Mencecap Dieng Lewat Kehangatan Rasa

Siapa yang tak kenal Dataran tinggi Dieng. Berpemandangan hijau yang elok, punya matahari terbit indah layaknya telur ceplok, sekaligus hawa dingin menohok. Semua yang pernah kesana pasti merasa rindu bisa kembali menjejakkan kaki di rumah para dewa itu.

Saya pun demikian. Alih-alih rindu merasakan pemandangannya, saya justru rindu citarasa lokal yang pernah saya nikmati selama disana. Memang ada yang khas? Oh, jelas. Dan ini salah sekiannya.

 

Tempe Mendoan

Ketika kamu pergi ke Dieng menggunakan kereta, biasanya kamu akan singgah di daerah Purwokerto. Sebuah daerah yang menjadi surganya tempe mendoan, hohoho. Pastikan sebelum atau sesudah ke Dieng, kamu mampir ke salah satu toko oleh-oleh yang menjual mendoan. Dijamin rasanya bikin kamu ketagihan dan susah melupakan. Sensasi gurih tepung mendoan dengan tempenya yang tipis-tipis kempos itu bikin makannya nggak cukup satu. Apalagi kalau dicocol saus kecapnya pas lagi hangat-hangatnya. Hm…nikmat Tuhan manakah yang bisa engkau dustakan?

img_20160515_152415_hdr-2
Pembeli dipersilakan memilih sendiri tempe yang sudah dijual per paket. Baru kemudian akan digorengkan bila diinginkan untuk segera dimakan.
img_20160515_152400_hdr
Aromanya menggoda iman…

Teh Tambi

Dieng yang dingin akan terasa nyaman disandingkan dengan yang hangat. Semisal disambi minum teh seperti Teh Tambi ini. Apa sih Teh Tambi itu? Sebenarnya dia adalah teh dari olahan daun teh hitam dengan tingkatan mutu pecco souchon. Dengan kategori ini, olahan teh akan berbentuk tebal, kasar, dan potongan daunnya cenderung pendek.

Nama Tambi diambil dari nama perusahaan pemroduksinya yakni PT.Tambi.  Juga sekaligus merupakan nama desa penghasil teh di kaki Dieng yang berbatasan dengan Wonosobo dan Temanggung.

Rasa teh ini cukup lembut. Wangi teh yang khas tanpa campuran lain (seperti melati atau rasa-rasa lainnya) memberi kesegaran tersendiri buat teh yang satu ini. Warnanya juga berbeda dari teh kebanyakan. Sedikit lebih merah daripada coklat seperti yang sering kita lihat sebagai warna teh.

Nikmati teh Tambi di dalam poci. Hmmm nikmaatt...
Nikmati teh Tambi di dalam poci. Hmmm nikmaatt…

Mie Ongklok

Duh, yang satu ini saingan terberatnya tempe mendoan. Enaknya parah. Kuahnya itu legit. Cenderung manis daripada gurih yang mungkin muncul dari dominansi gula jawa terhadap ebi. Tekstur kuahnya juga nggak cair. Melainkan kental, meski tidak sekental papeda akibat adanya campuran kanji. Tekstur mie juga gepeng-gepeng. Seperti kwetiau hanya tidak begitu lebar. Tambahan sate sapi yang juga manis, melengkapi santapan Mie Ongklok yang masih panas jadi pas. Makin sedap kalau si kuah tadi disiram bumbu kacang dan taburan merica.

Ongklok sendiri tenyata berasal dari nama keranjang bambu yang digunakan saat merebus mie. Lewat ongklok tersebut, mie dan sayur akan dicelup-celupkan ke dalam air mendidih. Mirip dengan cara mamang mie ayam mengolah mie-nya bukan? Nah, kalau di daerah sekitaran Dieng, istilah memasak seperti itu namanya di-ongklok. Maka jadilah sebutan itu sebagai identitas sebuah sajian khas mereka.

img_20160514_152517_hdr
Semangkuk mie ongklok lengkap dengan sate sapi

Carica

Carica ini mungkin harusnya punya nama lain yang lebih lokal dan spesifik ya. Mengingat julukan carica merujuk pada genus tanaman ini yang juga masih satu saudara dengan pepaya (Carica papaya). Persaudaraan ini makin jelas bukan hanya dari nama genus yang sama, tapi juga dari bentuk (morfologi) buah dan tanaman yang mirip antara carica dan pepaya.

