Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Batu Garuda

Post

Sinar matahari pagi telah membangunkan kami semua, saya, Khoerul, Bastian dan Tim KitaINA di Pandan Inn, sebuah penginapan yang lokasinya tidak jauh dari kota Tanjung Pandan. Dari balik jendela di sisi belakang penginapan, saya masih bisa menyaksikan secara langsung kawanan monyet hutan yang sedang bergelantungan di pohon kelapa pagi ini. Biarpun berada di tengah kota, masih banyak hutan yang dihuni oleh binatang liar khususnya kawanan monyet yang bisa dilihat langsung dari jarak dekat, sebuah tontonan menarik pagi ini di kota Tanjung Pandan.

Ketika semua orang penghuni penginapan sudah mandi, satu persatu mereka pun turun ke lantai dasar untuk menikmati sarapan pagi. Potongan ketupat, bihun, kerupuk, kuah santan pekat berwarna kuning serta kopi dan teh telah tersedia, sederhana memang tapi pas dicoba, soto tanpa daging versi saya ini rasanya benar-benar sedap apalagi ada kerupuknya.

Setelah kenyang sarapan pagi, kami pun beranjak ke lobi penginapan, menunggu jemputan sang tour guide kami, Rangga. Agak telat dari jadwal yang telah ditetapkan memang tapi itu tidak mengurangi semangat kami menuju pantai tujuan kami.

Perjalanan kami menuju Pantai Tanjung Kelayang ditempuh kurang lebih 1,5 jam berkendara . Lagi-lagi yang saya suka dari Belitong ini adalah suasana jalannya yang sepi dan bebas macet. Beberapa dari kami pun tak terasa mengantuk saat perjalanan padahal semalaman sudah puas tidurnya.

Mobil yang kami kendarai akhirnya sampai juga di pinggir Pantai Tanjung Kelayang yang pagi itu sinar matahari sudah lumayan terik dan bikin mata nyengir. Kami pun bergegas menuju ruang ganti untuk berganti baju dan celana. Pagi itu suasana lumayan ramai oleh para turis yang juga ingin menikmati perjalanan dari pulau satu ke pulau lainnya.

Perahu-perahu kayu yang sudah dipesan oleh para turis telah menunggu di pinggiran pantai berombak landai dan berpasir putih. Saya yang aslinya tidak bisa berenang ini, sudah siap sedia dengan pelampung yang disediakan oleh pemilik kapal. Total hanya ada 8 orang di dalam kapal yang cukup besar dan akan membawa kami menjelajahi pulau-pulau.

Rasa deg-degan masih terasa dalam hati, maklum terakhir kali menyeberang pulau adalah beberapa tahun yang lalu saat singgah ke Pulau Pasir Putih di Pangandaran Jawa Barat dan kini terulang lagi. Yang saya suka dari laut Belitong ini adalah ombaknya yang tidak terlalu besar serta pemandangan bebatuan raksasa yang banyak tersebar entah di pinggiran pantai hingga di pulau-pulau.

pulau batu garuda, source: welcometobelitung.blogspot.com

Gugusan bebatuan yang salah satunya mirip paruh burung Garuda, sudah terlihat di depan mata, tidak mendekat atau mampir ke pulau ini memang, karena perahu yang kami naiki hanya berada di pinggirannya saja. Dari kejauhan bebatuan di sini terlihat seperti putih karena terkena kotoran burung tapi saat mendekat ternyata memang warna putih tersebut berasal dari warna alami bebatuan tadi.

Sudah puas melihat sekilas bebatuan mirip paruh burung Garuda, mesin kapal perlahan bergerak dan kini makin menjauh dari pinggiran pulau menuju ke pulau berikutnya. Ke mana tujuan kami berikutnya? Tunggu kelanjutan ceritanya….

Pantai Pandawa

Lost on the beach

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.