Mengenang Kampung Halaman, 8 Jam Jelajah Pulau Samosir

pulau samosir

Selalu ada kata kembali ke rumah. Pulang ke kampung halaman. Setelah menetap di Jakarta lebih dari dua puluh tahun, dan dengan bertambahnya usia dan kesibukan, mudik pun jadi ritual yang bisa dihitung dengan jari.

Rindu selalu ada, dan rencana mendadaklah yang kemudian membuat saya dan ibu saya, serta abang saya, nekad pulang ke tanah kelahiran di Sumatera Utara. Setelah menginap semalam di Medan, kami langsung menuju Terminal Amplas. Kami memilih angkutan umum jenis Elf untuk pulang ke Parapat. Menuju Danau Toba dan Pulau Samosir kesayangan.

Kami pun menginjakkan kaki kembali di Parapat tepat ketika matahari terbenam, disambut pemandangan Danau Toba di sisi jalan. Sungguh menawan! Kami turun tepat di Masjid Parapat dan tak jauh dari situ, ada sebuah hotel kecil yang sudah pernah kami inapi. Tarifnya murah saja, walaupun tanpa pendingin udara dan televisi. Ya, siapa yang butuh pendingin udara kalau suhu di Parapat sudah cukup membuat menggigil. Malam itu kami langsung beristirahat, bersiap untuk penjelajahan esok.

Paginya kami menyantap Mi Gomak, hidangan mi khas Batak yang disajikan dengan gulai labu siam, di kedai pinggir jalan. Ketika angkot lewat, kami naik menuju Pelabuhan Ajibata. Kami ingin naik kapal motor menuju Pulau Samosir karena lebih praktis dan cepat. Kurang lebih tiga puluh menit kemudian tibalah di Pelabuhan Tomok. Ya, hari ini kami berniat mengelilingi Pulau Samosir yang merupakan pulau di tengah danau vulkanik terbesar di dunia ini!

Danau Toba Pulau Samosir
Danau Toba dilihar dari Pelabuhan Ajibata
Danau Toba Pulau Samosir
Suasana di kapal

Berlabuh di Tomok, Jangan Lupa ke Batak Museum dan Makam Tua Raja Sidabutar!

Di Tomok, selain tempat berlabuh, juga menjadi pasar dadakan tiap pagi. Ada yang menjual ikan, sayur-mayur, tapai singkong (ini favorit saya! rasanya luar biasa enak dan lebih berair, berbeda dengan tapai di Jawa), rempah-rempah, dan—yang langsung menarik perhatian kami—DURIAN! Keluarga saya memang pencinta berat buah berduri itu. Langsung saja kami hampiri pedagangnya. Harganya berkisar dari lima ribu hingga sepuluh ribu per buah. Durian Samosir rata-rata berukuran kecil namun rasanya sangat nikmat dan khas. Durian Monthong kalah jauh!

pulau samosir
Durian di Samosir
pulau samosir medan
Jalan berkerikil

Usai menyantap beberapa buah durian dalam sekejap, kami dihampiri seorang pria yang menawari sewa motor seharga tujuh puluh ribu untuk seharian. Niat kami berjelajah Samosir bagai mendapat sambutan. Memang lebih baik menyewa motor agar bisa puas berkeliling ketimbang naik angkot yang terbatas tujuannya. Alhasil, kami semotor bertiga karena hanya abang saya yang bisa mengendarai motor. Ini sungguh tidak boleh ditiru karena cukup berbahaya, jalan-jalan di Pulau Samosir tidak rata, berliku-liku, dan naik-turun. Selagi di Tomok, kami sempat mampir ke Batak Museum Tomok yang dibangun pada 2005 dan berbentuk rumah adat Batak.

pulau samosir medan
Batak Museum
pulau samosir
Makam Tua Raja Sidabutar

Di halamannya terdapat patung-patung dan meja batu kecil, diperkirakan merupakan peninggalan Megalitikum. Di dalam museum terdapat berbagai jenis kain ulos, pakaian adat Batak, patung kayu, pedang, dan berbagai beralatan pertanian dan rumah tangga. Tak ketinggalan juga naskah kuno dan alat musik gondang. Museum ini dapat dimasuki dengan gratis.

Dari situ kami melanjutkan ke Makam Tua Raja Sidabutar yang masih searah. Di sini terdapat makam tiga raja keturunan Sidabutar dan kerabatnya. Uniknya, makam batu ini berukir kepala manusia dan agak berwarna merah, dipercaya merupakan simbol darah musuh yang dikalahkan para raja tersebut. Di sini juga terdapat banyakukiran Batak, misalnya cicak dan empat payudara, yang berarti orang Batak harus bisa beradaptasi di mana pun berada dan orang Batak harus memiliki banyak anak.

Panorama Memukau dari Onan Runggu

Sudah pukul sebelas siang dan jalan cukup sepi. Dari Tomok kami memilih berbelok ke kiri, ke arah Onan Runggu. Jalan berkerikil kami lewati. Puas rasanya menyaksikan keindahan Toba di sepanjang sisi jalan. Di tengah perjalanan, kami singgah di perkebunan kopi warga Samosir yang sudah termahsyur. Namanya Kopi Ateng karena pohonnya pendek seperti Ateng, katanya.

