PESONA BUKIT BESAK

Post

Terkadang sesuatu terjadi tanpa pernah direncanakan sama sekali. Terjadi begitu saja. Kalau bahasa modernnya, dadakan, anggap saja kata ini modern. Kalau kata temanku “the best plan is no plan”. Memang, aku mengakui, terkadang kalau rencana yang dadakan, peluang terlaksananya lebih tinggi dibanding dengan rencana yang disusun rapi. Terkadang. Harap digaris bawahi. Cetak tebal. Jangan menjadi kebiasan. Itu hanya persepsi dariku saja, jangan diambil hati. Sebaik-baiknya rencana adalah rencana yang disusun dengan matang dan penuh pertimbangan. Catat. Ini yang benar. Namun jujur, aku pernah mengalaminya sekitar satu tahun yang lalu, sebuah rencana dadakan yang sukses jaya.

Satu tahun yang lalu. Sama seperti sekarang, pergantian tahun. Semua serba sibuk merencanakan pergi liburan. Sementara aku, membusuk di dalam kosan perkara skripsi tercinta. Setiap hari hanya bisa menentukan judul, rumusan masalah dan tujun dan diselingi menekan tombol love pada foto-foto liburan milik teman-temanku di media sosial. Sungguh, kadang hidup ini tidak adil. Ingin sekali rasanya meninggalkan skripsi ini barang satu minggu saja. Namun apa daya, selain skripsi, persediaan uang juga sudah mencapai batas minimum yang mulai berangsur mencapai titik minus. Gundah gulana, sedih berkepanjangan. Begitulah kira-kira kalau dihiperbolakan.

Tahun berganti. Kembang api bertebaran di langit luas. Mulai dari acara konser akhir tahun sampai doa bersama untuk tahun depan banyak ditayangkan di setiap stasiun televisi. Artis-artis mulai membeberkan harapan-harapan mereka di tahun yang bersiokan monyet api nanti. Peramal-peramal mendadak terkenal. Hingga kilas balik tahun sebelumnya kembali diulas. Sementara aku, hanya duduk manis menonton mereka semua yang tayang bergantian di televisi. Namun kejadian tak disangka-sangka terjadi pada hari ke dua tahun dua ribu enam belas. Seorang teman mengajakku untuk pergi mendaki. Tanpa pikir panjang, aku langsung meng-iya-kan.

“Nap, Bukit Besak, yok?”

“Kapan?”

“Minggu depan.”

Ayok.”

Oke.”

Se-sederhana itu. Se-dadakan itu. Ayok dahulu, uang dan perlengkapan kemudian.

Bukit Besak, itulah tujuan pendakian ini. Menurut kabar, bukit ini tidak terlalu tinggi namun memiliki pesona tersendiri. Demi merasakan kata-kata pesona tersendiri itu, tekad ini semakin bulat. Persiapan hanya satu minggu. Perlengkapan, masih nol. Semua orang yang bisa meminjamkan peralatan mendaki sudah hengkang terlebih dahulu. Tenda, kantung tidur, tas gunung, kompor, panci memasak, terpal, dll, semuanya, tak ada satu pun kami yang punya. Namun bukan dadakan namanya kalau langsung kehabisan akal untuk mencari pinjaman. Alhasil, terkumpullah semua perlatan yang diperlukan. Berkat mulut yang tak berhenti berbicara hingga berbusa dan tangan yang tak pernah letih untuk mengetik pesan, semua peralatan kini sudah di tangan. Terdengar berlebihan, memang, ini sangat berlebihan. Lebay, bahasa modernnya. Namun, aku mengerti, situasi dadakan dapat menjadikan orang melakukan apa saja. Bahkan melakukan hal berlebihan seperti di atas.

Tibalah pada hari keberangkatan. Ada enam orang pasukan berani mati yang akan ikut pendakian ini. Aku, Zuka, Irfan, Adam, Rendi dan Jannah. Lima lelaki dan satu perempuan. Jangan tanya pacarku atau bukan, aku seorang singel forever happy. Sebagai informasi lokasi Bukit Besak berada di Kabupaten Lahat, tepatnya Desa Perangai Kecamatan Merapi Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan. Kalau tidak percaya silahkan tanya pada map yang bergeser. Kami sendiri berada di Indralaya Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Selatan. Kami berangkat menuju Lahat menggunakan sepeda motor. Selain cepat, akses ke Desa Perangai juga lumayan sulit sehingga menggunakan sepeda motor akan memudahkan perjalanan. Perjalanan ke kota Lahat memakan waktu sekitar tiga jam, lebih cepat dua jam daripada menggunakan bus atau travel. Jangan tanyakan bagaimana posisi pinggang. Tegak seperti tiang, membungkuk sakit sekali rasanya.

