Nyadran Gede di Kampung Gumelem

Post

Tiap lima menit sekali, hampir belasan kali laju sepeda motor melintas persis di depan rumah. Belum lagi kendaraan lainnya yang intensitasnya tidak beda jauh. Setali tiga uang, keduanya sudah menjadi makanan wajib setiap harinya bagi saya yang tinggal di pinggir jalan raya.

Lain cerita saat pagi tiba. Hampir tiap siswa yang hendak berangkat ke sekolah entah itu SMP maupun SMK pun tidak mau ketinggalan menyemarakan pagi. Jam sibuk. Semua orang sibuk dengan kuda besinya masing-masing. Termasuk saya sendiri. Naas, terjerat problematika yang sama.

Saya rindu zaman kecil dulu. Berangkat sekolah bergandengan tangan satu sama lainnya. Berceloteh, bercanda. Langkah-langkah kecil memulai hari dengan berjalan kaki menuju sekolah.

Menenteng bola plastik menuju tanah lapang terdekat. Bermain bola volley di pinggir jalan.

Ah...saya rindu dengan masa-masa itu.

Sekarang kampung ini sudah ramai. Jalan sudah diperlebar. Rumah-rumah berganti menjadi deretan ruko-ruko.

Mana wajah kampung saya seperti yang dulu?

Mungkin ini pertanyaan bodoh ditanyakan saat sekarang ini. Saat semuanya perlahan berubah. Berkembang mengikuti zaman.

Tapi hidup tidak boleh terlalu pesimis tanpa kita memberikan perubahan kecil. Ya biarpun kecil tapi bemanfaat.

Perlahan tapi pasti, geliat orang untuk menggunakan sepeda onthel semakin terlihat, setidaknya saat hari minggu atau hari libur. Jalanan kampung ini masih dihiasi sepeda onthel yang bersliweran.

***

Mengingat kampung halaman sejatinya bisa dimana saja. Pernah dulu sewaktu tinggal di ibukota, tiap mau makan dan mandi pasti teringat kampung sendiri.

Mau makan pecel tinggal berjalan kaki beberapa puluh meter saja, tiap pagi dan sore selalu ada yang menjualnya. Ingin merasakan kesegaran mata air alami saat mandi, tinggal berjalan beberapa langkah dari depan rumah dan bermain air sepuasnya di tempat pemandian umum yang selalu ramai saat sore hari tiba.

Ah...bagaimana rasanya jika saya masih tinggal di ibukota?

Mungkin saya akan dilanda kecemasan saat harus mengingat kampung halaman dengan segala cerita di sana. Atau mungkin saja sebaliknya, saya sudah tenggelam dalam geliat hidup orang kota, lupa dengan tradisi kampung halaman dan sudah bisa beradaptasi dengan baik.

Kini saya percaya jika rindu kampung halaman juga bisa menghinggapi seseorang yang notabene masih tinggal di kampung. Lha kok? Iya itu bisa terjadi jika wajah kampung perlahan berubah dengan perkembangan zaman. Identitas-identitas akan kekampungan perlahan tergeser dengan wajah baru, hingga pada akhirnya wajah kampung berubah menjadi abu-abu. Secara geografis jauh dari perkotaan namun orang-orangnya telah mengadaptasi kehidupan masyarakat perkotaan. Sambat paseduluran perlahan luntur. Gotong royong tinggal nama. Individualitas makin kentara.

Untungnya wajah kampung saya di Banjarnegara ini tidak benar-benar hilang seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Masih ada identitas yang terus diperjuangkan oleh beberapa orang. Setidaknya saya masih menyaksikan dengan mata kepala sendiri hari kamis kemarin.

***

Langkah kaki di panas terik siang itu tak menyurutkan niat saya mengejar rombongan penduduk  menuju makam tetua kampung yang paling dihormati di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara.

Alunan suara gamelan jawa masih terdengar di balai desa.

Saya tertinggal jauh dari rombongan. Dengan terus mempercepat langkah dan sesekali berlari, akhirnya saya bisa berbaur dengan penduduk kampung yang berpakaian adat jawa.

Penduduk laki-laki memaki beskap lengkap, sementara yang perempuan memakai kebaya dengan Rinjing dan Tenong yang dipunggu dan digendong. Beberapa lainnya berpakaian seperti biasanya.

