Oar, Pulau Cantik yang Kalah Tenar

Once in your life, do a big adventure with a lil’ adventurer!

Pernah terpikir untuk mengajak balitamu kemping di pulau tak berpenghuni? Itulah yang melintas di benak saya dan suami. Dan Pulau Oar pun menjadi tujuan kami. Nama Oar sendiri belum cukup familiar di telinga. Letaknya di ujung barat Pulau Jawa. Pulau Oar merupakan bagian dari Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Sayang, dibandingkan Umang apalagi Peucang, Oar memang kalah tenar.

Seputar Oar

Secara administratif, Pulau Oar masuk dalam Desa Kertajaya, Kecamatan Sumur, Banten, Jawa Barat. Menuju Oar, kita harus menyeberangi laut menggunakan kapal nelayan, di antaranya kapal milik Pak Edi (081399165205). Biaya penyeberangan Rp250,000/kapal untuk keberangkatan sekaligus kepulangan. Kapalnya sendiri bisa menampung lebih dari sepuluh orang. Meski “dekat” dengan daratan, Pulau Oar terbilang jauh bila dituju dari Jakarta. Bila menggunakan kendaraan pribadi, kita membutuhkan waktu sekitar enam jam perjalanan. Adapun bila menggunakan kendaraan umum, waktu yang dibutuhkan bisa jauh lebih lama karena jumlah kendaraan umum menuju Desa Kertajaya masih sangat terbatas.

Kapal nelayan bersandar di Oar
Kapal nelayan bersandar di Oar

Pulau pribadi

Setelah menempuh sekitar 30 menit penyeberangan, kami pun menjejak di Pulau Oar. Rupanya, Oar punya pantai yang cantik. Pasir putih yang lembut dan gradasi putih-toska-biru yang kontras menjadi pemandangan yang menyegarkan mata. Vitamin sea!

Hamparan pasir putih berpusat di sisi depan pulau—tempat kapal bersandar. Selebihnya, Oar ditumbuhi pepohonan yang cukup meneduhkan. Di antara keduanya, terdapat jajaran saung dan bilik kamar mandi. Saung dan bilik kamar mandi memang didirikan untuk tamu yang menginap di Pulau Umang, “tetangga” Pulau Oar.

Biasanya, para tamu yang ditemani pemandu akan singgah di Oar untuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari berbagai watersport hingga sekadar bersantai sambil menikmati air kelapa langsung dari buahnya. Di saat seperti itulah Oar terasa “hidup”. Selebihnya, setelah pukul 4 sore, Oar kembali menjadi pulau tak berpenghuni. Seperti saat kami tiba di pulau ini. Sepi.

Bermain bunga rumput
Bermain bunga rumput

Sebelum gelap, kami pun menyiapkan “basecamp”. Ketika si ayah sibuk mendirikan tenda dan saya sibuk memasak, si kecil asyik bermain pasir dan bunga rumput. Di Oar, malam pun terasa datang lebih cepat. Maklum, karena tak berpenghuni, di Oar tidak tersedia listrik, apalagi penerangan. Senter menjadi satu-satunya alat penerangan kami di pulau ini.

Ada rasa senang sekaligus ngeri. Di pulau seluas ini, tak ada orang selain kami. Bagaimana bila kami terkena air pasang? Bagimana bila ada binatang menyerang? Dan bagaimana bila “basecamp” kami porak poranda karena angin kencang? Nyatanya, semua baik-baik saja. Dalam gelap, kita hanya akan mendengar suara ombak, gemirisik pohon, dan suara jangkrik. Syahdu!

Di pagi hari, sorotan cahaya merah menyilaukan saya dari sela-sela pohon. Penasaran, saya pun menengok ke arah sumber cahaya. Rupanya, matahari dengan bentuk bulat sempurna yang menjadi sumbernya. Rona merah kejinggaan benar-benar bisa dilihat dengan mata telanjang. Surprise! Saya tidak menyangka Oar punya pemandangan sunrise yang luar biasa.

Sarapan di tepi pantai
Sarapan di tepi pantai
Berlarian di tepi pantai
Berlarian di tepi pantai

Sebelum kapal datang untuk menjemput, kami pun menikmati Oar; bermain di pantai, berenang, berlarian, hingga berdiam diri sekadar menyesap keindahan Oar. Begini rupanya tinggal di pulau tak berpenghuni. Seperti di pulau pribadi.

Kiat kemping di Pulau Oar  

Penasaran dengan Pulau Oar? Yuk, rasakan sensasi bermalam di sana. Namun, karena tak berpenghuni, fasilitas di Pulau Oar memang sangat terbatas. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu disiapkan. Berikut di antaranya.

1. Bawa peralatan lengkap. Pastikan kita membawa tenda, perlengkapan tidur, perlengkapan masak, serta bahan-bahan makanan. Bawa pula air mineral untuk minum dan memasak. Di Oar tersedia sumur tetapi airnya tidak terlalu jernih sehingga tidak bisa digunakan untuk minum dan memasak. Jangan lupa juga untuk membawa obat-obat darurat, terutama obat-obatan untuk si kecil.

2. Dirikanlah tenda di perbatasan pantai dan hutan. Bila mendirikan tenda di sekitar hutan, kita cukup terhindar dari kencangnya angin laut. Tak hanya itu, kita juga berada cukup jauh dari batas pasang-surut air laut. Bila tidak ingin mendirikan tenda, kita bisa tidur di saung-saung, tentunya dengan membayar uang sewa kepada petugas yang biasanya juga menjadi pemandu tamu dari Pulau Umang. Harga sewa satu saung berkisar Rp100,000.

Mendirikan tenda di Pulau Oar
Mendirikan tenda di Pulau Oar

3. Pastikan baterai HP terisi penuh. Sebelum menyeberang, pastikan semua alat elektronik sudah terisi penuh, terutama HP. HP berguna untuk menghubungi nelayan yang akan menjemput di Pulau Oar. Selain itu, HP juga tentunya berguna bila terjadi kondisi darurat saat kita bermalam.

Itulah beberapa kiat yang bisa dipersiapkan sebelum kita bermalam di Pulau Oar. Setelah bermalam, jangan lupa membawa kembali sampah rumah tangga yang kita hasilkan. Jangan buang sampah ke hutan apalagi ke laut. Selamat merasakan sensasi tinggal di pulau tak berpenghuni!

***

 

 

Leave a Reply