Singkat cerita tibalah kami di tempat penitipan motor yang untuk menemukannya susah minta ampun. Malu bertanya, jalan-jalan. Begitulah perumpamaannya. Di tempat penitipan motor kami memeriksa barang sekali lagi. Sekitar pukul empat sore kami mulai bergerak. Dari sini semua dimulai dengan melangkah, seperti kata Genta dalam film lima centimeter.

Suasana desa Perangai sore itu sunyi, tak banyak warga berlalu lalang. Hanya beberapa petani yang kelihatan baru pulang dari sawah. Setiap kali bertemu warga yang berpapasan dengan kami selalu melempar senyum bersahabat. Penduduk desa Perangai sudah tahu kemana tujuan kami karena itu setiap kali berpapasan dengan warga mereka hanya melempar senyum. Penduduk desa Perangai bermata pencaharian sebagai petani padi dan juga petani kopi. Kota Lahat terkenal dengan kopinya dan sebagian besar dari desa Perangai. Begitulah kira-kira informasi yang aku tahu dan yang bisa aku bagikan. Kami hampir sampai pada titik batas pemukiman warga yang berbatasan dengan lahan persawahan milik warga desa Perangai. Setelah turun melewati anak tangga, kami langsung disambut dengan hijaunya persawahan milik para petani desa Perangai. Di hadapan kami sudah berdiri kokoh sebuah bukit batu yang cukup besar. Nanti di balik bukit itu akan kami satu bukit lagi yaitu Bukit Besak, tujuan dari perjalanan ini. Perjalanan masih jauh. Kami harus cepat jika tak ingin kemalaman sampai di puncak.

dsc_0025z dsc_0026z

Setelah melewati persawahan kami menyebrangi satu jembatan yang menghubungkan lahan persawahan dengan kebun kopi milik warga. Air sungai yang mengalir berada di bawah jembatan banyak digunakan oleh warga untuk keperluan sehari-hari. Warga desa masih banyak yang tidak memiliki kamar mandi di rumah mereka. Mereka lebih memilih memakai air sungai sebagai tempat untuk mandi, mencuci ataupun hal lainnya yang berhubungan dengan air. Hal ini dibuktikan dengan melintasnya seorang wanita di atas jembatan yang baru selesai mandi di sungai. Seorang wanita yang hanya memakai “kain basahan”, melintas berpapasan dengan kami. Sudah hal biasa bila kita melihat pemandangan seperti ini, banyak dari penduduk desa yang pemikirannya masih polos seperti perempuan itu.

dsc_0034z

dsc_0037z

Kami mulai memasuki kebun kopi milik warga. Perjalanan masih jauh. Kami harus bergerak cepat agar sampai tepat waktu. Kami sempat bertanya jalan menuju Bukit Besak kepada seorang seorang petani kopi yang kebetulan melintas. Berdasarkan informasi dari petani tersebut kami harus mengambil simpang ke kiri pada persimpangan ke dua di depan nanti. Setelah mengucap terima kasih kami langsung bergerak cepat. Singkat cerita kami telah sampai di Shelter Satu yang hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit lebih sedikit. Jalur pendakian menuju Shelter Satu merupakan jalan semen yang biasa digunakan warga untuk mengangkut kopi dari Shelter Satu. Jalur yang sengaja di beton digunakan untuk memudahkan petani memakai sepeda motor. Shelter Satu juga merupakan batas kebun milik warga desa Perangai. Kami hanya berhenti sejenak di Shelter Satu untuk melepas lelah. Setelah Shelter Satu kami akan memasuki hutan. Hari mulai gelap, kami tak bisa berlama-lama di Shelter Satu.