Jalanan menanjak dengan mengenakan kebaya
Para perempuan yang memunggu Tenong (tempat menyimpan barang dari bambu)

Jalanan berbatu yang ditata sedemikian rupa membelah hamparan pemakaman desa yang berjejer di sini kanan dan kirinya. Jalanan menanjak menuju puncak bukit yang berada di tengah-tengah Desa Gumelem.

Selain terdapat makam-makam penduduk sekitar, di sini juga terdapat makam sesepuh kampung, tokoh penting hingga makam yang disucikan oleh penduduk sekitar karena berjasa menyebarkan agama Islam di kampung ini.

Komplek makam pertama sebelum ke puncak bukit adalah makam Ki Ageng Gumelem yaitu seorang panglima perang yang diutus oleh Panembahan Senopati dari Kerajaan Mataram untuk menetap dan merawat makam Ki Ageng Giring.

Nyadran Gede Gumelem
Gerbang menuju makam Ki Ageng Goemelem

Setelah melewati komplek makam pertama, saya dengan bersusah payah harus melewati jalanan menanjak menuju puncak bukit yang diberi nama Bukit Ilangan yang letaknya di pinggir Desa Gumelem. Di Bukit Ilangan inilah terdapat makam suci dan dikeramatkan oleh penduduk sekitar yaitu makam Ki Ageng Giring.

Ki Ageng Giring sendiri adalah seorang penyebar agama Islam dari Kerajaan Mataram yang berkelana hingga sampai ke Daerah Gumelem (wilayah Banjarnegara).

Konon di sekitar Desa Gumelem inilah, beliau wafat. Oleh para santrinya, keranda jenazah Ki Ageng Giring ini hendak dibawa menuju Gunung Kidul (wilayah Mataram) namun sesampainya di Bukit Ilangan, keranda jenazah tidak bisa diangkat oleh para santrinya dan semakin terbenam tanah. Atas peristiwa inilah, para santri lantas mengebumikan jenazah di Bukit Ilangan ini. Kini makam Ki Ageng Giring masih bisa dijumpai di puncak Bukit Ilangan, Desa Gumelem.

***

Saya dan ibu-ibu sekitar yang memunggu tenong serta menggendong rinjing, tak kenal lelah berjalan kaki menuju makam di puncak bukit. Dari hasil bincang-bincang saya, rata-rata ibu-ibu serta penduduk sekitar punya berbagai tujuan datang ke sini, salah satunya selain ingin berziarah juga mengharap berkah keselamatan, kesehatan, kesuksesan, keberhasilan panen dan tujuan lainnya.

Menjelang bulan suci Ramadhan atau bulan Sadran dalam penanggalan Jawa, penduduk berbondong-bondong menggelar acara selamatan atau istilah orang sini menyebutnya Nyadran Gede.

Ada lima tingkat jalanan berundak sebelum mencapai puncak utama lokasi makam Ki Ageng Giring. Kelima tingkat ini menggambarkan sholat lima waktu. Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit, saya dan rombongan akhirnya sampai juga di pintu masuk makam.

Nyadran Gede Gumelem
Rinjing (tempat nasi berukuran besar) yang berisi nasi dan lauk pauk

Ada dua buah pendopo utama di depan pintu masuk utama atau di tingkat tiga. Di sini suasana begitu ramai. Tenong dan rinjing ditata di dalam pendopo, sementara itu penduduk sekitar menunggu dengan sabar di pinggiran pendopo.

Nyadran Gede Gumelem
Ibu-ibu dengan tertib duduk di bawah pendopo menunggu acara makan dimulai

Pada tingkat kedua, terdapat penjaga yang berpakaian beskap dan menjaga pintu masuk utama. Saya pun melanjutkan langkah menuju gerbang utama yang berbentuk mirip candi dengan batu bata merah yang menjadi bahan utamanya.

Nyadran Gede Gumelem
Para orang tua yang tetap semangat menjaga tradisi leluhur, berpakaian adat jawa
Gerbang dan gapura menuju makam Ki Ageng Giring

Sementara itu di tengahnya terdapat gapura kecil dengan pintu kayu jati berukir dan diperkirakan sudah berusia puluhan tahun. Saya harus menunduk saat melewatinya.

Kini saya sudah di makam utama Ki Ageng Giring. Terdapat sebuah pendopo dan cungkub dengan serambi yang mengitarinya. Suasana ramai siang itu. Orang-orang membaca tahlil dan tahmid saling bersahutan, begitu pula dengan saya.

