Menyemai Asa Anak Bangsa di Tanah Samawa

Post

 

Perjalanan tak pernah menjadi hal yang biasa meski mungkin banyak orang biasa melakukannya. Tumbuh besar sambil berpindah dari suatu kota ke kota lain sejak kecil, membuat saya terbiasa berada jauh dari akar tempat saya dilahirkan, terbiasa membuat kaki ini terus melangkah seiring tumbuh menjadi dewasa dan perlahan menjauh dari tempat ari-ari saya bersemayam. Namun sebuah perjalanan tetaplah menjadi hal yang luar biasa.

Langkah demi langkah menyusuri banyak kota dan berbaur dengan banyak bangsa membawa diri pada suatu titik bahwa perjalanan bukan lagi sekedar urusan kapan kita ke mana. Perjalanan tak lagi hadirkan tanya, apa yang akan kita lakukan di sana, namun apa yang bisa kita berikan di sana. Perjalanan jiwa perlahan membawa sang empunya langkah bertemu dengan apa yang jiwanya rindukan.

Semua orang berubah dan berproses. Begitu juga saya, kini langkah kaki bukan lagi sekedar melarikan diri dari hiruk pikuk kota dan carut marut Jakarta, bukan lagi sekedar refreshing dan melepaskan penat, namun sebuah kebutuhan jiwa untuk mengisi, berbagi dan memberi arti.

Travoluntrip, kata itu yang saya anggap tepat untuk menyebut apa yang saya lakukan pada perjalanan saya. Bergabung dengan sebuah kegiatan relawan yang concern terhadap pendidikan dan anak Indonesia, saya melangkah dari satu kota ke kota lain untuk bertemu dengan sebanyak mungkin anak Indonesia, mengisi jiwa, berbagi impian dan memberi makna pada kehidupan.

[gallery columns="1" size="full" ids="3530"]

Adalah Tanah Samawa, yang berasal dari singkatan kata Sabalong Samalewa. Salah satu kota di sudut Indonesia bagian tengah atau tepatnya di daerah Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kota yang berada di gugusan Kepulauan Nusa Tenggara ini sungguh memikat hati saya saat travoluntrip awal Oktober lalu. Iklimnya yang khas menyajikan atmosfer yang berbeda, baik dari vegetasi tanamannya hingga cuacanya. Itu belum termasuk keindahan alamnya, kearifan penduduk lokal serta keanekaragaman kulinernya.

Sabalong Samalewa itu sendiri adalah motto Kabupaten Sumbawa yang mencerminkan pembangunan kehidupan masyarakat Sumbawa yang seimbang dan serasi antara pembangunan fisik material dengan pembangunan mental spiritual. Tak heran bila saya merasakan diterima dengan baik oleh penduduk lokal dan beberapa teman-teman yang baru saja saya kenal di Sumbawa.

Tak sulit untuk mencapai Kota Sumbawa, banyak pilihan transportasi baik darat, laut maupun udara menuju kota tersebut. Mereka yang menggunakan jalur penerbangan dari Jakarta seperti saya bisa mengambil rute Jakarta (CGK) – Lombok (LOP) – Sumbawa (SWQ) dengan harga tiket pesawat rata-rata sekitar 1,1 – 1,3 juta rupiah tergantung pada maskapai dan waktu penerbangan yang anda pilih. Informasi tentang penerbangan bisa dilihat di beberapa situs penyedia tiket pesawat seperti www.indonesiaflight.id

Atau bila ingin menikmati pemandangan indah sepanjang jalur darat Lombok-Sumbawa, bisa mengambil alternatif menyeberang menggunakan kapal ferry dari Pelabuhan Kayangan di Lombok menuju Pelabuhan Pototano di Sumbawa. Dari Bandar Udara Lombok Praya bisa memilih untuk menggunakan taksi bertarif sekitar 500 ribu rupiah langsung menuju Pelabuhan Kayangan atau naik taksi dulu ke Mataram dengan ongkos sekitar seratus ribu rupiah dan lanjut ke Sumbawa menggunakan mobil travel yang banyak tersedia di daerah Pancasari Mataram atau belakang Mataram Mall bertarif 140 ribu rupiah (sudah termasuk ongkos kapal).

Mobil travel ini jam operasi cukup panjang, sejak pukul 08.00 wita hingga 20.00 wita dan berangkat tiap jam. Perjalanannya tentu lebih lama dibanding naik pesawat, total sekitar enam jam, termasuk di dalamnya waktu untuk menyeberang laut sekitar 1,5-2 jam, namun sepadan kok dengan pemandangan indah yang didapat sepanjang jalan. Bahkan banyak pejalan yang menggunakan kendaraan roda dua untuk menyeberang dari Lombok ke Sumbawa. Tarif kapal hanya 25 ribu per orang dan 49 ribu rupiah untuk tiket motor roda dua.

Saat berkunjung ke Sumbawa saya menggunakan pesawat terbang dan mendarat dengan mulus di Bandar Udara Sultan Muhammad Kaharuddin III. Tak seperti bandara lain yang sebagian besar berada di pinggir kota, bandara Sumbawa berada di dalam kota Sumbawa, tepatnya di daerah Brangbiji. Saya nyaris tidak menemukan angkot di kota ini, jadi pejalan yang membutuhkan transportasi lokal bisa menyewa ojek motor, sewa mobil atau menggunakan taksi untuk berpergian.

