Pontianak, Kota Seribu Kenangan

Post

Kalau saya ditanya oleh seseorang, "Kota apa di seluruh dunia yang paling ingin kamu datangi sekarang?". Saya akan jawab dengan cepat dan meyakinkan, "Kota kelahiran saya, Pontianak". Ya, Saya lahir dan besar di Pontianak. 17 tahun saya berada di kota yang menjadi ibukota dari Kalimantan Barat tersebut. Walaupun begitu, jangan langsung ngejudge dan bilang saya orang Melayu. Kedua orang tua asli Jawa, jadi saya adalah hybrid manusia Jawa-Melayu.

Bandara Supadio Pontianak
Bandara Supadio 2010 (dok.pribadi)

Saya pergi dari Pontianak ketika saya naik kelas 2 SMA pada tahun 2008, umur saya 17 tahun waktu itu. Dua tahun setelah perpisahan itu, saya berkesempatan untuk datang kembali berkunjung kesana. Pesawat saya pun turun, menyapa aspal keras Bandara Supadio. Saya hirup dalam dalam udara Bumi Zamrud Khatulistiwa, segar benar rasanya. Segera saya berjalan menuju pintu keluar kedatangan. Bandara ini sangatlah ikonik dengan tiang-tiang bangunannya yang diberikan aksen khas Suku Dayak.

#ingetkampung 
Banyak alasan yang membuat saya #ingetkampung. Salah satu alasan mengapa saya pulang waktu itu adalah teman-teman sepermainan. Pindah sekolah saat SMA bukanlah pekerjaan yang mudah karena saya diharuskan beradaptasi dengan banyak hal seperti teman, daerah, dan bahasa baru. Pulang ke Pontianak adalah obat bagi saya waktu itu. Semua terasa sangat familiar dan menyenangkan. Saya lewat jalan-jalan dan bangunan-bangunan yang saya kenal betul dan punya kisah yang melekat dengan diri saya.
Nongkrong di Warung Kopi bersama teman, 2010 (dok.pribadi)

 

Sebuah bait dalam lagu Sungai Kapuas berkata, "bile kite minom aeknye, biar pun pergi jaoh ke mane, sunggoh susah nak ngelupakannye". Arti lirik nya kira kira seperti ini, "ketika kita minum aiarnya, biarpun pergi jauh kemanapun, akan sangat susah untuk melupakannya". Saya rasa lirik tersebut sangat menggambarkan apa yang saya rasakan akan kota yang dilewati garis Khatulistiwa ini.

Trip pulang kampung ini pun saya nikmati untuk bermesraan dengan segala suasana kota Pontianak. Hal yang tidak boleh dilewatkan ketika berada disini adalah wisata kulinernya. Banyak panganan enak yang harus dicoba. Perpaduan budaya Dayak, Melayu dan Cinta bersatu padu dalam cita rasa yang sangat kaya, ditunjukkan dengan kekayaan rasa dan jenis makanan yang ada.

Sumber: Kooliner.com
Lezatnya Kuliner Pontianak.

Makanan pertama yang harus dicoba adalah Kwetiaw Sapi, mie beras buatan rumahan dipadu dengan kecambah dan sawi. Kuliner ini bercita rasa manis dan gurih. Jangan lewatkan juga untuk mencoba Bingke, kue manis legit berbentuk bunga terbuat dari telur tepung dan santan. Namun menurut saya, tidak ke Pontianak rasanya kalau tidak makan Chai Kwe. Sekilas makanan ini mirip sekali dengan dimsum, bedanya dimsum isiannya berupa daging namun chaikwe berisi sayuran. Kulitnya tipis dan berwarna putih, isiannya yang paling terkenal adalah bengkoang, namun biasa juga diberi isian keladi, kucai, dan sebagainya.