Kopi berjenis Arabika (Coffea arabica) ini memang terkenal berkualitas tinggi dan lebih nikmat daripada Robusta. Bahkan, Kopi Ateng dari daerah Siborongborong sampai diekspor ke Amerika untuk Starbucks. Kopi Ateng yang cepat panen ini mendapat sebutan Kopi Sigarar Utang oleh penduduk lokal. Artinya, kopi untuk membayar utang. Sebab, dengan menanam kopi ini mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa perlu berutang kepada koperasi atau rentenir. Saya pun minta izin memetik sebutir kopi yang sudah merah. Dibelah dan dua biji kopi basah terlihat, rasanya manis.

pulau samosir
Kopi Ateng
pulau samosir
Kopi arabika

Setelah itu, kami lanjut ke titik pandang Onan Runggu (kecamatan paling timur di Samosir). Dari pondok ini, terpampang keindahan Danau Toba dari ujung ke ujung. Sungguh pemandangan yang tak dapat dilupakan. Barisan pohon pinus dan langit nan biru berpadu menyerupai lukisan. Kami duduk-duduk menikmati keindahan sekitar dan kesejukan udara Samosir. Tak lupa juga memotret sana-sini! Warga di daerah ini rata-rata berternak babi dan menanam padi. Sawah-sawah yang bersengkedan menciptakan pemandangan yang tak kalah indah. Berat rasanya beranjak, tapi kami harus melanjutkan penjelajahan.

Ada cukup banyak warung yang menjual bensin di Samosir, tidak perlu khawatir kehabisan bahan bakar. Harganya pun sama pasaran. Tadinya kami berniat lanjut ke Nainggolan dan Palipi, memutari pulau hingga Pangururan. Tapi, tukang tempel (tambal) ban (ya, akhirnya ban motor kami pecah) menasihati agar kami mundur saja karena jalan ke sana rusak dan berbahaya. Kami pun memutuskan mundur kembali untuk menuju Simanindo dan Pangururan. Walaupun mengulangi rute sebelumnya, keindahan Toba akan menghapus rasa lelah.

pulau samosir medan
Menikmati pemandangan
pulau samosir medan
Kompak bertiga!
pulau samosir
Sawah membentang

Menghangatkan Diri di Aek Rangat Pangururan

Setelah 40 km berkendara menyusuri rumah adat Batak dan sawah menguning, kami tiba di Simanindo dan mampir ke kedai untuk makan siang (yang sangat terlambat karena sudah pukul setengah tiga). Kalau berkunjung ke Simanindo, jangan lupa mampir ke Museum Huta Bolon Simanindo untuk menyaksikan pertunjukan Tari Tor-Tor dan Patung Sigale-gale. Kebanyakan pengunjung museum ini adalah turis asing. Asyiknya, penonton boleh turut serta menari Tor Tor bersama penari. Ini wajib dicoba! 

pulau samosir
Tari Tor-Tor dan Patung Sigale-gale

Sebelum ke Simanindo, kita juga bisa melewati Desa Wisata Tuk-tuk yang berada di sebuah tanjung kecil di Samosir. Di sini banyak terdapat resort dan kafe, tempat favorit turis asing. Kami tidak ke sana karena sudah pernah. Saat melihat turis-turis asing yang berseliweran menaiki motor, semangat kami pun membara lagi. Lanjut ke Pangururan!

Keseruan perjalanan ini adalah kami bisa berhenti kapan pun kami mau. Melihat-lihat anak-anak SD yang berjalan kaki sambil sesekali melambaikan tangan memohon tumpangan jika ada mobil yang lewat (tidak semua wilayah di Pulau Samosir dilewati oleh mobil angkutan Elf). Melihat-lihat para ibu yang menumbuk padi atau mengangon babi. Menikmati indahnya ladang jagung di sepanjang sisi danau dan uniknya rumah-rumah serta makam khas suku Batak.

Kurang lebih satu jam kemudian, kami sampai di objek wisata Aek Rangat Pangururan. Sumber mata air belerang ini memiliki fasilitas pemandian untuk umum dan gratis. Sayangnya, cuma ada satu kolam dan kurang dikelola. Di samping pemandian, terdapat kedai kopi yang harus dicicipi kopinya. Kopi hitam panas khas Pulau Samosir akan menghapus kelelahan.

Sumber mata air yang berlokasi di Pusuk Buhit ini sangat indah, saya mencoba mendaki bebatuan dan sampai di puncaknya. Pusuk Buhit (pusat bukit) adalah gunung sisa letusan Gunung Toba di masa silam dan memiliki ketinggian kira-kira 1.900 mdpl. Gunung ini dianggap keramat oleh penduduk setempat. Bahkan, di puncaknya terdapat tempat persembahan yang disebut Batu Sawan. Dari sinilah diyakini bahwa Sang Pencipta Alam Semesta menurunkan orang Batak. Sebutannya adalah Mula Jadi Nabolon.

Cerita Lain: Menyapa Wajah Baru Gunung Kelud

pulau samosir
Sumber mata air panas
pulau samosir
Aliran belerang berwarna kuning
pulau samosir
Ada kedai kopi tempat bersantai

Sayangnya, kami tidak sempat melanjutkan penjelajahan ke Danau Sidihoni (danau di atas danau) dan Desa Adat Huta Siallagan di Ambarita karena hari sudah sore. Kami harus mengejar kapal terakhir menuju Ajibata jam tujuh malam. Penjelajahan delapan jam dengan jarak seratus lima puluh kilometer antara Tomok-Onan-Runggu-Simanindo-Pangururan-Tomok pun harus berakhir. Tapi, saya pasti akan kembali menjelajahi keindahan Pulau Samosir yang berlimpah. Pulau Samosir yang selalu bikin #IngetKampung!

Cerita Lain: Family Trip Gunung Krakatau

a writer and travel enthusiast.

Leave a Reply