Menyibak Destinasi Pesona Palembang

1478086388995 Saya seorang mahasiswa semester lima di Universitas Sumatera Utara,  saya aktif dalam menulis karya ilmiah.   Berawal dari sebuah kompetisi karya ilmiah, saya diundang ke Universitas Sriwijaya Palembang. Palembang yang identik sebagai wilayah kawasan rawa yang paling luas menciptakan berbagai macam destinasi yang luar biasa untuk setiap pesona kota Palembang.

Adalah Indralaya yang menjadi tujuan utama perjalanan fam trip #PesonaPalembang bersama berbagai tim dari luar Sumatera. Kami berangkat dari bandara Kualanamu, Medan dengan durasi tempuh sekitar kurang lebih 2 jam untuk tiba di kota Palembang.  Kampus Universitas Sriwijaya sebagai lokasi perjalanan Dengan berbagai aktifitas yang dilaksanakan di dalam nya kira-kira menempuh waktu 2 jam dari kota Palembang.

Saya bersama dengan tim sesampainya di Universitas Sriwijaya begitu takjub melihat luasnya kampus Unsri di Indralaya dengan berbagai macam jurusan yang ada di dalamnya.

Ketika sesampainya di kampus Unsri dengan disambut oleh para panitia, kami pun langsung istirahat untuk menyiapkan tenaga pada besoknya lomba.

Malam harinya, Panitia memberikan waktu untuk mempelajari kembali setiap materi presentasi  yang akan di pertandinkan besok hari.

Ada 10 tim terbaik di Indonesia yang berpresentasi atas ilmiah mereka,  dan Kini saatnya tiba giliran kami untuk mempresentasikan hasil dari penelitian kami. Dengan berbagai persiapan yang matang kami pun memberikan penampilan yang terbaik.

screenshot_2016-10-30-22-35-37

Besok harinya pukul 6.30 wib tiba lah field trip dalam puncak kegiatan tersebut.  Tempat-tempat yang kami lalui yakni dimulai dengan berpoto di Universitas Sriwijaya Indralaya, dilanjutkan dengan berkunjung ke kota Palembang seperti Jembatan Ampera, Masjid Agung, Museum Al-Quran, dan Gelora Sriwijaya.

Palembang sebagai pusat kota setiap aktifitas kegiatan memunculkan berbagai kondisi untuk tetap berjaga-jaga dalam setiap waktu untuk menghindari berbagai kegiatan yang akan terjadi diluardugaan saya.

Kalau ditanya, tempat apa yang anda ingin kunjungi ketika pertama kali datang ke Palembang? Ya, Jembatan Ampera tentunya menjadi prioritas bagi anda. Rasanya belum ke palembang kalau tidak melihat atau berfoto dengan background Jembatan Ampera. Saya bersama tim berangkat dari Indralaya ke kota Palembang tepatnya ke Jembatan Ampera yang menempuh waktu sekitar 2 jam dengan ongkos Rp 25.000  perorang

Nah,  sangat perlu diketahui bahwa Jembatan kebanggaan masyarakat Palembang mulai dibangun pada tahun 1962, sebagai hadiah dari Bung Karno bagi masyarakat Palembang yang dananya diambil dari dana rampasan perang Jepang (juga untuk membangun Monas, Jakarta). Bukan hanya biaya pembangunannya dari jepang, tenaga ahli puembangunannya pun dari jepang. Peresmian pemakaian jembatan ampera dilakukan oleh Letjend. Ahmad Yani pada tahun 1965, tepatnya pada tanggal 30 september 1965, (Letjend. Ahmad Yani pulang ke Jakarta pada sore hari 30 sept 1965, dan subuh 1 oktober 1965 menjadi korban G.30S. PKI), sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Akan tetapi, setelah terjadi pergolakan politik di tahun 1966 dimana gerakan anti-soekarno begitu kuat, maka nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera. Namun masyarakat palembang lebih suka menyebut jembatan ini dengan nama ”Proyek Musi”.

