Panggilan Rindu dari Bali Timur

Siapa yang tak mengenal Bali dengan beragam kuliner khasnya yang membuat rindu untuk bertandang kembali. Setelah menyelesaikan pekerjaan yang padat selama lima hari di Bali perasaan rindu pun belum terbayarkan lunas. Seorang sahabat yang sejak beberapa hari lalu melakukan kegiatan bersama mengajakku untuk menetap di Bali sampai beberapa hari ke depan untuk mengunjungi sahabat lama kami di Amed. Tiket pulang ke Jogja sudah di tangan, dua jam lagi pesawat yang saya tumpangi lepas landas dari Bandara Ngura Rai. Tanpa pikir panjang saya bergegas menuju pusat informasi yang jaraknya tidak jauh dari pintu masuk keberangkatan.

“Selamat malam Bu ada yang bisa saya bantu?” ujar salah seorang petugas cantik dari maskapai pesawat yang akan saya tumpangi sambil melempar senyum ke arah saya yang saat itu masih ragu membatalkan jadwal keberangkatan.

“Iya Mbak, kira-kira saya bisa memindahkan jadwal tiket pesawat hari ini tidak untuk digantikan ke hari lain ?” jawab saya sambil menengok jam tangan dengan tetap berpikir apakah keputusan saya benar untuk tidak berangkat pulang malam ini.

“Tunggu sebentar ya Bu” jawabnya kembali sambil sibuk berkutat melihat layar komputer di meja kerjanya. Tak lama kemudian petugas cantik itu berujar pada saya, “Bisa Bu, bisa lihat kode booking tiketnya untuk nanti segera kami urus pembatalannya. Dan pengembalian refund bisa di klaim langsung di kantor maskapai kami besok pagi”.

“Oke, kalau begitu terimakasih bantuannya Mbak” jawab saya sambil melempar senyum yang tak mau kalah manis oleh petugas itu.

Keluar dari pusat informasi Bandara dengan senyum merekah, saya menghampiri teman-teman lain yang pulang malam ini untuk berpamitan. Dan saat itu Pras sudah berada di Bandara menjemput kami, sedangkan Syukron menunggu Wulan dan si kecil Bilal yang sudah take off dari Bandara Husein Sastranegara sore tadi.

“Kau jadinya standby disini nda? Batalin tiket pulang lagi dong, pas di Bali lagi” kata Syukron sambil tertawa.

“Kayaknya itu emang hobiku dari dulu !” jawab saya sambil ikut tertawa.

Berbekal kerinduan yang membuncah ruah pada Pantai Amed dan sejumlah uang yang masih cukup untuk melakukan perjalanan saya memilih menetap beberapa hari lagi di Pulau Bali. Keputusan itu tak saya sesalkan karena saya pikir berpergian ke suatu tempat karena keinginan dari diri sendiri itu lebih baik bukan karena seseorang menyuruhmu untuk melakukan hal yang sama.

Berkendara selama kurang lebih 2,5 jam melewati pedesaan yang telah sepi karena langit sudah berganti gelap kendaraan kami melaju membelah jalan berliku dengan aspal yang masih basah sebab hujan deras yang tidak merata  mengguyur setiap jengkal tanah di sepanjang jalan. Dengan hutan sekelilingnya dan perbukitan yang terlihat samar-samar dari kejauhan perjalanan tengah malam itu bukanlah waktu yang singkat untuk kembali ke Amed sebab rindu yang sudah tak tertahankan beberapa tahun belakangan ini. Amed suatu daerah pesisir pantai Bali bagian timur yang diciptakan Tuhan dengan sebegitu alaminya. Bersama 3 orang sahabat (Syukron, Wulan& Prast) dan 1 keponakan saya yang akan berusia 2 tahun akhirnya sampai dengan mata terkantuk-kantuk di Taman Bebek Hita tempat seorang sahabat lama kami, Bli Komang Bajing. Taman Bebek Hita adalah sebuah persembahan keluarga Bli Komang untuk mengenang anak kedua mereka yang bernama Hita yang telah lebih dulu bertemu dengan Tuhan.

