Menapaki Eksotisme Bali Aga di Desa Tenganan

Desa Tenganan Manggis Karangasem pic

Desa Tenganan Manggis Karangasem (Sumber: dokumen pribadi)

Pulau Bali nan eksotis selalu menjadi tujuan wisata yang menggiurkan. Baik wisatawan domestik maupun mancanegara memberikan banyak predikat terhadap pulau Bali. Dari pulau Dewata hingga Paradise of Island. Namun, yang terpenting adalah keindahan pulau Bali telah menyihir banyak pasang mata untuk datang mengunjunginya.
Apa yang dimiliki pulau Bali bukanlah seperti pulau-pulau lainnya di Indonesia. Bahan tambang atau hasil perut bumi tidak ada sama sekali. Namun, yang dijual di Bali adalah eksotisme alam dan adat dan budaya yang terjaga hingga kini. Bukanlah gedung-gedung bertingkat atau keberadaan puluhan mall yang memenuhi pulau Bali. Tetapi, Bali hanya menjual keramahtamahan dan kearifan lokal yang memberikan decak kagum para traveller.
Kita memahami bahwa banyak tempat wisata menarik di pulau Bali. Dari wisata pantai hingga kawasan pegunungan. Namun, dari ratusan hingga ribuan tempat wisata, pulau Bali masih mempunyai heritage (peninggalan) sejarah Bali tempo dulu. Perlu diketahui bahwa masyarakat Bali secara garis besar terdiri dari 2 golongan besar penduduknya yaitu : 1) Bali Aga (Bali asli); dan 2) Bali pasca Majapahit.
Hal yang paling menarik adalah ketika kita berkunjung ke peninggalan Bali Aga. Lantas, apa yang dimaksud dengan Bali Aga itu? Bali Aga adalah desa yang masih mempertahankan pola hidup yang tata masyarakatnya mengacu pada aturan tradisional adat desa yang diwariskan nenek moyang mereka seperti bentuk dan besar bangunan, serta pekarangan dan pengaturan letak bangunan dan letak pura (Wikipedia). Sebagi informasi bahwa Bali Aga di Bali terdapat di 3 (tiga) desa yaitu: 1) Desa Trunyan Kintamani Kabupaten Bangli; 2) Desa Sembiran Tejakula Kabupaten Buleleng; dan 3) Desa Tenganan Manggis Karangasem.
Saya pun dibuat penasaran tentang seluk-beluk satu di antara 3 Bali Aga di atas. Oleh karena itu, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Desa Tenganan. Jarak Desa Tenganan dengan jarak pusat Kota Denpasar kurang lebih 60 km. Sedangkan, jika ditempuh langsung dari bandara internasional Ngurah Rai berjarak kurang lebih 70 km. Alat transportasi yang bisa kita gunakan dengan sepeda motor atau mobil pribadi.
Desa Tenganan terletak sebelum kawasan wisata pantai Candidasa. Dari jalan raya yang menuju pantai Candidasa, kita berbelok ke arah kiri kurang lebih 7 kilo meter kita akan sampai ke Desa Tenganan. Desa Tenganan tersebut terletak di Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem. Letaknya pun agak terpencil dan dikelilingi perbukitan.

tenganan

Papan nama kantor Perbekel Tenganan (Sumber: dokumen pribadi)

Untuk masuk ke kawasan desa Tenganan, kita bisa melalui pos pintu masuk yang berada dekat dengan tempat parkir. Pengunjung tidak ditarik biaya karcis tetapi bisa memberikan sumbangan sukarela. Kita biasanya akan melihat berbagai pengumuman desa tentang agenda yang sedang dan akan berlangsung.

Banyak hal yang menarik yang bisa kita petik dari keberadaan desa Tenganan. Saat kita memasuki kawasan desa Tenganan, pemandangan eksotis tempo dulu benar-benar membawa kita ke masa silam. Apa yang membuat eksotis desa Tenganan? Meskipun perkembangan jaman tidak terbendung lagi, di mana banyak dibangun hotel-hotel mewah atau villa-villa, namun desa Tenganan tidak tergiur sama sekali tentang kemajuan tersebut.
Keadaan asli yang ada sejak dulu tetap dipertahankan. Hal ini dikarenakan warga benar-benar patuh dan tunduk terhadap adat yang beredar di masyarakat. Peraturan tersebut menurut awig-awig (peraturan desa adat) yang dianut sejak sejak abad 11 dan dirubah sejak tahun 1842. Sebuah perjalanan panjang peraturan tersebut tetap eksis hingga kini.
Peraturan lain yang wajib dipatuhi oleh warga desa Tenganan adalah adanya perkawinan antar sesama warga desa Tenganan. Mungkin, pertauran ini bertujuan untuk menjaga trah (garis keturunan) tetap terjaga dan tidak bercampur dengan darah warga di luar desa Tenganan. Selanjutnya, dalam melakukan kegiatan perekonomian, warga desa Tenganan juga masih terbawa sistem tempo dulu. Oleh sebab itu, penghasilan warga pun tidak tetap karena masih berlakunya sistem barter bahan pokok atau barang.
Bukti fisik terjaganya awig-awig adalah terdapat 3 balai desa yang warnanya mulai kusam dan masih tetap dipertahankan serta rumah adat berderet yang bentuknya hampir sama. Permukaan Balai desa yang kondisinya lebih tinggi dari permukaan lainnya menarik perhatian saya. Saya pribadi menganggap bahwa tingginya permukaan Balai Desa menunjukan bahwa warga tempo dulu benar-benar menganggap hasil musyawarah merupakan hal yang wajib dijunjung tinggi. Keputusan bersama adalah segalanya. Itulah yang menyebabkan awig-awig masih melekat kuat hingga sekarang.

