Saat #ingetkampung Setelah Datang ke Kebun di Rakut Besi

Para Ibu istirahat sambil memakan sirih setelah selesai makan siang

Saat bersantai ditengah kebun jeruk di Desa Rakut Besi

Cerita ini berawal dari diriku yang ikut pulang ke Medan. Tujuan kepergian ku adalah mengantar Oppung Tua (nenek) saya mendatangi pesta ulang tahun adiknya yang ke-70. Beberapa hari sebelum perayaan, kami pergi ke kampung halaman kami di Silimahuta. namun cerita yang berkesan bukan saat di Silimahuta namun ketika kami pergi ke daerah Rakut Besi, yang merupakan kampung halaman dari keluarga suami adik Oppung Tua saya.

 

Masyarakat sekitar Rakut Besi biasa menyebut desa tersebut Rakut Bosi.

Wilayah tersebut terkenal dengan produksi buah jeruk sangat berlimpah. Bencana alam, gunung meletus yang menimpa wilayah Sinabung, memberikan berkah bagi wilayah ini. Udara yang melewati wilayah ini menyebabkan produksi buah jeruk meningkat dan panen yang sangat berlimpah banyaknya. Menurut masyarakat karena banyaknya rezeki dari panen jeruk di Rakut Bosi. Bahkan mereka sampai sudah bingung harus menggunakan uang hasil panen tersebut untuk apalagi.

 

Perjalanan menuju ke Rakut Bosi sedikit sulit.

Jalan daerah tersebut yang masih rusak, belum rapi dan berbatu. Serta diperlukan kendaraan untuk mencapai daerah tersebut karena sangat jauh dari jalan besar (jalan raya). Namun, perjalanan panjang terbayar ketika kami sampai di perkebunan jeruk yang ada di Rakut Besi, di tengah perkebunan tersebut ada sebuah bukit besar. Saudara-saudara yang sedang istirahat setelah berkebun sudah siap menanti kedatangan kami di bukit tersebut.

Setelah sampai di bukit bukit tersebut terlihat pemandangan yang begitu indahnya. Terhempar gunung dan dibawahnya ada ribuan pohon jeruk yang baru saja panen. Pemandangan yang membuat kami gemas ingin memetik semua jeruk yang menguning tersebut.

Sinar matahari yang panas, dinginnya udara pegunungan disekitar, serta aroma panggangan membuat diri ini lapar. Terlihat para ibu yang sedang memanggang daging dan ikan dari sungai dengan menggunakan kayu bakar. Makanan tersebut untuk menjadi hidangan makan siang bagi kami semua. Saat makanan telah siap seperti biasa kami melakukan doa bersama terlebih dahulu atas berkat yang telah diberikan Yang Maha Kuasa kepada kami.

Setelah berulang kali pulang kampung, saya baru merasakan pulang kampung saat berada di kampung orang lain.

Kami berkumpul sambil makan bersila dengan menggunakan daun pisang sebagai piring ditaru ditanah untuk makan bersama-sama. Ikan yang langsung diambil dari sungai terasa manis sekali, dan daging panggang yang begitu menggiurkan. Jeruk-jeruk yang baru dipanen sangat terasa manis kalian perlu mencoba jeruk asli dari Rakut Besi!. Setelah kami selesai makan siang dan berkempul kami pun lekas bersiap pergi ke Siantar untuk bertemu dengan sanak saudara yang lain.

Saat itu saya merasakan rasa kekeluargaan yang terasa sekali, dan saya baru merasakan pulang kampung yang sebenarnya. Setelah berulang kali pulang kampung, saya baru merasakan pulang kampung saat dikampung orang lain. Walaupun wilayah tersebut masih kampung halaman saya sendiri. Demikian cerita pulang kampung saya, bagaimana cerita pulang kampung kamu?

Leave a Reply