Mudik Ke Kenawa

Oh, yeah, those will be the days that i’ll be missing/ when i’m old and when i’m grey and when i stop working/ i hope that i can say/ when all my days are done/ we were just having fun.

Kodaline – Way Back When

Kita dipertemukan kembali disebuah titik, sebuah pulau nan cantik tak jauh dari tempat yang dinamakan lawang desa (gerbang masuk). Bagi para pelancong nama Sumbawa diharuskan berada pada dreamboard, sebagai salah satu referensi tempat yang harus dikunjungi baik dari sudut pandang keindahan alam, lautan hingga kebudayaan. Tapi bagi kami yang #ingatkampung, Sumbawa lebih dari itu, a place called home, rumah bagi kami untuk hidup, rumah bagi kami merangkai mimpi-mimpi kecil, serta rumah bagi kami bernapas dan berkembang hingga saat ini.

Mudik ke Sumbawa bisa dikatakan moment yang langka. Rutinitas serta hiruk pikuk di daerah perantauan membuat diri tak kuasa lagi membawa pikiran untuk berjalan-jalan mengeksplorasi kampung halaman. Tradisi mudiklah yang dapat merealisasikan hal itu semua, sebagai mesin waktu untuk dapat mengingat kembali saat-saat spesial bersama keluarga tercinta serta tak lupa waktu bersama yang dihabiskan bersama para sahabat lama.

bersama sahabat lama/ dethazyo

Tanpa dikomandoi oleh rencana, beberapa sahabat lama mulai merapat, hingga tepat jam tangan menunjukkan pukul 2:00 WITA, siang hari. Waktu yang cukup krusial untuk memulai sebuah penjelajahan berharga. Sebuah pulau kecil dengan panorama rumput-rumput ilalang yang tumbuh liar bernama Kenawa di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, menjadi titik temu, semacam reuni kecil-kecillan untuk mengungkap kembali canda dan tawa yang lama tak terdengar.

Segala bentuk perlengkapan sederhana telah siap dimasukkan dalam bagasi sebuah mobil berjenis city car. Suhu udara 33 derajat kala berada di Kota Sumbawa Besar adalah hal yang wajar bagi kami, mengingat candaan yang ada mengatakan bahwa Sumbawa adalah ‘Negeri 5 Matahari,’ panasnya dirasa bisa menyengat kulit, bahkan kulit sawo matang tampak menghitam ketika kita mengitari kota sumbawa dalam beberapa jam saja.

Menempati posisi strategis di dalam mobil yang berisi 7 orang dapat dikatakan menarik, mengingat waktu tempuh 2 jam perjalanan dari Kota Sumbawa menuju pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat. Membosankan jika hanya lantunan lagu-lagu dalam playlist saja yang terdengar oleh indra pendengaran, apalagi bersama sahabat lama. Interaksi yang beragam tentunya menjadi jamuan utama sembari menikmati pemandangan pantai-pantai yang menghiasi tiap persimpangan jalan.

Sesampainya di Poto Tano, belum sempat kaki melangkah keluar dari kendaraan yang terparkir. Dari kejauhan tampak para nelayan datang menghampiri kami dengan menawarkan harga antar jemput perahu ke pulau yang baru tenar pada tahun 2012. Harga yang ditawarkan kala kami menanyakan sempat menyentuh angka Rp 300.000 – Rp 400.000, harga segitu tentu berlaku bagi pelancong dari luar Sumbawa, mengetahui kami berasal dari negeri ‘Sabalong Samalewa,’ tentunya diperkuat dengan dialek khas Sumbawa, harga tersebut langsung berubah menjadi Rp. 200.000 untuk perahu berkapasitas 10 orang dengan durasi jemput tanpa batasan waktu.

