NOSTALGIA DALAM SUASANA JOGJA

Aku selalu bertanya-tanya dalam diriku sendiri, tentang sebuah kata yang membekas dalam benak yang belum sempat terucapkan. Tentang sebuah kerinduan yang mengingatkanku akan kampung halaman, sebuah tempat dimana aku bisa menghirup udara pertamaku. Selembar kertas ku ini akan menampung kerinduanku dan sebuah pena yang saat ini aku genggam akan menceritakan banyak hal.

[Dokumentasi pribadi] Sunset di Pantai Padang
Hari ini, ku tulis kerinduan tentang Jogja dengan aku saat ini sedang berada di Ranah Minang, ya Padang. Ratusan kilometer menghambat pertemuanku dengan senyum manis kampung halamanku, aku memang seseorang yang sangat tak betah untuk berdiam diri di rumah, itulah alasanku mengapa aku menjadi seorang Traveler.

[Dokumentasi pribadi] Kampung Halamanku
Bagiku menjadi seorang Traveler adalah impianku, dimana aku bisa melihat keindahan, menikmatinya dan menjelajahi negeri tercinta ini. Melihat dunia dari cerita yang berbeda. Namun, sejauh apapun kaki ini melangkah, rumah adalah tempat terakhir yang akan selalu ku tuju, ya rumah adalah tempat aku pulang.

Jogja, sebuah tempat yang akan selalu dirindukan banyak orang. Jogja bagiku bukan hanya sebuah kata semata, ia memang hanya sebuah kota. Namun, Jogja adalah sebuah kehidupan penuh drama, romantika, dan cerita. Ia tumbuh dan mengakar kedalam nurani sanubari bagi setiap orang yang merindukannya.

Di tahun lalu tepatnya 2016, karena kerinduan ku yang sempat tak tertahankan, aku pulang ke kampung halaman dengan mengajak seorang kawan baik ku untuk menghabiskan waktu bernostalgia di Kota Jogja. Bulan Maret, aku memutusukan ke Jogja dengan menunggangi si kuda besi dengan kawan ku, ya hanya berdua saja. Kami habiskan waktu selama 12 jam mengaspal jalanan dari Cianjur-Jogja. Banyak hal yang kami lalui selama perjalanan, dari mulai ban kempes sampai sempat tersasar kami lalui demi kerinduan ku pada Jogja.

[Dokumentasi pribadi] Perjalanan menuju Jogja
Pukul 6 sore kami sampai di Jogja, semua lelah ini, rindu yang menjadi nyeri, rasanya sungguh terbayarkan saat berdiri tepat di depan Tugu Jogja. Rasa yang tercipta kala di Jogja. Melihat senyum warga Jogja selalu meneduhkan hatiku, keramahtamahan enggan hilang meski metropolitan kian membentang. Inilah salah satu tradisi yang sangat ramah dari kampung halamanku, siapapun yang melihat senyum itu akan sangat rindu.

Tugu Jogja selalu menjadi ikon menarik perhatian wisatawan, ya tugu Joja adalah simbol betapa istimewanya kota ini. Setelah puas berfoto ria di tugu Jogja, kami memarkir kendaraan lalu langsung menuju tempat yang sangat aku rindukan, tempat dimana jarang bisa ditemui selain di kota Jogja.

[Dokumentasi pribadi] Tugu Jogja
Angkringan, sebuah tempat yang mengajarkan ku bahwa kesederhanaan tidak didapat dari kemewahan, kesederhanaan itu menciptakan selaksa kebahagiaan. Angkringan pula menyadarkan ku bahwa tak ada jurang kesenjangan antar manusia, tak ada sebuah perbedaan apapun yang harus disombongkan. Di tempat ini kita semua sama, duduk bersila bersama menikmati makanan khas Jogja, Tak lupa pula secangkir kopi aneh menemani malam kami. Mengapa aku bilang aneh, karena dulu sewaktu aku kecil, aku berpikir bagaimana bisa ku teguk kopi itu jika ada arang panas didalamnya, bagaimana bisa aku menikmatinya.

http://santapjogja.com/wp-content/uploads/2014/08/Lesehan-Malioboro.jpg

[Dokumentasi pribadi] Kopi Joss khas Jogja
Semua pertanyaan dalam benak itu pun hilang saat aku meneguknya, sudah tak peduli dengan arangnya lagi, obrolan santai sederhana seperti ini sejenak selalu membuat lupa akan beban kehidupan yang sedang dirasakan. Inilah malamnya khas kota Jogja, sederhana, santai dan bersahaja.

Waktu semakin malam, kami lalu pergi ke Malioboro, tempat khasnya Jogja. Kamu bisa nemuin barang apapun khas Jogja dengan harga yang sangat miring, sudah menjadi kebiasaan jika semakin malam Malioboro semakin ramai.

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS6q5HpnlKwQltuINJxnF1P7hzmsTVyPa3G8HtxqvPBxtHNpzvg

Menyusuri sepanjang jalan Malioboro teriakkan tawar menawar sudah tak asing ditelinga para pejalan, Malioboro selalu menawarkan cerita disetiap sudutnya. Jogja selalu punya sejuta cerita yang membuat siapapun ingin balik lagi, lagi dan lagi. Rasanya jika ku tulis semua hal tentang Jogja, tulisan ini akan menjadi sangat panjang sekali. Membuatku akan semakin rindu kampung halamanku ini, Jogja.

Setelah puas menyusuri tiap sudut Malioboro, kami menuju sebuah tempat yang paling aku rindukan dan menjadi salah satu spot favorit aku menghabiskan malam ku di Jogja. Inilah titik pertama Jogja, Nol km Jogja. Tempat yang membuatku bernostalgia dalam suasana Jogja.

[Dokumentasi pribadi] malam di Nol km Jogja
https://sgimage.detik.net.id/customthumb/2012/09/16/1026/img_20120916141102_50557b86c6a15.jpg?w=600&q=90

[Dokumentasi pribadi] 0 km Jogja
Aku tutup malam yang indah ini bersama kawan baikku dan orang-orang ramah disekitarku. Duduk bersama menikmati alunan musik yang membuat kami semua mengingat romansa masa lalu yang indah, musik yang sangat merdu yang dilantunkan oleh sang musisi jalanan. Ada cinta disetiap bungkus nasi angkringan, ada kerinduan disetiap teguk kopi joss lek man, ada romansa disetiap lahapan Gudeng Wijilan.

Jogja tercipta dari relung hati yang rindu syahdu, sama halnya seperti merapi. Jogja tak pernah ingkar janji untuk selalu santun dan ramah.

“Move on dari mantan jauh lebih mudah daripada move on dari Jogja.”

[Dokumentasi pribadi] Pantai Parangtritis

 

 

 

Leave a Reply