Melihat Proses Pembuatan Patung Dewi Kwan In Terbesar di Pulau Belitong

Mobil yang kami tumpangi terus melaju melewati jalanan Belitong yang lebar namun sepi kendaraan. Tujuan kami bersama Tim KitaINA adalah mengunjungi Vihara terbesar di Pulau Belitong yaitu Vihara Dewi Kwan In yang berada di atas puncak bukit, Desa Burong Mandi, Damar, Belitong Timur.

Sebuah gerbang khas negeri Tirai Bambu dengan dominan warna merah yang mencolok, menyambut kami sore itu. Lokasi parkir menuju Vihara ini terbilang cukup luas bahkan untuk ukuran bis.

Bangunan berundak-undak dengan warna hijau, merah, kuning menyambut kami dengan tenang. Terlihat bangunan-bangunan di sini sampai ke puncak bukit dengan puluhan anak tangga yang tersebar dan menghubungkan satu bangunan dengan bangunan lainnya.

Di atas puncak bukit ini, berdiri anggun sosok Dewi Kebajikan dan Welas  Asih, Dewi Kwan In yang tengah berdiri di atas teratai raksasa dengan tangan kirinya sedang memegang vas dalam keadaan hendak menyiram serta tangan kanannya membentuk simbol berkat.

Rasa lelah karena masih berusaha beradaptasi dengan cuaca Belitong membuat langkah saya harus butuh tenaga ekstra untuk satu persatu menghabiskan anak tangga yang berakhir di puncak bukit.

Suasana begitu tenang, damai, khusyuk. Sesekali aroma dupa menyeruak terbawa hembusan angin. Lantunan doa dalam bahasa mandarin mengalun dari speaker yang terpasang di masing-masing pavilion. Hanya ada dua orang perempuan yang tengah saling mencari kutu di rambut masing-masing saat saya hendak masuk ke pelataran salah satu pavilion dengan lampion merah yang banyak tergantung pada langit-langit bangunan ini. Keduanya bergegas pergi menuju tempat lain yang dirasa lebih  nyaman saat saya hendak masuk.

Semakin naik ke atas, akan terlihat sosok sang Dewi. Anak tangga kini berubah menjadi lebih lebar mirip di kota  terlarangnya Tiongkok sana namun masih dalam proses pembangunan yang tinggal tiga puluh persen lagi.

Saat di sini, banyak berlalu lalang para pekerja yang dari logatnya kemungkinan berasal dari Banyumas Raya, saya dapat mengetahuinya dari logat ngapak-nya yang begitu khas. Saya pun memberanikan diri menyapa mereka. Dari perbincangan singkat saya, mereka sudah setahunan ini merantau dari Purbalingga ke Belitong sini. Satu yang membuat mereka kaget adalah saat saya memperkenalkan diri juga kalau sama berasal dari Banjarnegara yang mana masih berbicara ngapak. Ahh rasanya senang bisa ketemu orang yang berasal dari daerah yang hampir sama.

Semakin mendekat, sosok sang Dewi terlihat makin mempesona, apalagi dilihat dari jarak yang lebih dekat. Dari sinilah, pengunjung bisa menyaksikan langsung hamparan Pantai Burong Mandi di bawah sana dengan ombaknya yang begitu tenang.

Satu persatu dari kami turun dan kembali lagi ke tempat parkir. Di lokasi parkir masih ada rombongan tamu dari Jawa Timur yang cukup ramai ditambah lagi, anjing-anjing di sekitar vihara ini langsung keluar berhamburan menanti lemparan roti-roti yang sengaja diberikan oleh rombongan tadi. Saya menyaksikan dengan antusias saat tangan seorang bapak-bapak dikerubutin anjing-anjing yang bernafsu ingin meraih roti-roti tadi.

Langit Desa Burong Mandi mulai meredup, kami bergegas masuk mobil kembali dan perjalanan berikutnya adalah menikmati keheningan Pantai Burong Mandi.

blogger paruh waktu dari Kota Dawet Ayu Banjarnegara

1 Comment

Leave a Reply