Pacu Adrenalin ke Gunung Merbabu Via Suwanting

img_2082

Kali ini gue kepengen nyeritain pendakian gunung gue yang ke-4. Setelah Rinjani dan Semeru yang cukup menguras hati *ciegitu ternyata Merbabu lebih luar biasa. Waktu itu gue pilih jalur yang anti mainstream, yang baru aja dibuka beberapa tahun lalu. Suwanting namanya. Melalui jalur ini, cobaan demi cobaan gue terima. Kenapa sih pilih Jalur Suwanting? Gue pengen nggak mainstream! Orang-orang kalo naik Merbabu pasti lewat jalur Selo. Biar ada cerita gitu *cieanaknyasombong.
Bermodal nekat banget cuma berdua aja bareng temen gue cewe yang baru pertama kali mendaki bikin gue sedikit deg-deg an. Selama ini kalo mendaki pasti rame-rame. Karena saat itu musim hujan, jadi untuk cari barengan emang susah banget sih. Kebanyakan temen suka mendaki saat musim panas. Padahal menurut gue sama aja. Mau naik musim panas/hujan sama aja yang penting fisik dan persiapannya mateng. Eits jangan lupa berdoa juga bro!

Sabtu, 15 Oktober 2016

Solo – Desa Suwanting, Magelang
Perjalanan gue dimulai dari rumah pukul 05.00 WIB dini hari dari rumah gue yang letaknya lumayan jauh dari Solo. Membawa carier berat ukuran 60l dengan kira-kira beratnya mencapai 30kg-40kg yang sebagian besar perlengkapan temen gue ada yang digabungin bareng carier ini. Temen gue cuma bawa carier ukuran 50l yang isinya mendekati full aja kaga. But I’m proud of her. Nyampe kos temen gue sekitar pukul 06.00 WIB dan langsung tancap gas menuju Kopeng, Magelang. Cobaan yang gue alamin pertama yaitu ban motor bocor di Boyolali. Gue sedikit khawatir karena waktu kita bakalan molor sejam untuk benerin ban yang bocor. Dan yang bikin gue shock lagi yaitu nggak cuma satu aja yang bocor, ternyata ada 2 lubang yang mesti ditutup. Keringet dingin langsung keluar. Nggak deng becanda, gue kebelet boker aja sih. Sebenernya gue itu kepengen naik pagi-pagi sekitar jam 8 atau 9. Tapi keadaan memungkinkan gue berangkat agak siangan dikit. Setelah selesai menambal akhirnya kita lanjutkan perjalanan menuju Kopeng. Sebelum sampai Kopeng carier saya tiba-tiba terjatuh dijalan dan bikin kita panik. Gimana nggak panik, posisi kita ada ditengah jalan dengan kecepatan lumayan kenceng dan carier bisa-bisanya jatuh, coba tuh kalo dari belakang ada Bus atau Truck yang jalannya kenceng. Kayanya gue gabisa cerita lagi di blog gue ini. Akhirnya gue seret carier yang setengahnya masih nempel di motor ke pinggir jalan. Alhasil carier gue sobek. Yang paling parah raincover sih. Bolongnya nggak karuan. Tapi gue bareng temen gue tetep kalem dan tetep melanjutkan perjalanan gue. Karena tujuan awal kita adalah Merbabu. Jangan gara-gara hal kaya gini bakal bikin kita menyerah. Gue terus mencoba melupakan hal tersebut, semoga di basecamp Suwanting ada yang bisa nolong gue buat pinjem raincover. Raincover ini penting banget sih. Kalo hujan jadi enggak bocor (Oke, nggak penting. Gue berusaha buat ngepanjang-panjangin cerita sih ini).
Sekitar pukul 9.30 WIB, akhirnya nyampe juga di desa Suwanting. Sambil nunggu temen gue ke toilet, gue registrasi dulu. Biaya registrasi cukup murah hanya sekitar Rp 15.000/orang. Setelah itu gue langsung ke rumah mas Ambon. Dia lah malaikat penyelamat gue selama di basecamp. Jadi gini, gue 2 hari sebelumnya udah kasih kabar ke mas Ambon karena gue dan temen gue mau naik ke Merbabu via Suwanting. Untuk ngecek cuaca disana gue menghubungi si mas Ambon ini. Mas Ambon ini serba menyediakan apa aja kebutuhan kalian ke Merbabu. Mau carier? Ada! Mau nesting? Ada! Mau di jemput dari stasiun? Bisa! Yang nggak ada jodoh mblo! KALIAN HARUS USAHA SENDIRI! Akhirnya gue pinjem raincoat mas Ambon untuk menutupi carier gue yang bolong. Iya raincoat, bukan raincover. Karena pada hari itu adalah Sabtu jadi banyak peralatan-peralatan yang pada disewain. Sebelum naik mas Ambon kasih arahan ke kita dulu biar nantinya nggak nyasar ditengah perjalanan. Setelah itu, jadilah kita naik pukul 10.00 WIB dengan rasa semangat yang sedikit-demi sedikit terkikis habis dibriefing yang ternyata jalurnya naudzubillah.
