Pantai Lampuuk, Cerita dari Pesisir Barat Indonesia

Post

Sore hari di Banda Aceh terasa sendu. Selepas mengunjungi berbagai situs peringatan bencana tsunami Aceh, aku termenung. Sudah sekitar seminggu aku dan empat orang rekanku yang berasal dari Bandung berada di Aceh setelah kembali dari melaksanakan tugas menjadi relawan medis pada bencana gempa bumi di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh.

“Kak, habis ini kita kemana?” Tanya Alul. Alul ini memang yang paling junior di antara kami semua.

“Bebas, kemarin rencananya ke Lampuuk kita ketemu sama Bu Erna dan anak-anaknya.” jawabku. Saat itu hari Selasa, namun anak-anak sekolah memang sedang libur akhir semester.

“Bu Erna minta kabarin kalau kita mau berangkat ke Lampuuk” Bang Zacky menimpali. Bang Zacky, Bu Erna, dan Alul ini memang asli orang Aceh yang tergabung dalam komunitas yang sama. Mereka ini yang banyak membantu kami sejak sebelum berangkat ke Pidie Jaya hingga kembali lagi ke Banda Aceh.

Kami berangkat ke Lampuuk sekitar pukul empat sore. Dalam benakku, pukul empat sore sudah sangat sore jika kita sedang berada di Pulau Jawa, karena jam enam sore langit akan berubah gelap. Namun, berbeda dengan Aceh yang notabene letaknya paling Barat dari Indonesia, langit akan mulai gelap sekitar pukul 18.45.

“Berapa lama perjalanan ke Lampuuk? Gak keburu maghrib nih?” tanyaku sedikit cemas.

“Dekat aja, sekitar 20 menit udah sampai, tenang aja, Kak.” Alul menenangkan.

Ok, let’s go!” ujar kami semua bersemangat ingin segera sampai di pantai.

Pantai Lampuuk terletak di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Untuk menuju ke Pantai Lampuuk, kita dapat pergi menggunakan kendaraan pribadi, ataupun kendaraan umum. Jika kita naik becak motor dari pusat Kota Banda Aceh ongkosnya berkisar 20.000-30.000 saja. Jaraknya sekitar 13 KM dan tanpa macet. Terasa dekatnya bukan?

Tiket masuk ke Pantai Lampuuk ini juga terbilang sangat terjangkau, hanya 3.000 rupiah per orang.  “Wah, murah bangettt... mana lagi liburan sekolah, rame deh ni pantai” pikirku saat itu. Ku perhatikan sekeliling, ternyata di sekitar pantai banyak ditumbuhi pohon cemara. Berbeda sekali dengan yang ada di benakku bahwa pantai selalu hanya ditumbuhi pohon kelapa.

Tak sabar, setelah turun dari mobil kami langsung berjalan menuju bibir pantai. Kali ini aku benar-benar terpesona. Pantai ini jauh lebih indah dari ekspektasiku! Ditambah lagi dengan suasananya yang tidak terlalu ramai dan bersihnya lingkungan sekitar pantai menambah nilai positif dari Pantai Lampuuk ini.

View Pantai Lampuuk yang indah photo
View Pantai Lampuuk
Senangnya bertemu pantai
Senangnya bertemu pantai

Sesungguhnya, Pantai Lampuuk ini sudah dibuka untuk pariwisata sejak tahun 1990-an. Namun, pada tahun 2004 terjadi tsunami yang meluluhlantakkan pantai barat, termasuk pantai ini. Pantai Lampuuk dibuka kembali untuk umum pada tahun 2007. Lamanya pembukaan kembali pantai ini pasca  tsunami disebabkan adanya pro dan kontra antara masyarakat lokal dengan pegiat wisata. Setelah tsunami, masyarakat lokal banyak yang mengaitkan kejadian tsunami dengan banyaknya kemaksiatan di darah wisata yang disebabkan perilaku dari pengunjung wisata itu sendiri. Setelah adanya musyawarah dengan tokoh-tokoh masyarakat di desa, pariwisata Pantai Lampuuk kembali dibuka dengan syarat harus mengikuti aturan yang dibuat oleh tetua-tetua di desa tersebut. Inilah uniknya wilayah Aceh yang memang sangat kental dengan syariat-syariat Islam dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia.

