Bangsa Portugis Menyebutnya “Cabo De Flores – Bukit Bunga” Flores Nusa Tenggara Timur

Salah satu tips untuk menhilangkan kejenuhan saat bekerja adalah dengan LIBURAAANN… yaps liburan kali ini saya sudah ada planning jauh-jauh hari. berawal dari cari-cari trip backpack di forum http://backpackerindonesia.com akhirnya ketemulah dengan trip yang selama ini jadi impian saya, 10 hari 9 malam overland Flores, dimulai dari Maumere dan Berakhir di Labuan Bajo dengan budget backpacker tentunya. Omong-omong forum backpacker indonesia adalah forum yang berisi sharecost trip untuk para backpacker di Indonesia, karena disana banyak ajakan trip domestik dan mancanegara untuk para low budget seperti saya 😀

Meeting Point hari pertama di bandara Frans Seda Maumere, seperti biasa esensi backpacker trip adalah bertemu dengan orang-orang yang belum pernah ketemu/kenal sebelumnya. Ternyata tidak sulit mencari teman-teman trip kali ini karena terlihat lebih banyak turis mancanegara dibanding turis lokal. Akhirnya tidak lama kami semua bertemu dan saling berkenalan di pintu keluar bandara dan langsung mencari supir yang akan mengantar kami menjelajah tanah Flores. Buat kalian yang mau overland Flores ini nomor supir kami selama disana namanya Bang Yopi – 081238036752, FYI doi asli Manggarai Barat, Labuan Bajo tapi sudah biasa bawa penumpang dari maumere – Labuan bajo ataupun sebaliknya.

Tanpa berlama-lama lagi langsung masuk mobil dan sesuai perkiraan saya, suasana flores begitu damai dan tentram betah berlama-lama disini, laut biru, langit cerah, tanah subur dengan bunga-bunganya begitu indaaah (lebay) tapi memang indah banget… kita langsung dibawa ke desa adat Sikka Flores disana ada Gereja tua yang dibangun oleh bangsa Portugis  sekitar abad ke 14 dan masih berdiri kokoh sampai sekarang dan juga disana ada pengrajin tenun khas Sikka.

Gereja Santo Ignatius Sikka
Gereja Santo Ignatius Sikka
Pengrajin tenun di desa Sikka, bersih desanya yaa
Pengrajin tenun di desa Sikka, bersih desanya yaa
Rumah adat Sikka
Rumah adat Sikka

Jangan lupa untuk membeli kain tenun khas Sikka ya kalau berkunjung kesini karena selain banyak pilihan warna dan jenis kain yang bagus kita juga bisa meningkatkan pendapatan para pengrajin tenun disini.

Okee setelah puas menjelajah desa Sikka kami lanjut ke Homestay di daerah Moni namanya Bintang Lodge kira2 perjalanan sekitar 4-5 jam, yang unik dari Bintang Lodge ini adalah tidak ada pintu di kamar mandinya sehingga kalau mau mandi atau buang hajat 😀 harus ngusir teman-teman yang ada didalam kamar unik memang. Lokasi Bintang Lodge ini berada di kaki gunung Kelimutu yaps tujuan kami berikutnya adalah danau 3 warna kelimutu yang ada di lembar uang 5000 jaman dulu :D. Sampai di homestay langsung istirahat karena besok subuh jam 03.00 pagi harus sudah bangun untuk mengejar sunrise di puncak Kelimutu. Pagi-pagi sekali bangun belum makan belum mandi karena dingin demi mengejar sunrise, trekking 15-20 menit sudah sampai di puncaknya YEAYYY…

Sunrise di puncak Kelimutu
Sunrise di puncak Kelimutu
Masih di danau 3 warna Kelimutu
Masih di danau 3 warna Kelimutu
Ini danau satunya yang terpisah dari 2 danau tadi
Ini danau satunya yang terpisah dari 2 danau tadi

Puas menikmati pemandangan dan foto-foto di danau Kelimutu kami langsung turun gunung lalu dibawa ke desa adat Wologai perjalanan sekitar 1 jam dari Moni. Masuk ke desa Wologai bayar Rp. 10.000/ perorang.

Interaksi dengan warga sekitar hal yang wajib dilakukan kalau ke desa adat
Interaksi dengan warga sekitar hal yang wajib dilakukan kalau ke desa adat
Desa adat Wologai
Desa adat Wologai

Kami tidak berlama-lama di desa adat ini karena perjalanan selanjutnya menuju Riung 17 Pulau, perjalanan ini cukup panjang kurang lebih 6-8 jam perjalanan dengan kontur jalan belok-belok, naik turun gunung, jurang kanan kiri, pemandangan indah sempurnaaa…

Mobilnya minta istirahat, btw ini mobil kami yang menemani selama di tanah Flores
Mobilnya minta istirahat, btw ini mobil kami yang menemani selama di tanah Flores

Malam jam 21.00 kita baru samapai ke homestay yang di riung saya lupa nama homestaynya tapi tempatnya nyaman dan cukup dekat ke pantai. Pagi-pagi sekali langsung menuju pantai untuk melakukan aktivitas hari ini yaitu hopping island dan bertemu dengan nahkoda kapal kita yang akan mengarungi lautan Riung 17 Pulau.

