Menjamah Senja di Timur Indonesia

“Di sisi timur Indonesia, aku temukan Indonesiaku yang sebenarnya”

Di penghujung bulan juli tahun 2016, aku menjalani sebuah perjalanan yang luar biasa, perjalanan yang membuka mata ku tentang betapa kayanya negeri ini. Perjalanan ini tak sekedar liburan semata, juga bukan sekedar kunjungan ke daerah semata. Sebuah perjalanan yang seakan menampar telak di depan wajahku, sebuah perjalanan yang mematahkan argumen-argumen ku sebelumnya tentang orang-orang timur Indonesia.

Hari ke dua puluh empat bulan Juni, sore disudut stasiun pondok cina, aku terpikir untuk melanjutkan perjalananku di Nusantara ini. Sejenak kemudian tiba-tiba saja terlintas di benak ku untuk mendatangi daerah di sisi timur Indonesia. Tapi pikiran itu langsung terpatahkan oleh beberapa pertanyaan dan persoalan. Di otak ku seakan ada dua sisi, disatu sisi sebagai penanya ketidakmungkinan, dan disisi lain sebagai pembela kemungkinan. Sesaat beberapa dialog terjadi dalam pikiranku.

“Ah, Indonesia Timur, jangan mimpi Kau, hanya seorang mahasiswa perantau dari Minangkabau, tak punya uang banyak, bagaimana mungkin bisa pergi ke tempat yang jauh itu?”, si penanya ketidakmungkinan bertanya.

Sejenak kemudian si pembela kemungkinan langsung menjawab dengan jawaban meyakinkan, “Hei, ini Kota Metropolitan Kawan, kau bisa mendapat pekerjaan diwaktu libur mu, lalu uang yang kau dapat bisa dijadikan ongkos dan modal untuk perjalanan ini, kau juga masih punya sedikit tabungan Kawan, jangan ragu mengeluarkan uang untuk sebah pengalaman hidup”.

Wah, benar juga, aku bisa bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang. Sesaat kemudian si penanya ketidakmungkinan kembali mengaung, “Kalaupun kau bisa berangkat kesana, lalu bagaimana kau bisa bertahan dan pulang kembali? Kau kan belum pernah kesana dan tidak tau bagaimana keadaan disana”.

“Ah, itu tak usah kau risaukan, asalkan kau punya niat baik untuk berjalan dan asalkan kau bisa beradaptasi dengan penduduk lokal, tak akan jadi masalah bagimu Kawan. Kau harus ingat, kita orang Indonesia semuanya bersaudara, dimana-mana kau punya kerabat Kawan.” Kembali menjawab pertanyaan negatif itu dan seakan meyakinkan aku untuk melakukan perjalanan ini. Sebuah perjalanan dengan penuh ketidakmungkinan yang segera aku mungkinkan.

Tak terasa sudah beberapa menit aku lamunan itu dan ternyata kereta yang aku tunggu sudah berlalu, kereta api rel listrik (KRL) tujuan Jakarta Kota. Artinya aku harus menunggu kereta berikutnya yang datang sepuluh menit kemudian. Telepon genggamku berdering, ternyata ibuku yang menelepon, dari Ranah Minang, kampung halamanku. Aku langsung mengutarakan niatku untuk melakukan perjalanan ke Indonesia Timur. Ibuku hanya berpesan, kemanapun aku berjalan, selalu ingatlah akan kampung halaman yang sebenarnya dan jangan pernah berbuat tidak baik kepada orang lain, karena kalau ingin orang lain baik kepada kita, kitalah yang lebih dulu harus berbuat baik, sesederhana itu saja. Melalui percakapan di telepon tadi, aku juga mendapat sebuah kabar baik yang akan menyokong perjalananku kali ini, tentu saja bukan tentang uang karena aku sudah bertekad untuk tidak meminta uang kepada orang tua untuk keperluan perjalananku, karena memang soal perjalanan ini aku sendiri yang menginginkannya dan harus aku sendiri yang berusaha untuk mencari jalan keluarnya, dan jalan yang aku pilih bukanlah menjadi manja dan menyusahkan orang tua untuk meminta dikirimkan uang rupiah demi rupiah, melainkan aku memilih untuk mencari sendiri rupiah itu dengan bekerja memanfaatkan ilmu yang telah aku dapatkan di bangku kuliah ini. Ibuku mengabarkan ku bahwasanya seorang Paman ku ternyatata berencana untuk merantau ke Ternate, ya Ternate Kawan, Maluku Utara, salah satu pulau di Indonesia Timur. Setidaknya keraguanku soal akomodasi tempat tinggal disana sudah teratasi, aku bisa menginap di rumah Paman ku itu.

Sebulan berlalu setelah sore di Stasiun Pondok Cina itu, akhirnya aku berhasil mengumpulkan uang untuk membeli tiket perjalanan ku kali ini, dan tujuanku sudah ku tentukan, Maluku Utara, di Timur Indonesia.

