Menelusuri Situs Bersejarah yang dimiliki kota Cirebon

Post

Ada alasan tertentu mengapa saya mencintai Cirebon. Yang utama, jelas, karena kota kelahiran saya. Dari beberapa alasan, agenda utama saya cuma satu: ingin mengetahui lebih jauh tentang sejarah Cirebon. Semua orang tahu, Cirebon adalah kota yang mempunyai sejarah yang sangat panjang, terutama dalam perkembangan Islam di Jawa Barat, mungkin pula di Indonesia. Dalam perjalanan kali ini, saya berkesempatan untuk mengunjungi tempat bersejarah di Cirebon. Ditemani dua teman traveling saya; Burhan dan Rivna.

Pagi itu, sekitar pukul sembilan, saya dan Rivna bersiap untuk melakukan perjalanan ke Keraton Kanoman. Persiapan menuju Keraton Kanoman sangat mendadak, saya adalah tipe orang yang selalu mendadak tiap kali melakukan perjalanan. Kebetulan, hari itu diwarnai dengan langit yang cerah. Setelah sampai di Keraton Kanoman, saya ternganga, diam seribu bahasa ketika beberapa bangunan bersejarah berdiri kokoh di hadapan saya. Beberapa bangunan itu terbilang sangat bersejarah, karena merupakan ikon kota Cirebon yang mempunyai daya tarik tersendiri dan mempunyai cerita pada setiap arsitekturnya.

Keraton Kanoman berdiri pada tahun 1678, yang merupakan satu dari dua bangunan Kesultanan Kacirebonan. Didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin, peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman sangat erat kaitannya dengan agama Islam yang disebarluaskan oleh Sunan Gunung Jati.

Saya sangat beruntung ketika berkunjung ke sini. Saya bertemu orang baru yang memberikan banyak informasi tentang bangunan yang berada di Keraton Kanoman. Beliau memperkenalkan diri dengan nama bu Norma. Bu Norma adalah Guide lokal Keraton Kanoman yang mengizinkan saya memasuki ruangan pribadi Raja Keraton Kanoman, ketika saya menginjakkan kaki di Ruang Jinem yang merupakan tempat untuk menyambut para tamu atau pejabat yang berkunjung ke Keraton Kanoman.

Setelah saya bertanya banyak tentang beberapa bangunan di Keraton Kanoman, bu Norma menjelaskan dengan senang hati kepada saya. Dari mulai dua bangunan yang berdiri tegak menjulang ketika memasuki area Keraton, yaitu tempat untuk memperingati acara Gong Sekaten. Gong Sekaten adalah ritual Keraton Kanoman yang biasanya para peserta ritual menaburkan bunga untuk mencari keberkahan dalam hidup. Gong Sekaten diperingati setiap Maulid Nabi Muhammad SAW. Bergeser sedikit ke samping, ada Sanggar Kemuning, tempat untuk belajar atau latihan Tari Topeng yang merupakan tarian khas Cirebon atau Jawa Barat. Siang itu, saya diajak berkeliling ke halaman belakang Keraton, di sana terdapat Rumah Keputren yang merupakan tempat singgah keluarga Raja. Belum selesai sampai di sini, bu Norma juga memperkenalkan Witana. Witana yang berarti awit-awit ana (pertama kali ada), adalah rumah yang pertama kali ada di Cirebon, bahkan bangunan itu berdiri sebelum adanya Keraton Kanoman.

Pintu masuk acara Gong Sekaten
Pintu masuk acara Gong Sekaten
Tempat yang biasanya diadakan ritual Gong Sekaten
Tempat yang biasanya diadakan ritual Gong Sekaten
Halaman luar Keraton Kanoman
Halaman luar Keraton Kanoman
Halaman luar Keraton Kanoman
Halaman luar Keraton Kanoman
Sanggar Kemuning
Sanggar Kemuning
Alat musik di Sanggar Kemuning
Alat musik di Sanggar Kemuning
Ruang Jinem -ruang penerima tamu Keraton-
Ruang Jinem -ruang penerima tamu Keraton-
Ruang pribadi keluarga Raja Keraton Kanoman
Ruang pribadi keluarga Raja Keraton Kanoman
Witana -rumah pertama di Cirebon-
Witana -rumah pertama di Cirebon-
Witana -rumah pertama di Cirebon-
Witana -rumah pertama di Cirebon-
Saya dan bu Norma
Saya dan bu Norma

Bu Norma dengan keramahannya banyak bercerita tentang tempat yang menjadi tujuan wisata saya, bercerita tentang dirinya yang setiap hari membersihkan ruangan Raja, memberi petunjuk kepada setiap wisatawan yang berkunjung, dan lain-lain. Saya sangat kagum dengan cara beliau menjawab, sikap beliau yang polos, dan raut wajahnya yang selalu memberikan senyuman.

