Tak Hanya Sekedar Kampung Halaman, Pangalengan Punya Sejuta Pesona yang Menawan

Jika ada orang yang bertanya dimana kampung halamanku? Aku akan menjawabnya di Bandung. Mungkin Bandung sudah tidak asing bagi sebagian orang saat ini, karena seperti yang kita tahu kota Bandung sudah sangat maju dan menjadi destinasi wisata untuk turis lokal maupun mancanegara. Namun mari kita beralih ke pinggiran kota Bandung, yaitu di kabupaten Bandung, ke sebuah  desa kecil bernama warnasari yang berada di kecamatan Pangalengan yang merupakan kampung halamanku. Dulu tempat ini tidak terlalu terkenal. Siapa yang mengenal pangalengan? Tidak ada.  Mungkin orang yang baru mendengar nama ini akan menganggap tempat ini berada di antah berantah.

Saat ini aku tinggal di Bogor, sementara nenekku lah yang berada di Pangalengan. Sejujurnya, aku jarang sekali pulang ke kampung halamanku. Mungkin hanya saat mudik lebaran saja dan itupun tidak rutin satu tahun sekali. Meski begitu, yang paling aku ingat dari kampung halamanku adalah perjalanannya. Waktu aku kecil, mamahku sering mengajakku ke rumah nenek menggunakan transportasi umum, dan bus menjadi pilihan kami saat itu. Aku ingat untuk sampai ke rumah nenekku, kami harus melewati jalan yang berkelok-kelok. Jika aku melihat keluar jendela, mataku akan disuguhkan oleh hamparan hijaunya perkebunan teh dan juga pegunungan. Ketika memasuki wilayah pedesaan, mataku akan dimanjakan dengan hamparan perkebunan yang indah. Mayoritas penduduk disana adalah petani, dan biasanya mereka menanam sayur- sayuran seperti kol, kentang, cabai, dan wortel. Jika biasanya daerah pedesaan itu identik dengan sawah, maka disana jauh berbeda. Sangat jarang atau bahkan mungkin tidak ada sawah di kampung halamanku.

Pangalengan
perjalanan menuju pangalengan

Untuk sekedar informasi, kampung halamanku berada di kaki gunung dan itu membuat suhu udara disana hampir mencapai 15 derajat celcius. Pada malam hari suhu udara akan menjadi dingin berkali-kali lipat. Tidak cukup hanya menggunakan satu jaket, bahkan memakai selimut tebal saja aku masih merasa kedinginan. Ketika malam hari, kampungku ini akan terasa sunyi, tak banyak orang yang berkeliaran pada malam hari. Kendaraan yang lewatpun hanya satu atau dua saja.

Rumah nenekku cukup sederhana, berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bilik. Dari dulu hingga sekarang, rumah nenekku tak pernah berubah. Jika yang lain sudah menggantinya dengan bahan bangunan modern seperti tembok dan keramik, rumah nenekku masih tebuat dari kayu dan bilik. Ini bukan karena kami tidak mampu merenovasi rumah, tapi nenekku ingin mempertahankan rumah tradisional tersebut. Menurut kami juga, rumah yang terbuat dari balik juga cocok di daerah yang dingin karena terasa lebih hangat. Untuk alat memasak, nenekku maupun penduduk lainnya menggunakan tungku atau dalam bahasa sunda disebut ‘ hawu’. Nah ini juga menjadi spot favoritku untuk menghangatkan badan disaat aku benar-benar merasa kedinginan dengan udara disana. Aku ingat dulu tidak ada kamar mandi di sana. Jika kami ingin mandi, kami harus pergi ke pemandian umum yang terbuka dan harus berjuang menimba air terlebih dahulu.  Ini yang membuatku dulu kadang tidak betah jika harus menginap berlama-lama disana.

Pangalengan
halaman depan rumah nenek
Pangalengan
oleh-oleh khas pangalengan

Meski begitu, terkadang aku selalu ingin kembali kesana. Aku selalu rindu melihat para petani bekerja di kebun setiap paginya. Rumah nenekku berhadapan langsung dengan perkebunan, jadi aku bisa melihat secara langsung bagaimana para petani itu bekerja dengan cekatan. Hasil perkebunan yang khas dari kampungku adalah cabe gombol atau dalam bahasa indonesia disebut cabai gendot. Tidak seperti kebanyakan cabai yang berbentuk memanjang, cabai ini berbentuk bulat dan berisi. Bentuknya seperti paprika namun dengan ukuran yang lebih kecil. Untuk rasanya sama saja, namun aku suka dengan rasa dari cabai ini dibanding yang lain. Adalagi makanan khas di kampung halamanku yang aku sukai yaitu angleng. Angleng ini sejenis wajit namun aku tidak mengerti apa yang membedakan wajit dengan angleng, mungkin dari cara pembuatan atau bahannya. Selanjutnya, salah satu ciri khas dari kampung halamanku adalah susu. Ya, pangalengan terkenal dengan susu murninya. Dulu, orang-orang menjual susu murni secara langsung dengan menjajakannya keliling desa. Namun  sekarang seiring dengan perkembangan zaman, orang-orang mulai mengolah susu tersebut ke dalam aneka olahan. Olahan dari susu ini menjadi oleh-oleh khas dari pangalengan. Ada dodol susu, kerupuk susu, dan juga permen susu. Semua itu asli buatan masyarakat lokal.