Hari ke dua puluh lima dibulan juli, Aku bertolak dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta menuju menuju Bandar Udara Sultan Babullah, Ternate, di belahan Indonesia Timur sana. Entah dimana pulau itu, tak pernah aku bayangkan sebelumnya akan seperti apa tempat itu. Di atas pesawat yang aku tumpangi, pandanganku terhanyut akan gugusan awan lembut yang baru saja ditembus pesawat terbang yang aku tumpangi ini,  di kejauhan aku melihat gemerlap kota jakarta dengan lampu-lampu yang semakin lama semakin temaram karena sudah mendekati matahari terbenam. Penerbangan dari jakarta ke ternate akan ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam jika langsung terbang ke Ternate, tapi karena pesawat yang aku tumpangi harus transit terlebih dahulu di Manado, perjalanan ku menjadi bertambah beberapa jam. Tak apalah kataku, setidaknya aku bisa menginjakkan kaki di Manado, menambah daftar kota yang pernah aku kunjungi, walaupun hanya sekedar bandara tempat transit dan berpindah pesawat.
Tiga jam setelah pesawat mengudara, aku sejenak tersentak karena pilot pesawat mengabarkan sesaat lagi pesawat kami akan mendarat di Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi, di Manado. Kulihat jarum jam di jam tangan ku sudah menunjukkan sekitar pukul 10 malam Waktu Indonesia Tengah. Aku memandang keluar jendela, hanya gelap yang aku lihat. Di Bandara ini aku harus menunggu selama kurang lebih 9 jam karena ada keterlambatan jadwal penerbangan.

Keesokan paginya, setelah menunggu cukup lama, akhirnya pesawat yang akan aku tumpangi menuju Ternate mendarat, ternyata untuk menuju Ternate kali ini aku akan menggunakan pesawat yang lebih kecil, sontak aku sedikit terkejut karena memang belum pernah sebelumnya menaiki pesawat kecil ini, perasaan was-was pun mulai muncul. Aku menaiki pesawat dengan kapasitas tak lebih dari empat puluh orang itu, aku duduk dekat dengan kaca jendela. Sesaat setelah pesawat mengudara, aku melihat gugusan pulau-pulau dengan pasir putih yang sangat indah, di sekelilingnya bertebaran terumbu karang warna-warni, gradasi warna biru terang sampai warna biru gelap terlihat jelas, aku tercengang dan terkagum-kagum dengan keindahan gugusan pulau di Manado ini, belakangan aku ketahui kalau itu adalah kawasan Taman Nasional Bunaken yang merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Bunaken. Sungguh luar biasa sekali, sangat indah dan aku benar-benar kagum akan keindahan Negeri beribu pulau ini, Indonesia.

Jam menunjukkan pukul 10 pagi Waktu Indonesia Timur, sebentar lagi pesawatku akan mendarat di Ternate, dari jendela pesawat kembali aku saksikan kemegahan alam Indonesia, mulai dari Gunung Gamalama yang menjulang di Pulau ternate, lalu hijaunya Pulau Tidore dengan Gunung Kie Matubu, dan indahnya perairan pulau Maitara diantara keduanya.

Sampai di Ternate aku langsung dijemput oleh pamanku yang sudah aku ceritakan tadi. Ternyata pulau Ternate ini tidak terlalu luas, luasnya hanya sekitar 76 km² dan dihuni sekitar 200 ribu jiwa. Tak terlalu sulit dan tak memakan waktu lama untuk mengelilingi pulau ini. Setelah beristirahat beberapa lama, aku langsung mengelilingi pulau ini dengan menggunakan sepeda motor. Tempat pertama yang aku kunjungi adalah Danau Laguna Ngade, sebuah danau indah yang cukup dekat dengan laut, sungguh sebuah perpaduan yang sangat sempurna antara gunung dan laut.img_0141

Ternyata danau ini berada dalam satu garis lurus dengan pulau Maitara dan Pulau Tidore sehingga aku bisa menyaksikan langsung perpaduan antara danau, hutan, laut, pulau dan gunung di depan pandanganku, sungguh keindahan yang tak terbantahkan dari pulau di Indonesia bagian timur ini. Jika kalian pernah memperhatikan lukisan yang terdapat pada uang kertas pecahan 1000 rupiah, maka inilah tampak aslinya dari lukisan itu, Pulau Maitara dan Pulau Tidore yang dilihat dari Pulau Ternate. Ternate dan Tidore ternyata sangat kaya akan rempah-rempah dan diperebutkan bangsa Eropa di era penjajahan dahulu. Sungguh luar biasa, negeri kaya yang indah.

