Merenda Kenangan Indah di Kampung Halaman Kedua

Post

Ngawi Ramah, kota kecil yang memberikan banyak lembaran hidup (Sumber: dokumen pribadi)

 

“Sejauh-jauhnya tupai melompat pasti akan jatuh juga” merupakan peribahasa yang tidak asing lagi kita dengar. Sebuah peribahasa yang mengandung arti bahwa meskipun kita melanglang jauh di belahan dunia manapun, maka kita akan merasakan kerinduan akan kampung halaman. Kampung halaman yang banyak memberikan kenangan indah baik masa kecil, remaja maupun dewasa. Ya, kenangan indah tersebut tidak bisa diputar kembali saat sekarang. Itulah sebabnya, untuk menapaktilasi kampung halaman terbaik adalah kita harus menjamahnya. Jadi, pulang ke kampung halaman adalah cara terbaik untuk mengingat kembali (remind) tentang masa yang pernah kita alami puluhan tahun yang lalu.

Apalagi, menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun 2017 maka pulang ke kampung halaman adalah sebuah keniscayaan. Dan, kali ini saya pun mengalaminya sendiri. Kerinduan akan kampung halaman karena telah memberikan banyak lembaran hidup yang indah dan perlu diingat kembali. Namun, kali ini saya pulang kampung bukan ke kampung halaman saat masa kecil hingga remaja. Tetapi, kampung halaman di mana saya mulai membina rumah tangga dengan sosok wanita yang kini menjadi belahan hati.

Ngawi, bukanlah seperti kota-kota lain yang selalu muncul dan menghiasi berita baik cetak maupun televisi. Kota kecil yang merupakan bagian dari Provinsi Jawa Timur terletak di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur selalu membuat rasa kangen untuk disambangi. Saya menyadari bahwa pulang kampung ke Ngawi seperti merenda kenangan indah. Meskipun, saya tidak bisa mampir setiap tahunnya karena banyak hal yang menjadi penghalangnya. Namun, tahun 2017 saya berusaha pulang ke Ngawi dari Denpasar Bali untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Dari rumah inilah, kenangan indah di kampung halaman kedua berawal (Sumber: dokumen pribadi)

Kuliner Sederhana yang Menghipnotis

Seperti halnya kota lain, ada yang membuat kangen ketika pulang ke Ngawi yaitu kuliner sederhana berupa Nasi Tumpang (Sego Tumpang). Jujur, kuliner Nasi Tumpang justru cocok di lidah jika membelinya bukan dari restoran mewah. Mak Sih, perempuan paruh baya yang tinggal dan menjual Nasi Tumpang di samping rumah justru telah menghipnotis saya untuk mencicipinya setiap pulang kampung. Jika tidak bulan Ramadan, Mak Sih berjualan pagi dan sore hari. Langganannya pun bisa datang dari dari desa tetangga.

Kuliner yang terdiri dari nasi yang diberi toping mie sohun, sambel tempe yang direbus dengan daun jeruk, potongan kecil tempe, dan gorengan tempe selalu menghiasi sarapan pagi atau sore hari. Harganya pun bersahabat, dengan merogoh kocek Rp. 3.000,- kita sudah bisa mendapatkan sepincuk Nasi Tumpang Mak Sih yang menggoda selera. Maknyus, kata pak Bondan Winarno.

Nasi Tumpang buatan Mak Sih (Sumber: dokumen pribadi)

Pendamping kuliner, maka saya pun selalu berburu minuman khas tradisional yang membuat ketagihan. Legen, minuman yang dibuat dari buah Siwalan atau palem sebenarnya berasal dari Kota Tuban Jawa Timur. Namun, minuman khas tersebut telah diperjualbelikan di Ngawi seperti sepanjang jalan Ngawi-Madiun. Harganya pun bisa dijangkau dengan isi kantong, Rp. 10.000,- per botol air mineral besar. Namun, jika kita ingin menikmati minuman tersebut yang dingin dan ukuran gelas, maka anda bisa mampir di salah satu warung yang berada di kawasan alun-alun Ngawi bagian timur. Dengan uang Rp. 3.000,- kita sudah bisa menikmati segarnya minuman legen sambil mencicipi gorengan serta rica-rica keong sawah khas Ngawi.

