Menapak Bumi Bugis, Sulawesi Selatan


Only those who will risk going too far can possibly find out how far one can go. T.S. Eliot

 

Rumusan tentang Uang, Waktu dan Tenaga sepertinya cocok untuk mengawali naskah ini. Pemuda biasanya memiliki waktu dan tenaga, namun tidak memiliki uang. Orang dewasa biasanya memiliki uang dan tenaga,tetapi tidak memiliki waktu. Orang tua biasanya memiliki uang dan waktu, namun tidak memiliki tenaga. Hal ini cukup menggelitik pikiran mengingat saya sendiri bingung sudah masuk kategori yang mana.

 

Bagi saya, traveling mengajarkan banyak hal diantaranya adalah tentang perencanaan, mengatur waktu perjalanan agar tidak mengganggu aktivitas lainnya, menyisihkan uang untuk mendanai hobi berpetualang, serta softskill lainnya dan pastinya menghasilkan segudang cerita yang bisa diceritakan ke anak cucu kelak.

 

Latar belakang saya adalah seorang pegawai BUMN, yang pada kesempatan kali ini mendapatkan amanah tugas dinas keluar kota sekaligus sebuah keberuntungan untuk dapat menjejakkan kaki didaerah yang sama sekali baru untuk saya. Ya, Sulawesi Selatan. Tanah para pelaut gagah penakluk samudera yang terkenal seantero dunia. Ajuan form cuti serta deretan list destinasi menemani saya dikabin pesawat menuju Kota Makassar.

Setiba di bandara Sultan Hassanuddin Makassar, saya langsung disuguhi dengan gemerlap kehidupan kota gerbang timur yang memiliki semboyan “Sombere”  yang kurang lebih artinya adalah suka mengobrol, terbuka, dan bergaul dengan masyarakat siapa pun. Disini saya menghabiskan dua hari untuk merasakan atmosfer kota sekaligus menjalankan rutinitas pekerjaan dinas saya.

img_0994

Melangkah kearah utara menuju destinasi wisata budaya selanjutnya yang terkenal dengan tradisi kematiannya yang kental, Tana Toraja. Butuh waktu kurang lebih 7-8 jam dari Kota Makassar untuk mencapai Tana Toraja yang berhawa sejuk khas daerah dataran tinggi. Kita disuguhkan pemandangan dataran tinggi yang dikelilingi dinding karst dengan ciri lansekap yang menjulang tinggi cenderung vertikal curam dengan vegetasi yang rimbun, ditambah panorama persawahan subur dengan mata air yang segar khas daerah dataran tinggi.

img_4003

Saya seakan memasuki necropolis alias kota kematian karena memang adat budaya setempat sangat menghormati dan mensakralkan tradisi kematian. Terdapat serangkaian upacara adat hingga pengorbanan kerbau dalam pelaksanaan acara tersebut. Sekedar info saja, bentuk pengorbanan dalam tradisi ini bisa mencapai ratusan juta rupiah sekali gelaran. Lokasi yang menjadi icon untuk wilayah ini adalah Kete`kesu, berupa kompleks makam dengan beberapa tebing tebing karst yang dibentuk sedemikian rupa untuk menyimpan jenazah leluhur, tak lupa deretan rumah adat yang biasa disebut tongkonan.
img_3533

Bergerak kearah selatan kembali mendekati Kota Makassar, tak lupa saya menjajal medan karst yang tak kalah indah didaerah pesisir pantai barat daya provinsi yang terkenal sebagai lumbung padi timur ini, Kabupaten Maros, menyimpan berbagai keindahan eksotisme tropis yang mungkin sulit kita temukan didaerah lain di Indonesia. Sebut saja Air Terjun Bantimurung, yang berlokasi di Bantimurung National Park, merupakan habibat asli dari berbagai jenis kupu kupu mulai dari jenis yang mungkin kita sering temui hingga yang hanya biasa kita lihat di ensiklopedia. Lansekap berupa ceruk lembah sempit gunung karst yang dialiri aliran sungai diantara gua gua karst, menciptakan suatu atmosfer tropis yang sangat khas, lengkap dengan beragam jenis spesies fauna didalamnya. Air terjun Bantimurung itu sendiri merupakan destinasi wisata favorit masyarakat Makassar untuk menghilangkan penat sekaligus rekreasi air keluarga, hal ini tercermin dari dukungan pemerintah untuk membangun fasilitas hiburan keluarga untuk kebutuhan water sport di areal ini.