Nyadran Gede Gumelem
Pendopo yang berisi makam Ki Ageng Giring
Pusara makam Ki Ageng Giring

Bau kemenyan, dupa dan aneka kembang menjadi pemandangan yang tak biasa bagi saya. Setelah acara doa selesai, kini orang-orang berpindah menuju pendopo di tingkat tiga tadi.

***

Tenong dan rinjing yang sedari tadi sudah ditata, kini satu persatu dibuka isinya. Sajian tumpeng, oseng-oseng mie, serundeng, oreg tempe, rempeyek kacang pun semuanya dibuka dan digelar di atas daun pisang.

Nyadran Gede Gumelem
Acara memakan nasi dan lauk pauk dimulai

Saya merasa antusias melihat pemandangan tadi. Sebagai warga kampung, saya merasa asing dengan tradisi ini, padahal mungkin dulunya ini sudah biasa. Saya beserta penduduk laki-laki duduk bersila menggelar dan membagi sajian tadi.

Sebongkah kecil nasi, lauk mie, peyek kacang, dan oreg tempe kini sudah tersaji di depan mata. Sebelumnya terlebih dahulu dibacakan doa dan wejangan oleh sang juru kunci bernama Bapak Yatno.

Nyadran Gede Gumelem
Sang juru kunci, bapak Yatno sedang memimpin upacara nyadran gede

Semua orang khusyuk mengamini lantunan doa yang dibacakan.

Setelah menggelar doa, sang juru kunci membuka bungkusan putih dari kain mori yang berisi kembang, rajangan daun tembakau, dan uang receh yang dikumpulkan dari para penduduk sekitar yang membawa tenong dan rinjing.

daun sirih, bunga-bunga dan rajangan tembakau dari para penduduk
sang juru kunci sedang mengumpulkan kembang untuk ditaburkan di atas makam

Barang-barang tadi nantinya akan didoakan terlebih dahulu oleh sang juru kunci sesuai dengan permintaan masing-masing penduduk yang memberikannya. Kemudian kembang dan rajangan tembakau di sebar di atas pusara makam Ki Ageng Giring, entahlah saya tidak bertanya lebih lanjut, maksud dari ritual tadi.

Orang-orang dari latar belakang, status, pangkat dan identitas-identitas lainnya berkumpul, duduk satu lantai. Bergembira mengikuti tradisi nyadran gede dengan cara makan bersama seperti ini.

Bapak-bapak dengan sabar menunggu acara makan bersama dimulai
Sajian nasi, oseng mie, kerupuk, serundeng dll

Belum juga selesai menghabiskan nasi beserta lauk pauk di atas daun pisang, seorang bapak-bapak telah menawarkan sebongkah nasi dan lauknya untuk dibawa pulang. Kata beliau, ini nasi berkat, pamali kalau menolak membawa pulang!. Saya pun menyambut dengan gembira, tawaran si bapak tadi dan langsung membungkusnya untuk kemudian saya masukan ke dalam tas.

Cerita Lain: Pulang ke Purwokerto, Main ke Watu Meja

Ah rasanya saya sudah lama tidak melakukan makan bersama seperti ini. Kalau diingat, mungkin dua puluh tahunan yang lalu saat masa-masa panen selesai, orang tua menggelar acara makan nasi jagung bersama di atas tampah dan kini sudah jarang dilakukan.

Sebenarnya inti dari acara nyadran gede adalah selamatan dengan cara berziarah ke makam suci sesepuh kampung dan penyebar agama Islam menjelang bulan suci Ramadhan. Mungkin tradisi nyadran gede masih banyak dilakukan oleh orang-orang. Membersihkan makam keluarga, berdoa dan memanjat syukur atas nikmat karunia dari Tuhan.

Perut kenyang, hati senang. Seketika rasa pesimisme mengenai kampung halaman sedikit berubah. Saya masih menaruh harap, acara seperti ini bisa terus berlangsung. Bahwa kecenderungan sifat individualistis yang saya kira itu tidaklah benar. Masih banyak penduduk desa yang mau bergotong royong, berbagi cerita, berbagi kebersamaan satu sama lainnya pada tradisi nyadran gede.

Cerita Lain: Kirab Malam Satu Sura: Pesona Budaya Solo yang Ngangenin

Semoga ke depan dan seterusnya tradisi nyadran gede bisa terus bisa dilestarikan agar orang yang merantau dan jauh dari kampung serta orang kampung yang merasa identitas “kekampungannya” mulai luntur akan selalu #IngetKampung mencintai asal usulnya mencintai tradisinya salah satunya nyadran gede.

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.