 

Minuman Legen yang menggoda selera (Sumber: dokumen pribadi)
Warung paling kanan merupakan tempat langganan menikmati es legen saat pulang kampung (Sumber: dokumen pribadi)

 Kota yang Unik

Ngawi dikenal dengan daya tarik wisata yang mengundang banyak pengunjung. Sebagai kota yang merupakan peninggalan manusia purbakala maka berkunjung ke Museum Trinil yang berada di Desa Trinil (kurang lebih 5 km arah utara dari jalan raya Ngawi-Solo) merupakan pengalaman yang menarik. Anda bisa menikmati berbagai peninggalan manusia purbakala yang hidup di sekitar sungai Bengawan Solo. Bahkan, tempat wisata tersebut bisa menjadi sarana edukasi bagi anak sekolah.

Salah satu koleksi peninggalan Museum Trinil yang menarik perhatian saya adalah tanduk kerbau yang hidup jutaan tahun lalu yang mempunyai bentangan kurang lebih 2 meter. Masih banyak peninggalan lainnya yang bisa membuat anda seperti terbawa ke masa purbakala. Lokasi inilah yang membuat saya kangen jika pulang ke Ngawi. Apalagi, untuk menikmati berbagai koleksi Museum Trinil, kita tidak dikenakan tiket masuk alias gratis.

Tanduk kerbau purbakala, salah satu koleksi di Museum Trinil Ngawi (Sumber: dokumen pribadi)

 Selain Museum Trinil, ada tempat wisata sejarah menarik lain untuk dikunjungi setiap pulang kampung. Benteng Van Den Bosch atau yang lebih akarab disebut sebagai Benteng Pendem merupakan peninggalan kolonial Hindia Belanda yang fenomenal. Bangunan benteng yang dibangun saat Gubernur Jendral Hindia Belanda Van Den Bosch berkuasa dibangun selama 6 tahun dari 1839 hingga 1845. Hebatnya, bangunan tersebut masih kokoh berdiri hingga sekarang. Hanya beberapa bagian yang hancur karena termakan usia.

Dulunya benteng tersebut terkubur atau terpendam karena faktor alam. Itulah sebabnya, benteng tersebut dikenal masyarakat Ngawi sebagai Benteng Pendem atau Benteng yang pernah terkubur. Kini, benteng tersebut sering menjadi ajang fotografi atau acara pengambilan gambar pre-wedding. Lokasi wisata Benteng Pendem terletak tidak jauh dengan Taman Makam Pahlawan (TMP) Ngawi. Untuk menikmati nuansa tempo dulu di benteng Pendem, maka pengunjung akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 5.000,-.

Pintu gerbang Benteng Van Den Bosch atau Benteng Pendem (Sumber: dokumen pribadi)

 

 Bukan hanya benteng Pendem yang masih tersisa hingga kini. Anda juga bisa menikmati bangunan peninggalan kolonial Hindia Belanda yang berada di Kota Ngawi. Banyak rumah-rumah Belanda yang berserakan di sekitar benteng Pendem tersebut. Hal ini membuktikan bahwa di sekitar Benteng Pendem dahulu merupakan kawasan yang banyak didiami oleh Mener-mener Hindia Belanda tempo dulu. Kini, masih ada rumah peninggalan Hindia Belanda yang masih tegak berdiri. Tetapi, masih ada juga rumah yang tidak berpenghuni dan terlantar. Salah satu rumah peninggalan Hindia Belanda yang tidak terurus dan mempunyai halaman luas terletak di jalan Sentot arah ke Taman Pendem. Sayang sekali, bukan?

Rumah peninggalan Hindia Belanda yang tidak terurus (Sumber: dokumen pribadi)

 

Saat perkembangan Teknologi Informasi (TI) kian membumbung tinggi yang menyebabkan jual beli online menjadi cara ampuh untuk mendulang rupiah. Kenyataannya, jual beli konvensional justru masih ampuh bagi para simbah-simbah (orang usia lanjut) untuk melakukan jual beli ayam kampung. Lokasi transaksi ayam kampung ini terletak di sebelah timur Pasar Besar Ngawi. Tanpa menggunakan meja atau tempat untuk menaruh dagangan. Mereka hanya beralaskan tanah dan posisi duduk atau jongkok, ritual dolyam (adol ayam) pun dilakukan dengan gelak-tawa saat tawar-menawar.

