Mendaki Semeru, Perjalanan Menuju Atap Pulau Jawa

Gunung Semeru

Siapa yang tidak ingin menapakkan kaki di puncak Mahameru, Gunung Semeru yang sering disebut juga sebagai atap Pulau Jawa. Semua pendaki pasti memimpikannya, bahkan ada yang telah mendakinya hingga beberapa kali. 100-1382Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut (3676 m dpl) dapat diakses melalui Desa Ranu Pane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Untuk menuju ke sana pendaki bisa ke kota Malang terlebih dahulu, kemudian menuju ke Tumpang dan selanjutnya menuju titik pendakian yakni desa Ranu Pane. Gunung ini selalu ramai oleh para pendaki terlebih jika hari libur panjang. Tim kami melakukan perjalanan ke Gunung Semeru pada tanggal 9-12 Mei 2013.

Sebelum cerita tentang pendakian, aku ceritakan dulu persiapan sebelum pendakian.

Sebuah email dikirim oleh Bang Jeffry, teman kantor yang juga teman mendaki gunung. Kami tergabung dalam Telkom Hiking Community (THC) dan sudah beberapa kali mendaki bareng. Jika pada pendakian sebelumnya dikoordinir langsung oleh Bang Jeff (demikian aku biasa memanggilnya), kali ini dia memintaku untuk menjadi koordinator karena Bang Jeff baru saja pindah lokasi kerja, dari Bandung ke Jakarta.

Segera aku publish rencana pendakian ke Gunung Semeru, sekaligus pendaftaran pesertanya. Semua informasi dan komunikasi aku lakukan via email dan sesekali via HP, maklum saat itu HP yang kumiliki masih HP jadul, tidak bisa dipakai untuk Facebook-an, WhatsApp, Twitter, Line, Path atau BBM. Sesekali jika perlu, paling via SMS atau telepon langsung. Di akhir batas waktu pendaftaran, terkumpul 14 peserta yang pasti ikut, berasal dari lima kota yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Wonosobo dan Malang. Dari 14 peserta pendakian, hanya 4 peserta saja berusia di bawah 25 tahun, 10 peserta lagi dengan usia 35 tahun ke atas.

Saat pendaftaran peserta ini sebenarnya Gunung Semeru masih ditutup untuk pendakian, namun biasanya bulan Mei sudah dibuka kembali. Untuk memastikannya, aku rajin menelepon ke Kantor Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS), menanyakan kapan Gunung Semeru dibuka untuk pendakian. Setelah ditutup beberapa bulan, akhirnya Gunung Semeru kembali dibuka untuk pendakian pada tanggal 25 April 2013, yang berarti saat pendakian kami nanti Gunung Semeru sudah dibuka.

Sebelum hari-H, aku harus memastikan bahwa semua peserta telah memiliki tiket PP, setelah sebelumnya rutin aku informasikan ketersediaan tiket day by day (utamanya tiket kereta api), agar tidak ada yang peserta yang kehabisan tiket; maklum pendakian nanti bertepatan long week end alias libur panjang karena ada tanggal ‘kejepit’. Sebagian besar peserta naik kereta api namun ada juga yang naik bus dan pesawat. Akhirnya meeting point ditentukan di Stasiun Malang pukul 09.00 WIB.

Untuk pendakian ke Gunung Semeru, setiap peserta wajib membawa Fotocopy KTP dua rangkap dan Surat Keterangan berbadan sehat dari Puskesmas/ Dokter Klinik Umum. Sebenarnya untuk Surat Dokter ini bisa saja dibuat di Puskesmas Tumpang, namun takutnya antrian di sana panjang. Biaya pendaftaran pada saat itu per orang untuk saat ini untuk wisatawan nusantara Rp 17.500 (hari biasa) dan Rp 22.500 (hari libur). Bagi yang membutuhkan porter pribadi, biaya ditanggung masing-masing peserta (kini per hari sekitar 200 ribu). Untuk jeep, kami menyewa tiga buah jeep tertutup yang sudah di booking jauh hari sebelumnya. Peserta dibagi menjadi 3 regu, per regu berisi antara 4-5 orang. Tiket transportasi ditanggung masing-masing, perlengkapan dan logistik menjadi tanggung jawab per regu dan dikoordinir oleh ketua regunya masing-masing.