peta-jalur-pendakian-merbabu-via-suwanting
Basecamp Suwanting – Pos 1
Jalan tetap naik, selama ini belum ditemukan jalan turunan, oke gue gapapa. Dari basecamp menuju Pos 1 membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Pemandangan kanan-kiri adalah perkebunan sayur dan rumah warga yang sangat ramah. Tiap kali lewat pasti disapa. Gue suka banget sama warga yang menganggap orang asing kaya kita gini seolah-olah adalah tetangga mereka yang tiap hari ketemu. Coba di kota, tetangga aja kaga noleh, buset. Banyak ketemu anak-anak kecil juga yang terkadang bilang “Hati-hati ya kak!” Gila ini gemes banget sih pengen bawa pulang satu. Sesampainya di Pos 1 kita istirahat dulu. Istirahatnya cuma bentaran doang. Nggak ada 5 menit langsung cus lagi.
Processed with VSCO with hb2 preset
Pemandangan jalur dari Pos 1 – Lembah Gosong
Pos 1 – Pos 2
Jalur sepanjang pos 1 menuju lembah gosong dipenuhi dengan hutan pinus yang tinggi-tinggi. Syahdu banget sih ini. Sepanjang perjalanan adanya cuma nggosip terus aja. Gimana lagi mau ngapain paling enak kan nggosip *anaknyaemakemakbangetya. Dipertengahan jalan temen gue yang namanya dari tadi belom gue sebutin mengalami kram kaki. Haha namanya Febri. Jadi kaki si Febri ini, tepatnya pada bagian telapaknya kaku tidak bisa digerakan apalagi untuk menapak. Akhirnya saya pijit bentar supaya melemaskan otot-ototnya yang tegang. Kesalahan kita sih sebelum naik tadi belom pemanasan, perasaan gue mulai nggak enak. Langsung saja tak lama Febri mengalami kram, kaki saya juga ikutan kram di Lembah Cemoro. Kalo gue tepatnya dipaha. Sakit parah nggak bisa digerakin. Disitu gue ketemu dengan Mas Baday. Mas Baday ini yang kasih pertolongan ke gue pas kaki gue kram. Track nya parah sih. Nanjak teros nggak pake bonus ditambah gerimis bikin jalan licin. Napak sini kepleset, napak sana kejengkang (Oke gue mulai lebay), tapi emang begitu kenyataan yang gue alamin. Sampe prosot-prosotan pegang tali. Ditambah carier gue yang gedenya bikin tobat. Kalo kata mas Baday carier gue ini over weight, ditambah pas packing kurang bener. Makanya gampang kram. Setelah mendingan gue melanjutkan perjalanan. Kaki gue masih sering kambuh-kambuhan tuh, didalem hati kepengen banget balik glinding ke bawah tapi kayanya gamungkin. Terus gue paksa sampe pos 2. Sampe pos 2 kita istirahat agak lama, kita makan dan minum disitu Waktu itu sekitar pukul 13.30 WIB siang. Tiap lembah yang kita lewatin butuh waktu sekitar 30 – 45 menit, dari Lembah Lempong hingga Lembah Mitoh.
Sekitar pukul 14.00 WIB kita memutuskan untuk lanjut jalan lagi. Baru aja sekitar 30 menit jalan kaki gue tambah parah. Sakitnya nggak ada obat! Serius sih ini gue nggak lebay. 2 2nya gabisa digerakin dan terpaksa harus menginap di Lembah Singo. Beruntungnya pas itu ada orang dari Jakarta yang nolongin gue. Ana dan Aldo namanya. Gue sangat sangaaaaaat sangaaaaaaaaaat berterimakasih sih sama mereka udah nolongin gue. Mereka bantu gue ndiriin tenda waktu itu. Yang mana padahal harusnya mereka buru-buru turun karena hari udah mulai gelap. Semoga kalian bisa baca blog gue yang nggak ada apa-apanya ini soalnya gue pengen berterima kasih lagi ke kalian.
Selama di Lembah Singo kita insecure banget karena cuma kita yang ada disitu, as we know di gunung itu banyak hewan buasnya. Gue nggak terlalu takut sama cerita-cerita horor sih *anaknyarealistis bro! Hehe nggak deng canda, gue juga takut sama yang begituan. Setelah makan kita memutuskan untuk tidur, kira-kira waktu menunjukan pukul 07.00 WIB. Iya jam 7, kenapa emangnya? Nggak boleh tidur? Cupu? Kan kaki gue kram! (Alesan)