Jual beli ayam kampung sambil duduk atau jongkok (Sumber: dokumen pribadi) 

Jualan unik lainnya bisa anda temui di depan gereja jalan Jaksa Agung Suprapto Ngawi. Dengan bermodalkan mobil pick-up tahun 80-an, seorang penjual ikan hias menata dagangannya dengan menggantungkan plastik yang telah terisi ikan hias di bagian belakang mobil. Mobil yang telah dimodifikasi layaknya rak dagangan menjadi contoh kreatif untuk berjualan. Kita biasanya melihat penjual ikan hias dengan menggunakan kolam ikan yang telah ditaruh berbagai macam jenis ikan hias. Namun, penjual tersebut telah memilah-milah ikan hias dagangannya dalam kemasan plastik agar lebih praktis membawanya.

Kemasan ikan hias dalam kemasan plastik (Sumber: dokumen pribadi)

 

Kearifan Lokal

Pulang ke kampung halaman tidak lengkap rasanya jika tidak ngebolang ke persawahan. Kebetulan, saat ini Ngawi sedang mengalami musim panen padi maka di beberapa sudut pedesaaan banyak penduduk yang sedang memotong padi atau merontokkan padi. Yang menarik adalah jerami yang tersisa justru dikumpulkan dan disatukan dengan tiang penyangga. Jika kita melihat dari jauh sekilas seperti rumah Honai khas Papua atau di Wae Rebo Nusa Tenggara Timur. Nantinya, jerami tersebut digunakan sebagai media untuk tumbuhnya jamur atau pupuk tanaman. Sebuah kearifan lokal yang tetap menjaga kesuburan lahan tanaman.

Tumpukan jerami sisa panen padi (Sumber: dokumen pribadi) 

Masa panen padi juga merupakan berkah bagi usaha mobil Grandong. Ya, mobil Grandong adalah sebutan bagi mesin penggiling padi (ricemill) yang dirancang keliling seperti mobil. Mereka (sebutan bagi pemilik mobil Grandong) akan berkeliling ke kampung-kampung mencari konsumen yang sudi untuk menggiling padinya. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari kedua belah pihak. Omset sang pemilik mobil Grandong tentunya meningkat karena menggunakan sistem jemput bola. Konsumen pun tidak perlu lelah menuju ke tempat penggilingan padi yang tempatnya lumayan jauh. Apalagi, jika tidak mempunyai uang kontan untuk membayar jasa penggilingan maka membayar dengan beras adalah solusi yang disepakati kedua belah pihak.

Mobil Grandong sedang beroperasi di depan tempat tinggal saya  (Sumber: dokumen pribadi) 

Acara yang tidak terlewatkan saat pulang ke kampung halaman khususnya menjelang hari raya Idul Fitri adalah bersih-bersih rumah. Mengatur tata letak meja dan kursi serta menjaga kebersihan di sekitar tempat tinggal merupakan ritual yang harus dilakukan. Salah satunya adalah membersihkan got untuk menjaga aliran air agar tidak mapet dan mencegah penyakit demam berdarah. Bersih-bersih sangat klop dengan usaha membersihkan hati di Hari Raya Idul Fitri.

Membersihkan saluran air depan rumah untuk mencegah berbagai macam penyakit (Sumber: dokumen pribadi)

Terakhir, hal terpenting dari acara pulang ke kampung halaman adalah menjalin silaturahmi. Kata pepatah Jawa, “nglumpukno balung pisah” (mengumpulkan tulang terpisah). Maksudnya, dengan pulang ke kampung halaman khususnya di hari raya adalah mengumpulkan saudara, kerabat, teman atau keluarga yang terpisah jauh. Pulang ke kampung halaman merupakan rangkaian menyatukan senyum dan gelak tawa dari orang-orang terdekat atau yang pernah menjadi bagian dalam kenangan hidup. Jika, salah satu anggota keluarga telah mendahului untuk menghadap Tuhan Yang Maha Esa maka berziarah ke makam adalah cara terbaik untuk mendoakannya.

Menjalin silaturahmi keluarga sehabis berziarah ke makam mertua perempuan (Sumber: dokumen pribadi)

Kampung halaman adalah tempat yang tidak akan dilupakan dalam hidup. Di saat kita sibuk mencari rejeki nun jauh di sana maka kerinduan akan kampung halaman adalah merupakan bukti bahwa kita masih #ingetkampung. Tempat yang dirindukan karena telah memberikan banyak lembaran kenangan indah dalam hidup. Jadi, sepandai-pandainya anda melanglang buana hingga ke ujung dunia, kampong halaman akan selalu menghiasi pikiran. Pulanglah jika anda kangen kampung, karena sejatinya kampung bisa mengobati kerinduan anda. Karena, dari kampunglan mimpi besar anda akan terwujud.