[gallery size="full" columns="1" ids="3529"]

Tak banyak pilihan untuk tempat menginap di dalam kota Sumbawa Besar, beberapa hotel berbintang dan resort atau villa tersebar ke arah luar kabupaten Sumbawa. Meski tujuan utama kedatangan saya adalah kegiatan volunteering untuk anak-anak Sekolah Dasar di Labuan Batu, Kecamatan Utan namun sebagian besar kegiatan lainnya terpusat di Sumbawa Besar. Untuk itulah saya memutuskan untuk menginap semalam saja di Utan dan selebihnya menginap di Sumbawa Besar.

Namun justru yang semalam itu yang paling berkesan buat saya hingga hari ini. Sehari sebelum kegiatan volunteering, saya dan teman-teman relawan lainnya sudah bergerak dari Sumbawa menuju Kecamatan Utan. Perlu waktu tempuh normal sekitar satu jam berkendara menuju ke sana. Namun tentu saja saya dan teman-teman memerlukan waktu tempuh lebih lama karena kami sengaja berhenti di beberapa tempat untuk menikmati Kelapa Muda di tepian pantai dan Jagung Rhee yang terkenal itu.

[gallery columns="1" size="full" ids="3528,3527"]

Ada yang istimewa kedua makanan tersebut, penjualnya terlebih dahulu bertanya kelapa muda seperti apa yang disukai setiap pembeli, yang berdaging tebal atau yang tipis. Saya sih lebih suka yang tipis dan airnya banyak. Nah, kemudian Kelapa Muda ini disajikan dengan tambahan gula cair, perasan air jeruk nipis dan sedikit susu segar murni. Perpaduannya menghasilkan rasa yang unik dan segar, dijamin suka dan sukses menghalau dahaga.

Sedangkan Jagung Rhee sebenarnya jagung hibrida F1 yang memiliki keistimewaan rasa dan atau tekstur menyerupai ketan saat dikunyah. Warnanya juga berbeda tak seperti jagung kebanyakan yang berwarna kuning, Jagung Rhee bulir-bulirnya berwarna putih susu. Jagung Rhee rebus sangat enak dimakan selagi panas dan harganya bikin sangat murah, bayangkan dengan empat ribu rupiah anda bisa mendapat 5 tongkol Jagung Rhee rebus. Murah banget khan?

Kami tiba jelang waktu makan siang tiba di pantai Labuan Pade, Kecamatan Utan. Tempat ini sekaligus menjadi tempat wisata yang telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas sebagaimana layaknya sebuah tempat rekreasi. Untuk ukuran sebuah kota kecamatan, kondisi taman rekreasi di La-Pade sangat baik. Toiletnya bersih, air tawar berlimpah, begitu juga musholla yang terawat, taman bermain anak-anak, kantin serta pondok-pondok untuk beristirahat.

 

[gallery columns="1" size="full" ids="3526"]

Malam nanti kami akan menginap di pantai ini. Pondokan akan disulap menjadi tempat tidur, lantai pondok akan dilapisi dengan matras, dan sekeliling pondok akan ditutupi dengan tirai dan dilengkapi dengan bantal kepala dengan layaknya. Beruntung cuaca malam itu tak terlalu dingin, angin pun bertiup tak terlalu kencang, hanya sesekali serangga malam mengganggu lelap kami.

Sesuai rencana, kami akan menghabiskan sisa hari dengan hopping island di pulau-pulau kecil di sekitar Utan. Setidaknya ada 3 pulau yang paling sering didatangi untuk hopping island yaitu Pulau Bedil, Pulau Keramat dan Pulau Tumodong. Ketiganya saling berdekatan dan hanya membutuhkan waktu belasan menit saja dengan menggunakan perahu bermotor dengan tarif tiga ratus ribu rupiah. Sayang sekali cuaca dan waktu tak memungkinkan kami mengunjungi ketiganya, kami hanya mengunjungi Pulau Bedil dan Pulau Keramat.

[gallery columns="1" size="full" ids="3525,3524"]

Kunjungan kami di dua pulau ini sangat menyenangkan. Keduanya memiliki pasir putih dan pinggiran pantai yang landai. Jadi pengunjung sangat aman untuk berenang-renang di pinggiran pantai. Sebagai obyek foto, Pulau Bedil memiliki deretan pohon kelapa yang berbaris rapi dan pasir timbul di pantainya.Sedangkan di Pulau Keramat kita bisa berpose cantik di dermaga panjang di pinggir pantai beramai-ramai. Seru deh rasanya. Kalian harus rasakan sendiri ke sini.

[gallery columns="1" size="full" ids="3523,3522,3521"]

 

Tak terasa sore menjelang, mentari pun mulai tergelincir ke arah barat, pertanda kami juga harus segera kembali ke daratan dan beristirahat. Esok pagi kami akan mengunjungi SDN Labuan Bajo untuk berbagi inspirasi dan membangun mimpi anak-anak Sumbawa. Akan kuceritakan betapa beruntungnya mereka terlahir sebagai anak Indonesia, dan memiliki tanah air yang indah dan berlimpah berkah.

Pada mereka kutitipkan asa, bahwa suatu saat kelak, merekalah yang akan menjaga negeri ini, menjadikan bangsa dan negara ini bermartabat dan muncul di panggung dunia. Pada mereka kusemaikan asa, agar tumbuh menjadi anak-anak negeri yang hebat yang kelak mampu meneruskan tongkat kepemimpinan pendahulunya dan terus melanjutkan pembangunan negerinya agar menjadi bangsa yang layak diperhitungkan di kancah dunia.

Dan aku percaya, mereka pasti bisa!
Lihatlah senyumdan cita-cita mereka
Untuk Indonesia

[gallery columns="1" size="full" ids="3520,3519"]

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.