Sempat dilakukan technical meeting sekali dan yang hadir hanya peserta dari Bandung, sedangkan peserta dari luar dilakukan melalui teleconference. Pada sesi tersebut sekaligus check list perlengkapan standar per regu untuk berkemah meliputi Tenda, Matras, Kompor beserta bahan bakarnya dan Cooking Set. Sedangkan untuk Sleeping Bag, masing-masing peserta wajib membawanya.

Pada pertemuan tersebut juga disampaikan apa saja yang wajib dibawa peserta (termasuk obat-obatan pribadi), info jalur pendakian dan detail rencana pendakian. Semua peserta wajib mengenakan sepatu gunung untuk keamanan dan kenyamanan, serta disarankan membawa Trekking Pole dan Masker. Saat chek list peralatan, tersedia 4 buah Tenda (kapasitas 2 orang), 2 buah Tenda (kapasitas 3 orang), 11 buah Matras (kapasitas 1-2 orang), 4 buah Cooking Set, 3 buah Kompor Gas (plus bahan bakarnya) dan 2 buah Kompor Spiritus.

Hari H-pun tiba….

Pukul sembilan pagi semua peserta sudah berkumpul di Stasiun Malang, jeep yang kami booking pun sudah siap. Stasiun Malang pagi itu ramai sekali oleh rombongan pendaki dari berbagai kota dengan keril-keril besarnya yang siap untuk perjalanan panjang. img_6183Rombongan segera menuju ke Pasar Tumpang untuk belanja sayuran, baru kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa terakhir yaitu Ranu Pane. Tiba di Ranu Pane, suasana sudah seperti pasar, ramai sekali oleh para pendaki yang mengantri untuk registrasi.

Registrasi memakan waktu lebih dua jam karena banyaknya antrian. Setelah selesai, kami berkumpul untuk melakukan senam peregangan sebelum memulai pendakian dan kemudian berdoa bersama. Pendakian baru bisa dilakukan sore hari, suasana saat itu sangat cerah, kami mengambil jalur pendakian melewati jalur Gunung Ayek-Ayek. Jalur ini dipilih karena jalur reguler yang melewati Landengan Dowo dan Watu Rejeng sebelum ke Ranu Kumbolo, sangat ramai. Sedangkan jalur Gunung Ayek-Ayek yang merupakan jalur pendaki lokal, cukup sepi karena cuma ada tiga tim pendaki. Jalur tersebut tanjakannya terjal dan turunannya juga sangat curam, lebih landai jalur reguler.

Melewati kebun sayuran (wortel, kol dan bawang) kami masih bercanda ria karena jalurnya masih landai dan sempat beristirahat sejenak di pintu hutan. Ketika memasuki pintu hutan, senja sudah temaram dan jalanan semakin lama semakin terjal membuat nafasku terengah-engah. Pada dua pendakian ke Gunung Semeru sebelumnya, aku selalu melewati jalur reguler. Sudah lama sebenarnya penasaran melewati jalur Gunung Ayek-Ayek, namun baru kesampaian sekarang. Bagi pemula, tidak disarankan melewati jalur ini karena medannya terjal dan curam.

Tiba di puncak Gunung Ayek-Ayek, terdapat sebuah tebing batu dengan kondisi curam di bawahnya. Jalur berikutnya adalah menuruni puncak Ayek-Ayek untuk menuju Ranu Kumbolo. Saat itu sempat hujan gerimis sebentar dan turunan Ayek-Ayek yang sangat curam menjadi agak licin. Di sebelah kiri jalur, terdapat jurang menganga. Meski tak terlihat jelas karena sudah memasuki malam, namun dari sinar temaram lampu senter, terlihat ke bawah begitu gelap dan mendandakan bahwa jurangnya sangat dalam.