Minggu, 16 Oktober 2016

Kaki gue udah sedikit mendingan, gue kayanya mau ngelanjutin sampe puncak. Waktu menunjukan pukul 04.00 WIB dini hari. Gue bangunin si Febri agar siap-siap melanjutkan perjalanan. Sebelumnya gue suruh dia bikin anget-anget sama makanan, biar gue yang packing. Gue bawa barang yang perlu aja. Tenda dan perlengkapan yang lain ditinggal disini. Pas buka tenda udara dingin langsung masuk, dingin banget sih ini nggak paham lagi. Tau-tau disebelah udah ada tetangga. Mereka juga mau naik ke puncak pagi hari ini. Alhamdulillah sih nggak berdua lagi bisa ada temennya.
img_2023
Sunrise di Lembah singo
Lembah Singo – Puncak
Kita berangkat pukul 05.00 WIB dari lembah Singo. Jalur tracknya lebih naudzubillah ini mah! Nanjaknya bikin pusing sampe kentut-kentut. Track termantep gue selama mendaki, parah. Untungnya carier gue taruh ditenda. Coba kalo dibawa, babak belur pake kejengkang kali. Dengan jalan yang sangat santay dan sangat menikmati akhirnya sampai di Pos 3 yang hanya butuh waktu 2 jam kurang. Selama jalan kita jarang berhenti. Jadi ini mungkin lebih cepet. Kalo sebelum-sebelumnya gue tanya sama orang-orang sih butuh waktu sekitar 3 jam untuk mecapai Pos 3.
Processed with VSCO with hb2 preset
Pos 3
Processed with VSCO with a6 preset
Di pos 3 kita ketemu mas baday lagi. Cerita-cerita pengalaman gunung sih kebanyakan. Mas Baday ini adalah anak muda asal Bekasi yang memutuskan menyerahkan hidupnya pada jalur Suwanting *ciegitu wkwkw. Gue tanya awalnya kenapa memutuskan untuk tinggal di basecamp Suwanting kiranya karena cinta sama gunung Merbabu, ternyata bukan. Ternyata dia jatuh cinta sama track Suwanting ini, sesimple itu. Salut sih sama mas Baday. Keep your work ya mas!
Perjalanan kita lanjut lagi. Tetep dengan jalan yang nggak ada datar-datarnya sama sekali, apalagi turunan. Turunan bagi kita adalah mukjizat! Kalo emang belom turun, jalannya gabakal turun sih ini, sadis. Sabana demi sabana kita lewatin. Ini parah abis pemandangan dari sini bisa bikin gue mabok! Asli nggak bohonh sih ini. I love this fckn mountain. Perjuangannya nggak sia-sia banget disuguhi pemandangan yang nggak ada duanya ini. Finaly Top of Suwanting!!!!!!!