Di Dieng, carica memang menjadi produk oleh-oleh unggulan yang dibanggakan. Dari yang sudah diolah sebagai manisan dengan beragam pengemasan, hingga yang masih berwujud buah, banyak dijajakan. Nggak susah menemukan pedagang carica disana.

Kami sekeluarga sebagai penggemar manisan carica, sempat juga juga tergoda mencicipi carica yang masih buah. Apakah seenak manisannya? Rasanya jauh berbeda. Carica buah memang sama-sama berbau manis seperti manisannya. Tapi rasanya jauh dari itu. Justru cenderung hambar. Daging buahnya juga cenderung oranye atau kuning bening seperti isi blewah. Bijinya sih tetap sebanyak pepaya. Hanya saja ukuran buahnya kecil. Mungkin sebesar kepalan tangan orang dewasa.

img_20160515_094929_hdr-2
Yang berwarna kuning di tengah adalah bentuk dari buah carica. Semetara yang sudah dikemas plastik disampingnya, adalah buah carica dalam olahan manisan.

Kentang

Pengen jalan ke Dieng tapi bikin kamu yang diet karbo khawatir? Nggak perlu. Kan Dieng surganya kentang yang dikenal rendah kalori dan gula itu. Liburan kamu bakal tetap mengenyangkan dan menenangkan kok sekalipun mengunyah karbo.

Saking banyaknya kebun kentang di Dieng, kita bisa menemukan banyak olahan kentang disini. Semisal yang biasa dijadikan oleh-oleh sebagai keripik kentang beragam rasa, sampai yang langsung dibumbui dan digoreng di pinggir jalan panas-panas. Hmmm lezatnya manis-manis pedas!

img_20160515_063834_hdr
Seorang ibu pedagang kentang. Nikmat disantap hangat-hangat.
img-20160516-wa0013
Wujud kentang yang sudah dibumbui. Rasanya manis gurih sedikit pedas.

Purwaceng

Minuman hangat ini saingan kehangatan yang ditawarkan teh Tambi. Ia diambil dari tumbuhan herbal bernama Pimpinella pruatjan. Dikenal secara turun-temurun kalau ia juga punya khasiat sebagai afrodisiak! Uwow. Pas saya beli ini dari toko oleh-oleh, jelas saya nggak ngeh sama khasiatnya. Lantas apakah warga mengonsumsinya karena khasiat utamanya itu? Jawabannya tidak juga.

Purwaceng jarang dinikmati dalam bentuk orisinalnya karena rasanya yang pedas seperti jahe. Sehingga, ia sering ditambahkan pada kopi atau susu supaya lebih nikmat. Di toko oleh-oleh, biasanya sudah dikemas sachet sehingga mempermudah mengonsumsinya.

Akibat rasa pedasnya tersebut, purwaceng juga disebut memilliki khasiat mengusir masuk angin, menghangatkan tubuh, dan menghilangkan pegal-pegal. Itulah kenapa, ia banyak dikonsumsi sebagai minuman sehari-hari disana.

img_20161031_121315
Kemasan purwaceng untuk oleh-oleh

Nah, kurang lebih itu tadi segelintir olahan dari tanah Dieng yang bikin rindu dicecap. Selain mereka, masih ada pula hasilan khas tanah Dieng seperti kacang koro dan jamur. Jangan lupa mencoba semuanya saat kesana ya, teman sejalan! Selamat liburan! 🙂

Senang bercerita dan menikmati kota. Memotret dan menulis adalah upaya yang dilakukannya demi menggabungkan keduanya.

Leave a Reply