Memori Nan Hijau

Terlahir di Pulau Bali 25 tahun silam, menjadikan diri ini sebagai penganut Hindu. Namun apapun agama yang melekat sejak terlahir dari rahim ibu bukanlah suatu masalah yang perlu diperdebatkan.

Kini 2017, Pulau Bali makin dikenal oleh wisatawan mancanegara. Namun, tidak berarti para wisatawan mancanegara tersebut tidak akan berpindah ke lain hati. Hari ke hari, jumlah wisatawan yang memalingkan hati dari Pulau Bali semakin bertambah.

Benarkah?

Walaupun dalam tulisan ini tidak tercantum angka pasti ataupun data statistik, hal tersebut adalah benar adanya.

Wisatawan mancanegara merasa senang datang ke Bali untuk berlibur terutamanya dikarenakan oleh faktor keramahan warga lokal serta keindahan alamnya yang masih alami bukan dikarenakan oleh keindahan yang diciptakan oleh faktor modernisasi.

Kemana Bali yang dulu? Yang menawarkan keindahan alamnya?

Satu wilayah di Bali, ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, kabupaten ini dikenal sebagai daerah lumbung padinya Bali, yakni Kabupaten Tabanan. Terlahir di Bali bukan berarti saya telah menjamah tiap jengkal pulau Bali. Ayah saya merupakan kelahiran Denpasar sedangkan (Alm) ibu kelahiran Tabanan, tepatnya Br. Kedampal, Desa Mangesta. Hanya dua daerah ini saja yang saya ketahui secara jelas, selebihnya hanya mendengar dari cerita-cerita yang berterbangan.

Tiap libur sekolah, kami sekeluarga pasti menghabiskan waktu untuk tinggal di kampung halaman ibu, suasana sangat sejuk, asri, dan hamparan sawah nan hijau menyejukkan mata. Selain hamparan sawah, kami juga menikmati kolam dan pancuran air panas (air panas belulang) yang berjarak tempuh 15 menit dengan kendaraan roda dua dari rumah ibu. Bagaimana tidak, kolam dan pancuran air panas ketika itu berasa seperti penyelamat jiwa bagi ku dan adikku, karena dapat menghapus suasana dingin ketika itu.

Ya itulah kenangan masa kecil yang membekas di memori ingatanku hingga sekarang #ingetkampung.

Namun seiring waktu hamparan sawah nan hijau yang sering kami jumpai ketika perjalanan pulang mulai hilang satu persatu. Terlintas di kepalaku, apakah julukan lumbung padi bali masih melekat pada kabupaten ini?

Alam Desa Wisata Jatiluwih

Satu jam perjalanan ke utara dari rumah ibu, kita dapat menjumpai satu desa wisata yang menawarkan keindahan sawah nan hijau yang dilengkapi dengan jalur tracking bagi para pengunjung yang ingin menikmati indahnya alam dengan cara berjalan kaki ataupun bersepeda.

Namun, apakah keindahan suatu tempat baru dapat terjaga ketika sebutan desa wisata melekat pada daerah itu?

Terkadang miris mendengarnya. Namun, ini mungkin disebabkan oleh tuntutan jaman yang tiap harinya makin melonjak tinggi.

Leave a Reply