Begitu Banyak Warna di Museum Kata Andrea Hirata

Post

Tak terbilang hati gembira, Melihat Negeri Laskar Pelangi, Selamat datang di Museum Kata, Semoga kawan terinspirasi.

Setelah melewati perumahan warga di sekitar daerah Lenggang, Gantong, Belitong Timur yang dilanda banjir bandang beberapa waktu yang lalu, kami kini sudah tiba di Museum Kata Andrea Hirata yang tampak mencolok dengan bangunan tua penuh warna-warni.

Museum Kata Andrea Hirata
pagar luar dari museum kata Andrea Hirata

Pada beberapa bangunan di sekitar masih terlihat jelas kerusakan yang diakibatkan banjir bandang, beberapa warga terlihat sedang menjemur kursi, hingga kasur di halaman rumah mereka masing-masing. Beberapa tembok rumah warga juga ada yang jebol karena terkena air bah. Ini merupakan bencana banjir bandang untuk kali pertama terjadi di Belitong Timur, tak heran banyak penduduk yang masih trauma saat hujan angin datang.

Saat kami ke sini, loket terlihat tutup tanpa ada petugas. Mas Rangga, tour guide kami langsung mencari dimana keberadaan sang petugas dan tak lama yang dicari muncul juga. Kami berlima membeli tiket masuk seharga lima puluh ribu rupiah, cukup mahal juga namun itu sudah termasuk satu buah buku karya Andrea Hirata  dan memang isinya begitu unik berupa karya penulis asli daerah ini dalam berbagai macam bahasa di dunia. Selain itu juga terdapat quotes-quotes terkenal dari tokoh dunia yang dipajang di seluruh ruangan museum ini.

Tampak dari luar, pagar-pagar dengan berbagai corak warna menyambut kami siang itu. Begitu masuk, kami disuguhi rimbunnya pepohonan dan juga pagar yang sama juga dicat diwarna-warni.

Rumah yang dijadikan museum ini sebenarnya adalah rumah tua beratapkan seng, berbentuk limas serta dipenuhi jendela tinggi dan berjumlah banyak pada sekelilingnya. Cocok sekali dengan kondisi cuaca Belitong yang cukup panas.

Di dalam museum ini pengunjung langsung disuguhi cuplikan adegan film Laskar Pelangi dalam bentuk foto berukuran besar lengkap dengan quotesnya. Ornamen di dalam museum ini ditata sedemikian rupa dengan tetap menampilkan unsur jadul dan tradisional Belitong. Kalau pengunjung ingin membaca satu-satu apa yang ditampilkan di museum ini, akan butuh waktu sangat lama untuk menyelesaikannya, tapi bagi anda yang suka narsis, lokasi ini sangat cocok untuk dijadikan bahan foto di Instagram karena sangat Instagramable banget.

Museum Kata Andrea Hirata
suasana di dalam museum kata Andrea Hirata

Pada bagian belakang sendiri bangunan ini dijadikan lokasi Kafe yang diberi nama Kopi Kuli  yang memang dulunya banyak para kuli dari PN Timah yang suka sekali nongkrong di warung kopi yang banyak tersebar di daerah Gantong ini sehingga mungkin si pemilik ingin menamai warung kopinya seperti itu.

Siang itu, saya dan Mas Rangga mendapat traktiran kopi dari Mas Bastian. Saya memilih segelas kecil kopi hitam khas Gantong yang ditambah susu, sementara itu yang lainnya memilih kopi hitam biasa dan untungnya kami semua suka meminum kopi yang manis beda dengan teman saya di Banjarnegara yang suka kopi pahit.

Tiga gelas kopi plus camilan tadi dihargai uang sebesar dua puluh tiga ribu rupiah. Ada hal unik di sini karena tungku kayu dan peralatan masak lainnya terlihat jadul dan tentunya hitam pekat karena asap. Beberapa pengunjung sibuk berpose seakan sedang menyeduh kopi atau mengangkat ceret-ceret air.

Cerita Lain: Nasib Kampungku Setelah 12 Tahun

Museum Kata Andrea Hirata
dapur kopi kuli yang sengaja dibuat sederhana

Berjalan keluar, kami disuguhi rumah-rumah tanpa pintu yang masih senada dicat warna-warni serta jendela pada bagian atap serta beberapa pojok yang dijadikan ornamen. Ruangan ini sangat cocok untuk berdiskusi bersama maupun bedah buku. Setelah puas berfoto bersama Tim KitaINA, kami mengakhiri kunjungan siang itu dan melanjutkan perjalanan berikutnnya.

Kemanakah tujuan kami berikutnya? Tunggu kelanjutan ceritanya...

Cerita Lain: Museum Trinil