Paradise is here!

img_2145

 

Indonesia.

Negeri dengan ribuan surga tersembunyi, yang selalu memiliki kedamaiannya tersendiri. Dari hijau, biru, hingga jingga, semua warna indah itu menyatu dalam satu cakrawala.

Sangat bangga rasanya bisa menjadi seseorang yang terlahir di tanah subur ini, dimana saat berbagai turis berlomba-lomba datang hanya untuk kembali menemukan ketentraman jiwa, diriku sudah menemukan nya jauh lebih dalam dari sekedar jiwa.

Hari itu tuhan seperti merestui perjalanan tidak terdugaku bersama satu satunya sahabat yang selalu ada di setiap petualangan gilaku. Holiday tiga hari untuk judul hari itu. Pagi – pagi buta aku melaju dengan ganasnya, menempuh perjalanan semarang-yogyakarta, yang memakan waktu kurang lebih 5 jam. Cukup kokoh untuk seorang wanita.

Kami sepakat untuk melakukan backpacker traveler yang menargetkan melihat pesona air terjun yogyakarta, terlebih di kulonprogo, yang menurutku, surga untuk para bidadari turun dari langit, karena harus kuakui jika banyak air terjun yang masih indah dan terjaga, walaupun tidak 100% asri lagi. Sesampainya disana, saya rasa tidak ada yang terlalu spesial, kecuali satu,  duduk di ujung tebing air terjun dan sedikit mengambil foto sebagai kenangan.

img_2046

Setelah cukup puas berbasah-basahan, kami merasa ada yang belum terjalankan. Ya, keinginan itu, sebuah hasrat untuk kembali dengan alam, tidur beralaskan bau rimbun tanah, dan beratapkan indah bintang.

Tanpa ambil pusing, kami langsung menyewa perlengkapan camping dan mengikuti naluri kami untuk berjalan menuju selatan dan melewati bukit bintang yang sudah seperti lautan semut manusia. Malam itu masih pukul 8 malam, masih belum larut untuk kami menaiki sebuah gunung dengan ketinggian yang hanya 700 meter, dan sangat aman meski hanya di daki oleh dua orang wanita ribet seperti kami.

Dalam perjalanan, kegelapan membuatku berpikir apakah di gunung tersebut sama gelapnya seperti hutan hutan yang kami lewati, tapi sekali lagi, nyaliku semakin tertantang untuk melakukan hal yang membuatku harus mengatakan “excited”.

Oh!

Tapi tuhan begitu merestui perjalanan kami, karena ternyata kami memiliki teman yang juga sedang bersiap-siap untuk mulai trekking. Dan yey!

Trekking di malam hari adalah impianku dari dulu, dan sekarang ini adalah kedua kalinya aku melakukannya, dan selalu terasa menyenangkan. Terlebih saat kami melewati bebatuan besar dengan celah yang cukup sempit, mungkin hanya muat untuk yang berbadan normal, bahkan tas carrier yang terlalu besar malah tidak muat disini. Sensasi yang luar biasa and really dope.

Puncaknya kami mendirikan tenda dan berhadapan langsung dengan tebing sisa bebatuan yang akan terlihat indah saat pagi hari. Sedikit kehangan dari segelas kopi dan api unggun dari ranting sekitar yang tentunya sudah sangat safety dalam menyalakan dan memadamkan,  semua terasa begitu selaras dengan alam, dan lebih indah dibandingkan hanya melihat gedung-gedung tinggi dan asap pabrik dengan resiko penyakit yang tinggi.

img_1967

Satu malam rasanya kurang. Namun alunan sunrise memberiku semangat untuk segera memejamkan mata, karena bangun pagi dan melihat sunrise yang epik akan lebih menarik.

Tiba saatnya dan benar saja, tebing-tebing dari sisa letusan hebat 60 tahun yang lalu dari gunung api purba ini terlihat begitu kental, dan seolah memberikan kami sebuah peringatan kembali, jika bumi ini sudah tua.

Sunrise memang tidak muncul dengan sempurna hari itu, tapi keindahan nya, semua tetap selaras dengan alam, dan masih alami.

Disaat semua orang berombong rombong kesana kesini,  hingga.membuat kemacetan parah di sudut kota yogyakarta, kami memilih menyepi dan kembali berinteraksi dengan ramahnya alam.

Selama perjalanan kami ini, semua properti sampah selalu kamu buang pada tempatnya, dan tentunya anti dalam membuang sampah di pucuk gunung.

Salam lestari.

img_2095

Leave a Reply