Perjalanan Tak Terlupakan

Pada tulisan kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan saya ke sebuah curug yang sedikit berbeda dari perjalanan saya lainnya, yang memberikan kesan lebih dan mendalam untuk saya pribadi dan semoga menginspirasi pembaca. Curug ini bernama Curug Glimpang, letaknya berada di Dusun Prangkokan, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Untuk menuju ke lokasi dari kota Yogyakarta arahkan kendaraan ke barat menuju Godean, dari Godean terus kebarat hingga sampai di perempatan terminal Kenteng, dari sini tetap arahkan kendaraan kebarat, hanya saja treknya mulai menanjak, sesampainya di pasar Joggrangan, Girimulyo belok kanan mengikuti jalan hingga menemukan SD Tegalsari yang tepat berada dipertigaan, lalu ambil arah ke kanan hingga menemukan Paud di dusun Prangkoka. Letak area curug ini berada dibawah Paud dusun Prangkokan. Jika dari kota Yogyakarta bisa ditempuh dengan kendaraan roda 2 maupun roda 4 dengan estimasi waktu 75-90 menit perjalanan.

Yang menarik dari curug ini adalah kita tidak hanya mendapatkan 1 curug saja ketika kita berkunjung kesini, karena dalam 1 area terdapat 4 grojogan/ curug dengan ciri dan dan keunikan yang berbeda-beda. 4 grojogan/ curug ini masing-masing memiliki nama, yaitu Curug Glimpang, Kedung Ratmi, Kedung Bendo & Curug Gandu. Walaupun begitu, disekitar area masih banyak grojogan ataupun kedung yang tidak kalah mempesona, hanya saja tidak setinggi ataupun sebesar 4 nama yang disebukan tadi. Kelebihan dari tempat ini tidak hanya curugnya, tetapi juga wisata trekking menuju tiap-tiap curug ataupun kedungnya. Trekking untuk menuju tiap-tiap curug/ kedungnya pun beragam dengan melewati beberapa area, seperti area pepohonan rimbun, susur sungai, area persawahan warga hingga melewati parit buatan warga, dengan trek menanjak dan menurun yang cukup menguras stamina.

Awal dari perjalanan penuh cerita

Tanggal 10 Februari 2015 menjadi cerita berharga untuk saya dan teman-teman yang ikut serta karena sudah menginjakkan kaki ditempat seindah ini. Dalam perjalanan kali ini saya ditemani oleh beberapa teman yang biasa menemani saya ‘blusukan’ mencari tempat-tempat baru yang masih relatif sepi pengunjung. Sesampainya di depan Paud dusun Prangkokan kita bisa memarkir kendaraan diarea halaman Paud, dan untuk menuju area curug Glimpang harus trekking melewati jalan setapak yang sudah dibuat warga sekitar. Karena malam sebelumnya hujan deras, tanah menjadi licin dan empuk sehingga sulit dilewati dan harus ekstra hati-hati karena rawan terpleset. Untuk menuju curug Glimpang kita harus trekking sekitar 10 menit dengan trek menuruni bukit, disini kami bertemu dan bertegur sapa dengan beberapa warga yang sedang kerja bakti membuat anak tangga buatan untuk mempermudahkan pengunjung sampai dilokasi curug glimpang.

untitled-1696
Curug yang pertama bernama Curug Glimpang

Curug Glimpang memiliki kemiringan sekitar 45 derajat, bentuknya cukup besar dan melebar, karena kemiringan curug ini cukup ekstrim sehingga air tidak jatuh dari atas seperti kebanyakan curug, tetapi seperti mengalir kebawah namun cukup deras. Pengunjung bisa memanjat curug ini hingga keatas karena bentuknya yang miring memungkinkan untuk dilewati, walaupun harus berpegangan dibebatuan, namun tidak disarankan ketika curug ini banjir. Diarea curug Glimpang ini kami beristirahat sambil sesekali berbincang dengan warga sekitar tentang curug yang akan kami datangi selanjutnya, keramahan warga membuat kami nyaman berada disini. Setelah cukup mengabadikan foto dan video di curug Glimpang, kami melanjutkan perjalanan kami menuju 3 grojogan lainnya, dari sini kami mengajak salah seorang warga untuk memandu kami agar tidak tersesat, karena kala itu dari area curug glimpang menuju kebawah belum diberi petunjuk arah dan treknya pun masih belum dibuat warga.

