Percayalah, Kami Masih Bercahaya

Hidup ini seperti layangan, dibiarkan terbang tapi ditarik ulur terus ujung-ujungnya disuruh pulang. Seberapa pun jauhnya pergi, ada saatnya kita kembali. Kembali ke rumah sebagai pelepas lelah. Rumah yang ditempati terasa membosankan tapi ditinggal pergi malahan dirindukan. Kampung punya halaman bukan karena indahnya taman. Tapi adanya tawa walau hidup apa adanya, cinta yang menyejukkan jiwa, dan cerita yang penuh warna.

Itu yang saya rasakan tentang kampung halaman saya, Cilacap. Kota bercahaya yang ada namun tidak ada apa-apanya. Sering kali saya bingung sendiri ketika ditanya, ada apa di Cilacap? Dalam hati berteriak banyak, tapi tidak ada yang terucap.

Cilacap adalah kabupaten terluas di Jawa Tengah. Luasnya 2.142 km2 atau 6,2% dari total luas Jawa Tengah. Ada wacana Cilacap akan dibagi menjadi dua kabupaten. Tapi dari saya SMP sampai sekarang, wacana hanyalah sekedar wacana. Entah kapan terealisasinya.

Melihat luasnya saja seharusnya banyak cerita tentang Cilacap. Yang akan saya ceritakan mungkin hanya sebagian kecil. Tapi akan saya coba menguraikannya sedikit demi sedikit. Agar kalian yang juga asli Cilacap bisa #ingetkampung. Dan kalian yang ingin ke Cilacap bisa tahu sisi lain dari kota yang terkenal dengan penjara kelas kakapnya ini.

Untuk sampai ke Cilacap ada berbagai macam cara. Bisa dari laut, darat, dan udara komplit semuanya ada. Cilacap memiliki Pelabuhan Tanjung Intan yang menjadi tempat bersandar kapal tengker. Bila mengunjungi Cilacap menggunakan pesawat, kalian bisa mendarat di Bandara Tunggul Wulung. Sedangkan jalur darat, tentunya bisa lewat jalan raya menggunakan bus atau naik kereta api.

Secara geografis, Cilacap terdiri dari dataran tinggi dan dataran rendah. Dataran tinggi ini berada di bagian barat Cilacap. Sedangkan dataran rendah membentang dari Segara Anakan sampai Pantai Jetis. Hal ini mempengaruhi mata pencaharian, pariwisata, budaya, dan kuliner di Cilacap.

Mata pencaharian

Masyarakat dataran tinggi di Cilacap, seperti daerah Dayeuhluhur, Cimanggu, Karangpucung, Sidareja, Majenang, dan Kawunganten. Banyak yang memanfaatkan sumber daya alam dengan menjadi petani. Mengolah sawah, ladang, dan hutan. Menanam padi, singkong, jagung, jeruk, pisang, pinus, jati, dan banyak lagi lainnya.

Jangan kalian pikir mengolah sawah, ladang, apalagi hutan adalah pekerjaan yang biasa saja dan kurang bernilai. Saya pernah bertemu dengan mereka dan banyak sekali yang sukses. Beberapa petani sudah menjual hasil panennya keluar daerah bahkan keluar negeri. Nilai materi yang didapat tentu jangan ditanya. Omset puluhan bahkan ratusan juta per bulan itu sudah biasa.

Itu baru yang dataran tinggi. Sedangkan masyarakat yang hidup di dataran rendah lebih beragam lagi. Ada yang menjadi petani, penambang, dan nelayan. Petani di bagian selatan Cilacap ini umumnya menanam padi, jagung, dan singkong. Saya masih ingat waktu saya kecil (sekitar tahun 1997, kalau tidak salah) sawah di daerah Maos dan sekitarnya menjadi lumbung padi Jawa Tengah nomor 1. Bahkan Menteri Pertanian waktu itu datang untuk meresmikan Padi Gogo, jenis padi terbaik waktu itu. Sekarang, emmmm. Tahun 2013 saya menjadi petugas pencacah Sensus Pertanian, semua petani yang saya datangi mengeluh karena gagal panen. Mereka memberi istilah “parine abang”.

