Menjelajah Mimpi di Baluran Rasa Afrika

 

Sore itu, akhirnya saya tiba di Bioskop Taman Ismail Marzuki untuk menghabiskan malam jumat yang terlalu indah untuk dilewatkan. Jadi ceritanya saya ingin nonton film Koala KumalĀ  yang sedang booming pada saat itu. Saat tiba di loket karcis bioskop, ternyata tiket film tersebut sudah sold out. Waduh, gimana dong masa gue udah capek-capek kesini malah gak nonton, ucap saya dalam hati pada saat itu. Tanpa berpikir panjang (karena pada saat itu antrian di belakang saya sudah cukup panjang), akhirnya saya berputar haluan untuk menonton film yang lain yakni ILY From 36.000 feet (yang selanjutnya akan ditulis ILY). Kebetulan masih ada kursi yang kosong untuk film tersebut. Oke akhirnya saya nonton film itu. Waktu itu saya kepikiran untuk nonton ILY karena pada tergiur dengan trailer filmnya yang menunjukkan keindahan Taman Nasional (selanjutnya akan disingkat menjadi TN) Baluran di Jawa Timur. Di trailer tersebut memperlihatkan tokoh utama film tersebut melakukan liputan tentang dokumentasi kehidupan hewan liar di Baluran dan akhirnya mereka jatuh cinta disana. Oooh so sweet *tiba-tiba baper*. Saat menonton film tersebut, saya berkhayal mengunjungi TN Baluran. Disana saya menemukan jerapah,gajah,harimau yang sedang berlari di padang savana. Kelompok burung yang berterbangan mencari mangsa. Hingga berlari di sekitar bibir pantai yang ada di TN tersebut. Khayalan pada saat menonton film tersebut ternyata tidak sia-sia. Saya dapat berkunjung kesana secara nyata!

img_20160901_122329
Taman Nasional Baluran

TN Baluran terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur. Tapi, untuk mengunjungi taman nasional tersebut lebih baik berangkat dari Banyuwangi. Kenapa? karena jaraknya hanya 45 menit dengan berkendara motor dari Banyuwangi. Terlebih lagi alternatif akses untuk menuju Banyuwangi lebih banyak. Bisa naik kereta, bus, kapal laut, bahkan pesawat terbang. Jika kamu kereta holic, maka banyak alternatif pemberangkatan menuju Banyuwangi. Jika dari Surabaya bisa naik KA Probowangi (Ekonomi) dan KA Mutiara Timur (Bisnis dan Eksekutif) pemberangkatan dari stasiun Surabaya Gubeng. Jika dari Yogyakarta bisa naik KA Sritanjung (Ekonomi) pemberangkatan dari stasiun Lempuyangan. Dan jika dari Malang bisa naik KA Tawang Alun (Ekonomi) pemberangkatan dari stasiun Malang. Tarif kereta menuju Banyuwangi berkisar Rp 56.000 – Rp 200.000 tergantung jenis kelas kereta yang kita naiki. Semua kereta tujuan Banyuwangi akan berhenti di Stasiun Banyuwangi Baru. Jika kamu tipe yang suka liburan fancy, bisa naik pesawat dengan pemberangkatan dari Bandara Juanda, Surabaya dengan harga tiket mulai Rp 500.000 dan mendarat di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi. Saat ini juga tengah diwacanakan juga penerbangan langsung Jakarta-Banyuwangi lho. Menuju Banyuwangi juga bisa dengan kapal laut, pemberangkatan dari Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana Bali dengan tujuan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi yang letaknya hanya 100 meter dari Stasiun Banyuwangi Baru. Harga tiket untuk penumpang dewasa sebesar Rp 6.000. Jika kamu busmania, bisa naik bus pemberangkatan dari Surabaya atau Jember yang harga tiketnya mulai dari Rp 60.000.

img_20160830_170129
Kereta Tawang Alun (1)
img_20160830_171856
Kereta Tawang Alun (2)

Lalu jika sudah tiba di Banyuwangi, bagaimana untuk pergi ke TN Baluran? Pada waktu itu, saya menyewa motor di pusat kota Banyuwangi untuk menuju kesana. Hanya dengan Rp 60.000/24 jam kita bisa memakai motor tersebut untuk pergi ke Baluran. Selain membayar uang sewa motor, kita juga harus menyerahkan jaminan berupa 3 kartu yang masih digunakan, dan uang sebesar Rp 300.000. Motor sudah siap, ayo saatnya kita berangkat kesana!