perahu kayu menyapu ombak/ dethazyo

Tampak semangat semakin menyala-nyala, kala bunyi perahu tradisional mulai dinyalakan. Kurang lebih 20 menit perjalanan dihiasi dengan birunya lautan dengan kapal-kapal yang lalu lalang terekam langsung oleh kedua bola mata. Serta takjub pula dengan gairah wisata pulau kecil tak berpenghuni ini, masyarakat lokal yang memiliki perahu tak lagi menjadikan menangkap ikan dan memelihara ternak sebagai pondasi utama mesin perekonomian keluarga. Hal ini membuktikan bahwa pundi-pundi yang didapatkan dari geliat majunya pariwisata Sumbawa mampu datang sebagai angin penyejuk dibanding harus menanti uluran tangan berupa CSR kapitalis yang mengeruk emas di Kabupaten Sumbawa Barat.

saat pertama sampai/ dethazyo
ber-selfie ria/ dethazyo

Melawati dermaga kayu, menandakan kami telah melangkah masuk ke dalam pulau dengan pesona pasir putih yang menghiasi tiap sisi pulau. Belum lagi di tengahnya, indahnya padang rumput dengan ilalang tinggi tersapu oleh angin, langsung saja dicerna oleh pikiran seraya vitamin yang membangkitkan jiwa dan raga yang dilanda kelelahan. Hatipun diam-diam berucap, “Inilah daya pikat Indonesia sesungguhnya.”

pondok untuk bersantai/ dethazyo

Ilalang yang ada di Kenawa membawa kembali ingatan masa kecil, rumput ini bukan hanya sekadar rumput. Bagi masyarakat lokal, rumput ini biasa disebut “Rebu Kesagaloka” yang dipercayai sebagai obat untuk awet muda. Rumput tersebut di konsumsi dengan cara memasaknya dengan air, baru setelah matang lalu diminum. Melihatnya semacam melihat edelweis ketika mendaki gunung, sama-sama memberi makna akan keabadian.

melihat keindahan kenawa/ dethazyo
kenawa dari atas/ dethazyo

Tak hanya sekedar duduk di saung-saung kecil yang tersedia hampir di sekeliling pulau serta dihujani selfie saja, langkah akhirnya berjalan menuju bukit untuk mendapatkan sebuah totalitas dari sebuah penjelajahan. Terhitung 3 bukit elok di pulau dengan luas sekitar 15 hektar mampu memberikan takaran keindahan berbeda. Semuanya akhirnya terekam habis diabadikan melalui mata lensa kamera. Beragam aktivitas pelancong juga terlihat, hampir tak ada wajah dengan raut sedih, semuanya seraya memberi sinyal “Big Smile on My Face.”

menuju puncak bukit/ dethazyo
indahnya pulau kenawa/ dethazyo
rebu kesagaloka aka ilalang/ dethazyo

Hal yang menjadi favorit saat di Kenawa tak lain adalah melompat langsung pantai, sebagai ritual wajib ketika berada di pantai. Ke pantai tanpa bermandikan asinnya air laut, serta kaki belum menyentuh pasir putih, rasanya ada satu bagian yang kurang. Logika berpikir sederhana ini mungkin akan membuat anda paham rasanya. “Apa rasanya coba jika ke Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, tanpa pergi ke Danau Kakaban berenang dengan ubur-ubur tanpa sengat?”

indahnya pulau kenawa/ dethazyo
bersantai sejenak/ dethazyo
just me

Meski tak berpenghuni, ditambah dengan susahnya akses terhadap air bersih, bagi kami tempat ini sakral. Sekalipun pada malam hari tanpa penerangan yang memadai, cahaya rembulan ber-mahkotakan bintang-bintang menjadi cahaya yang mampu menghiasi sekitar, bagai mengamini langsung pentolan Coldplay, Chris Martin ketika melantunkan Fix You “Light will guide you home.”  Yups, Sumbawa is my home and Kenawa is part of my home.

signature

adrenaline junkie, copywriter, content writer, see more about me at dethazyo.blogspot.co.id & tifada.com

Leave a Reply