Saat Musik dan Alam Bertemu di Teluk Kiluan, Lampung

Tak terasa gelap pun jatuh. Di ujung malam menuju pagi yang dingin. Hanya ada sedikit bintang malam ini. Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya.

Tahu lirik di atas? Yup, betul sekali. Lirik tersebut adalah lirik lagu Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan yang dikumandangkan oleh Payung Teduh. Kali ini, saya akan bercerita mengenai perjalanan saya di Teluk Kiluan bersama beberapa band indie Indonesia. Indahnya alam Indonesia ditambah dengan alunan musik yang menyayat hati, perjalanan kali ini pasti tak akan terlupakan. Kalian siap untuk membacanya?

Perjalanan kali ini terjadi pada akhir Agustus 2014 lalu. Tepat 3 tahun yang lalu. Saya ingat sekali, betapa tak sabarnya diri ini ingin segera menikmati alam Lampung di sana sambil menikmati lagu-lagu dari band yang saya suka. Jumat sore, dari kantor yang berada di kawasan Kalibata saat itu, saya langsung menuju meeting point di stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Kemudian, jam 9 malam tepat para rombongan pun menaiki bus yang cukup nyaman menuju pelabuhan Merak, Banten.

Setibanya di pelabuhan Merak, kira-kira pukul dua belas malam (dan harus menunggu antrean selama satu jam untuk menaiki kapan feri) saat itu. Selanjutnya, selama kurang lebih tiga jam saya dapat menikmati udara laut yang memisahkan pulau Jawa dan Sumatera di atas kapal feri. Istirahat sambil menyantap mie instan dan kopi sachet, bercengkrama dengan para penumpang lainnya, adalah hal yang biasa tapi tak terlupakan bagi saya.

Jujur saja saya pun dapat tertidur di atas kapal feri yang membawa saya kemudian ke pelabuhan Bakaheuni, Lampung Selatan. Subuh-subuh, dari kejauhan saya dapat melihat Menara Siger, tanda saya dan kawan-kawan telah tiba di tanah Lampung. Kembali lagi ke bus, kami segera meluncur ke kota Bandar Lampung. Di perjalanan pun kami sempat menyantap sarapan di salah satu restoran.

Selamat datang di Teluk Kiluan, Kabupaten Tanggamus, Lampung

Indonesia ini sungguh sangat luas, kawan! Bahkan saya dapat merasakan perjalanan dari Bakaheuni ke kota Bandar Lampung saja dapat memakan waktu 2 jam, lho. Alhasil saya hanya tidur saja di dalam bus. Sesampainya di ibukota Lampung tersebut, saya pun berganti kendaraan. Dari bus ke mobil yang siap membawa kami ke Kabupaten Tanggamus, tempat di mana Teluk Kiluan berada.

“Mas, kira-kira jam berapaan sampai di Kiluan?” tanya saya santai kepada supir kami, sambil ngemil snack yang saya bawa.

“Hmm, tiga sampai lima jam lah Mbak dari sini.”

Okay, let’s go, batin saya sambil mengumpulkan tenaga kembali.

Pukul satu siang, tepat sekali waktu makan siang tiba, saya pun dapat menginjak Kabupaten Tanggamus, Kiluan Negeri. Tepat saat saya keluar dari mobil (dan tak lupa berterima kasih untuk sang supir yang selalu membuat penumpangnya tertawa) saya dapat melihat laut yang dikelilingi beberapa pulau, air yang biru, udara yang segar.

Source: lampung.tribunnews.com

“Oke, kita akan menaiki perahu sepuluh menit ya untuk tiba di Teluk Kiluan. Pulaunya di sana,” jelas seorang tour guide yang siap mengantar kami menaiki sebuah perahu kecil.

Saya ingat sekali, tepat pukul satu siang lewat lima belas menit, saya dan kawan-kawan disambut salah seorang personel band yang saya gemari. Lelah pun terlupakan seketika.

Saya, sahabat, kawan baru tengah menikmati alam Teluk Kiluan bersama vokalis Payung Teduh

Selama dua hari satu malam menikmati sajian musik yang dibawakan oleh Float, Payung Teduh dan duo Banda Neira di alam yang sangat indah di Teluk Kiluan ini adalah perjalanan yang akan ada dalam buku kenangan hidup saya. Mengeluarkan biaya sebesar Rp. 2.000.000 untuk acara Float to Nature 2014 ini terbayarkan sudah. Lebih akrab dengan idola di alam terbuka, menengok lumba-lumba di pagi hari, mini konser dengan latar laut sungguhan, berpetualang bersama sahabat dan kawan-kawan baru, hah betapa baiknya Ia kepada umatNya yang berdosa satu ini. Kiluan pun telah menjadi saksi tempat bahwa kaki dan kenangan saya pernah berada di sana.

Educating the mind without educating the heart is no education at all.

Leave a Reply