Cerita Lain: Kenangan di Cipanas Subang Kuningan

Selain kuliner, ada wisata yang istimewa disana yaitu danau buatan yang diberi nama situ cileunca. Dulu tempat ini tidak terlalu dikenal, hanya penduduk lokal saja yang berkunjung ke danau ini untuk menikmati keindahannya. Tidak seperti sekarang, situ/ danau ini sudah menjadi objek wisata dan ramai dikunjungi ketika musim liburan tiba. Lokasi danau ini tidak terlalu jauh dari rumah nenekku. Kami hanya butuh 5 menit berjalan kaki untuk mengunjungi danau. Danau ini menjadi tempat favoritku jika aku berkunjung ke rumah nenek. Yang paling aku suka adalah aku bisa naik perahu untuk menyebrang ke pulau. Di tengah danau ada pulau kecil yang ditanami oleh pohon arbei dan kami bisa pergi ke pulau tersebut dengan menggunakan perahu. Situ cileunca ini cukup luas dan cocok untuk dijadikan tempat piknik keluarga.

Pangalengan
situ cileunca

Jika dulu hanya ada danau saja, sekarang tak hanya itu. Banyak wisata outbond yang ditawarkan di sini, seperti flying fox, camping ground dan body rafting. Aku pernah mencoba keduanya, dan menurutku itu sangat luar biasa. Untuk body rafting, kita akan dibawa menyebrang danau menggunakan perahu karet terlebih dahulu menuju hulu sungai palayangan. Setelah itu barulah kita akan mulai berpetualang menyusuri sungai palayangan. Debit air di sungai palayangan ini cukup besar dan lumayan menguji adrenalin, namun kita tidak perlu takut karena kita akan dipandu oleh guide yang sudah berpengalaman. Jadi akan sangat menyenangkan jika kita mengunjungi Situ Cileunca sekaligus bisa mencoba body rafting di sana.  Untuk wisatawan yang tinggal di luar kota, tidak perlu khawatir. Sekarang di situ cileunca sudah tersedia penginapan untuk wisatawan yang ingin menginap.

Pangalengan
body rafting di sungai palayangan

 

Pangalengan
pemandian air panas Cibolang

Ada beberapa pariwisata yang menarik di sana selain situ cileunca. Pertama, adalah pemandian air panas yang bernama Cibolang, tempat ini sudah terkenal sekarang. Cibolang ini merupakan tempat pemandian air panas yang terbuka, yang terdiri dari beberapa kolam untuk dewasa maupun anak-anak. Pemandangan yang disuguhkan disini juga tidak akan membuat bosan.  Namun sayangnya, akses jalan menuju tempat ini masih belum bagus. Padahal aku tak pernah melewatkan untuk berlibur ke pemandian air panas ini jika aku berkunjung ke rumah nenekku. Konon, dengan berendam disini akan menyembuhkan berbagai penyakit kulit karena zat belerang yang terkandung di dalamnya.

Untuk menuju wisata cibolang, kita akan melewati perkebunan teh malabar. Aku ingat betul,  dulu perkebunan teh malabar ini sering dijadikan tempat shooting film maupun video clip. Dan yang paling aku ingat, perkebunan ini pernah dijadikan tempat pembuatan video clip seorang penyanyi yaitu Katon Bagaskara. Tidak ada yang berubah disini, masih asri dan hawanya sejuk. Hanya saja ada beberapa kerusakan jalan untuk menuju tempat ini. Perkebunan malabar ini juga merupakan salah satu wisata yang wajib dikunjungi ketika aku ke pangalengan.

Cerita Lain: Kampung Cai Ciwidey Unik, Asik. Kampungku.

Pangalengan
perkebunan teh malabar

Kedua, tempat tersebut memang lumayan jauh dari rumah nenekku, butuh waktu sekitar 1 jam untuk sampai kesana. Perjuangan menuju ke sana juga tidak mudah, karena kita akan melewati akses jalan yang rusak. Namun ketika kita sudah sampai,  rasanya semua perjuangan itu terbayar sudah dengan suguhan pemandangan yang indah yang bisa memanjakan mata. Dan ini yang membuatku selalu rindu untuk terus berkunjung ke sana.

Bertahun-tahun sudah berlalu, bagiku kampung halamanku masih tetap sama meski ada beberapa hal yang berubah. Jika dulu semua rumah yang kulihat berbentuk panggung yang terbuat dari kayu dan bilik, sekarang hanya ada beberapa saja yang masih bertahan. Suhu udara disini juga tidak sedingin yang dulu walau pada malam hari hingga menjelang subuh, aku akan tetap menggigil kedinginan meski sudah dilapisi jaket dan selimut tebal. Jika dulu aku tidak suka dengan udara dinginnya, sekarang aku jauh lebih menikmatinya. Aku pikir, udara pedesaan mampu menenangkan pikiranku sejenak dari hiruk pikuknya kebisingan kota. Aku menganggap bahwa berkunjung ke kampung halamanku itu adalah ‘healing time’. Jika ada kesempatan, aku lebih senang untuk tinggal lebih lama di sana. Menikmati pemandangan hijau yang asri dengan suhu udara yang dingin hanya bisa kutemukan di kampung halamanku. Dan itu yang membuatku selalu rindu untuk pulang. (TAA)

#ingetkampung

I'm just ordinary girl who loves traveling.

2 Comments

Leave a Reply