So, Jangan heran jika anda berkunjung ke jembatan ampera, masih banyak masyarakat yang menyebut jembatan ini dengan nama ”Proyek”, terutama dikawasan 16 ilir atau 7 ulu, yang untuk menunjukan tempat ini, masyarakat masih menyebutnya ”dibawah Proyek”. Maksudnya dibawah jembatan ampera.

Ketika baru selesai dibangun, bagian tengah jembatan ini dapat diangkat dengan kecepatan sekitar 10 meter per menit, diantara dua menara pengangkatnya yang berdiri tegak setinggi 63 meter, dan jarak antara dua menara sekitar 75 meter, dengan menggunakan dua bandul pemberat yang dipasang pada dua menara, dengan masing-masing berat sekitar 500 ton. sehingga kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan tinggi maksimum 44,5 meter bisa lewat mengarungi sungai musi dengan lancar.

Sejak tahun 1970, bandul untuk menaik-turunkan bagian tengah jembatan ampera sudah tidak diaktifkan lagi, dengan pertimbangan waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini, sekitar 30 menit, dapat mengganggu arus lalu lintas antara seberang ulu dan seberang ilir, dua wilayah dikota palembang yang dipisahkan oleh sungai musi. Pertimbangan lain, karena sudah tidak ada lagi kapal besar yang bisa berlayar di sungai musi, karena pendangkalan sungai musi yang semakin parah.

img_20161030_223756Selanjutnya kami ke Stadion Jakabaring yang terletak di Jalan Gubernur H. A. Bastari, Jakabaring, Palembang sekitar 30 menit dengan ongkos 15.000 naik bis,  oke,  perlu diketahui bahwa stadion Jakabaring ini memiliki arsitektur yang unik dan bagus serta konon sanggup menampung hingga 36.000 – 40.000 penonton dan dibangun di komplek olahraga Stadion dengan luas lahan sekitar 40 hektar.  Bentuk atap stadion Jakabaring merupakan simbol kejayaan kerajaan Sriwijaya sektor maritim yang dilambangkan dalam bentuk perahu dengan layar terkembang. Menarik bukan!

1478086328390Lalu kami Museum Al Quran raksasa yang ditempuh sekitar 1 jam dari Jakabaring,  dalam museum Al Quran terdapat Al Quran yang diukir pada kayu ini terdiri dari 630 halaman ini juga dilengkapi dengan tajwid serta doa khataman bagi pemula. Setiap lembar terpahat ayat suci Al-Quran pada warna dasar kayu coklat dengan huruf Arab timbul warna kuning dengan ukiran motif kembang di bagian tepi ornamen khas Palembang yang sangat indah di pandang dan enak dibaca. Proses pembuatannya sendiri memakan waktu relatif lama, sekitar tujuh tahunan ini akan mengundang decak kagum setiam pengunjung museum Al-Qur’an raksasa.

Alqur’an raksasa (Al Akbar) ini mulai dipublikasikan pada 30 Januari 2012, oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta seluruh delegasi konferensi parlemen Organisasi Konferensi Islam (OKI) meresmikan penggunaan Alquran yang disebut sebagai Alquran terbesar yang dicetak di atas lembaran kayu trembesi (kayu ulin).

Keberadaan Al Quran raksasa ini cepat terdengar kalangan masyarakat di seluruh penjuru tanah air, bahkan sampai dunia internasional juga mengakui kemegahan dan ketakjuban karya seni Islam dengan ukiran khas Palembang dan memiliki ukuran terbesar yang pernah ada ini. Selain itu Al Qur’an raksasa ini juga mendapat pengakuan dari Muri bahkan dari parlemen negara-negara Islam yang ada di dunia tahun 2012.

Itulah kisah perjalanan dan petualangan saya di Palembang.

Leave a Reply