 

tenganan-3

Pose di depan salah satu Balai Desa (Sumber: dokumen pribadi)

Selain Balai Desa, pandangan saya juga tertuju pada deretan rumah-rumah penduduk yang masih alami yang terbuat dari bahan bata merah yang mulai kusam. Terdapat juga bangunan yang berdindingkan kayu dan beratapkan ijuk dan warnanya mulai pudar memberikan pemandangan yang membawa kita ke masa silam. Bangunan yang beratapkan ijuk tersebut benar-benar masih dipertahankan hingga kini. Bahkan, hewan piaraan seperti kerbau dibiarkan bebas untuk mencari makanan. Benar-benar sebuah kearifan lokal yang tetap dipertahankan oleh warga.

tenganan-4

Bangunan berdinding kayu dan atap ijuk (Sumber: dokumen pribadi)

Jika kita berkunjung ke desa Tenganan, banyak produk yang ditawarkan sebagai oleh-oleh wisata seperti anyaman bambu, ukir-ukiran, lukisan mini pada daun lontar yang sudah dibakar. Bahkan, kerajinan lontar bisa kita temui di sepanjang pinggir Balai Desa. Kita bisa memilih sesuai dengan selera.

tenganan-5

Kerajinan lukisan mini pada lontar (Sumber: dokumen pribadi)

tenganan-6

Kerjinan lukisan mini pada lontar banyak terdapat di sepanjang bangunan Balai Desa (Sumber: dokumen pribadi)

Namun, dari berbagai pernik-pernik wisata yang ada di desa Tenganan justru hasil kerajinan “Kain Pegringsingan” yang terkenal dan melegenda. Kain yang merupakan buatan tangan dengan sistem “dobel ikat” dan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan hanya ada satu-satunya di Bali bahkan di dunia. Meskipun, kain dengan sistem satu ikat juga ditawarkan di sini. Namun, system dobel ikat merupakan oleh-oleh kerajinan yang paling banyak diburu oleh wisatawan.

tenganan-7

Pernik-pernik wisata yang ditawarkan seperti kain Pegringsingan di desa Tenganan (Sumber; dokumen pribadi)

Terakhir, kurang sempurna rasanya jika berkunjung ke desa Tenganan tidak menyaksikan agenda tahunan yang berupa Mageret Pandan (perang pandan) atau Mekare-kare. Acara yang dihelat setiap sasih kelima (bulan kelima) menurut kalender desa Tenganan biasanya jatuh pada setiap bulan Juli. Acara tersebut berisi tentang perang antar pemuda untuk saling melukai dengan pohon pandan yang berduri ke tubuh bagian belakang lawannya. Sedangkan, acara tersebut diadakan di salah satu Balai Desa.
Perang pandan merupakan adat yang harus dipatuhi oleh warga desa Tenganan untuk menghormati Dewa Indra (Dewa Perang). Konon, akan terjadi musibah atau pageblug jika acara tersebut tidak diadakan. Bukan hanya itu, perang pandan juga sejatinya untuk membentuk jiwa pemimpin di kalangan warga. Karena, tempo dulu untuk memilih pemimpin desa adalah dengan cara melakukan perang pandan tersebut.
Yang menarik adalah luka-luka yang dialami oleh peserta perang pandan tersebut akan hilang dengan sendirinya beberapa hari. Hal ini dikarenakan warga sudah menyediakan obat herbal yang terbuat dari ramuan campuran cuka, kunyit-kunyitan dan bahan herbal lainnya. Obat tersebut telah dibuat panitia acara sehari sebelum acara perang pandan dimulai.

perang pandan di bali aga photo

Perang Pandan (Mageret Pandan) atau Mekare-kare (Sumber; Tribun Bali)

Yang membuat saya kagum adalah desa Tenganan tidak tergoda dengan pesatnya kemajuan jaman. Menjaga tradisi adalah lebih penting sesuai dengan awig-awig yang ada. Biarlah kemajuan jaman mengalir dengan derasnya, namun kearifan lokal desa Tenganan yang mencerminkan Bali Aga tetap terjaga hingga sekarang.
Ya, menapaki eksotisme desa Tenganan telah membawa saya ke dunia lain. Dunia yang sunyi, sepi dan alami. Dunia yang mencerminkan Bali asli yang sesungguhnya. Dan, itu masih ada … di dekat kita. Mari ceritakan Indonesia yang sesungguhnya!

Blogger, Reviewer dan suka travelling.

Leave a Reply