dsc_0039z  dsc_0041z

dsc_0042z  dsc_0046z

Kami bergerak meninggalkan Shelter Satu. Kali ini kami benar-benar memasuki hutan.  Hanya ada beberapa pohon kopi milik warga yang ditanam sembarang. Awalnya kami berjalan sesuai dengan jalur pendakian. Semua pada kondisi yang baik. Hanya Jannah yang sesekali tertinggal lumayan jauh di belakang bersama dengan Irfan. Sebagai informasi, Jannah adalah kekasih hatinya Irfan. Lihat saja, warna baju mereka sama. Sebagai seorang pacar, Irfan melakukan tugasnya dengan baik. Irfan dengan sabar menunggu Jannah melangkahkan kaki yang terlihat gemetar. Berkali-kali mereka berhenti. Berkali-kali Irfan dengan sabar memberi semangat. Berkali-kali Irfan harus memegang tangan Jannah pada saat menaiki batu yang cukup tinggi. Berkali-kali juga Irfan harus berteriak “Break” dengan keras kami tidak terpisah. Jannah terlihat cukup lelah untuk melangkahkan kakinya namun disampingnya, sudah ada seorang Irfan, yang selalu tersenyum dan siap melakukan apa saja untuknya. Termasuk menggendongnya apabila diperlukan. Namun itu tidak dilakukan Irfan. Dia hanya terus tersenyum, sabar dan terus menyemangati kekasihnya tanpa terlihat lelah barang sedikitpun.  Ah, itulah cinta, engkau dapat melakukan apa saja demi orang yang kau sayang.

dsc_0049z dsc_0051z

Pendakian terus dilanjutkan. Kami terus menanjak. Kami semakin tinggi sekarang. Kami masih di jalur yang benar. Tak ada keraguan sama sekali dengan jalur yang kami ambil. Hingga tiba-tiba, kami bertemu dengan jalur yang sangat terjal. Batuan berlepasan saat ingin digenggam. Kami hanya bisa memegang rumput yang ada namun lepas juga saat sudah digenggam. Sudah seperti film lima centimeter saja. Tekstur tanah yang rapuh menyebabkan mudahnya batu dan rumput lepas saat setelah digenggam. Kebimbangan mulai menyeliputi kami semua. Tak ada lagi orang untuk tempat bertanya. Kami berenam terjebak di jalur yang salah.

Kesalahan ini bermula saat aku bersikeras inilah jalur yang benar. Aku bersikukuh bahwa jalur ini yang benar karena sudah pernah melihat pada satu foto milik teman di media sosial. Bermodal foto itu aku membawa kelima temanku kepada jalur yang salah. Namun ditengah kepanikan dan kebimbangan Irfan mempunyai inisiatif untuk melihat jalur lain di bawah, kami semua turun ke tempat dimana pertama sekali menaiki jalur yang salah itu. Dan benar saja di bawah sana ada jalur yang bisa membawa kami ke Bukit Besak. Jalur itu tertutupi oleh pohon yang tumbang. Satu pesan dariku, jangan mudah percaya dengan apa yang kau lihat. Telitilah dahulu. Sebelum apa yang kau lihat, membawamu kepada kesesatan.

Singkat cerita kami sudah sampai di puncak dengan kondisi nafas yang tersengal-sengal. Kami berburu dengan waktu. Kami bergerak tanpa pernah berhenti. Karena hari sudah sangat gelap kami tak punya waktu lagi untuk istirahat. Rintik hujan juga sudah mulai turun, karena di ketinggian kita bisa memprediksi cuaca. Pada saat itu tak seorang pun yang berada di puncak. Hanya kami berenam. Pasukan berani mati.

Di bawah langit yang gelap tak berbintang kami memasang tenda dengan sedikit terburu-buru. Angin bertiup dengan kencang. Tak tahu lagi model pasak seperti apa. Asalkan tenda berdiri, hanya itu yang ada dibenak kami semua. Jangan di contoh, ini kelakuan yang tidak baik. Singkat cerita dengan susah payah tenda pun berdiri. Kami segera menghidupkan api untuk memasak makan malam dan juga air untuk minum kopi. Cuaca mulai dingin maka dari itu minum kopi dapat menghangatkan badan. Untuk urusan masak-memasak sepenuhnya menjadi tanggung jawab Jannah seorang. Dia adalah juru masak kami saat itu.

