RAWA PENING, Legenda yang Masih Terlihat

Sewaktu kecil, saya selalu mendapatkan dongeng tentang asal usul kawasan rawa terbesar di pulau Jawa ini. Kisah tentang seorang anak kecil yang menantang warga kampung yang telah mensia-siakan dirinya. Tantangannya adalah mencabut lidi yang ditancapkan ke tanah. Barang siapa yang berhasil mencabut, akan mendapatkan hadiah berupa emas berlian. Namun, ternyata tak satupun warga kampung yang mampu mencabut sebatang lidi yang ditancapkan ini. Hingga, akhirnya si anak ini sendiri yang bisa mencabut.  Namun, dari bekas cabutan lidi tersebut, mengucurlah air yang sangat deras yang tidak bisa dihentikan, hingga menggenangi seluruh kampung itu.  Membentu suatu rawa, yang dinamakan RAWA PENING.  Pening, artinya bening/jernih.

Cerita itu membekas, dan selalu terbayang manakala melihat hamparan rawa pening ini. Sejauh mata memandang, maka hamparan air seluas lebih dari 400 hektar, tampak membiru dengan latar belakang Gunung Sindoro , Sumbing dan Merbabu.  Siluet gunung ini makin kontras jika kita melihatnya diwaktu pagi hari.  Tak heran, banyak fotografer sering melakukan pemotretan disini.

Jika masih pagi, kita bisa melihat ratusan orang naik perahu untuk mencari ikan dengan menggunakan pancingnya, atau dengan jala. Tidak ada peralatan modern  yang digunakan untuk aktifitas ini.  Tak heran, suasana diatas air terasakan sunyi, tanpa keriuhan polusi suara. Udara, masih sangat bersih. Inilah yang menjadi favorit para fotografer. Konon, udara yang bersih ini yang menyebabkan langit selalu tampak berwarna biru bersih kala dipotret di pagi hari.

Saat libur sekolah, saya sering ikut bersama kakak atau paman yang suka menangkap ikan menggunakan jala. Biasanya saya hanya kebagian memunguti ikan hasil jala tersebut. Badan saya yang kecil, tidak memungkinkan memikul tugas menebar jala. Maka, tugas tadi sudah tepat untuk dibebankan ke saya. Saya senang dengan tugas itu, karena memungut ikan yang tersangkut di jala seolah sedang memungut harta karun.  Ikan ikan ini, saya masukkan dalam sebuah ember kecil warna merah, yang berisi sedikit air, dan saya tutup pakai daun pepaya. Agar ikannya masih tetap hidup dan segar.  Hasil tangkapan ini, biasanya selain kami makan sendiri, juga kami jual di pasar.  Yang paling laku adalah ikan mujaer dan udang air tawar. Lumayan, bisa buat nambah kebutuhan rumah, kata paman.

Saat ini, Rawa Pening sedang berbenah.  Pemerintah Provinsi sedang mengerahkan alat berat untuk membersihkan rawa yang ditumbuhi gulma Enceng Gondok. Konon, rawa pening ini akan dijadikan wahana lomba Dayung PON (Pekan Olah Raga Nasional) tahun ini.

Di kanan kiri rawa juga sudah berjajar toko toko kecil yang menyediakan makanan dan minuman, untuk kebutuhan para turis turis lokal yang semakin banyak berdatangan. Para turis ini menyewa perahu warna warni, dan meminta nahkoda perahu untuk memutari rawa.

Tentu saja, mereka tidak lupa untuk selfie yang segera akan di-share di sosmed mereka. Kelihatannya tetangga tetanggaku mulai menyadari bahwa hasil dari mengantar turis jalan jalan muter rawa dengan perahunya, lebih besar hasilnya daripada seharian menjala ikan.

Maka, tak heran, para tetanggaku berlomba menghias perahunya agar bisa memikat penyewa (turis) ini.  Syukurlah, hal ini tentu akan menyebabkan kelestarian rawa makin terjaga.

Oh ya, satu lagi. Saat ini, jalur rel kereta api dari Ambarawa ke Tuntang, sudah direvitalisasi. Maka, tiap jam 10.30 pagi, kita bisa meyaksikan kereta wisata klasik berjalan dengan anggun melewati rawa ini. Kereta kuno ini mengangkut wisatawan yang membayar Rp. 50.000 /orang untuk perjalanan 1 jam pulang-pergi dari Ambarawa ke Tuntang.

Jika kita melihat dari tengah rawa, maka rangkaian kereta yang berjalan di tepi rawa dengan background gunung Telomoyo, sungguh akan menerbangkan ingatan kita pada cerita cerita jaman kolonial.

Cerita Lain: Pontianak, Kota Seribu Kenangan

Rawa Pening Rawa Pening Rawa Pening Rawa Pening Rawa Pening Rawa Pening

 

 

 

 

1 Comment

Leave a Reply