Langkah kaki saya berjalan menuju keluar area Keraton Kanoman setelah berpamitan dengan bu Norma. Matahari mulai menelusup pori-pori kulit saya disertai semilir angin yang berembus kencang. Kemudian, saya dan Rivna melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Burhan mulai bergabung dengan kami ke tempat kedua yang akan kami jelajahi. Kami menghabiskan perjalanan sekitar 20 menit dari Keraton Kanoman menuju Goa Sunyaragi (tempat bersejarah kedua yang kami jelajahi hari itu).

Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- di akhir pekan, saya antusias ingin mengenal lebih jauh tentang situs bersejarah di Cirebon ini. Lagi-lagi, saya bertemu dengan Guide lokal, kali ini seorang pria, namanya pak Ahmad. Percaya nggak, sikap ramah dan murah senyum bisa mendatangkan banyak keuntungan? Contohnya saya, yang dengan ramah menyapa pak Ahmad yang sedang duduk di depan pintu masuk Goa Sunyaragi. Saya meminta beliau untuk bercerita tentang sejarah Goa Sunyaragi dengan segelintir pertanyaan yang saya lemparkan. Tentu saja, beliau menjawabnya dengan senang hati.

Rasanya, saya seperti memasuki dunia yang berbeda ketika berjalan melangkah berkeliling Goa Sunyaragi. Saya seperti menyusup ke ruang masa lalu melalui lorong waktu yang tiba-tiba mengantarkan saya. Spot yang ditawarkan di sini begitu memikat di setiap sudut yang saya lalui. Goa cantik yang terbentuk dari batu karang alami menampakkan keagungannya tepat di depan mata saya. Dihiasi taman yang tak kalah cantik, air yang mengalir pelan di sekeliling Goa, tempat duduk yang nyaman, dan kerumunan manusia yang semakin menambah daya tarik yang berarti Goa Sunyaragi sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas.

p_20161030_152538

p_20161030_142107

p_20161030_144014

p_20161030_142241

p_20161030_141956

p_20161030_145223

p_20161030_144229

p_20161030_150630

p_20161030_145433

p_20161030_151022

Menurut keterangan pak Ahmad selaku guide lokal di sini, Goa Sunyaragi didirikan tahun 1703 oleh Pangeran Arya Kararangeng. Terdiri dari 12 bangunan Goa, yang masing-masing bangunannya memiliki fungsi yang berbeda. Berikut, 12 bangunan dari Goa Sunyaragi dan fungsinya yang berhasil saya catat setelah bertanya kepada pak Ahmad:

1.   Goa Pengawal; sebagai tempat berkumpulnya para prajurit Keraton

2.   Bangsal Jinem; sebagai tempat duduk para pejabat Keraton untuk menyaksikan berbagai pertunjukan yang digelar

3.  Mande Beling; tempat istirahat para putra-putri Keraton

4.  Goa Peteng; tempat meditasi para prajurit Keraton

5.  Kaputran dan Kaputren; tempat penggemblengan secara agama untuk putra-putri Keraton

6.  Bale Kembang; sebagai alat penghubung Goa bagian depan dan belakang

7.  Goa Argajungut; tempat pertemuan para pejabat keraton yang bersifat rahasia

8.  Goa Padang Ati; tempat meditasi bagi mereka yang mempunyai kesulitan dalam berpikir

9.  Goa Kelanggengan; sebagai tempat meditasi para Sultan Cirebon

10.  Goa Langse; tempat istirahat keluarga Keraton

11.  Goa Pawon; bukan tempat untuk memasak, tetapi tempat menyimpan makanan yang telah disediakan oleh Keraton

12.  Goa Lawa; tempat bersarangnya para kelelawar

Hari semakin sore, langit pun mulai tertutup oleh awan hitam. Sementara saya masih asyik mengitari area Goa Sunyaragi yang termahsyur ini. Saya yakin, suatu saat, Keraton Kanoman dan Goa Sunyaragi akan menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Dengan semakin berkembangnya teknologi, beberapa informasi tentang historical site di Cirebon ini akan menjalar dengan begitu cepat.

Di tempat saya berdiri ini, saya telah bercerita tentang bagaimana saya mencintai setiap perjalanan dengan menguak sisi sejarahnya. Ini ceritaku. Mana ceritamu? Let’s #CeritakanDuniamu!

Terakhir, Jika kalian ingin menikmati Cirebon dengan memperdalam sejarahnya, jangan lupa, dua tempat ini harus secepat mungkin ditulis dalam bucket list kalian!

img_5367

img_5366

Link video: https://youtu.be/JlKo4D3pKCI