Dari sektor pertambangan, masyarakat Cilacap ada yang bekerja sebagai penambang pasir. Walau sekarang beberapa tempat mulai dilarang, karena membuat Sungai Serayu kian menjadi sungai terbesar di Jawa Tengah. Selain itu Cilacap juga menghasilkan aspal, semen, dan minyak bumi.

Tapi tahukah kalian apa yang terjadi dengan Cilacap ketika memiliki 3 pertambangan itu? Jalan di Cilacap banyak yang menjadi kolam ikan atau kebun pisang. Karena jalanan yang berlubang dan tidak beraspal. Untung sekarang beberapa tempat mulai dilakukan pembangunan.

Pulau Nusakambangan yang kian gundul karena pertambangan semen. Walau pulau itu berpenghuni para napi tapi masa iya mau benar-benar dipelontosi? Industri minyak bumi yang makin pesat berkat kedatangan Raja Salman yang membuat pendatang dari berbagai daerah berdatangan. Tapi pribumi? Banyak yang susah cari makan di rumah sendiri.

Lalu, bagaimana nasib nelayannya? Ya, tetap ada walau hanya apa adanya.

Kapal di salah satu TPI di Cilacap

Pariwisata

Tentang keindahan alam yang menarik wisatawan, Cilacap termasuk yang serba ada. Dari potensi dataran tinggi yang berupa bukit, waduk, hutan, dan air terjun. Sampai pantai yang membentang luas dan pulau Nusakambangan yang masih banyak binatang buas. Ditambah lagi wisata sejarah dan religinya juga ada.

Air terjun di Cilacap ada banyak terutama di daerah dataran tinggi. Dan di Cilacap air terjun lebih sering disebut curug. Ada Curug Mandala di Jeruklegi, Curug Cimandaway Datar di Dayeuhluhur, Curug Luhur di Sidareja, dan Curug Sawer di Karangpucung.

Waduk Kubangkangkung

Waduk di Cilacap ada satu di daerah Kubangkangkung. Di sekitar waduk ini ditumbuhi pohon pinus yang rindang. Di area waduknya pengunjung bisa menyewa kapal bebek yang dikayuh penumpangnya. Atau sekedar menikmati mendoan di warung-warung pinggir waduk sambil menikmati angin yang semilir juga menyenangkan.

Perbukitan ditumbuhi pohon pinus yang rindang ada Kemit Forest di Desa Karanggedang Kecamatan Sidareja. Kemit Forest ini awalnya hanya kawasan perhutanan biasa. Karena sering dijadikan tempat berswafoto akhirnya penduduk setempat membukanya menjadi objek wisata. Di Kemit Forest ini pengunjung bisa menikmati pemandangan Kecamatan Sidareja dari atas ketinggian.

Pemandangan Sidareja dari Kemit Forest

Selain hutan pohon pinus, di Cilacap juga ada Wisata Hutan Payau yang terletak di Tritih. Di sini pengunjung bisa menikmati keindahan pohon bakau yang akar-akarnya menjulang tinggi dan di bawahnya terdapat air. Sudah dibangun jalan setapak dan gubug atau pun gazebo di atas rawa-rawa itu. Jadi pengunjung tidak kesusahan bila ingin menikmati hutan payau atau sekedar berswafoto.

View Gunung Selok

Di Cilacap juga ada bukit yang terletak di tepi pantai. Perbukitan itu dinamai Selok atau penduduk setempat menyebutnya Gunung Selok. Dari atas bukit ini pengunjung bisa melihat hamparan sawah dan Pantai Sodong dengan pohon cemaranya. Di Gunung Selok ini juga ada wisata religi yaitu Padepokan Agung Sanghyang Jati.

