Ngeloyor ke Alor

Novita Karana

“Sudah pernah ke Alor?”, tanya teman saya.
Mata saya mendelik mendengar kata Alor.
Alor terdengar menarik dan eksotik di telinga saya.

“Belum, di mana tuh?”, lanjut saya.
“Gini, lo kan mau ke Flores, nah sekalian deh mampir ke Alor. Worth banget lho,” kata teman saya dengan yakin.

“Liat deh foto foto pas gue ke Alor, ya mungkin aja bisa buat pertimbangan lo”, tambahnya sambil mengiming imingi.

Sepertinya kita hidup di suatu zaman di mana foto seseorang dapat mempengaruhi perjalanan liburan kita selanjutnya. Beberapa tempat wisata baru mulai naik daun karena tersebar di social media.

Setelah terhanyut dengan keindahan foto dan cerita teman saya, maka sayapun membulatkan tekad ke Alor.

“Di beberapa pantainya, lo jalan 10 langkah udah bisa snorkeling dengan spot yang keren”, kalimat pamungkasnya akhirnya keluar dan tepat mengenai sasaran.

“APAAA?”
Tak ayal, tiket ke Bandara Mali di Alor pun ter-issued dalam hitungan menit.
Novita Karana

Pulau Alor dengan luas 28km2 ini terletak di atas pulau Timor, dengan Kalabahi sebagai satu satunya kota terbesarnya. Alor mempunyai daya tarik tersendiri untuk destinasi wisatanya seperti snorkeling spot, diving spot, culture and tribe, historical site, fenomena arus dingin yang membuat ikan ikan pingsan dan lumba lumba bermunculan, dan pantai pantai cantik dengan view sunrise dan sunset yang tidak terlupakan.

how-to-reach-alor-from-cgk
Untuk mencapai Pulau Alor, dapat ditempuh dengan jalur udara maupun jalur laut. Untuk yang memilih jalur udara, sudah ada pesawat dari Jakarta menuju Alor dengan satu kali transit di Kupang. Apabila memiliki waktu lebih, bisa extend semalam di Kupang untuk explore beberapa spot cantik seperti Gua Kristal, melihat cara pembuatan alat musik tradisional sasando, menikmati sunset di Pantai Tablolong, dan merayakan malam di Pantai Tedy’s sebelum menikmati kuliner seafood di Kampung Solor.
Untuk yang memilih jalur laut dengan harga yang lebih ekonomis dan waktu tempuh yang lebih lama, bisa menggunakan ferry ASDP dari Larantuka atau Kupang. Ferry ASDP ini tidak berangkat setiap hari. Saat saya bertanya informasinya pada bulan Juni 2016, ferry ini hanya beroperasi hari Senin, Rabu, dan Jumat. Sebaiknya datang sehari sebelumnya dan mencari informasi ke pelabuhan ferry ASDP.

Novita Karana

Bagi pencinta laut dan keindahannya, Pulau Alor menawarkan banyak sekali spot snorkeling dan diving. Karena belum banyak yang merentalkan masker dan snorkel di Alor, saya menyarankan untuk membawa masker dan snorkel sendiri.

alor-map
Apabila beruntung, maka saat snorkeling jam 12 atau 1 siang, di sekitar Pulau Kepa akan terjadi fenomena arus dingin. Arus dingin ini di mana air laut akan bergerak ke arah yang sama dengan cukup deras, dan apabila disentuh akan terasa dingin, sedingin air es dari kulkas. Fenomena ini akan menyebabkan ikan ikan pingsan, mengambang di permukaan, dan banyak lumba lumba bermunculan. Masyarakat Alorpun berpesta menangkap ikan yang pingsan.

“Pernah dulu ada sekitar 40 lumba lumba muncul di sekitar Pulau Kepa saat arus dingin”, kata kapten kapal saya.
“Penyebab arus dingin itu apa ya, Capt?” tanya saya

“Nah, sampai sekarang masih misterius, sudah banyak yang meneliti dan masih belum menemukan penyebab arus dingin,” jawab kapten kapal yang membuat saya penasaran.

Novita Karana
Rumah traditional Alor, Pulau Kepa, Alor

Kapten kapal membelokkan perahu ke suatu pulau sebelum kembali ke pelabuhan di Alor Kecil.

“Ini Pulau Kepa namanya. Mampir sebentar, ada penginapan dengan bentuk rumah traditional Alor. Untuk tempat tidurnya terletak di lantai atas, tanpa ventilasi. Untuk bagian bawahnya adalah tempat berkumpul dan mengobrol. Untuk kamar mandi menggunakan kamar mandi umum.” Jelas kapten.