Semangat kembali menyala ketika lamat-lamat terdengar suara obrolan yang menandakan lokasi camp sudah semakin dekat, padahal ternyata masih lumayan jauh, sekitar setengah jam berjalan dari posisiku saat ini. Akhirnya pukul sembilan malam kami tiba di Ranu Kumbolo, sebuah danau yang sangat luas di lereng Gunung Semeru dan biasa dipakai untuk nge-camp. Cuaca yang dingin ditambah lelah, membuatku ingin cepat beristirahat. Saat itu gerimis kembali turun dan kami memasang tenda dalam gelap malam hanya dengan bantuan sinar senter. Setelah tenda berdiri, aku tidak memasak dan hanya memakan kue perbekalan dan kemudian beristirahat. Beruntung malam itu bisa tertidur cukup lelap karena lelah.

img_6210Pagi hari saat keluar dari tenda, wow… telah berdiri ‘Kampung Tenda’ dengan tenda berwarna-warni di tepi danau yang indah itu, perkiraanku jumlah tenda lebih dari seratus. Suara obrolan pendaki terdengar di sana-sini, entah berapa ratus orang yang mendaki saat itu.

Setelah memasak, aku menyempatkan diri naik ke atas untuk memotret Ranu Kumbolo dan sempat berfoto ria juga bersama teman-teman. Pukul 08.00 kami pun packing untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat camp selanjutnya, yaitu Pos Kalimati.

Jalur berikutnya adalah sebuah tanjakan yang dinamakan Tanjakan Cinta dan menuju ke sebuah bukit. Tiba di atas bukit, di depannya terlihat sebuah padang yang sangat luas yang dinamakan Oro-Oro Ombo. Pada saat tim ku naik, padang tersebut bernuansa warna ungu, karena tanaman

Verbena Brasiliensis Vell yang konon berasal dari Amerika Selatan sedang berbunga, sekilas mirip bunga Lavender.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA  OLYMPUS DIGITAL CAMERA  img_6241

Setiap pendaki akan melewati jalur Oro-Oro Ombo yang berjarak 2,5 Km dari Ranukumbolo menuju hutan di seberangnya. Ada dua jalur untuk menuju ke sana yaitu turun dari bukit dan berjalan di tengah-tengah padang, atau melipir pinggang bukit ke arah sebelah kiri. Nantinya kedua jalur tersebut akan bertemu di satu titik menuju pos Cemoro Kandang. Aku sendiri memilih jalur kedua karena bisa melihat pemandangan di bawah serta iring-iringan pendaki yang melewati jalur tengah.

Matahari mulai terik sinarnya, untung aku bawa ‘senjata andalan’ yaitu payung. Kenapa payung…, karena topi saja tidak dapat melindungi tubuh dari sengatan matahari, wajah pun tidak semua terlindungi. Dengan membawa payung, maka sebagian besar tubuh terlindung dari panas, energi juga menjadi lebih hemat karena keringat yang keluar bisa diminimalisir. img_6246Bertahun-tahun mendaki, aku selalu konsisten membawa payung, sehingga beberapa teman yang mengenalku kemudian menjulukiku ‘Pendaki Berpayung’. Eh…, tapi payung itu juga keren buat foto lho… !. Sebenarnya ada banyak manfaat payung dalam pendakian, namun hal ini akan aku bahas pada kesempatan lain.

 

img_6249-nTiba di pos Cemoro Kandang di ketinggian 2500 m dpl, aku beristirahat sejenak sambil berfoto bareng teman satu tim. Jalur berikutnya adalah melalui hutan pinus, tapi tidak berarti jalurnya teduh. Karena tengah hari, ya sama saja jalurnya tetap panas. Aku dan temanku Tina tetap berpayungan melewati jalur ini. Jarak dari Cemoro Kandang menuju pos berikutnya yaitu Jambangan (2600 m dpl) berjarak 3 Km dengan jalur landai. Namun panas terik matahari lumayan memperlambat langkah dan sempat beberapa kali kami beristirahat.

img_6270-nKetika  di Jambangan aku istirahat agak lama, serasa enggan melanjutkan perjalanan karena teriknya sinar matahari. Dua kilometer lagi menuju pos Kalimati, aku melambatkan langkah. Selain karena panas, hari juga masih siang, toh nanti di sana akan nge-camp lagi pikirku, jadi tidak perlu terburu-buru. Ketika melihat plang bertuliskan Kalimati di ketinggian 2700 m dpl, lega banget rasanya. Sedikit kupercepat langkahku, hingga tiba di sebuah area terbuka yang sangat luas dan terlihat puluhan tenda pendaki telah berada di situ.