Yang naik-naik beberapa sudah saya tuliskan, sekarang giliran pantai yang membentang dari Segara Anakan sampai Pantai Jetis. Di tambah lagi pantai yang terletak di Pulau Nusakambangan. Jumlahnya bisa mencapai puluhan. Semuanya memiliki pesonanya masing-masing.

Pantai Jetis di Nusawungu banyak ditumbuhi pohon cemara dan tidak jauh dari sana ada perkebunan semangka. Pantai Widarapayung di Widarapayung terkenal dengan ombaknya yang besar. Pantai Sodong di Adipala punya perpaduan pantai, sungai, dan bukit sekaligus. Pantai Bunton satu lokasi dengan PLTU Bunton. Pantai Lengkong ramai di pagi hari karena terdapat tempat pelelangan ikan. Pantai Kamulyan di ujung Jalan Kalimantan punya nama yang dibangun di area parkirnya. Pantai Teluk Penyu yang memiliki banyak sekali trackdam yang sering dijadikan tempat memancing.

Senja di Pantai Sodong
PLTU Bunton

Masih satu kawasan dengan Teluk Penyu juga ada Benteng Pendem. Dulunya benteng ini tertimbun tanah, itu kenapa disebut sebagai Benteng Pendem. Namun sekarang sudah direnovasi sehingga hanya beberapa bagian saja yang masih tertutup tanah. Di Benteng Pendem pengunjung bisa menikmati wahana kapal bebek yang sama seperti di Waduk Kubangkangkung.

Benteng Pendem

Itu yang masih di Pulau Jawa, menyeberang ke Pulau Nusakambangan masih banyak pantai yang tersembunyi. Beberapa pantai bisa dikunjungi karena memang dibuka sebagai objek wisata. Tapi ada juga pantai yang dilarang atau sebaiknya jangan ke sana sendirian. Selain karena berdekatan dengan kawasan penjara, di Nusakambangan masih banyak binatang buas yang berkeliaran bebas.

Pantai yang paling dekat dengan Cilacap dan sering dikunjungi adalah Pantai Karang Bolong. Untuk ke sana hanya butuh waktu 15 menit naik kapal dari Pantai Teluk Penyu. Lalu berjalan kaki melewati sisa-sisa benteng selama 15 menit.

Kalau mau lebih jauh lagi ada Pantai Rancah Babakan. Pengunjung harus menempuh waktu sekitar 2-3 jam dengan naik kapal untuk sampai ke sana. Tenang saja selama perjalanan kalian tidak akan bosan karena disuguhi pemandangan hutan bakau, melewati Segara Anakan, dan menyapa warga di Kampung Laut. Kampung Laut ini adalah pemukiman warga atau kecamatan yang berada di ujung barat Pulau Nusakambangan. Jaman dulu rumah warganya memang berada di atas laut. Sekarang sudah tidak lagi atau hanya rumah warga yang di tepi saja. Hal ini terjadi seiring reklamasi alami yang terbentuk oleh alam.

Kantor Kecamatan Kampung Laut
Pantai Rancah Babakan

Sedangkan pantai yang tidak boleh dikunjungi masyarakat umum secara bebas adalah Pantai Permisan yang memiliki ciri pisau komando yang tertancap di sebuah batu. Dan jangan sendirian atau harus ramai-ramai bila kalian ingin ke Pantai Kali Kencana, Karang Bandung, dan Selok Pipo. Karena untuk sampai ke sana pengunjung harus melewati hutan belantara yang masih banyak binatang buasnya.

Banyak sekali dan masyarakat Cilacap atau pun saya masih bingung dengan potensi wisata daerah sendiri. Bingung karena begitu banyaknya tempat wisata kenapa bisa kalah populer dengan daerah lain yang mungkin hanya punya gunung saja atau pantai saja. Kalau saya pribadi melihatnya belum ada kekompakan antara warga setempat dengan pemerintah untuk memajukan potensi wisata bersama.

Budaya

Letaknya yang berbatasan dengan Jawa Barat membuat beberapa daerah di Cilacap ada yang terpengaruh budaya Sunda dan ada yang terpengaruh budaya Jawa. Jangan heran kalau kalian di Cilacap ada orang yang berbicara dengan dialek Ngapak tapi aksennya Sunda. Atau bahasanya Sunda tapi aksennya Ngapak.