Harga per malamnya dihitung per orang, sekitar Rp. 250.000 per orang termasuk makan pagi, makan siang, dan makan malam. Di Pulau Kepa tidak ada restaurant dan semua bahan makanan didatangkan dari Kalabahi.

img_4278
AlQuran tertua di Mesjid Jami Babussholah, Alor Besar, Alor
Selain dibuat terpesona dengan lautnya yang cantik, dalam perjalanan pulang, kita bisa melihat AlQuran tertua di Asia yang tersimpan di Mesjid Jami Babussholah di Alor Besar. Alor Besar berlokasi hanya 5 menit berkendara dari Alor Kecil. Di mesjid dengan view pantai ini, kita dapat menjadi saksi sejarah melihat AlQuran yang halamannya terbuat dari kulit kayu yang dibawa Bapak Iang Gogo dari Ternate, Maluku Utara. Sekitar tahun 1982, terjadi kebakaran besar yang membumi hanguskan pondok tempat menyimpan Quran ini. Semua habis terbakar, hanya AlQuran ini yang tidak terbakar.

Novita Karana

Desa Tenun Ternate, Alor

Di Alor, terkenal dengan tenun ikat dengan motif unik yang tidak ditemukan di pulau lainnya. Kita dapat membeli kain tenun ikat ini di Desa Ternate di Pulau Ternate, atau di desa tenun di dekat Mesjid Jami Babussholah, Alor Besar.

Novita Karana
Setelah menginjakkan kaki di Desa Ternate, kita dapat melihat jejeran kain tenun yang rapi digantungkan di depan rumah penduduk local di pinggir pantai. Setelah berkeliling, maka saatnya untuk memutuskan, kain tenun ikat mana yang akan dipinang dan dibawa pulang. Saya mendapatkan kain tenun ikat seharga Rp.300.000 buatan Mama Fatima. Kain tenun ikat ini memiliki serat katun dan terbuat dari kapas. Karenanya kain tenun ikat ini dapat menjadi penghangat atau selimut di kala udara dingin.

Novita Karana
Anak anak Alor yang selalu ceria.

Di Desa Ternate, anak anak sejak kecil sudah belajar tenun ikat. Mereka dapat membuat satu selendang kecil yang selesai dalam waktu 1 bulan. Harga selendang yang kecil sekitar Rp. 50.000. Selendang yang agak besar sekitar Rp. 100.000. Keseharian anak anak di Alor lebih bermain dengan alam daripada menonton televisi. Saya bertemu dengan anak anak yang bermain domino, bermain pasir, mencari ikan di laut, menenun kain, membantu orang tua membawa ikan.
Kain tenun ikat khas Alor

Di desa tenun di Alor Besar ditemukan 201 warna organik, warna alami yang diambil dari tumbuhan dan hasil bumi dengan hasil warna yang cerah. Warna warnanya yang ada diambil dari mengkudu, kunyit, dan beberapa tumbuhan laut. Harga satu lembar besar kain tenun ikat apabila langsung dibeli dari desa tenun berkisar Rp. 300.000 – Rp. 500.000. Jauh lebih murah dibanding membeli di Kalabahi, karena di desa tenun kita langsung membeli dari tangan pertama.

Novita Karana
Mencoba pakaian adat di Desa Takpala, Alor

Kita juga dapat menemukan 2 kampung adat yang unik dengan nilai tradisi yang cukup kental, yaitu Kampung Adat Takpala, dan Kampung Adat Monbang di Pulau Alor.

Di Kampung Adat Takpala, kita dapat bertemu dengan suku Abui, suku asli Alor dengan 14 rumah adat yang ditinggali dan 2 rumah adat yang tidak ditinggali, yang hanya dipakai pada saat upacara. Dalam 1 rumah adat, biasanya ada beberapa kepala keluarga. Di tengah tengah area, dapat dilihat semacam altar untuk upacara. Saat upacara, beberapa yang dituakan akan berdiri di atas panggung kecil untuk menyembah Dewa Matahari. Apabila ingin menemukan pengalaman yang lebih mendalam, kita dapat menginap di salah satu rumah di Kampung Adat Takpala ini. Untuk toiletnya sudah ada 2 toilet yang dipakai bersama sama. Suku Abui di Takpala mempunyai pakaian khas yang dapat dipinjam untuk berfoto. Tentunya pakaiannya cukup unik dengan motif kain tenun ikat yang sangat cantik.

Berbeda dengan Kampung Adat Monbang. Monbang berarti desa ular, dinamakan demikian karena konon pada jaman dahulu ada raksasa yang memakan ular yang tinggal di sini. Salah satu keunikan lainnya adalah pakaian adat di Monbang terbuat bukan dari kain tenun ikat, melainkan dari kulit kayu yang berwarna coklat muda.