Di kegelapan, tepat di hadapan Bukit Besak, di hadapan kami semua, berdiri kokoh sebuah bukit. Bukit dengan bentuk yang cukup unik, yang menyerupai jari jempol. Bukit Selero, begitulah panggilannya. Kebanyakan tujuan dari pendaki yang datang ke Bukit Besak adalah untuk menikmati keindahan Bukit Selero. Inilah pesona Bukit Besak yang sebenarnya. Besok pagi, akan terlihat jelas bentuknya. Dari Bukit Besak juga kita dapat melihat kerlap-kerlip lampu-lampu di Kota Lahat.  Malam itu tak ada bintang padahal aku sudah berencana untuk memotret bintang.  Sebagai gantinya kami bermain-main dengan cahaya senter. Malam ditutup dengan cepat, dikarenakan cuaca yang tidak bersahabat kami semua memutuskan untuk masuk ke dalam tenda.

dsc_0101z dsc_0103z

dsc_0096z dsc_0099z

dsc_0084z dsc_0080z

dsc_0127z dsc_0137z

Angin dengan kencang menerpa tenda kami pagi itu. Aku terbangun lebih dulu bersama Rendi. Aku langsung menghidupkan kompor untuk memasak air. Pagi-pagi di puncak saat nikmat rasanya apabila sambil minum kopi. Cuaca pagi itu masih diselimuti awan gelap yang cukup tinggi. Biasanya kalau lagi beruntung, kita dapat melihat lautan awan dari Bukit Besak. Namun sepertinya cuaca hari ini berkata lain. Hanya angin yang terus bertiup kencang. Setelah air matang, aku langsung menyeduh kopi. Sambil membawa kopi milikku, aku menjauh dari tenda untuk dapat menikmati suasana pagi ini seorang diri. Mencoba menyapa alam Bukit Besak. Saat itu, di hadapan ku, sudah tampak jelas Bukit Selero yang berdiri kokoh.

dsc_0169z dsc_0193z

 

Waktu bergerak cepat, matahari mulai muncul dari ufuk timur. Namun dikarenakan tebalnya awan mengakibatkan matahari tak tampak sepenuhnya. Hanya sedikit berkas cahaya dari matahari yang terlihat. Namun walau hanya sedikit sudah mampu mengubah suasana menjadi lebih berwarna. Perbukitan mulai menghijau. Rumput-rumput di sekitar ku sudah tampak lebih segar setelah terkena sinar matahari.

pemandangan menakjubkan di sumatra selatan img

dsc_0153z

Matahari beranjak naik. Perbukitan sudah semakin jelas kelihatan. Lampu-lampu di kota Lahat sudah mulai padam. Semuanya sudah bangun. Wajah dari setiap pasukan berani mati terlihat ceria sekali. Adam masih kedinginan, dia tak belum melepas jaketnya. Irfan terlihat mengamati apa yang ada dihadapannya. Zuka berjalan menjauhi tenda dan mendekatiku. Itu artinya dia sudah siap untuk berfoto. Sejurus dengan Zuka, Rendi pun mendekat begitu juga dengan Adam. Mereka bertiga bergantian berpose.

dsc_0207z

dsc_0233z dsc_0248z

Sedangkan Irfan dan Jannah masih berada di dekat tenda. Mereka menikmati waktu berdua. Sesekali terdengar suara Irfan tertawa. Jannah juga terlihat senang diajak Irfan mendaki Bukit Besak. Mereka sedang berbunga-bunga saat ini. Terlebih lagi bagi Irfan, dia sudah membuktikan kepada Jannah bahwa dia bisa menjadi seorang lelaki yang bisa melindungi kekasihnya, lebih jauh lagi membuat kekasihnya bahagia. Baginya ini bukan hanya sekedar perjalanan alam tapi juga perjalanan cinta.

dsc_0251z

Tak banyak kegiatan yang kami lakukan selain berfoto. Kami silih berganti berpose dengan background Bukit Selero. Semua wajah pasukan berani mati tampak senang, tak sedikit pun ada kelelahan di wajah kami. Semuanya senang. Semuanya meluangkan waktu untuk berhagia walau sesaat. Semua dapat melupakan semua kesibukan walau sesaat. Ternyata memang benar adanya bahwa keindahan alam dapat membuatmu melupakan sejenak keluh kesah dalam dirimu. Jika kalian tak percaya, cobalah untuk keluar rumah dan resapi indahnya alam ini.