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset
Sabana 3
Processed with VSCO with hb2 preset
Pengen ngeglinding ke bawah rasanya

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset
3000 mdpl Top Suwanting
Setelah sampai puncak Suwanting kami berniat melanjutkan hingga ke kentheng songo. Namun sayangnya kami hanya bisa berada di bukit Triangulasi. Karena estimasi waktu kita yang terlalu lama berfoto-foto bikin keadaan mengharuskan kita untuk pulang.
Ada sedikit cerita tentang temen gue si Febri yang sangat unforgetable banget! Gimana enggak coba. Mungkin alesan dia mau naik gunung biar bisa membuktikan kepada orang-orang bahwa dia cukup kuat untuk kegiatan outdoor seperti ini, tak terkecuali mantanya *ciemantan. Eh nggak disangka-sangka dia ketemu mantannya yang notabene suka banget sama gunung tepat berada di puncak Suwanting, sama sekali tak terduga dan tak terbayangkan! HAHA, kayanya sih lo jodoh sama mas mantan ya bret?
img_2110
Processed with VSCO with hb2 preset
Ini dia Mas Baday si anak Suwanting wkwkw
img_2109
Bareng sama tenda tetangga

Puncak – Basecamp Suwanting

Dari puncak turun sekitar pukul 11.00 WIB. Ini PR banget sih turun dengan kondisi seperti ini. Jalan curam dan licin karena guyuran hujan semalam bikin kita tambah babak belur. Ditambah kaki yang udah nggak karuan bentuknya. Sesampainya di Lembah Singo pukul 13.00 WIB. Si Febri ada masalah dengan kakinya yang lecet bikin dia susah berjalan, makanya sedikit terlambat. Sesampainya di tenda kita beres-beres. Makan siang dan langsung cabut ke basecamp. Karena kita nggakmau hari sudah gelap tapi masih berjalan turun. Pukul 14.30 WIB kami memutuskan turun. Hingga akhirnya pukul 18.00 WIB kita sudah tiba di rumah mas Ambon. I’m so happy! Akhirnya sampai juga diperadaban.

Tips Sebelum Mendaki

  1. Prepare logistik yang kamu butuhkan, nggak perlu yang berat-berat. Pilih makanan yang memiliki karbohidrat tinggi. (Beras, roti kering, Kentang, Kacang-kacangan)
  2. Packing carier yang baik. Letakan barang yang jarang dipakai pada bagian paling bawah carier.
  3. Bawa tracking pole! Ini membantu gue banget sih. Kadang untuk sebagian orang tracking pole nggak penting, tapi bagi gue ini berguna banget.
  4. Stretching/pemanasan. Biar meminimalisir terjadinya cedera dan kram.
  5. Minum oralit/pocari sweat sebelum melakukan pendakian. Ini berguna banget buat kalian yang sering mengalami kram.
  6. Latihan fisik dan mental! Digunung bro ini bukan mall!
Ini kontak yang bisa kalian hubungin kalo kalo mau ke Merbabu via Suwanting :
Handphone/WA : 087834306869 (Mas Ambon)
Mungkin segitu dulu dari gue.

Have a good Traveling! Thanks for read! Goodbye soon, Pampam!

Find another story at www.adorablebackpacker.blogspot.com

Leave a Reply