Pulau Kelelawar Riung 17 Pulau
Pulau Kelelawar Riung 17 Pulau
Entah ini pulau apa namanya tapi bersih dan airnya jernih
Entah ini pulau apa namanya tapi bersih dan airnya jernih
Underwater soft coral & hard coral
Soft coral & hard coral underwater
Nyelam bebas dulu ah ditemani ikan-ikan
Nyelam bebas dulu ah ditemani ikan-ikan
Mari makan
Mari makan
Koki Riung
Kokinya Riung
Sepii
Sepii
Puncak pulau Rutong, Riung 17 Pulau
Puncak pulau Rutong, isinya bule semua yang lagi berjemur
Nangkring di atas pohon di puncak pulau Rutong itu rasanyaaaa….
Nangkring di atas pohon di puncak pulau Rutong itu rasanyaaaa….
Gradasi air lautnya…
Gradasi air lautnya…
Love the trees until their leaves fall off, then encourage them to try again next year – Chad Sugg
Love the trees until their leaves fall off, then encourage them to try again next year – Chad Sugg
Riung 17 Pulau
Riung 17 Pulau

Hari berikutnya tujuan kami adalah ke desa adat Wae Rebo, ya desa adat Wae Rebo sudah tidak asing lagi untuk kalangan backpacker/traveler. Perjalanan ke desa ini sungguh jauuuh tapi sepadan dengan pemandangan alamnya yang indah, dibutuhkan waktu sekitar 4 jam dari basecamp dengan kontur jalanan batu-batuan, sungai, tanah basah, naik turun bukit sungguh lengkap perjalanan ini. Untuk kesini kita harus menggunakan Guide local dan untuk pengunjung yang ingin menginap di rumah adat Mbaru Niang (rumah adat Wae Rebo) dikenakan biaya sekitar Rp. 250.000/orang. Sebelum ke Wae Rebo kita sempatkan dulu ke sawah sarang laba-laba, bayar Rp. 2500/orang.

Terlihat seperti sarang laba-laba sawah dibawah sana
Terlihat seperti sarang laba-laba sawah dibawah sana
Narsis dikit :p
Narsis dikit :p
Sampai Wae Rebo disambut ketua adat di rumah utama
Sampai Wae Rebo disambut ketua adat di rumah utama
Negeri diatas awan - Wae Rebo
Negeri diatas awan – Wae Rebo
Negeri diatas awan, dingiiiin….
Negeri diatas awan, dingiiiin….
Interaksi dengan warga sekitar
Interaksi dengan warga sekitar
Keluarin kamera langsung dipeluk bocah-bocah ini
Keluarin kamera langsung dipeluk bocah-bocah ini
Haloo Indonesia-ku
Haloo Indonesia-ku

Perjalanan berikutnya akan dihabiskan diatas kapal, yuhuuu kami mau berlayar di Taman Nasional Komodo. Sebelum berlayar nginep di Bajo View (rekomended) penginapan murah meriah di daerah Labuan Bajo yang langsung menghadap ke pelabuhan dan dekat ke dermaga kapal karena besok pagi-pagi kita akan memulai perjalanan berlayar di Taman Nasional Komodo, tujuannya pulau rinca, pulau kanawa, pink beach, pulau padar, manta point, gili laba, dll. Hidup diatas kapal selama 2 hari menjadikan pengalaman yang luar biasa, mandi, tidur, solat, makan, selonjoran, maen kartu semua aktivitas dilakukan diatas kapal sembari melihat pemandangan laut biru, langit cerah, deburan ombak sungguh indah Indonesia tercinta

Dirgahayu Republik Indonesia - Pulau Padar
Dirgahayu Republik Indonesia – Pulau Padar
Puncak Gili Laba
Puncak Gili Laba
Bersama srikandi Flores
Bersama srikandi Flores di Gili Laba
Merah Putih di RInca
Merah Putih di Rinca
Upacara 17 Agustusan di pulau rinca
Upacara 17 Agustusan di pulau Rinca
Upacara 17 Agustusan di pulau rinca
Upacara 17 Agustusan di pulau rinca
Upacara 17 Agustusan di pulau rinca
Upacara 17 Agustusan di pulau rinca
Terima kasih team untuk perjalanan yang indah ini
Terima kasih team untuk perjalanan yang indah ini
Terima kasih team untuk perjalanan yang indah ini
Terima kasih team untuk perjalanan yang indah ini
Terima kasih team untuk perjalanan yang indah ini
Terima kasih team untuk perjalanan yang indah ini
Terima kasih team untuk perjalanan yang indah ini
Terima kasih team untuk perjalanan yang indah ini

Merah Putih di RInca

Terima kasih team untuk perjalanan yang indah ini
Terima kasih team untuk perjalanan yang indah ini

FYI

  • Untuk mencapai Maumere dari Jakarta bisa menggunakan maskapai transit di bali lalu menuju maumere, untuk tiket pulang Labuan Bajo – transit Bali – Jakarta
  • Cari tiket pesawat jauh-jauh hari supaya tiket pesawat lebih murah 😀
  • Waktu itu saya dapat tiket promo JKT- Denpasar PP 700an By A*r *sia
  • Tiket Denpasar – Maumere 1.2jt (mahal T.T) tp puas sih
  • Tiket Labuan Bajo – Denpasar 600rb by Garu*da In*donesia (muraaah banget) temen2 kmaren dapat 1,7jt dengan pesawat yang sama… ahh senangnya dapat tiket murah
  • Tidak disarankan berangkat pada musim hujan November – Februari karena cuaca kurang bersahabat percuma karena nanti diatas kapal cuma ketemu awan mendung dan ombak besar, ga mau donk guys
  • Kalau mau lihat bukit hijau di Taman Nasional Komodo datang pada bulan maret – juni  apabila ingin melihat bukit gersang datanglah sekitar bulan juli – oktober
  • budget share cost kira-kira 4jt/ orang sudah all in termasuk mobil, bensin, makan supir, hotel, tiket masuk, sewa kapal, sewa alat snorkeling
  • belum termasuk oleh-oleh dan tiket pesawat
  • happy traveling

Pecinta Tanah Air Dari Sabang sampai Merauke... Ayo keliling Indonesia!!!

Leave a Reply