Akses jalan utama Banyuwangi – Situbondo yang mulus dapat melancarkan perjalanan kita. Tapi kalian juga harus hati-hati karena banyak kendaraan besar dan bus yang melaju dengan kecepatan tinggi. Saat perjalanan menuju kesana, kita akan disuguhkan dengan pemandangan pesisir laut dari Selat Bali. Lalu apa patokan jika sudah dekat dengan TN Baluran? Setelah melewati gapura perbatasan Banyuwangi – Situbondo, sekitar 1,5 km akan menemukan belokan ke kiri. Nah, pintu masuk TN Baluran berada di sebelah kanan jalan. Saat tiba di pintu masuk TN Baluran, kita akan diarahkan menuju loket karcis yang letaknya tidak terlalu jauh. Untuk wisatawan domestik dikenakan biaya Rp 15.000 (weekday) dan Rp 17.500 (weekend). Sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan biaya Rp 150.000 (weekday) dan Rp 225.000 (weekend). Jika membawa mobil pribadi, dikenakan biaya Rp 10.000 (weekday) dan Rp 15.000 (weekend). Kalau membawa motor yang rodanya 2 (ya iyalaah) dikenakan biaya Rp 5.000 (weekday) dan Rp 7.500 (weekend).

Jarak antara loket karcis menuju padang savana adalah sekitar 12 Km. Ya, ternyata memang masih cukup jauh. Tips dari saya sebelum menelusuri jalan menuju padang savana, HARUS TAHAN BANTING. Kenapa? Karena 90% kontur jalannya berupa bebatuan. Iya, beneran. Dipastikan juga kendaraan yang kita gunakan dalam kondisi fit, karena disepanjang perjalanan akan melewati hutan yang cukup rimbun. Membutuhkan waktu 45 menit untuk menikmati jalanan bebatuan sebelum menemukan padang savana yang luas. Di sepanjang perjalanan, kita akan menyaksikan monyet-monyet liar yang banyak bergelantungan di pohon. Akhirnya tiba di padang savana! Saya dan teman-teman beristirahat dulu karena perjalanan yang cukup melelahkan. Tapi lelah tersebut dibayarkan oleh padang savana yang terhampar luas. Jarak pohon yang satu dengan lainnya cukup jauh sehingga menampilkan karya seni Tuhan yang begitu indahnya. Tapi sayangnya, pada saat itu tidak muncul hewan liar seperti harimau, jerapah dan berkeliaran bebas di padang savana. Mungkin mereka lagi bobo siang.

img_20160901_122450
Pohonnya sendirian aja, jomlo ya?
img_20160901_122552
Foto dulu kak! (1)
img_20160901_122624
Foto dulu kak! (2)
img_20160901_122650
Foto dulu kak! (3)
img_20160901_122706
Foto dulu kak! (4)
img_20160901_122734
Foto dulu kak! (5)

Di TN Baluran juga terdapat menara pandang yang bisa digunakan untuk melihat keseluruhan area dari tempat tersebut. Hembusan angin kencang di atas menara pandang menambah suasana sejuk di tengah hangatnya matahari pada saat itu. Dari menara pandang juga, kita bisa melihat Gunung Baluran yang bisa dilihat dengan jelas dan nyata.

img_20160901_130257
Gunung Baluran dilihat dari Menara Pandang
img_20160901_130235
Padang Savana dilihat dari Menara Pandang

Ternyata di dalam kawasan TN Baluran terdapat pantai yang bisa dikunjungi. Pantai Bama, itulah namanya. Pantai tersebut berada di sebelah timur laut dari TN Baluran. Jarak antara menara pandang hingga pantai Bama tidak terlalu jauh, hanya sekitar 20 menit dengan menggunakan sepeda motor. Saat sudah tiba disana, terdengar hempasan ombak pantai yang menyambut saya dan teman-teman. Tersaji pemandangan pantai yang menunjukkan luasnya Laut Jawa. Pasir putih yang menutupi bibir pantai menambah indahnya pantai Bama. Disana juga berkeliaran monyet liar yang mencari makanan di pantai. Saran lagi ketika di pantai Bama adalah jangan membawa makanan yang dapat menarik perhatian monyet – monyet disana. Kenapa? Karena saya dan teman-teman sempat bertengkar dengan monyet disana yang menyerang tas kami yang berisi makanan. Hahaha, itu salah satu pengalaman yang tidak pernah terlupakan dalam hidup saya. Walaupun ada kejadian yang kurang menyenangkan, anggap aja ini variasi dalam perjalanan ini.

img_20160901_141328
Pantai Bama (1)
img_20160901_144041
Pantai Bama (2)

 

Pantai Bama adalah destinasi terakhir saya dan teman-teman dalam mengeksplore Taman Nasional Baluran karena sore sudah tiba. Jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 16.30. Saatnya saya dan teman-teman pamit dari “Afrika”nya Jawa tersebut. Selama kita masih mempunyai waktu, tenaga, dan uang sempatkanlah untuk melihat keindahan ciptaan Tuhan yang telah diberikan kepada makhluknya. Setidaknya itulah wujud rasa bersyukur karena telah diberikan anugerah terindah kepada tanah air kita yang tercinta, Indonesia.

Travel is the simple chance of reinventing ourselves at new places where we are nobody but a stranger – Critical Eleven

Leave a Reply