Apabila kita datang dalam group besar, maka kita dapat meminta untuk disambut dengan tarian dan nyanyian ketika tiba di kedua kampung adat ini, dengan biaya sekitar Rp. 2.000.000 per 4 – 5 jam performance. Pada performance ini, semua suku akan memakai baju adat dan menari menyanyi mennyambut wisatawan.Untuk dapat mempersiapkan penyambutan dengan persiapan yang matang, bapak ketua di Kampung Adat Takpala menginformasikan, sebaiknya diberitahukan 7 hari sebelum hari H.

Sedikit tips dari teman teman local di Alor, apabila berkunjung ke kampong adat, mereka sangat senang apabila kita membawa sirih dan pinang. Apabila membawa sirih dan pinang, kita dianggap sebagai saudara. Sirih dan pinang bisa dibeli di pasar di sebelah Pantai Reklamasi. Harganya satu tumpuk sirih hanya Rp. 5000. Dan harga satu tumpuk pinang isi 6 buah Rp. 5000 juga.

Melihat potensi Alor yang kaya, dan alamnya yang tidak tanggung tanggung cantiknya, maka sudah dapat dilihat di beberapa tempat mulai dibangun penginapan yang layak dengan standar international hotel. Wisatawan domestik dan mancanegara tentunya semakin yakin untuk berkunjung ke Alor dengan akomodasi yang nyaman dan akses transportasi yang mudah.

Novita Karana
Pada bulan April 2016 kemarin, sudah ada Hotel Pulau Alor, hotel bintang 3 yang memiliki wifi kencang dan kolam renang. Harganya pun sekitar Rp. 500.000an/malam. Di dekat Pantai Mali juga sedang dibangun satu resort dengan sunrise view yang sudah hampir jadi. Jadi, jangan terkejut jika Alor di beberapa tahun ke depan menjadi primadona di Nusa Tenggara Timur.

Jadi, kapan kamu main main ke Alor?
Berikut Itinerary yang saya sarankan untuk perjalanan selama 4 hari 3 malam di Alor
Hari 1 : Alor Arrival – Sunset
Setelah sampai di Alor, menuju Pantai Sebanjar untuk melihat sunset. Menuju ke Pantai Reklamasi untuk makan malam sea food. Check in hotel

Hari 2 : Island Hoping
Breakfast – Transfer to Alor Kecil Port – Snorkeling ke Pulau Ternate – Visit Desa Tenun Ternate – Visit Kepa Island – Visit Pura Island, melihat pembuatan sopi – Transfer to Alor Kecil Port – Visit Alor Besar – Visit ke Mesjid Jami Bussholah, melihat AlQuran tertua di Asia – Visit Desa Tenun yang mempunyai 210 warna organic yang dipakai untuk pembuatan kain tenun – Dinner ikan kuah asam di Restoran Mama – Back to Hotel.

Hari 3: Culture Experience
05:00AM menuju Pantai Buiko untuk melihat matahari terbit, lalu menuju Pantai Mali untuk melihat matahari terbit di spot berikutnya. Kedua pantai ini hanya berjarak 5 menit.
Setelah itu, melihat view Kalabahi dari atas bukit.
Kembali ke hotel dan breakfast, lalu refreshment.
Visit Museum 1000 Moko
Menuju Takpala Village untuk mengunjungi desa di mana suku Abui hidup. Apabila ingin mencoba baju daerah, dapat menyewa dan berfoto bersama suku Abui.
Visit Monbang Village, untuk mengunjungi suku Kabola di Alor yang memakai baju yang terbuat dari kulit kayu.
Dinner di Pantai Reklamasi
Back to hotel.

Hari 4: Alor Departure
Breakfast.
Berfoto di Taman Kota Kalabahi dan transfer to airport.
Note: Biasa flight depart pagi jam 09:50AM atau jam 14:50PM

Berikut saran untuk penerbangan apabila dari Jakarta:
CGK – KOE
05:00-10:00 by Lion
KOE – ARD
12:15 – 13:15 by Wings
Price around: Rp. 2.500.000/orang

ARD – KOE
13:40 – 14:40 by Wings
KOE – CGK
15:05 – 18:20 by Lion
Price around: Rp. 2.000.000/orang

Jadi, kira kira untuk cost pesawat sekitar Rp. 4.500.000 – Rp.5.000.000 untuk perjalanan ke Alor.

Travel blogger dan juga animal lover. Selalu bawa dog food di tas. Paling seneng ngasih makan anjing atau kucing liar di jalan. Makin seneng kalau yang dikasih makan mau dielus elus 🙂

Leave a Reply