Tim ku memilih mendirikan tenda di belakang pondok. Ketika tenda sudah dipasang aku dan teman satu regu memasak Sop dan menggoreng Perkedel Kornet. Saat nge-camp ini kami bertemu pendaki lain, ibaratnya memiliki tetangga-tetangga baru. Satu hal yang membuatku senang adalah mengobrol dan bercerita dengan mereka. O ya…, ada satu regu di tim ku yang anggotanya cowok semua, isinya bapak-bapak. Tidak mau repot dengan memasak kecuali nasi, bekal sayur dan lauk pauknya berupa kalengan dan keringan. Ada Gulai kaleng, Rendang kaleng, Sambal Goreng Hati kaleng dan sebagainya. Eh…, maksudku bukan bahannya kaleng lho…, tapi makanannya dalam kemasan kaleng.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari Kalimati, sesekali terlihat Semeru mengeluarkan asap letusan. Ketika hendak menikmati panorama Semeru menjelang sore, mataku tertuju pada satu rombongan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan tiga putri kecilnya yang cantik. Ayahnya menggendong putri bungsunya, sedangkan kedua kakaknya berjalan sendiri. Langsung kucegat mereka dan kuajak ngobrol. Ayah dari ketiga pendaki cilik itu adalah Mas Rudi, belakangan setelah pulang aku baru tahu kalau dia adalah pendaki senior yang telah mendaki beberapa gunung dari The Seven Summits dunia. Istri dan putri sulungnya yang berusia sepuluh tahun berhasil menggapai puncak Mahameru. Sedangkan dua putrinya yang lain didampingi ayahnya sampai di jalur berpasir hingga satu setengah jam menjelang puncak. Setelah aku berfoto dengan keluarga pendaki ini, he.. he.. beberapa pendaki lain langsung antri ikutan foto.

Ketika malam hari tiba, cuaca di Kalimati cukup bersahabat, dingin tapi tidak menggigit tulang. Sengaja kami beristirahat lebih awal karena rencana jam sebelas malam hendak summit attack. Namun benar-benar bisa tertidur pulas mungkin hanya sekitar satu jam. Tepat jam sebelas malam perjalanan pun berlanjut. Dari Kalimati menuju pos Arcopodo berjarak 1,2 Km, namun tanjakannya terjal. Ternyata pendaki yang berangkat pada jam yang sama lumayan banyak, beberapa kali aku memberi jalan kepada pendaki lain agar jalan duluan, karena langkahku tidak bisa cepat. Tiba di Arcopodo jarak yang ditempuh menuju puncak masih 1,5 Km dengan medan berpasir. Aku tidak beristirahat, tapi melanjutkan perjalanan ke sebuah dataran kecil di atasnya yang dinamakan pos Kelik.

Saat tiba di pos Kelik ada api unggun dari pendaki lain. Karena ngantuk berat, aku pun menumpang istirahat di sekitar area api unggun sambil menghangatkan badan, bersandar pada sebuah pohon. He.. he.., ternyata aku sempat tertidur lumayan lama hingga guide yang mendampingi tim ku membangunkanku untuk melanjutkan perjalanan agar tidak kesiangan.

Kembali ke jalur…, aku kaget karena ratusan orang sudah mengantri panjang menuju batas vegetasi. Dari tempatku berdiri, di belakang pun antriannya tak kalah panjang, padahal jalur tanjakan itu hanya cukup untuk satu orang berjalan berurutan. Alamak…., seumur-umur mendaki gunung, baru kali ini mendaki dalam kondisi macet saking banyaknya pendaki.

Beberapa pendaki yang tidak sabar, berusaha menerobos dari pinggiran sebelah kanan dengan tergesa-gesa. Padahal itu tindakan berbahaya, karena di sebelah kanan jalur posisinya mepet jurang. Ada sekitar satu jam aku ‘terjebak’ di situ. Apakah ini efek dari film yang mengambil background Gunung Semeru itu sehingga pendakian overload, entahlah… !. Macet dalam pendakian di ketinggian tentu sangat tidak nyaman karena udara terasa semakin dingin jika kita tidak bergerak.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Begitu melewati batas vegetasi, baru jalur terpecah menjadi dua, lumayan antrian berkurang. Namun bukan berarti menjadi lebih mudah karena jalurnya berpasir dan labil, ibaratnya berjalan dua langkah, merosot mundur satu langkah. Hal berat lainnya adalah pasir yang masuk ke sepatu, sehingga aku harus berapa kali buka tutup sepatu untuk membersihkan pasir yang cukup mengganggu telapak kaki. Ketika itu aku lupa bawa Gaiter (pelindung kaki bagian bawah), agar sepatu tidak kemasukan pasir.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saat istirahat sempat melihat semburat jingga matahari yang hendak beranjak dari peraduannya. Namun dari sini, kita tidak dapat melihat matahari terbit dengan sempurna karena terhalang lereng. Setelah terang benderang, udara semakin panas, minuman harus benar-benar diirit karena tenggorokan terasa cepat kering. Sedikit untuk mengurangi rasa haus, aku makan permen mint. Di jalur berpasir ini, beberapa pendaki ‘tergeletak’ dan ‘tumbang’ tak berdaya, entah karena lelah, mengantuk atau tidak tahan dengan udara panas. Yang agak mengganggu ketika jalur yang akan dilewati terhalang pendaki yang tiduran atau tertidur, namun melipir ke sisi yang lain pun cukup riskan.