Di Cilacap juga ada tradisi Sedekah Laut untuk masyarakat pesisir pantai dengan membuat sesaji yang nantinya disebar di tengah laut. Sebagai bentuk rasa syukur dan harapan karena laut sudah memberikan berkahnya kepada para nelayan. Biasanya dilaksanakan pada saat Malam Jumat Kliwon di Bulan Suro.

Arak-arakan sesaji untuk Sedekah Laut

Untuk masyarakat yang berprofesi sebagai petani atau tinggal jauh dari pantai ada juga Sedekah Bumi. Fungsinya sama hanya saja waktu pelaksanaannya yang beda. Dan biasanya dalam rangkaian Sedekah Bumi juga ada pertunjukan wayang kulit. Dalam sesaji ada kepala sapi atau kambing yang dipendam ditanah sebagai simbol persembahan untuk bumi.

Masyarakat Cilacap, khususnya daerah Adipala, juga komunitas adat Banakeling. Mereka biasanya sebelum bulan puasa berjalan kaki ke Jatilawang-Banyumas untuk menunaikan ibadah puasa di sana. Dan akan tinggal di sana sampai selesai Idul Fitri. Tahun ini mereka merayakan Idul Fitri hari Selasa Pon tanggal 27 Juli 2017. Mereka berpedoman pada perhitungan Alif Rebo Wage (Aboge).

Komunitas Adat Banakeling berjalan kaki menuju Jatilawang-Banyumas

Kuliner

Berbicara kuliner khas Cilacap tentu tidak lepas dari hasil bumi dan laut yang ada di Cilacap. Berbagai variasi makanan ada yang memang hanya di Cilacap. Atau beberapa daerah lain juga ada namun bentuknya berbeda, namanya berbeda, dan rasa yang berbeda.

Contoh yang hanya ada di Cilacap adalah Brekecek Pathak Jahan. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Cilacap Nomor 556/501/18/Tahun 2014, tanggal 6 Nopember 2014, brekecek pathak jahan resmi menjadi makanan khas Cilacap. Kalau sudah resmi begitu tentu rasanya enak.

Sebenarnya makanan apa sih brekecek pathak jahan ini? Kok, namanya cak-cek-cak-cek jadi terdengar seperti dibejek-bejek. Ya, memang asal-usul dinamai brekecek karena cara membuatnya di-brek yang artinya diletakkan atau dijatuhkan. Lalu di-kecek yang artinya dicampur bumbu. Sedangkan pathak jahan artinya kepala ikan jahan.

Jadi, brekecek pathak jahan ini adalah masakan kepala ikan pathak jahan yang diberi bumbu khas Cilacap. Rasanya pedas seperti rica-rica dan sedikit asin ciri khas ikan. Makanan ini enak disantap dengan nasi putih hangat. Semakin enak bila kepala ikannya dimakan dengan cara diseruput. Jadi, nikmat dunia mana lagi yang kamu dustakan?

Masih seputar makanan khas tepi pantai ada yutuk. Yutuk loh ya, bukan youtube. Menurut wikipedia, yutuk adalah undur-undur laut, ketam pasir, masih satu bangsa dan negara dengan krustasea. Hewan beruas-ruas yang hidup di pasir pantai ini punya nama gaul sand crab, mole crab, atau sand flea.

Yutuk biasanya dibuat rempeyek atau digoreng biasa. Setelah digoreng warnanya kemerah-merahan seperti udang. Rasanya pun sama-sama gurih dan asin seperti udang. Kalau ke Cilacap, kalian bisa mendapatkannya di Pantai Widarapayung. Penjualnya ibu-ibu keliling bawa tenggok di tepi pantai yang isinya kacang rebus sama yutuk.

