Menjelajah Sisi Lain Bandung

 

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” Sebuah kutipan yang terkenal dari seorang penulis bernama Pidi Baiq. Memang benar adanya bahwa Bandung merupakan sebuah tempat istimewa bagi banyak orang dari seluruh pelosok negeri, tak terkecuali aku, seorang pejalan amatir yang selalu tak tahan untuk tidak menjelajahi setiap jengkal sisi baik dari negeri ini, dan Bandung adalah titik pemberhentian terbaru ku.

Ini bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di tanah Bandung. Tapi ini akan menjadi kali pertama ku menjelajahi bandung dari sisi yang tak biasa. Ya, tak biasa, aku mengunjungi tempat yang tak biasanya dikunjungi oleh orang-orang dari luar Bandung yang kerap disebut wisatawan lokal, tentu saja karena aku bukanlah seorang wisatawan, aku lebih senang menyebut diriku sebagai seorang pejalan, meskipun masih amatiran.

Jum’at malam di penguhujung September, aku dan seorang teman baik ku bertolak dari ibu kota menuju Bandung dengan menumpangi mobil teman baik ku itu, Fajar namanya. Ibu Kota waktu itu masih penuh sesak dengan hiruk pikuk kemacetan. Maklum saja, warga jakarta sedang merayakan hari-hari bahagia setelah menerima gaji bulanan. Walaupun sudah mendekati tengah malam, aku masih terjebak diantara jejeran mobil menuju pintu tol kearah Bandung, ternyata warga Jakarta yang sedang berbahagia tadi juga hendak merayakan akhir pekan sekaligus hari gajian mereka diluar Jakarta.

Hari sabtu sebelum subuh kami telah sampai di Bandung. Aku telah menghubungi seorang teman baik lain yang tinggal di Bandung untuk menemani perjalanan kali ini, namanya Kang Wira. Nantinya Kang Wira yang akan menemani kami untuk menjelajahi sisi lain dari Bandung.

Tepat saat matahari hampir menampakkan diri, Kang Wira juga telah menanti kedatangan kami di beranda rumahnya. Ketika sampai, Aku dan Fajar langsung disuguhi secangkir kopi arabika malabar, kopi dari tanah parahyangan yang terkenal bercita rasa tinggi dimata para pecinta kopi, kebetulan aku salah satu pecinta kopi nusantara. Sungguh nikmat sekali pagi itu, menyeruput kopi asli Indonesia dengan ditemani Cireng, sebuah cemilan khas dari Sunda. Kami tak mau menyianyiakan waktu, setelah menyeruput secangkir kopi, maka perjalanan kami menelusuri sisi lain Bandung pun dimulai. Tapi sayang sekali Fajar yang menyetir mobil dari Jakarta sudah kehabisan tenaga dan memutuskan untuk istirahat pada hari ini. Tapi aku dan kang wira tetap berangkat.

Seiring matahari yang bergerak naik, Aku dan Kang Wira juga sedang bergegas menaiki motor dan memulai perjalanan. Kali ini perjalanan kami menuju daerah Lembang, kami berencana menikmati pagi dan menghirup kesegaran udara dengan sedikit kabut yang sudah lama tak aku jumpai di Ibu Kota. Motor yang kami tumpangi merangkak naik menuju tanjakan dari Kota Bandung ke arah Lembang, belum banyak kendaraan yang lalu lalang pagi itu.

Sekitar satu jam perjalanan, kami sampai di Lembang dan langsung menuju kawasan Gunung Putri. Tapi kali ini kami tak menuju ke lokasi tempat wisata Gunung Putri, tapi sebelum memasuki gerbang tempat wisatanya, kami berbelok sedikit kearah bukit didekat kebun warga. Motor yang kami tumpangi kami parkirkan di sebuah mesjid tak jauh dari situ.

Aku hirup kesegaran udara ketinggian itu, segar sekali. Udara yang sudah cukup lama tak aku nikmati. Aku manjakan mataku sejenak memandangi hutan-hutan hijau yang masih diselimuti kabut tipis. Kang Wira mengajakku memulai berjalan ke sebuah bukit, tak terlalu terjal jalannya. Semilir angin mengiringi langkah kaki kami menuju puncak bukit, sesekali binatang-binatang kecil melompat-lompat dari rumput ke rumput yang masih dibasahi embun, tupai-tupai yang bersarang di pohon-pohon pinus menyambut kedatangan kami. Setelah melewati beberapa tanjakan yang tak terlalu terjal, aku mulai melihat kabut pagi yang masih sudi menutupi hutan dan sebagian perkampungan dibawah bukit dan akhirnya kami sampai diatas bukit. Tak ada siapa-siapa disitu kecuali kami berdua. Aku kembali terpesona ketika pancaran sinar matahari yang sedikit kuning menyeruak ke permukaan kabut dibawah ku, pohon-pohon kecil meliuk-liuk kesana kemari karena di buai angin ketinggian, aku sungguh takjub dengan segala keindahan ini, dan kembali hatiku bersyukur masih dapat menghirup kesegaran udara ini dengan pemandangan yang luar biasa mempesona.

Menikmati pemandangan sembari menghirup udara segar
Menikmati pemandangan sembari menghirup udara segar

Sembari aku menikmati pagi dengan memandangi kabut kabut lembut dibawah bukit, Kang Wira ternyata telah mengeluarkan kameranya dan memotret keindahan alam kawasan Gunung Putri ini.  Aku juga tak mau ketinggalan, aku ambil beberapa gambar dengan kamera ku. Sungguh kenikmatan yang sangat sayang untuk dilewatkan, tidak seperti tempat-tempat terkenal lainnya di Bandung, Kawasan Gunung Putri yang aku kunjungi kali ini benar benar sepi, damai, dan jauh dari hiruk-pikuk manusia, sangat mendamaikan dan menyegerkan hati dan pikiranku.

Memotret momen keindahan di sudut Bandung
Memotret momen keindahan di sudut Bandung

Dari sini aku belajar, bahwa semua tempat di negeri ini memiliki keindahannya masing-masing. Tak perlu jauh-jauh untuk menemukan keindahan-keindahan itu, hanya saja kita yang harus merubah sudut pandang kita kearah yang lebih positif, jangan memandang segala sesuatu dari kejelekan atau hal negatifnya saja.

Bandung kini bagiku bukan hanya sekedar tempat untuk berkunjung, banyak cerita damnpelajaran yang telah aku dapat dari sini. Bandung benar-benar memberiku pelajaran akan sebuah perjalanan dan pertemuan dengan orang-orang baru yang lebih dari sekedar teman.

Perjalanan yang baik menurutku akan sampai kepada tempat yang baik pula, dan akan dipertemukan dengan orang-orang yang baik pula. Bukan sekedar tujuan akan suatu destinasi yang semestinya kita utamakan, tapi bagaimana sebuah proses demi proses yang kita lewati. Terimakasih Bandung dengan segala keistimewaannya, terimakasih kawan-kawan Bandung.

Menikmati udara segar diatas kabut tipis yang menyelimut
Menikmati udara segar diatas kabut tipis yang menyelimut
  • Sebagai catatan : tidak ada biaya masuk ke tempat ini karena memang bukan lokasi wisata, lokasi wisata Gunung Putri berada tidak jauh dari tempat ini dan masih dalam satu kawasan desa. Hanya perlu sekitar lima menit dengan menggunakan kendaraan bermotor menuju tempat wisata gunung putri.

Follow instagram : @baratdaya_ ~ Seorang Pejalan amatir yang tidak tahan untuk tidak menjelajahi setiap jengkal sisi baik dari negeri ini.

Leave a Reply