Credit: Travel.Kompas.com

 

Pesona kuliner lainnya yang dimiliki oleh Pontianak adalah ramainya penjual kopi di kota ini. Banyak yang memberi julukan "Kota 1000 warung kopi" kepada Pontianak. Ketika kalian ingin mencari kopi, datang saja ke pusatnya yakni Jalan Gajahmada. Berjejeran warung menawarkan kopi racikan terbaik buatan mereka. Salah satu warung kopi favorit saya adalah Warkop Asiang, yang terletak di jalan Merapi. Warkop ini menawarkan kopi hitam dan susu seperti yang lainnya, tetapi yang membuat khas adalah orang yang meracik. Pak Asiang selalu lincah bergerak meracik kopi tanpa menggunakan baju. Buka dari jam 4 pagi sampai jam 1 siang, warung ini selalu ramai. Mulai dari penikmat kopi sampai pejabat ramai datang untuk mencicipi kopi buatannya. Ia menyuguhkan kopinya dalam gelas kecil, orang Pontianak sering menyebutnya sebagai Kopi Pancong. Secangkir Kopi Pancong dihargai Rp.5000, lebih nikmat lagi kalau ditemani dengan sepotong roti srikaya.

Tugu Khatulistiwa Pontianak
Credit: Triptrus.com
Wisata Kota Pontianak juga layak dicoba.

Tak hanya wisata kulinernya yang menggugah untuk dinikmati. Tempat wisata di Pontianak juga layak untuk dikunjungi, contohnya saja Sungai Kapuas, Keraton Kadariyah, dan tentu saja ikon kota Pontianak yakni Tugu Khatulistiwa. Mengapa Tugu Khatulistiwa ini unik? Dilansir dari travel.detik.com, hanya ada 12 negara yang dilewati garis Khatulistiwa, namun hanya ada 1 kota yang dilewati persis garis tersebut dan itu adalah kota Pontianak ini. Dalam satu tahun, di bulan Maret dan September, Matahari berada pada puncaknya. Ini biasanya disebut titik kulminasi matahari. Ketika peristiwa ini terjadi, daerah di sekitar tugu khatulistiwa tidak mempunyai bayangan walaupun mendapatkan sinar matahari. Unik, kan?

Cerita Lain: Mudik Ke Kenawa

 

Sumber: Pontinesia.com

 

Waktu saya ke Pontianak tidak bertepatan dengan bulan Ramadhan, padahal kalau saat Ramadhan, Pontianak sangatlah meriah. Ada satu kebudayaan yang terus dilestarikan oleh masyarakat pesisir sungai kapuas, yaitu Perang Meriam. Rumah saya ketika masih tinggal di Pontianak, masih di sekitaran Sungai Kapuas, sehingga euforia keriangan sangat terasa. Dulu, ketika saya sholat tarawih ada anak-anak sedang bermain meriam dan saking kencangnya suara ledakan meriam itu, kaca masjid ikut bergetar hebat. Ukuran meriam yang digunakan memang sangat besar, oleh karena itu suara ledakan bisa sampai ke seberang sungai. Ketika satu meriam diledakkan, dibalas oleh ledakan lain dari meriam di seberang sungai. Seru!

Cerita Lain: Surakarta Kota Kelahiranku

 

Sumber: Dok. pribadi

 

Ketika menulis tulisan ini, rasanya rasa rindu semakin memuncak. Ingin pergi kesana tetapi tidak mampu, sehingga tulisan inilah yang jadi obat penawar rindu. Ramadhan di Jogja tak kalah meriah daripada Pontianak, namun memang Pontianak punya kesan tersendiri, ia punya tempat spesial di hati dan memori saya. Ah, mellow sekali. Cara lain saya untuk mengobati kangen saya dengan kota Pontianak adalah dengan memasak hidangan khasnya. Walaupun tak bisa memasak Chai Kwe, tapi rasanya seporsi Pie Susu ini tak kalah nikmat. Pontianak, siapa yang bisa lupa akan pesonamu? ah, saya rasa tak ada, karena kau adalah kota dengan seribu kenangan.

Cerita Lain: Beautiful Belitung, the island you fall in love with

Apa kata heroes lainnya?

You must be logged in to post a comment.