dsc_0263z dsc_0259z dsc_0296z dsc_0273z dsc_0268z

Selain Irfan dan Jannah, pasukan berani mati lainnya juga menjadikan momen ini untuk berbagi kesenangan dengan orang yang mereka sayang. Walau tak bisa mengajak langsung, setidaknya berbagi foto sudah menjadi kebahagian tersendiri. Seperti yang dilakukan oleh Adam, dia menulis nama kekasihnya di kertas bekas pendaki lain yang dibuang sembarangan menggunakan arang dari kayu yang kami bakar. Itulah cinta, bisa membuatmu melakukan apa saja. Aku memotret Adam bersama dengan kertas bertulisan " I Love Lenti" yang ditujukan untuk kekasihnya yang jauh disana. Zuka sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat. Dia sudah menulis di kertas yang nantinya akan ditujukan kepada kekasihnya yang juga jauh disana. Zuka menganggap itulah adalah momen yang sangat penting jadi harus dipersiapkan dengan matang. Bahkan dia sendiri yang memotret kertas tersebut. Baginya, itu adalah momen sakral yang tak satu orang pun boleh tahu. Sekali lagi, cinta bisa membuatmu melakukan apa saja. Sedangkan Rendi aku tak melihatnya melakukan hal yang sama. Mungkin dia sudah melakukannya tanpa satu pun dari kami berlima yang tahu.

dsc_0365z

dsc_0298z

Semua mengambil waktunya masing-masing untuk menikmati keindahan Bukit Besak dan sekitarnya.  Mencoba meresepi udara lebih dalam. Mencoba mengambil pelajaran dari sudut pandang masing-masing. Semua mencoba merenungi bahwa betapa indahnya alam ini, terlebih lagi alam Indonesia. Sementara aku, mencoba untuk membuat sudut pandangku sendiri, mencoba mengambil makna dari perjalanan. Bagiku, alam akan selalu ada untuk kita, dia tak akan pernah berubah. Tinggal kita sebagai manusia yang harus mempunyai sikap timbal balik terhadap alam. Jujur, aku bukan seseorang yang notabenya pecinta alam mungkin dapat dikatakan hanya seorang penikmat alam. Belum banyak yang dapat aku lakukan terhadap alam, walau sebenarnya alam tak pernah meminta itu. Bagiku, semoga selepas kembalinya dari Bukit Besak, aku dapat memberikan sesuatu yang bermamfaat bagi alam.

dsc_0408z keindahan dari puncak bukit besak pic

dsc_0374z

Hari semakin siang, tak banyak yang bisa kami lakukan. Setelah selesai makan. Kami mulai berkemas. Udara di Bukit Besak semakin panas. Semua sampah bekas dimasukkan semua ke kantong yang sudah disediakan. Di Bukit Besak begitu banyak sampah yang berserakan yang ditinggalkan oleh para pendaki lain, pendaki yang tidak bertanggung jawab. Inilah kesalahan fatal dari para pendaki. Jauh-jauh ke puncak, cuma ingin membuang sampah. Ironis sekali.

Sekitar pukul sebelas kami bergerak turun. Memeriksa kembali perlengkapan. Berdoa bersama. Kami mulai bergerak meninggalkan Bukit Besak beserta semua pesonanya.

Di bawah ini adalah momen-momen failed yang tertangkap kamera.

puncak gunung besak img dsc_0346z dsc_0342z dsc_0336z

Sebagai salam perpisahan kepada Bukit Besak, kami melakukan foto dengan gaya melompat yang cukup sukses. Untuk mendapatkan foto ini, harus dilakukan beberapa kali pengambilan. Jangan tanya berapa, pokoknya banyak.

dsc_0326z

Demikianlah cerita kami di Bukit Besak. Memang ini bukanlah suatu cerita perjalanan yang heroik. Ini hanya perjalanan yang biasa saja, perjalanan dadakan, namun bagi kami berenam ini merupakan perjalanan yang luar biasa. Perjalanan yang sukses jaya. Semoga dapat menginsprirasi kawan-kawan sekalian untuk lebih menghargai alam dan tentunya lebih bergairah untuk menikmati alam Indonesia. Indonesia itu indah, asal kita mau keluar rumah untuk menikmatinya.

Aku memang yang memotret mereka semua, tapi bukan berarti aku tidak ingin dipotret. Dan inilah fotoku. Satu saja, tidak perlu banyak-banyak.

dsc_0277z

 

 

 

 

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.