Keindahan ditengah perjalanan

untitled-1746
Curug ke-2 bernama Kedung Ratmi

Menuju grojogan kedua yang bernama kedung Ratmi kami harus melewati jalan setapak yang berlumpur, trek menuju kedung Ratmi cukup datar, melewati rimbunnya pepohonan yang menghalangi teriknya matahari membakar kulit kami, rimbunnya pepohonan dan suasana tenang membuat kami melupakan hiruk pikuk kehidupan di kota. Setelah melewati area datar, selanjutkan kami harus melewati trek turunan, karena kedung ratmi berada dibawah. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk turun, hanya saja hari itu sangat licin sehingga untuk turun kami harus berpegangan dari pohon satu ke pohon lainnya agar tidak terpeleset, berbeda dengan turunan di curug Glimpang, disini belum dibuat trek untuk wisatawan, oleh karenanya cukup sulit dilewati. Kedung Ratmi memiliki grojogan yang tidak terlalu tinggi dan relative kecil namun cukup deras. Keindahan dari tempat ini adalah kedungnya yang cukup luas dan cukup dalam sehingga sangat cocok yang suka bermain air/ berenang.

untitled-1821
Curug ke-3 yang Bernama Kedung Bendo

Lanjut ke curug yang ke-3, yaitu kedung Bendo. Sebenarnya letak kedung bendo tepat dibawah kedung Ratmi, bahkan dari kedung Ratmi kita bisa melihat area kedung Bendo. Hanya saja kita tidak bisa langusng lompat kebawah, sehingga untuk menuju kedung bendo kita harus memutar melewati jalur darat yang kami lewati tadi, trek turunan licin yang kami lewati tadi sekarang menjadi trek tanjakan super licin. Setelah melewati trek tanjakan, selanjutnya dilanjut trekking 5 menut melewati area pepohonan yang lebih rimbun daripada sebelumnya. Kedung Bendo, curug ke-3 dari serangkaian curug di dusun Prangkokan, kedung Bendo memiliki curug yang cukup tinggi dan kedung yang besar. Kedung Bendo tidak kalah menarik dari kedung Ratmi maupun curug Glimpang, disini selain bisa bermain air, kalian juga bisa meloncat dari tengah-tengah grojogan, karena batu disekitar curug bisa dipanjat dan kedung/ kolamnya cukup dalam sehingga aman untuk bermain loncat-loncatan, namun harus tetap hati-hati dan tidak disarankan ketika banjir.

Di kedung Bendo kami bermain air cukup lama karena segarnya air pegunungan membuatkami betah berlama-lama bermain air, beberapa teman saya ketagihan melompat, ada juga yang foto-foto disetiap sudut dari kedung Bendo, dan saya sendiri sibuk menikmati keindahan alamnya dan mengabadikannya. Untuk menuju curug selanjutkan yang juga yang terakhir dari serangkaian curug di area ini, kita harus menyusuri sungai dahulu dan setelah itu dilanjut trekking melewati jalur darat., Banyaknya bebatuan diruas sungai yang kita lewati memudahkan kami untuk mengerem langkah kaki yang terbawa arus, bermodal ranting pohon yang kami temukan disekitar kedung Bendo tadi, kami pun melanjutkan perjalanan menuju curug Gandu, primadona tersembunyi di dusun Prangkokan.

untitled-1836
Susur Sungai Menuju Curug ke-4
untitled-1855
Trekking Menuju Curug ke-4

Setelah susur sungai sekitar 10 menit, perjalanan dilanjutkan melewati jalur darat, karena setelah itu sungai sulit dilewati karena ada beberapa kedung dan grojogan yang tidak bisa kami lewati dengan hanya bermodal ranting pohon. Setelah susur sungai kami menyusuri parit buatan warga, fungsi parit ini adalah mengalirkan air sungai ke sawah warga yang letaknya berlawanan dengan arah sungai. Trekking kali ini cukup unik karena kita melewati parit dengan pemandangan beberapa curug/ grojogan disebelah kiri yang tidak memiliki nama dan tidak ada akses menuju kebawah. Tidak sebesar dan seelok curug dan kedung yang sebelumnya, namun tetap membuat kami kagum. Menuju curug ke-4 atau yang biasa disebut Curug Gandu berbeda dengan trekking sebelumnya karena trekking kali ini cukup jauh dari trek sebelum-sebelumnya. Namun semua itu tidak menjadi masalah, karena mata kita akan terus tertuju pada aliran air yang memiliki banyak grojogan dan area persawahan diatas bukit dengan panorama indah yang membuat kita semua takjub dengan alam ini, namun harus tetap berhati-hati dalam melangkah karena trek kali ini cukup kecil.

