Pulang ke Purwokerto, Main ke Watu Meja

Di tepinya Sungai Serayu
Waktu fajar menyingsing
Pelangi merona warnanya
Nyiur melambai-lambai
 
 Warna air sungai nan jernih
 Beralun berkilauan
 Desir angin lemah gemulai
 Aman tentram dan damai
 
 Gunung Slamet nan agung
 Tampak jauh disana
 Bagai sumber kemakmuran
 Serta kencana
 
 Indah murni alam semesta
 Tepi sungai Serayu
 Sungai pujaan bapak tani
 Penghibur hati rindu

Alunan lagu Di Tepinya Sungai Serayu selalu mengingatkan tentang kampung halamanku (#ingetkampung) yang benar memberikan rasa aman, nyaman dan damai. Lagu ciptaan Raden Soetedjo itu menjadi musik yang khas ketika kereta yang akan ku naiki berhenti tepat di peron penumpang. Momen seperti inilah yang membuat aku sedikit berat hati untuk merantau dan meninggalkan Purwokerto. Ya meskipun aku baru menetap selama 9 tahun, kota ini sangat nyaman sekali untuk ditinggali dengan segala kultur dan pesonanya.

Purwokerto memang tidak terlalu jauh dari ibukota. Biasanya aku menggunakan moda transportasi kereta api. Membutuhkan waktu sekitar 5 jam lebih untuk sampai kesana baik dari Stasiun Pasar Senen maupun Gambir.

Momen mudik lebaran kemarin, aku sempatkan untuk melepaskan semua kerinduan setelah berbulan-bulan menetap di ibukota. Rindu akan kehangatan bersama keluarga di rumah. Makan sepuasnya masakan mamak dan makanan khas. Merasakan tidur di kamar sendiri. Menikmati potensi kampung yang menyimpan banyak pesona keindahan alam.

Salah satu keindahan alam yang aku kunjungi berada di dekat Sungai Serayu. Objek wisata ini menawarkan wisata ketinggian dengan pesona alam yang indah dipandang mata, damai dirasakan hati dan sejuk dirasakan jiwa.

View Bukit Watu Meja, Pesona Semesta Sungai Serayu

Bukit Watu Meja dikenal pula dengan Bukit Badar. Berada di Desa Tumiyang, Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah. Dari Purwokerto, jarak yang ditempuh sekitar 30 menit ke arah selatan menuju Patikraja, lalu memilih jalan ke arah kiri tepat di depan Pasar Patikraja yang mengarah ke Jembatan Merah (bekas lori) yang melintas di atas Sungai Serayu. Di jalur ini, terdapat tugu bundaran, lalu ambil arah lurus ke arah Desa Tumiyang. Tidak jauh, sampai menemukan plang bertuliskan Gang Watu Meja di sebelah kiri. Akan terdapat areal parkir kendaraan di depan rumah milik warga lokal.

Peta dari arah Pusat Kota Purwokerto ke Watu Meja

Untuk mencapai puncaknya, pengunjung harus trekking selama 15 menit. Dengan pertama melewati pepohonan bambu dengan jalur yang cukup menanjak. Lalu jalan setapak berbelok, sampailah di hutan pinus. Tidak jauh dari area ini, pintu masuk lokasi wisata ditandai dengan gapura bambu dan loket petugas retribusi.

Jalan setapak di bawah hutan pinus

Sebelum memasuki area wisata. Aku bersama teman-temanku berhenti di warung Mba Yati. Warung miliknya tepat berada paling pertama. Di warung miliknya kami istirahat sejenak sambil menyantap mendhoan anget, rujak dan teh manis. Ada pula tiga hammock yang menggantung berjejer di sebelah warungnya. Aku menikmati suasana di bawah teduhnya pohon pinus dengan bergelantungan di atas hammock. Dari situ,  tampak jalan raya dengan kendaraan yang melintas di bawah sana. Rupa Serayu sedikit terlihat di sisi sebelahnya.  Angin semilir berhembus segar. Sungguh tenang sekali. Ingin rasanya berlama-lama disana. Tidak terasa hampir satu jam aku terbuai dengan kedamaian itu.

Warung Mba Yati
Mendhoan Mba Yati
Gelantungan di atas hammock

Setelah itu, kami berjalan kembali. Memasuki gapura bambu dengan loket petugas. Cukup membayar Rp 8.000 saja per orangnya (harga libur lebaran). Jalan sedikit lagi, sampailah di area Watu Meja (batu meja) dengan view yang luas.

Gapura Selamat Datang

Sungai Serayu tepat mengular di bawah sana. Mengalir sangat tenang membelah daratan yang berbukit-bukit. Di sebelah sana, jalan raya bersinggungan dengan rel kereta. Lalu terdapat jembatan rel kereta melintas di atasnya. Airnya berwarna kecoklatan. Dipekati oleh fajar sore yang masih menyingsing. Di bantaran sungainya, areal persawahan memanjang hijau, sebagian menguning.

Di atas watu meja

Matahari mulai condong ke barat. Di tempat aku berdiri, batu-batuan berukuran besar berserakan. Di ujung kiri, ada satu batuan yang menonjol. Paling meninggi dan berwarna legam. Tampak menggantung seperti meja. Disinilah filosofi nama tempat ini dikenal. Aku mendekati batu itu. Memperhatikannya padahal tak paham mengenai geologi. Jelasnya batu itu tampak kuno dan tua. Seolah ada cerita yang timbul di masa lampau.

Watu Meja

Wisata Watu Meja sudah cukup rapi dalam skala pengembangannya. Terdapat spot pandang untuk melihat-lihat, papan kayu untuk swafoto, papan ayunan, area camping, dan warung-warung tersedia di bagian sebelah kanan. Fasilitas pendukung yang belum terpenuhi, yaitu toilet dan tempat sampah yang banyak tersedia agar tempat wisata ini lebih layak lagi untuk para pengunjung.

Spot swafoto
Area watu meja

Di atasnya Sungai Serayu, Watu Meja menyuguhkan pesona alam yang indah. Sesekali suara kereta terdengar keras ketika melewati jembatan yang dibangun sejak zaman Belanda. Kalau beruntung, akan tampak Gunung Slamet di kejauhan sana. Sayang, cuaca sedang berawan sore itu.

Jembatan kereta api

Aku merasakan kedamaian di atas sana. Sungai Serayu menghidupi banyak orang di sepanjang alirannya. Memberi harapan petani untuk memanen hasil tanamannya. Menjadi penghibur hatiku yang lama merindukan kampung halamannya. Hanya dengan sekedar menikmati alamnya yang mempesona.

Area sebelah timur

Pulang memang cara paling membahagiakan diri sendiri dan juga orang-orang di rumah. Pulang seakan pengobat rindu ketika aku kangen dengan kampung halaman. Pulanglah dan rasakanlah.

suka jalan-jalan , suka kegiatan sosial , suka makan & blogging kadang-kadang. http://www.rizkichuk.id - IG @rizkichuk

Leave a Reply