Kami diajak Bu Erna menuju warung pinggir pantai yang biasa disebut surfcafe millik Bang Adon. Bang Adon ini juga tergabung dalam komunitas yang sama dengan Bu Erna, Bang Zacky, dan Alul sehingga menambah suasana hangat sore itu. Kami memesan kelapa muda yang cocok dinikmati bersama semilir angin pantai dan tak lupa juga ikan bakar untuk mengobati rasa lapar.

Menikmati Segarnya Air Kelapa Muda di Pinggir Pantai
Menikmati Segarnya Air Kelapa Muda di Pinggir Pantai

Usut punya usut, akhirnya aku tahu mengapa warung Bang Adon disebut surfcafe. Ternyata, Bang Adon ini adalah pelatih selancar (surfing) dan merupakan pentolannya Lampuuk Surf School. Berbekal ilmu dari pelatihan pemandu selancar di Bali pada tahun 2007 yang dibuat oleh Pemerintah Aceh untuk anak-anak pesisir korban tsunami, beliau mendirikan Lampuuk Surf School secara mandiri pada tahun 2011. Surfcafe itu sendiri sebagai pusat informasi tentang dunia surfing, tempat pertemuan dengan orang-orang yang tertarik belajar surfing, dan tempat berkumpul baik para penyuka surfing, maupun pengunjung pantai lainnya. Pantai yang menjadi lokasi surfing adalah Pantai Kuala Cut yang masih berada di kawasan Pantai Lampuuk. Tertarik belajar surfing di Aceh? silakan hubungi Bang Adon untuk info selanjutnya!

Belajar Surfing untuk Pemula
Belajar Surfing untuk Pemula
Spot Surfing untuk Profesional di pantai lampuuk pic
Spot Surfing untuk Profesional

Di Pantai ini juga terdapat penangkaran penyu yang juga diprakarsai oleh Bang Adon dan teman-temannya. Penangkaran penyu ini dimulai pada tahun 2010 dengan bantuan dari Dinas Kelautan di tahun pertamanya. Tahun-tahun selanjutnya mereka harus mencari donasi untuk menyelamatkan penyu-penyu dari kepunahan. “Kadang-kadang telur penyu harus dibeli dari para  pemburu yang juga adalah warga desa sekitar yang sedang mengais rezeki. Sementara ini masih sulit dilakukan pelarangan mengambil telur penyu bagi warga desa. Namun, setidaknya sekarang mereka tak lagi menjual telur penyu untuk dikonsumsi. Telur-telur tersebut dijual pada kami untuk dilakukan inkubasi dan dilepas ke laut setelah menetas nanti.” ujar Bang Adon.

Lampuuk Sea Turtles Conservation img
Lampuuk Sea Turtles Conservation
Penyu-penyu yang telah menetas
Penyu-penyu yang telah menetas

Satu hal lagi yang sangat dijaga oleh warga sekitar dari pantai ini adalah kebersihannya. Walaupun masih ada satu-dua sampah yang berserakan, pantai ini terbilang cukup bersih dari sampah. Kami bertemu seorang bapak yang mengumpulkan sampah-sampah, terutama sampah botol untuk dijual. Bapak tersebut meminta kita untuk berfoto dengan botol-botol yang ia kumpulkan. Bapak tersebut adalah seorang tunawicara, namun entah bagaimana aku mengerti yang disampaikannya adalah bahwa kita sebagai pengunjung pantai harus turut serta menjaga kebersihan pantai dan terus menyebarkan hal-hal baik seperti ini.

Bapak Pengumpul Botol Bekas. Ayo... Jangan Nyampah!
Bapak Pengumpul Botol Bekas. Ayo... Jangan Nyampah!

Jadi, kemana pun kita pergi harus tetap aware dengan kebersihan lingkungan, dong. Jangan sampai setelah kita pergi malah meninggalkan sampah. Cukuplah kenangan saja yang ditinggalkan, hehe.

Setelah perut terisi ikan bakar sambil masih menyeruput air kelapa, ditemani teman-teman yang baik dan tiupan angin pantai, sore itu pun ditutup dengan pemandangan sunset yang cantik dan perasaan bahagia yang menyeruak. Alhamdulillah, terima kasih Tuhan telah memberi kami kesempatan merasakan momen menyenangkan ini.

Selanjutnya selamat berpetualang ke tempat baru, kawan!

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.