Perjalananku selanjutnya aku teruskan menuju Danau Tolire, sebuah danau indah di kaki Gunung Gamalama dan terkenal dengan kisah-kisah mistisnya. Konon katanya di danau ini terdapat Buaya Putih yang menurut kepercayaan penduduk setempat merupakan penjaga dari Danau Tolire. Berbeda dengan kisah mistis lainnya, konon kata seorang warga sekitar ‘Buaya Putih’ tersebut kerap kali muncul ke permukaan dan menampakkan diri pada sore hari. Cerita lain yang cukup unik dari danau ini adalah jika kita melemparkan batu sekuat tenaga kita ke arah danau, maka kita tidak akan bisa melihat percikan air dari lemparan batu kita, ada juga yang mengatakan bahwa batu kita tidak akan sampai ke permukaan air.

 

Danau Tolire dengan cerita mistisnya
Danau Tolire dengan cerita mistisnya

img_0238

Merasa penasaran dengan cerita itu, Aku pun mencoba melemparkan beberapa buah batu. Aku melempar dengan sekuat tenaga yang masih tersisa, aneh bin ajaib, aku tak melihat batu yang aku lempar mendarat di permukaan air Danau Tolire. Baru pada lemparan kedua aku menyadari kalau sebenarnya batu yang aku lemparkan meski sudah dengan sekuat tenaga hanya sampai pinggiran danaunya saja, padahal ekspektasiku akan mencapai bagian tengah danau dan mataku tertuju pada posisi tersebut sehingga aku mengabaikan bagian pinggir danau. Hal ini dikarenakan jarak yang sebenarnya cukup jauh dari posisi melempar batu dengan permukaan danau, namun karena perspektif terlihat lebih dekat.

Kita tinggalkan Danau Tolire dengan segala kisah mistis dan cerita misterinya, biarkan itu menjadi sebuah keunikan yang perlu kita usik. Perjalananku selanjutnya berlanjut menuju pulau diseberang Ternate, Pulau Tidore namanya. Aku segera menuju pelabuhan penyeberangan Bastiong. Di daerah Indonesia Timur kebanyakan, khususnya di Tidore, laut sudah menjadi teman yang akrab bagi orang-orang disini. Transportasi laut seperti perahu dan kapal motor adalah transportasi yang paling  diandalkan disini. Dari pelabuhan Bastiong aku menumpangi kapal motor, dengan hanya membayar ongkos lima ribu rupiah dan ditempuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit, aku sudah menginjakkan kaki di Pelabuhan Rum, Pulau Tidore.

img_0379
Kapal Motor dari Ternate menuju Tidore

Di Tidore aku sudah ditunggu seorang teman dari Paman ku yang akan menemaniku berkeliling pulau Tidore. Pulau ini juga tak terlalu luas, hanya sedikit lebih luas dari Pulau Ternate, tapi bedanya dengan Ternate adalah, di Tidore tidak terlalu banyak orang yang tinggal, Pulau ini lebih sepi dan damai menurutku, bebas dari hiruk pikuk Kota. Aku lirik jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Tak mau buang-buang waktu aku dan teman Paman ku, Kaka Robert langsung menuju Desa Gurabunga, sebuah desa diatas awan katanya. Desa Gurabunga adalah sebuah desa yang terletak di Gunung Kie Matubu. Begitu sampai di Desa Gurabunga, kabut tipis langsung menyambut kedatangan kami. Udara disini sangat segar dan dingin sekali, benar benar desa diatas awan ternyata. dari desa ini aku bisa memandang jelas hamparan laut maluku utara dan disisi lain ada puncak Gunung Gamalama di Ternate.

img_0438
Kabut tipis di Desa Gura Bunga

Sehabis menikmati kesegaran udara dan kabut tipis di Desa Kie Matubu, Aku dan Kaka Robert beranjak menuju sisi barat Pulau Tidore. Inilah momen yang aku tunggu-tunggu, menyaksikan menanti matahari tenggelam di bagian Indonesia Timur. Pengalaman pertama setelah hampir dua puluh tahun hidup di Indonesia akhirnya aku menginjakkan kaki di tempat ini, di Indonesia Bagian Timur, Tidore. Tepat di sebuah tikungan disisi barat pulau Tidore, aku langsung disuguhi megahnya Gungung Gamalama di Ternate. Jika sebelumnya aku meyaksikan hijaunya pulau Tidore dari Ternate, sore ini aku menyaksikan megahnya senja di Ternate dilihat dari Tidore.

img_0596
Senja di Timur Indonesia

Sungguh perjalanan yang memiliki banyak makna, perjalanan yang mengubah pandanganku akan Nusantara. Tak disangka akhirnya aku, seorang mahasiswa perantau dari Ranah Minang akhirnya benar-benar menginjakkan kakiku disini, di Indonesia bagian timur. Memang benar ternyata apabila sebuah niat yang baik akhirnya akan menemukan jalan yang baik pula. Dan akhirnya Ternate dan Tidore kembali menambahkan sejarah baru dalam hidupku.

img_0595
Gunung Gamalama di senja dari Tidore

Follow instagram : @baratdaya_ ~ Seorang Pejalan amatir yang tidak tahan untuk tidak menjelajahi setiap jengkal sisi baik dari negeri ini.

Leave a Reply