Beranjak ke makanan dari bahan hasil bumi ada gembus. Cemilan ini sedikit susah ditemui, bahkan di Cilacap sendiri. Biasanya hanya dijual di acara hajatan, pasar malam, atau acara kedaerahan seperti wayangan. Orang Cilacap kalau ada wayangan belum beli gembus berarti belum nonton wayang. Padahal setelah beli gembus belum tentu nonton wayang.

Gembus ini terbuat dari singkong yang ditumbuk, diberi bumbu yang membuatnya asin dan gurih. Bentuknya sama seperti donat–putih, bulat, dan tengahnya bolong. Gembus enak dimakan dengan dicocol ke sambal kacang. Atau dimakan hangat tanpa dicampur apa pun juga sudah enak.

Masih dari olahan berbahan dasar singkong ada lanting. Sama seperti gembus, bentuknya pun sama, bulat dan tengahnya bolong. Rasanya pun sama-sama gurih dan asin. Perbedaannya, gembus empuk dan kenyal kalau lanting lebih keras. Lanting juga ada di Kebumen. Tapi lanting khas Kebumen bentuknya seperti angka delapan dan rasanya lebih bervariasi. Sedangkan lanting khas Cilacap hanya ada dua rasa, asin dan manis. Yang manis berarti warnanya merah. Lanting khas Cilacap bisa ditemui di pasar tradisional.

Lanting khas Cilacap

Dan masih ada mendoan, makanan yang tumbuh subur di seluruh tanah ngapak. Bedanya mendoan di Cilacap, khususnya daerah tepi pantai, tempe mendoannya tidak dipotong. Jadi, kalian bisa menikmati mendoan sebesar piring. Diadonan tepung biasanya ditambah potongan daun bawang. Bisa digoreng kering atau setengah matang. Mendoan enaknya disantap saat masih hangat dengan lombok rawit atau sambel kecap. Ditemani es kelapa muda, kopi atau teh sambil gendu-gendu rasa (ngobrol) dengan orang terkasih di tepi pantai menikmati semilir angin pantai.

Mendoan sebesar piring di Cilacap

***

Dari semua hal yang ada di Cilacap, sampai saya menulis bagian terakhir ini masih heran dan bingung. Mengapa dengan potensi yang begitu banyaknya Cilacap masih belum maju juga? Atau ini hanya perasaan saya saja? Kenyataannya yang saya rasakan susah sekali memiliki kehidupan yang berkembang di Cilacap. Baik dari segi materi maupun non materi.

Cilacap ini ditinggali bikin miskin, ditinggal pergi ngangenin. Saya sadar, seharusnya saya sebagai generasi muda membangun kampung saya agar potensi yang ada bisa lebih bermanfaat. Tapi kehidupan sosial masyarakat yang ”gumunan dan ngenyekan”, seringnya jadi penghalang. Gumunan berarti heran. Ngenyekan berarti menghina. Beberapa kali saya dan teman-teman membuat inovasi untuk masyarakat, tanggapannya memang tidak pernah mengenakan.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan masyarakat Cilacap agar kampungnya maju? Menurut saya, tetaplah menjadi generasi yang kreatif dan inovatif. Susah memang kalau ingin Cilacap maju seperti daerah lain. Tapi Cilacap bisa maju dengan apa adanya Cilacap. Dengan kekayaan yang berlimpah ruah, bukan tidak mungkin harapan Pak Jokowi menjadikan Cilacap Singapuranya Indonesia bisa terwujud. Percayalah, kami generasi muda masih mau dan ingin daerah kami bercahaya seperti slogannya. Cilacap Bercahaya.

 

1 Comment

  1. kemiskinan Cilacap juga banyak terjadi di sejumlah wilayah lain di Indonesia mba…industri kreatif dan pariwisata harusnya bisa jadi penunjang jika seandainya branding wilayahnya berjalan kontinu dan identitasnya kuat ya…

    jujur saat ini kalau bahas Cilacap yang saya inget cuma Lapas Nusakambangan…sama kayak daerah saya Aceh yang cenderung diingat orang ialah tsunaminya…hiks

Leave a Reply