CAMERA

Selain Bantimurung, juga terdapat destinasi yang tak kalah menarik yaitu Rammang-rammang. Masih dengan ciri khas kabupaten ini berupa bentang alam perbukitan karst namun mayoritas berada didaerah perairan payau dan berupa rawa. Terdapat Stone Garden berupa hamparan batu batu yang terbentuk secara alami bak ukiran seni membentang dan menjadi gerbang awal dari destinasi ini. Kita disuguhkan dengan wisata mangrove dengan melintasi habitat rawa penuh dengan vegetasi palma pantai, dan diujung perjalan, kita akan disuguhi dengan hamparan sawah ditengah lembah karst, mirip seperti Hidden Village pada film “The Beach”. Disarankan untuk mengunjungi destinasi ini setelah tengah hari namun tidak menjelang senja.

rammang

Destinasi terakhir diprovinsi yang terkenal dengan para pelaut gagah berani ini tak lain tak bukan adalah dengan mengunjungi kawasan pembuatan kapal laut yang sudah terkenal hingga didunia barat, yaitu Kapal Phinisi. Destinasi ini mengharuskan saya bergerak menuju tenggara melewati beberapa kabupaten diantaranya kabupaten Jeneponto, yang terkenal dengan kulinernya yang tergolong tidak biasa. Kalau di Makassar kita mengenal beberapa kuliner seperti Palumara dan Coto, di Jeneponto kita akan menemukan sesuatu yang menarik. Coto Kuda Jeneponto, Ya, Kuda, Untuk pertama kalinya saya menjajal kuliner unik ini di kabupaten dengan mayoritas panorama yang disuguhkan adalah hamparan sawah nan subur serta pertanian garam disepanjang jalur tenggara menuju Bira, Kawasan penghasil perahu legendaris, Phinisi.

 

Sampai di Bira, kita akan menemukan hamparan pantai berpasir putih dengan crystal clear water dengan dominasi warna hijau-biru toska, tidak kalah cantiknya dengan destinasi wisata pantai seperti dipantai selatan Bali. Ditambah dengan terdapatnya pulau pulau kecil penyokong wisata di Bira yang menyuguhkan keanekaragaman biota laut serta biota buatan seperti penangkaran penyu di salah satu pulaunya bernama pulau lioekang loe.

img_1029

Perjalanan saya akhiri dengan kembali ke Kota Makassar, dengan sentuhan terakhir lezatnya pisang epe diseputaran pantai Losari.

 

Kita boleh saja merencanakan kehidupanmu sebaik mungkin. Untuk bisa duduk di pekerjaan impian dengan kebebasan finasial dan kebebasan waktu tuk melakukan hobi khususnya traveling, Kita sudah bekerja keras untuk bisa masuk. Tapi ketika harus menghadapi kenyataan, mungkin pekerjaan impian tidak dengan serta merta berada di tangan. Itulah kejutan hidup yang bisa saja dihadapi oleh setiap orang. Seperti yang saya alami, tidak mungkin ada “waktu” untuk melakukan kegiatan traveling. Tapi dengan sedikit perencanaan, dipadu dengan sedikit keberuntungan, maka bukan hal yang mustahil untuk dapat melakukan hal ini. Semoga pengalaman yang saya alami ini bisa menjadi bahan sharing, bahwasanya rumusan uang, waktu dan tenaga, tidak sepenuhnya benar tatkala kita bisa mensiasati beberapa kondisi. Niat yang kuat akan menemukan jalannya. Work has to be fun, ain`t it?

 

Semoga bermanfaat

 

cheers!

 

to travel is to educate

Leave a Reply