Semakin siang udara Semeru benar-benar sangat panas dan membuatku nyaris putus asa, karena tenaga menjadi lebih cepat lelah ditambah rasa haus yang tak tertahankan. Beruntung guide yang menyertaiku terus memberikan semangat dan beberapa kali menolongku di medan yang sulit. Menjelang puncak beberapa pendaki yang hendak turun menyemangatiku:”Ayo Mbak…, tinggal sedikit lagi kok puncaknya, semangaaat…!”. Saling menyemangati ketika mendaki, cukup menghibur di kala lelah.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selangkah demi selangkah, kaki alitku terus menapak. Tepat pukul 09.00, aku tiba di pinggiran puncak. Beberapa teman yang tiba terlebih dahulu di puncak menyalamiku. Tak terasa air mata mengalir hangat di pipiku. Selalu ada rasa haru yang tak tertahankan ketika tiba di puncak gunung dalam setiap pendakian. Syukurku tak terhingga…, di usiaku yang tak lagi muda, aku masih diberikan kesempatan untuk menikmati dan mengagumi keindahan ciptaan-Nya. Terpekur sesaat, setelah kulakukan sujud syukur. OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kemudian kupandangi sepuasnya panorama yang img_6327mengelilingi puncak, terima kasih ya Allah… !”.

Di sekitarku puluhan pendaki asyik bercengkerama atau berfoto ria di puncak. Sesekali ada letusan kecil dari kawah aktif di samping puncak. Namun kali ini letusan rutin Semeru lebih kecil dan asapnya juga lebih tipis, selain itu durasinya juga lebih lama. Kalau dulu letusan Semeru durasinya lebih pendek dan asapnya lebih tebal.

Sesaat kemudian ada pendaki cowok yang menghampiriku seraya berkata:”Mbak Endah…, masih ingat saya tidak…, waktu itu kita ketemu di Kawah Ijen”. Baru juga mengingat-ingat dan ngobrol sejenak, tiba-tiba ada pendaki cewek yang menghampiri dan langsung memelukku. “Mbak Endaaaah…., ini Windra….., ga lupa sama aku kaan…, waktu itu kita bareng naik ke Gunung Sumbing”. Wah…, betapa ‘sempitnya’ dunia ini, ketemu dua orang di tempat yang sama, setelah sebelumnya bertemu di tempat yang berbeda, dan semuanya di gunung.

Setelah dirasa cukup berada di puncak, aku pun turun karena semakin siang Kawah Jonggring Saloko di sisi puncak bisa mengeluarkan asap beracun. Perjalanan turun terasa lebih ringan karena bisa ‘main perosotan’ di pasir, namun kita tetap harus hati-hati. Perjalanan terasa lebih cepat hingga tanpa sadar aku berpindah jalur. Segera guide meneriakiku untuk kembali ke jalur utama. Aku tidak tahu, apakah itu menuju Blank 75 yang biasa disebut ‘Death Zone’, sebuah lokasi dengan jurang yang sangat dalam dan sering menyesatkan pendaki jika tidak waspada saat turun dari puncak Mahameru.

Ketika turun dari puncak, perhatikan dengan benar arahnya karena jalur keluar masuk batas vegetasi hanya satu. Jika cuaca cerah dan masih banyak pendaki, tinggal mengikuti arah pendaki lainnya yang sedang turun, pasti akan terlihat karena medannya sangat terbuka. Yang berbahaya adalah jika saat turun, kabut tebal dan sepi dari pendakian. Hati-hati dan waspada tetap perlu, kecelakaan di gunung kebanyakan terjadi saat turun.

