Sabang, Tunggu Kami Kembali

Pemandangan laut Pelabuhan Balohan, Sabang

Siapa yang tak kenal dengan nama ini?
Sabang, nama yang sangat akrab di telinga sejak kita masih bersekolah dasar karena diabadikan dalam salah satu lagu nasional.
Namun tidak hanya namanya yang mudah diingat, kecantikan alamnya pun akan membuat kita selalu terkenang hingga ingin kembali dan kembali lagi ke sana, seperti yang kami rasakan :).

How to Get There?
Perjalanan menuju Sabang dimulai dari Banda Aceh.
Sebagai tambahan informasi, dari Jakarta ke Banda Aceh tersedia penerbangan Garuda Indonesia, Citilink, dan Lion Air, dengan atau tanpa transit di Bandara Kualanamu, Medan (perbandingan jadwal dan harga tiket tiap maskapai dapat dilihat melalui web www.skyscanner.co.id).
Selanjutnya dari Banda Aceh kita akan menyeberang ke Pulau Weh melalui Pelabuhan Ulee Lheue (Banda Aceh). Di sini terdapat pusat informasi mengenai wisata Pulau Weh (dan Aceh pada umumnya), sehingga kita bisa bertanya-tanya sebelum menyeberang ke Pulau Weh, pulau dimana Kota Sabang berada.

Penginapan

Informasi tentang akomodasi di Pulau Weh disediakan dalam bentuk katalog. Pilihannya bervariasi, mulai dari kelas homestay sampai hotel berbintang, baik yang berlokasi di tepi pantai maupun di Kota Sabang.
Kami memilih Hotel Montana yang terletak di Jl. O. Surapati, Kota Sabang dengan tarif kamar berkisar antara Rp 100.000 – Rp 500.000 per malam (harga saat itu).
Kita juga bisa mencari penginapan secara online namun pilihannya tidak terlalu banyak dan seringkali harganya tidak dicantumkan (sehingga kita tetap perlu menghubungi secara langsung penginapan tersebut).

Transportasi
Dari Pelabuhan Ulee Lheue menuju Pelabuhan Balohan (Sabang) kita dapat menyeberang dengan kapal ferry (waktu tempuh 1,5-2 jam) maupun kapal cepat (waktu tempuh 45-60 menit). Jadwal pemberangkatan dari Banda Aceh dengan kapal cepat adalah pukul 9.30 pagi dan pukul 16.00 sore. Sedangkan dari Sabang ke Banda Aceh terdapat dua kali pemberangkatan (pukul 8.00 pagi dan 14.30 sore) dengan beberapa pilihan tarif sesuai dengan kelasnya. Kapal ferry memiliki lebih banyak pilihan waktu pemberangkatan dan kelas penumpang. Kapal ini juga dapat mengangkut kendaraan selain penumpang (berbeda dengan kapal cepat yang hanya dapat mengangkut penumpang).
Jadwal keberangkatan kapal dapat dilihat di sini.

Jangan kaget bila sesampai di Pelabuhan Balohan kita β€˜diserbu’ oleh para pemilik/pengemudi angkutan yang menawarkan kendaraan untuk disewa. Bila sebelumnya kita sudah memesan mobil sewaan melalui pusat informasi di Pelabuhan Ulee Lheue kita akan langsung dijemput dan disambut di Pelabuhan Balohan, sesaat setelah kita turun dari kapal dan menginjakkan kaki di jembatan dermaga.
Tarif sewa mobil pun bervariasi tergantung dari jenis kendaraannya. Saat itu kami memesan mobil minibus (Kijang Innova) dengan tarif Rp 600.000 per 24 jam, sudah termasuk pengemudi dan bahan bakar. Untuk harga terkini kemungkinan besar sudah berubah ya guys, karena sudah ada beberapa kali penyesuaian harga BBM.
Driver kami bernama Ade, pemuda Aceh asli yang mengenal betul segala seluk beluk Kota Sabang. Dia memandu kami layaknya guide profesional.

* Tips: sebaiknya kita lebih dahulu memesan/menyewa kendaraan sebelum sampai ke Sabang, baik melalui pemesanan online (dari internet) maupun melalui pusat informasi di Banda Aceh (seperti yang kami lakukan) untuk mendapatkan harga dan deal terbaik.

Dari Pelabuhan Balohan kami mulai mengeksplorasi Sabang.
Pemandangan indah di sepanjang jalan sangat memanjakan mata kami.
Di beberapa spot Ade menghentikan kendaraan dan memberi kesempatan bagi para tamunya untuk berfoto ria.

Pesona Bahari Sabang

Di Sabang banyak sekali destinasi wisata yang sangat sayang untuk dilewatkan terutama wisata baharinya.
Snorkeling dan Diving masih menjadi andalan pesona wisata bahari Sabang.
Namun demikian panorama alamnya pun tak kalah memukau, diantaranya deretan pantai cantik yang mengelilingi Pulau Weh dan dapat kita lihat di sepanjang perjalanan yang kita lalui:

  • Pantai Anoi Itam

Pantai yang berada di wilayah timur kota Sabang ini berbeda dengan pantai-pantai lain di sana, karena pasirnya berwarna hitam dan memiliki berat jenis yang berbeda dengan pasir hitam lainnya, yaitu tiga kali lebih berat. Konon, hal ini berkaitan dengan kandungan nikel yang tinggi di dalamnya.
Dari Pantai Anoi Itam kita dapat menikmati sunrise yang sangat cantik.
Di dekat pantai terdapat Benteng Jepang, dengan lokasi yang strategis, di atas bukit di tepi pantai, sesuai dengan fungsinya dahulu sebagai tempat berlindung bagi pasukan Jepang.

