Melihat Lebih Dekat Upacara Rambu Solo’ di Toraja

“Makale !! Makale !!”, suara kenek bus malam yang saya naiki membangunkan saya yang tertidur pulas. Ahh rupanya saya sudah sampai di Makale, 15 menit lagi sampai di Rantepao kota tujuan saya dalam perjalanan kali ini. “Akhirnya Toraja” gumam saya dalam hati. Rantepao merupakan ibu kota Toraja Utara, dari sinilah perjalanan saya di Tana Toraja dimulai.

Perjalanan ini saya lakukan sendiri pada bulan Desember. Bukan tanpa alasan, setiap bulan Desember di Toraja dikenal dengan sebutan Lovely Toraja. Karena pada bulan Desember banyak keluarga yang pulang ke Toraja untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Oleh karena itu, akan banyak pula upacara-upacara adat besar yang akan diselenggarakan, salah satunya adalah Rambu Solo’, upacara adat yang menjadi incaran saya sejak dulu.

Welcome To Lovely Toraja 2015 (diambil dari dalam bus)
Welcome To Lovely Toraja 2015 (diambil dari dalam bus)

Untuk dapat menemukan upacara-upacara tersebut, kita harus masuk ke dalam kampung-kampung. Beruntungnya, selama di Toraja, saya akan tinggal bersama warga asli disana dan saya memanggilnya Kak Nona. Kerabat Kak Nona sedang mengadakan upacara Rambu Solo’ tepatnya di daerah Sangalla. Sehingga nantinya saya tidak akan susah mencari venue upacaranya.

Berhubung saya datang terlalu pagi, saya sempatkan dulu jalan-jalan keliling kampung sambil menunggu upacara Rambu Solo dimulai. Sejauh mata memandang tongkonan (rumah adat Toraja) dimana-mana, berpadu dengan perbukitan karst yang mengelilingi dan kabut tipis menyelimuti tanda waktu masih terlalu pagi.

Perbukitan karst
Perbukitan Karst Diselimuti Kabutimg_3840n
Tongkonan Warga
Tongkonan Warga
Heaven...
Heaven…
Venue Untuk Rambu Solo'
Venue Untuk Rambu Solo’
Deretan Tanduk Kerbau
Deretan Tanduk Kerbau

Saya pun menyempatkan duduk di salah satu tongkonan sambil melihat orang-orang mempersiapkan upacara Rambu Solo’ sambil sesekali ngobrol dengan warga sekitar. Rambu Solo’ adalah upacara kematian (pemakaman) warga Toraja dengan tujuan untuk menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh. Upacara Rambu Solo’ disebut sebagai upacara penyempurnaan kematian. Jika ada keluarga yang meninggal dan belum dibuatkan Rambu Solo’ maka belum dianggap mati, hanya dianggap sakit saja. Sehingga akan tetap diperlakukan seperti orang hidup, diberi makan dan minum. Oleh karena itu, upacara Rambu Solo’ merupakan upacara yang sangat penting bagi warga Toraja. Kerbau yang digunakan pun jumlahnya sangat banyak. Rambu Solo’ yang saya datangi kali ini menggunakan 35 kerbau hitam, dan ada 1 kerbau belang yang disebut dengan tedong bonga. Satu ekor kerbau hitam biasa mencapai harga 30 juta, sedangkan satu ekor tedong bonga bisa dihargai hingga seharga satu mobil sport. Baiklah, saya pun hanya bisa menelan ludah mendengarkan penjelasan itu sambil membayangkan betapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan untuk menyelenggarakan upacara ini. Bahkan menurut mereka, jumlah 30 ekor kerbau masih dianggap normal, ada yang sampai menggunakan ratusan ekor itu baru bisa dikatakan “banyak”. Dan nantinya tanduk-tanduk kerbau tersebut dipajang di depan tongkonan. Sehingga rasanya tidak heran kalau ada ungkapan “Orang Toraja mengumpulkan uang banyak untuk mati”. Merupakan suatu kehormatan bagi diri saya bisa menyaksikan upacara adat yang terbilang langka ini karena hanya diselenggarakan pada waktu tertentu .Upacara Rambu Solo’ memang menjadi incaran para turis yang berkunjung ke Toraja. Sesekali saya melihat bule di antara kerumunan orang-orang.

Tongkonan Leluhur
Tongkonan Leluhur

Di sana saya melihat ada 2 tongkonan leluhur yang dikeramatkan bagi warga sekitar. Melihat dari susunan tanduk kerbau yang banyak terpajang di depan rumahnya, saya yakin pasti tongkonan ini sudah menjadi saksi banyak upacara adat. Dan di atasnya dipajang tengkorak-tengkorak manusia, yang katanya kita jangan menghitung jumlahnya walaupun dalam hati, dan jangan bergumam tentang tengkorak itu. Karena warga sekitar percaya jika kita membicarakan tengkorak tersebut kita akan menjadi sakit dan lebih buruknya bisa meninggal. Benar atau tidak, lebih baik jangan dilakukan, hormati kepercayaan warga setempat.