Beberapa musibah di Semeru, sebagian besar terjadi saat turun di jalur berpasir karena kehilangan orientasi arah. Dulu ada ‘penanda’ berupa sebuah pohon cemara, namun pohon tersebut telah hilang karena pasir dibawah akarnya tergerus angin dan hujan. Saat turun dari puncak, jarak pendaki dalam satu tim sebaiknya rapat, agar terpantau dan meminimalisir kemungkinan tersesat. Dari beberapa kejadian yang merenggut nyawa, pendaki yang nyasar di Blank 75 biasanya dalam posisi sendirian.

Tiba di pos Kalimati kami segera packing dan melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo sebagai camp hari terakhir. Tiba di sana sore hari, namun jumlah tenda berkurang sangat jauh dibandingkan saat mendaki, karena sebagian pendaki sudah pulang. Setelah tenda terpasang, kami memasak dan bercengkerama. Di sore yang sejuk itu aku membuat Bakwan goreng (Bahasa Sunda = Bala-Bala) yang laris manis alias habis tak tersisa. Hm…, indahnya menikmati senja di Ranu Kumbolo.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suasana Ranu Kumbolo lebih tenang, karenanya aku bisa tertidur sangat pulas. Kami bangun menjelang Subuh. Setelah sholat kami pun segera packing dan melanjutkan perjalanan melewati jalur Watu Rejeng menuju desa Ranu Pane yang berjarak 10,5 Km. Dalam keremangan menjelang fajar, Ranu Kumbolo tertutup kabut. Kami menyusuri pinggiran danau sebelum masuk ke jalur hutan dan mendapatkan ‘bonus’ sunrise, meski sedikit tertutup pohon. Seperti biasa…, aku selalu kagum dengan lukisan jingga di atas kanvas raksasa ini, tak seorang pun manusia yang sanggup melukisnya.

Pukul sembilan pagi kami tinggalkan Ranu Pane untuk pulang karena besok pagi harus kembali bekerja. Meskipun lelah, ada rindu kami tertinggal di sana. Rindu dengan danaunya, savananya, desiran anginnya, panoramanya, celoteh para pendaki dan persahabatan dengan mereka, guide dan porter.

Berada di alam…, aku hanyalah setitik debu diantaranya. Kaki alitku melangkah setapak demi setapak, menyusuri setiap jengkal keindahan ciptaan-Nya bersama burung yang bernyanyi riang, angin yang membelaiku lembut dan parade tarian ilalang di savana yang sangat indah itu. Selamat tinggal Semeru, kelak aku akan kembali mencumbuimu. ***Endah RH

Terima kasih yang tak terhingga kepada:

  1. Allah Swt, masih diberikan kesempatan menikmati keindahan alam ciptaan-Nya.
  2. Suami tercinta dan putriku tersayang yang selalu men-support pendakianku.
  3. Tim Telkom Hiking Community atas kebersamaannya (Jeffry Hasibuan, Kris Wisnu, A Budi Wibowo, Kristian Ari, Reza Fahlevi, Ihsan Nugraha, Endah RH, Tina Rahmawati, Rachmi Basuki, Prasetiawan, Ali Murtado, Dwi Widya Sakti, Nurli, Agung Sapto).

Aku hanyalah anak desa yang mencintai gunung.Jejak langkah kaki alitku menapak di keheningan.Berkawan angin.., embun dan kabut, kutatap keindahan alam semesta lukisan Sang Mahakarya, kupuja pesona keelokan ciptaan-Mu ya Allah.Anak desa yang menghabiskan masa kecilnya di kampung (ya iyalah..., namanya juga cah ndeso).Suka manjat pohon, dari pohon pepaya, pohon mangga hingga pohon beringin, bahkan dulu waktu kecil hobi manjat genteng sambil lihat layang-layang. Yang sampai sekarang belum bisa manjatnya adalah pohon kelapa (susah sih manjatnya..)Bangga jadi cah ndeso karena waktu kecil bebas bermain-main di sawah dan sungai, serta suka makan pedas (eh... ga nyambung ya...!).

Leave a Reply