  • Pantai Sumur Tiga

Di tepi pantai ini terdapat banyak penginapan, dan ada sumur yang dilewati bila kita menuruni anak tangga dari atas menuju ke bibir pantai. Air sumur ini rasanya tawar walaupun berada di tepi pantai.

  • Pantai Kasih

Terletak di bawah sebuah tebing, sehingga kita harus menuruni anak tangga untuk mencapainya. Ada guest house bagi wisatawan yang ingin menginap di pantai ini.
Sunset di Pantai Kasih terkenal sangat indah.

  • Sabang Fair

Pantainya sangat romantis untuk menikmati matahari terbenam. Jangan lupa membawa kamera (video) untuk mengabadikan detik-detik dimana sang surya mulai turun ke cakrawala sampai terbenam dan menyisakan semburat jingga di langit Sabang. Indah tiada terkira.

  • Pantai Gapang

Banyak wisatawan asing memilih tempat ini untuk tinggal berlama-lama di rumah penduduk karena pantainya sangat tenang dan mudah untuk menjadi titik start kapal menuju lokasi snorkeling.

Jangan lewatkan untuk mencicipi kuliner yang disajikan di kedai-kedai penduduk setempat di pinggir pantai. Menunya berupa ikan bakar dan kopi Aceh yang sangat terkenal itu.

  • Pantai Teupin Layeu

Pantai ini terletak di Desa Iboih, sehingga lebih dikenal dengan nama Pantai Iboih, dan merupakan titik awal menuju Pulau Rubiah, lokasi favorit untuk ber-snorkeling.

Banyak kedai-kedai makanan yang berada di tepi pantai.
Yang perlu diperhatikan, bila kita datang pada saat mendekati waktu sholat Jum’at kedai-kedai ini tutup dan akan buka kembali setelah sholat usai. Jadi, sebaiknya persiapkan juga bekal makanan cadangan untuk pengganjal perut.

  • Tugu/Monumen Kilometer Nol

Di sinilah titik paling ujung (barat) dari wilayah Indonesia tercinta. Suvenir yang dapat dibawa pulang dari tempat ini adalah sertifikat bertuliskan nama kita sebagai tanda bukti bahwa kita telah menginjakkan kaki di titik kilometer nol Indonesia. Pilihan spot foto di lokasi ini selain di monumennya juga di pantainya yang sangat indah.

  • Pantai Pasir Putih

Di sini kita dapat menjumpai kehidupan di desa nelayan yang masih alami dan tradisional, berbeda dengan pantai-pantai lain yang banyak berjajar penginapan/resort di tepi pantainya.

Selain pantai, beberapa destinasi lain yang tak kalah menarik adalah:

  • Air Terjun Pria Laot

Untuk menuju ke lokasinya kita harus berjalan kaki melewati pedesaan yang sejuk, sungai yang jernih airnya, hutan dengan pepohonan yang rimbun, serta bebatuan besar yang sangat memerlukan kehati-hatian untuk dilalui, selain karena licin juga karena konturnya yang tajam-tajam. Sangat menantang namun menyenangkan.

  • Danau Aneuk Laot

Merupakan sumber air tawar dan PLTA bagi seluruh pulau.
Pemandangan indahnya dapat kita nikmati dari atas kendaraan.

Kuliner
Soal kuliner? Tak perlu ditanya lagi, yang jelas semua makanan yang kami cicipi rasanya enak dan enak banget.
Yang sangat terkenal tentu saja Sate Gurita yang maknyuss sekali.
Ada pula Mie Aceh (dengan beberapa pilihan pelengkapnya, seperti: cumi, telur, udang, dan lain-lain).
Kemudian yang agak aneh di telinga kami adalah ‘bakso tok’ (karena dalam Bahasa Jawa kata ‘thok’ berarti ‘saja’).
Satu lagi adalah Nasi Guri yang kami nikmati sebagai fasilitas menu sarapan di penginapan.
Oh ya, salah satu tempat makan yang cukup nyaman adalah di Taman Wisata Kuliner yang terletak di tepi pantai dimana kita bisa menikmati hidangan di alam terbuka ditemani suasana malam dan angin laut yang sepoi-sepoi.

Tarif Masuk Obyek Wisata
Hampir semua destinasi yang kami kunjungi tidak mematok tarif masuk, kecuali beberapa tip yang dapat kita berikan secara sukarela untuk penduduk setempat (termasuk untuk parkir kendaraan). Namun bila kita ingin mendapatkan sertifikat di Tugu Kilometer Nol, kita harus mengeluarkan biaya untuk pengganti cetaknya (sekitar Rp 20.000 – Rp 40.000 per lembar). Juga bila kita ingin ber-snorkeling tentu saja akan dikenakan biaya sewa perahu dan peralatan snorkeling/diving-nya.

Sungguh, benar-benar destinasi wisata yang luar biasa dan tak boleh dilewatkan sama sekali.
So, jangan kalah dengan para wisatawan asing ya guys!
Selamat menjelajah dan menikmati kecantikan pesona bahari Sabang.
Jangan lupa ajak kami, yang sudah kangen kembali lagi ke sana :).

Traveler, travel writer, blogger, author of "Edelweiss Terakhir" (a traveling fiction based on true story), housewife (ibu rumah tangga).

Leave a Reply