Tak ada habisnya sepanjang perjalanan dari Denpasar-Amed saya mengenang kembali perjalanan bersama Prast, dan Syukron beberapa tahun yang lalu dengan menggunakan sebuah mobil Van yang sudah di desain khusus untuk beperjalanan jauh. Tengah malam yang dingin selepas diguyur hujan selama perjalanan dari Denpasar, Bli Komang menyuguhkan teh hangat wangi buah tangan dari seorang teman asal Malang yang beberapa hari lalu sempat mampir. Secangkir teh  yang menyegarkan begitu disesap sambil bercerita kesana-kemari mengenang kisah beberapa tahun lalu di Amed sebelum akhirnya kami dipersilahkankan untuk beristirahat di rumahnya.

Pagi ini langit Amed tampak cerah menyapa, warna birunya kontras dengan warna hijau perbukitan dibelakang sisi rumah Bli Komang. “Kalau pagi-pagi pemandangannya bagus Rinda, akan terlihat kabut yang masih menutupi bukit Lempuyang di belakang itu” ujar Bli Komang setelah selesai beribadah memohon doa di Pelinggih yang berada di sudut halaman rumah . Ternyata pagi-pagi Istri Bli Komang sudah berkutat di dapur membuat pisang goreng berselimut tepung dengan parutan kelapa yang bercampur gula merah cair. Rasanya begitu manis gurih. “Kelak saya akan mencoba membuatnya di rumah” ujar saya dalam hati yang masih asik melahap pisang di teras rumah sembari bermain dengan Dek Bilal dan Dek Ayu yang sibuk mengajak Anjing peliharaannya ikut bermain bersama, sedangkan lainnya asik bercerita sembari menegak teh harum merencanakan kegiatan pagi ini. Setelah melahap ayam goreng beraroma menggoda dengan sambel mattah Bali khas buatan Taman Bebek Hita, kami bersama Om Gunawan yang sudah tiba lebih dahulu di Amed kemarin, beranjak pergi ke pantai Nglipah yang jaraknya sangat dekat dengan Taman Bebek Hita.

Pantai yang masih terbilang sepi dengan spot snorkeling dan diving yang epic dengan pemandangan bawah laut yang terkenal dengan japanesse wreck yang kerap dijadikan tempat berkumpulnya ikan, udang dan biota laut lainnya sempat membuat saya tecengang. Betapa tertegunnya saya melihat ternyata masih ada pantai yang sepi seperti ini tanpa harus membayar retribusi untuk mengunjunginya. terlebih lagi dengan pesatnya pembangunan resort dan hotel di Bali yang terkadang menjadikan pantai disekitarnya privat dan hanya boleh dikunjungi oleh pengunjung resort atau hotel tersebut. Menyusuri garis pantai dengan pohon kelapa berdiri dipinggiran tempat jungkung-jungkung bersandar. Merasakan pasir putih bercampur hitam halus menyelinap di sela-sela jari kaki. Begitu bahagianya melihat kedekatan para Bapak (Syukron dan Bli Komang) dengan putra putrinya mengingatkan kembali saat Ayah pertamakali mengajak bermain saya di suatu pantai di Aceh. Begitulah sepoi angin pantai mengajak saya kembali ke masa lalu. Bersenda gurau dengan Dek Ayu dan Dek Bilal, sambil saling berlarian melempar pasir basah kepada yang lain, begitu beragam cara yang kami lakukan untuk sekedar menikmati pantai ini.

Atas dasar iming-iming dari Bli Komang untuk mencoba snorkeling sedikit ke tengah laut sampai mencarikan kami alat snorkeling dari seorang teman yang menyewakan peralatan. Kami cukup membayar Rp 40.000,- untuk menyewa alat, saya sudah bisa sepuasnya menggunakan alat snorkeling lengkap dengan baju pelampung jika dirasa perlu. Dengan segenap keberanian dan rasa ingin tahu saya berenang mengikuti ombak sampai ke bagian tengah sambil sesekali menggoyangkan kedua kaki saya agar bisa mencapai tempat yang saya inginkan untuk melihat pemandangan bawah laut Pantai Nglipah. Suasana cukup hening ketika mengamati terumbu karang yang masih cantik dengan segerombol ikan-ikan kecil yang saya abadikan lewat kamera yang ada di salahsatu genggaman tangan saya. Namun taklama ketika posisi tubuh di tengah laut kepanikan saya menjalar begitu air asin masuk di kacamata dan selang snorkel yang saya pakai. Tapi beruntung pelampung yang saya gunakan tetap membuat tubuh berada di atas permukaan air sambil melambaikan tangan pertanda sudah cukup untuk saya menikmati kehidupan bawah laut kepada mereka yang menunggu di pinggir pantai. Sungguh pengalaman yang menuntut saya untuk lebih baik lagi mengatur rasa panik dan takut tenggelam.

