.000 dengan waktu tempuh 4 jam. Sampai di Payakumbuh, Saya langsung dijemput seorang teman, namanya Ucup dan langsung mengajak saya kerumahnya untuk makan malam dan beristirahat.

Keesokan paginya, tepat pukul 6 pagi perjalanan saya dimulai, menggunakan motor CB tua yang sudah di modif, Saya dan ucup meluncur menuju arah kota Bukittinggi, tempat pos pendakian Gunung Marapi dimulai. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 1 jam. Sesampainya di pos pendakian, kami langsung mendaftarkan diri dan membayar simaksi sebesar Rp. 10.000 per orang dan Rp. 20.000 untuk penitipan motor. Karena hari itu hari senin, jadi tak terlalu banyak pendaki yang melakukan pendakian.

Perjalanan dimulai, diawali dengan track jalan berbatu menuju pintu rimba, sekitar 30 menit perjalanan melewati perkebunan berbagai macam sayuran, akhirnya kami memasuki pintu rimba.  Track awal belum terlalu berat, hanya beberapa tanjakan dengan akar akar kayu besar. Ciri khas hutan rimba sumatera langsung terasa disini, lembab dan dipenuhi pohon-pohon besar. Jalur pendakian relatif jelas dan tidak banyak persimpangan.

Setelah sekitar 6 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di sebuah pos menjelang cadas. Rencana kami akan bermalam disini dan summit sekitar pukul 5 pagi. Karena persediaan air tinggal sedikit, saya memutuskan untuk mengambil air di sumber air tak jauh dari cadas. Berhubung sedang musim panas, tak banyak air yang tersisa di sumber air, hanya beberapa genangan air di sela-sela lembah cadas. Setelah mendirikan tenda dan memasak makan malam, akhirnya saya terlelap.

Rencana awal mau summit jam 5 pagi ternyata tak terlaksana, tak satupun diantara kami yang terbangun pagi itu. Saya bangun sekitar jam 9 pagi, sedangkan Ucup terbangun jam satu jam lebih cepat dari Saya, yasudah, tak dapat sunrise pun tak apa, kami memutuskan untuk summit pada jam 10. Setelah memasak dan menyiapkan keperluan summit, Saya dan Ucup mulai berjalan menuju Puncak Gunung Marapi, hanya ada beberapa pendaki yang kemi temui karena sudah cukup siang. Perjalanan sekitar 2 jam menuju puncak. Cuaca sangat cerah, tapi tetap harus hati-hati karena cuaca di puncak gunung kadang tak menentu.

Jam  12 siang akhirnya saya menginjakkan kaki di Puncak Marapi. Luar Biasa ! Itu yang pertama kali terlintas di pikiran saya, puncak gunung yang sangat luas dan luar biasa indah. Kawah besar menganga tepat di depan mata, Tepat di belakang saya, membentang Samudera diatas awan yang mempesona.

DSC_0819
Puncak Marapi di ketinggian 2930 meter di atas permukaan laut (Photo by me)

Hamparan bebatuan hasil dari aktivitas vulkanik gunung Marapi yang masih aktif sampai sekarang membentang dengan sangat menawan di uncak gunung yang sangat luas ini.

marapi indonesia
Tak lupa, bendera kebanggaan yang selalu saya bawa setiap mendai gunung. Sebuah identitas diri sebagai Bangsa Indonesia

Setelah puas menikmati puncak tertinggi gunung Marapi di ketinggian 2930 mdpl. Kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Edelweis yan letaknya berada di sisi lain dari puncak Merpati, atau puncak tertinggi gunung Marapi. Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam untuk menuju ke Taman Edelweis dengan track yang cukup ekstrim.

DSC_0861
Track menuju Taman Edelweis, langit yang cerah berpadu dengan bendera sakral merah putih menemani perjalanan kami

 

taman edelweis puncak marapi
Taman Edelweis di punca Marapi.

Taman ini dihiasi dengan ribuan batang bunga edelweis yang melegenda akan keabadiannya. Tapi ingat, bunga ini tida boleh dipetik ya buat para pendaki yang ingin mendaki Marapi. Jika kedapatan memetik bunga ini oleh petugas BKSDA, akan dikenakan sanksi yang tegas.

puncak marapi
Menikmati sajian samudera diatas awan Puncak Marapi

Perjalanan mendaki gunung Marapi di Sumatera Barat mengajarkan saya banyak hal, bersyukur telah bisa melihat kebesaran Sang Pencipta, sungguh megah semesta yang diciptakan-Nya. Dengan terus berjalan menikmati setiap jengkal keindahan semesta, Saya menjadi terus belajar untuk selalu bersyukur akan keadaan apapun, sungguh hidup ini indah bila bersyukur, Kawan.

Salam Pejalan! @baratdaya_

Follow instagram : @baratdaya_ ~ Seorang Pejalan amatir yang tidak tahan untuk tidak menjelajahi setiap jengkal sisi baik dari negeri ini.

Leave a Reply