Nasib Kampungku Setelah 12 Tahun

Libur sekolah pun tiba. Semua orang pasti sangat senang berlibur ke kampung halamannya atau hanya sekedar berlibur keluar kota maupun luar negeri untuk menghilangkan rasa capek dalam melakukan aktifitas sehari hari. Tidak ketinggalan juga denganku. Aku yang sedari kecil sudah sangat suka dengan pemandangan pemandangan yang indah serta tempat tempat wisata yang bagus membuatku ingin cepat cepat kembali ke kampungku.

Siapa yang tidak kenal dengan kota yang satu ini. 12 tahun yang lalu, kota ini dihantam oleh air bah yang berwarna hitam. Keadaan kota yang luluh lantah oleh lumpur dari dasar laut membuat kota ini seakan seperti kota mati. Banyak korban korban bertebaran dimana mana dan bangunan bangunan yang telah hancur. Tetapi, 12 tahun kemudian kota ini tidak lagi menjadi seperti kota mati. Kota ini terus berkembang bagai jamur yang tumbuh di musim hujan. Banda Aceh, kota yang satu ini dikenal akan ciri khas adat istiadat yang kental akan budaya yang berkaitan dengan syariat Islam. Setiap kali libur panjang sekolah tiba, aku sangat ingin pulang ke kota ini. Rindu akan pemandangan laut yang biru, gunung gunung yang menjulang tinggi keangkasa.

Setelah pasca bencana Tsunami, aku dan keluarga pindah ke daerah lain yang lebih aman karena di Banda Aceh aku tidak memiliki harta benda apapun akibat disapu oleh air bah itu. Dengan rasa syukur kami sekeluarga selamat dalam kejadian itu. Aku teringat, masa masa kecil ku dulu di Banda Aceh. Setiap sore jalan jalan ke mesjid nan megah bagaikan Masjidil Haram di Mekkah. Tak heran, daerah yang satu ini dijuluki Serambi Mekkah. Di sana aku memberi makan ikan ikan yang ada dikolam depan mesjid raya tersebut. Sebelum mesjid dibangun dan direnovasi seperti sekarang ini. Banyak sekali kenangan kenangan yang ada.

Mesjid Raya Baiturrahman Provinsi Aceh

Tak jauh dari mesjid raya tepatnya diseberang jalan, terdapat taman yang sangat indah namanya Taman Sari. Rumputnya sangat hijau. Taman yang terletak ditengah kota ini memberikan rasa nyaman buatku. Tak jauh dari Taman sari, ada sebuah taman lagi yang bernama Gunongan dan Taman Putroe Phang. Menurut sejarahnya. Taman ini adalah taman yang dibuat kerajaan kesultanan Aceh untuk permaisurinya disaat ditinggal pangeran untuk berperang yang sedang sendirian.

Setelah 12 tahun berlalu sejak kejadian yang maha dahsyat menghantam kota Banda Aceh. Banyak sekali perubahan perubahan yang kulihat disana. Sekolah sekolah mulai dibangun. Banyak fasilitas fasilitas umum diperbaiki. Dan ada juga bangunan bangunan yang ditambah. Sekarang, Kota Banda Aceh sudah lebih maju sebelum kejadian tersebut. Semakin kuingat akan kota ini semakin banyak kuingat kenangan masa kecil di kampung.

Waktu pertama kali aku menginjakkan kaki ku dibumi Serambi Mekkah setelah 12 tahun berlalu alangkah terkejutnya aku seketika mulai memasuki pusat kota. Ku lihat perkembangan kota ini yang sangat pesat. Banyak kulihat tempat tempat wisata bertambah banyak. Semakin mengingatkan ku saat masa masa kecil di kota Banda Aceh. Pasca tsunami banyak sekali tempat wisata wisata yang menarik minat ku. Dari sekian banyak tempat wisata termasuk situs tsunami adalah Musem Tsunami Aceh, Kapal PLTD Apung yang terdampar ke daratan dan kapal lampulo yang tersangkut diatas rumah warga.

Museum Tsunami Aceh, merupakan salah satu tempat yang paling menarik perhatian ku sejak depan pintu masuk. Museum ini dibuka setiap senin sampai minggu kecuali hari jum’at dengan jam operasional dari pukul 09.00 sampai 16.00. Museum ini beralamat di Jl. Sultan Iskandar Muda No.3, Sukaramai, Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Harga tiket masuk kesini adalah gratis dan tidak dipungut biaya apapun.

Untuk menuju museum ini sangat mudah diakses. Kita bisa menaiki labi-labi ataupun becak motor. Museum ini memiliki keunikan tersendiri dengan museum museum yang ada di Indonesia. Museum ini memiliki arsitektur yang memadukan unsur kebudayaan dan unsur kearifan lokal masyarakat sekitar. Didalam museum ini ada berbagai macam ruangan ruangan seperti lorong tsunami yaitu lorong dimana mengajak para wisatawan untuk merasakan bagaimana kejadian tsunami tersebut dengan tetesan air yang jatuh dari ketinggian 30 meter dengan suasana gelap gulita dan jalan menurun. Kemudian diteruskan kedalam ruangan sumur doa dimana di sumur doa ini terdapat tulisan sebagian nama-nama korban dan di atasnya terdapat tulisan nama Allah. Diteruskan dengan jembatan perdamaian yang di bawahnya terdapat kolam ikan dan di atasnya terdapat bendara negara yang ikut membantu dan di bendera tersebut terdapat tulisan damai dalam berbagai bahasa negara tersebut. Museum ini mengingatkan ku akan kota ini dan kejadian kejadian tsunami. Air mata ku sampai jatuh ketika melihat foto dan video yang terpampang di museum.

Satu lagi tempat yang sangat senang ku datangi adalah pantai Ulee Lheue. Pantai ini mengingatkan ku bersama keluargaku. Waktu kecil, aku mandi bersama kakak perempuanku. Setiap melihat pantai ini entah mengapa aku rindu akan rumah lamaku. Pantai ini menjad saksi bisu kebersamaanku dan keluargaku saat usiaku masih kanak kanak. Semuanya sudah berubah. Usiaku sudah semakin dewasa. Hanya tempat tempat itulah yang mengingatkanku akan kampung halaman.

Walaupun aku sudah mengunjungi  Banda Aceh setelah 12 tahun pasca Tsunami. Tetapi, kunjunganku tidak dapat terbayar dengan masa masa kecil ku disini. Tidak ada tempat yang bisa menggantikan Kota Banda Aceh sebagai kampung halaman yang begitu banyak cerita didalamnya.

1 Comment

Leave a Reply