Punahnya Ngelawang

Hampir genap 2 tahun berdomisili di Kota Medan, Sumatera Utara.

Tapi kenangan masa-masa kecil tentang Bali dan pernak-pernik budaya yang selalu menggugah jiwa dan perasaan makin kuat tak terbendung untuk dapat kembali ke tanah kelahiran. #ingetkampung

Seperti yang diketahui, Pulau Bali sangat kental dengan budaya dan warisan adatnya. Tentu tidak lupa beberapa tahun silam sangat popular di media sosial terkait plesetan Bali, yakni Banyak Libur.

Memang tidak salah jika umat hindu dikatakan Banyak Libur, tapi bukan berarti tidak ingin untuk bekerja ataupun malas, hal ini adalah rangkaian dari menjaga tradisi budaya, sehingga perlulah sikap toleransi bukan sebaliknya.

Umat hindu memiliki sejumlah hari raya besar, diantaranya Nyepi, Galungan dan Kuningan, walau masih banyak lagi hari raya besar lainnya.

Fokus pada hari raya Galungan, yang jatuh tiap 210 hari. Makna daripada hari raya ini adalah perayaan kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (keburukan). Terdapat satu hal eksotis mengenang perayaan Galungan, yakni tradisi Ngelawang. Kata ngelawang berasal dari kata lawang yang berarti pintu, rumah ke rumah atau bisa saja dari desa ke desa yang biasanya menggunakan barong bangkung sebagai media utamanya dan diiringi oleh gamelan bebarongan atau gamelan batel (panbelog.wordpress.com).

Tradisi Ngelawang oleh anak-anak

Mungkin akan sangat susah dijumpai di daerah perkotaan, namun apabila kita beranjak ke pedesaan, sore hari pasca perayaan Galungan akan tampak sekumpulan bocah yang mengenakan kostum barong dan ada juga yang memainkan alat musik.

Pentas seni ini dilakukan secara berpindah-pindah dari desa ke desa, di masa lalu, memang pernah mengkristal menjadi peristiwa kesenian yang mewarnai Galungan, bahkan tetap meriah hingga ritual Kuningan. Di tempat – tempat tertentu ngelawang juga diadakan apabila disuatu desa terjadi wabah penyakit. Aura mistis akan terasa selama pertunjukkan ini, namun inilah yang akan menyebabkan hati senang dan tentram karena kepercayaa akan tujuan ritual ini, yakni untuk mengusir bala.

Tetapi belakangan, pertunjukan keliling yang mementaskan puspa seni tradisi Bali itu telah digerus perubahan zaman. Begitu sulit memergoki seni pertunjukan ini tampil penuh keintiman di tengah masyarakat. Benda – benda keramat seperti Barong dan Rangda, misalnya, diusung ke luar pura berkeliling di lingkungan banjar atau desa yang dimaknai sebagai bentuk perlindungan secara niskala kepada seluruh masyarakat.

Seiring berkembangnya teknologi dan kebutuhan manusia di era modern ini, satu persatu tradisi ini akan lenyap oleh hedonisme. Percaya atau tidak, lambat laun hal ini akan terjadi. Sungguh pilu, namun, ini ibarat seorang yang linglung dalam menjalani hidup.

Mari bangkit, selamatkan budaya dan tradisi!!

1 Comment

Leave a Reply