Curug ke-4 yang Bernama Curug Gandu

Kerja bakti membersihkan pohon tumbang

setelah trekking sambil menikmati keindahan sampailah di Curug Gandu, akhir dari perjalanan kami yang memberikan pengalaman baru. Curug Gandu adalah curug paling besar dari ketiga curug lain diatasnya dan hari itu mengalir cukup deras. Ketika kami sampai di curug gandu kami melihat pohon tumbang tepat dibawah aliran air curug gandu, diduga pohon ini tumbang dari atas aliran curug Gandu dan terseret arus hingga sekarang tepat berada dibawah curug Gandu. Dan ternyata disini sudah ada beberapa warga yang juga baru sampai dan berniat kerja bakti menyingkirkan pohon tumbang ini. Sembari beristirahat kami berbincang dengan warga, sambal berbagi bekal yang kami bawa.

Bahu-membahu membersihakn ranting dari pohon tumbang
untitled-1979
Bahu-membahu membersihkan ranting dari pohon tumbang

Sebuah pengalaman baru yang cukup membanggakan kami lakukan hari itu, ya… bersama pemandu dan beberapa warga, kami membersihkan pohon tumbang di Curug gandu, berbekal alat seadanya yang dibawa warga, kami membersihkan ranting-ranting dan bambu yang bisa membahayakan pengunjung ataupun warga yang beraktifitas disekitar curug dan sungai. Proses kerja bakti ini sangat seru, ditengah teriknya matahari dan dinginya air khas pegunungan yang berbalut keceriaan canda tawa antara kami dan warga membuat kerja bakti menjadi semakin semangat. Beberapa teman saya ada juga yang membersihkan sampah plastik disekitar curug gandu, beberapa istirahat sejenak menikmati bekal. Menjaga kebersihan tempat wisata bukan hanya tugas pengelola area wisata, namun adalah tugas kita semua termasuk pengunjung, minimal bawa pulang sampahmu jika disekitar lokasi wisata belum ada tempat sampah.

Cukup sulit membersihkan ranting dari pohon itu dan bambu-bambu yang ikut tumbang karena tertindih batang pohon besar, dan kadang kami istirahat dan bercanda sehingga cukup lama. Kami hanya membersihkan ranting, beberapa bilah bambu dan apapun itu yang bisa kami bersihkan dengan alat seadanya dan bisa kami angkat dengan tenaga kami. Sudah sekitar 2 jam kami kerja bakti bersama warga, dan kami berhasil membersihkan ranting dan bambu, dan kini tinggal batang pohon besar saja, karena sangat berat dan tidak bisa dipindahkan oleh kami semua yang ada dilokasi, akhirnya kami putuskan untuk membiarkan batang pohon itu tetap disana, kami juga berpikir bahwa batang ini bisa digunakan sebagai penghias curug Gandu dan property foto para pengunjung, karena sudah tidak berbahaya lagi.

untitled-2011
Usai Kerja Bakti, terlihat lebih indah dan mengagumkan

Hari menjelang sore dan waktunya untuk pulang, melewati rute yang sama dengan badan yang sudah kehabisan tenaga membuat perjalanan pulang terasa sangat berat dan lebih lama, karena juga harus menanjak. Ini adalah pengalaman baru yang mengesankan dan tak terlupakan. Semoga pengembangan wisata di dusun Prangkokan lancar dan memberikan yang terbaik untuk para pengunjung dan sebaliknya pengunjung juga harus bisa merawat dan menjaga tempat ini agar selalu indah dan menarik. Tetap menjaga kebersihan dan buanglah sampah pada tempatnya.

Leave a Reply