Puas bermain di pantai menggelapkan warna kulit akibat dihajar sinar matahari seharian, bergerumul dengan pasir putih dan ombak, kami melepas dahaga dengan segelas besar es buah dan es teler di salah satu tempat sekitaran pantai. Masih dengan baju yang basah dan pasir yang menempel di kulit-kulit kami pulang ke rumah untuk membersihkan diri selagi menunggu hidangan luar biasa dari Bli Komang untuk menjamu kami semua, aku duduk santai di halaman rumah Bli Komang yang banyak di tumbuhi pohon pepaya dan pohon lain membuatnya tampak begitu asri. Sambil mengedarkan pandangan di sekelilingnya terdapat segerombolan bebek di dalam kandang pada sudut halamannya. Setelah tubuh segar kembali seusai mandi saya tak sabar menapaki tangga menuju rooftop Taman Bebek Hita yang letaknya jadi satu dengan pekarangan rumah, melihat beragam menu tersaji membuat mulut saya susah mengatup. Semua makanan yang terhidang serba makanan Khas Bali.

Rheevarinda di Amed-Bali

Rheevarinda menikmati makanan Khas Bali sambil melihat senja

 

Mencicipi sesuap nasi hangat berbalut daun pisang dengan lauk bebek goreng crispy yang tak jauh-jauh dari sambel mattah adalah menu wajib yang patut di coba bila bertandang ke sini. Sajian kuliner yang kuat akan cita rasa rempah-rempah khas Bali membuat lidah bergoyang. Hidangan bali biasanya dilengkapi pula dengan kacang goreng. Kata Bli Komang, kacang goreng sebagai cemilan dikala kita mengobrol dengan teman lainnya. Beruntungnya saya sempat mencicipi sup kepala ikan kakap merah berkuah segar hasil tangkapan nelayan setempat. Karena tenyata banyak dari kami yang mengincar untuk merasakan sensasi di lidah. Melihat Mbak Wulan yang menikmati sate lilit dengan tusuk pelepah tangkai pohon kelapa yang ditenteng dari sekitaran pantai menambah rasa manis gurih rasa sate lilit. Hati saya sempat tergelitik melihat cara makan Dek Bilal dan Dek Ayu yang begitu lahap dengan posisi meja yang ketinggian untuk anak seumuran mereka.

Background pemandangan yang manis semanis pisang goreng tadi pagi dengan hamparan bukit lempuyang Amed yang sangat asri dan sepotong senja pesisir pantai Amed tampak dari tempat saya duduk menikmatinya tanpa menoleh sedikitpun. Sambil bersyukur didalam hati kami dapat menikmati senja di sini, bukan di tengah-tengah kepadatan mesin kendaraan di kota. Suasana disini tak ayal membuat siapapun akan jatuh cinta berkali-kali dengan Amed yang mempunyai atmosfer romantisme.

Menjelang langit menjemput malam saya, Prast, Om Gunawan dan Keluarga Syukron berpamitan kepada Keluarga Bli Komang dan berterimakasih banyak sudah sudi menampung dan menemani kami selama berada di Amed.

“Jangan lupa kalau mampir kesini lagi bawa calonnya, ujar Bli kepada saya sambil melambaikan tangan kearah kami semua

“Sampai jumpa lagi Bli ! Doakan besok besok bawa calon kesini” jawab saya secepatnya.

Roda-roda kendaraan berputar pada laju porosnya. Angin pantai timur bali menggerak-gerakan dedaunan dan mengusap lembut wajah kami. Taburan bintang malam itu terang benderang membuat perjalanan selanjutnya ke Lovina begitu indah tanpa dijatuhi hujan dari langit. Seperti halnya pulau Bali, Keluarga Bli Komang selalu membuat kami merindu untuk kembali dan kembali lagi, untuk sekedar mampir menebus rindu.

Leave a Reply