Kerbau Toraja
Kerbau Toraja
Kerbau Dimana-Mana
Kerbau Dimana-Mana
Kerbau Toraja Dari Dekat
Kerbau Toraja Dari Dekat

Puas melihat kerbau Toraja mondar-mandir, saya pun kembali ke rumah Kak Nona untuk menuju rumah duka, karena upacara Rambu Solo’ akan dimulai. Rangkaian upacara dimulai dari rumah duka, kemudian jenazah akan dibawa menuju venue utama puncak acara upacara Rambu Solo’. Dari rumah almarhum, kami harus berjalan kaki sambil mengarak jenazah menuju lokasi puncak acara. Waktu itu jaraknya tidak terlalu jauh, hanya saja kontur perbukitan Toraja yang naik turun memang membuat nafas sedikit tersengal-sengal, terkadang baru dapat 5 langkah saja para pengusung tongkonan jenazah berhenti karena kelelahan. Seru sekali suasananya, terkadang mereka berteriak mengeluarkan yel-yel untuk saling menyemangati. Pada saat proses mengarak ini, kerbau berada di barisan terdepan untuk “mengantar” jenazah.

Para penari sedang bersiap-siap
Para penari sedang bersiap-siap
Persiapan
Persiapan
img_3905
Jenazah siap dibawa, emas pada peti merupakan emas asli
Lautan manusia mengantar jenazah
Lautan manusia mengantar jenazah

img_3914

img_3920

Sesampainya di lokasi utama, kami semua dibagikan air mineral gelas. Tidak peduli pengisi acara atau hanya wisatawan yang ingin melihat, kami semua diberi air minum. Bahkan ada satu tongkonan yang berisi berkardus-kardus air mineral, kalau haus silakan langsung ambil saja. Warga di Toraja ini sudah sangat terbuka dengan kehadiran wisatawan yang ingin melihat upacara Rambu Solo’.

Venue sesaat sebelum tongkonan jenazah masuk
Venue sesaat sebelum tongkonan jenazah masuk
Tedong Bonga, kerbau belang seharga mobil sport
Tedong Bonga, kerbau belang seharga mobil sport

Kemudian saya mendengar ada suara-suara tanda bahwa tongkonan jenazah akan segera memasuki lapangan. Diawali dengan tarian petarung, tongkonan jenazah pun masuk ke dalam lapangan.

rambu-solo

Tongkonan jenazah mulai masuk
Tongkonan jenazah mulai masuk

img_3937

Setelah tongkonan jenazah memasuki lapangan, prosesi selanjutnya adalah memasukkan jenazah ke dalam rumah tongkonan tempat jenazah dibaringkan selama acara berlanjut. Pada saat proses ini, semua orang berebut ingin mengambil gambar, tak terkecuali saya.

Prosesi memasukkan jenazah ke dalam tongkonan
Prosesi memasukkan jenazah ke dalam tongkonan

Setelah jenazah dimasukkan ke dalam rumah tongkonan, pembawa acara pun mempersilakan para tamu untuk beristirahat dahulu sebelum rangkaian upacara lainnya dimulai. Sayangnya, saya hanya bisa menyaksikan rangkaian upacara Rambu Solo hanya sampai di sini saja karena singkatnya waktu yang saya miliki di Toraja. Malamnya saya harus kembali ke Makassar untuk melanjutkan perjalanan. Jika ingin melihat seluruh rangkaian upacara Rambu Solo’, setidaknya kita harus meluangkan waktu 3 hari. Bahkan kata Kak Nona, upacara Rambu Solo’ kali ini diprediksi sampai 7 hari karena yang meninggal merupakan orang yang terpandang. Niat saya untuk melihat Ma’Pasilaga Tedong (adu kerbau) sore hari sebelum kembali ke Makassar pun batal karena hujan deras, maka acara adu kerbau diundur keesokan harinya. Sayang sekali.

Bonus pict : truk kerbau terjebak lumpur akibat hujan deras
Bonus pict : truk kerbau terjebak lumpur akibat hujan deras

Walaupun hanya bisa menyaksikan upacara Rambu Solo’ secara singkat, namun saya sangat bersyukur bisa melihat lebih dekat kebudayaan khas dari Toraja. Ini merupakan sebuah keberuntungan karena upacara tersebut terbilang cukup “langka”. Sejujurnya, 12 jam di Toraja itu waktu yang sangat singkat. Jika ada waktu, tentunya saya akan lebih lama tinggal di Toraja. Sampai jumpa lagi, Toraja !

Note :

  • Bus malam rute Makassar – Toraja (begitupun sebaliknya) berangkat pada pukul 20.00, beberapa PO ada yang berangkat pukul 22.00. Sedikit tips, jika tidak ada waktu menginap di Toraja, langsung pesan tiket balik ke Makassar sesampainya di Toraja. Bus Makassar – Toraja berhenti di 2 kota yaitu Makale dan Rantepao, saran saya berhenti saja di Rantepao. Walaupun jarak 2 kota tidak terlalu jauh, tapi fasilitas untuk wisatawan lebih banyak di Rantepao.
  • Lama perjalanan Makassar – Toraja kurang lebih 8 jam
  • Akses menuju objek-objek wisata di Toraja sangat mudah, papan penanda jalan banyak ditemui.
  • Untuk dapat melihat upacara adat di Toraja, usahakan berangkat pada bulan Desember terutama mendekati Natal. Kesempatan untuk dapat melihat upacara lebih besar dibanding bulan-bulan lain.
  • Bulan Desember merupakan high season, banyak orang yang mudik ke Toraja. Usahakan pesan tiket jauh-jauh hari.
  • Tunggu apa lagi ? Ayo ke Toraja !

Terobsesi mengelilingi Indonesia dan melihat seluruh festival di setiap daerah di Indonesia. Author of http://laksmindirajournal.blogspot.com

Leave a Reply