Sangihe, Kepulauan Ujung Utara Indonesia yang Mempesona

Bicara soal kepulauan – kepualauan di Indonesia memang tidak ada habisnya. Salah satunya adalah kepulauan Sangihe. Letaknya dibagian utara Indonesia, hampir berdekatan dengan perbatasan negara Filipina. Indahnya? Hmm..jangan ditanya. Kata orang sih eksotis.

Saya, sebagai seorang yang lahir dari ibu yang berasal dari Sangihe, merasa sangat berdosa jika belum sekalipun menginjakkan kaki di kampung halaman ibu. Dan pada bulan Juli 2016 kemarin, saya berkesempatan untuk pulang kampung. Cukup unik ceritanya, hingga saya bisa menginjakkan kaki disana. Karena persiapan keberangkatan bisa dibilang mendadak, saya hanya berangkat sendirian dan berbekal foto saudara-saudara saya yang di Sangihe. Sebab saya belum pernah bertatap muka secara langsung dengan mereka. Hanya beberapa saudara saya yang pernah ke Solo, namun lainnya, komunikasi hanya lewat sosial media dan sms.

Dan ini merupakan perjalanan terjauh saya pertama kali dalam hidup saya, sendirian. Amazing.

Perjalanan saya dimulai tanggal 4 Juli 2016. Dengan menggunakan pesawat terbang saya berangkat dari bandara Adi Sumarmo Solo sekitar pukul 6 pagi. Kebetulan penerbangan yang saya ambil adalah penerbangan satu hari, karena saya mengejar waktu tiba di Manado sebelum pukul 5 sore, sebab kapal yang akan menyebrang dari Manado ke Tahuna, Kep. Sangihe mulai berlayar pukul 6 sore. Dari Solo, saya tiba di Balikpapan sekitar pukul 10 waktu setempat untuk transit. Saya harus menunggu 3 jam di Balikpapan untuk terbang lagi ke Manado. Sambil menunggu waktu, mengingat karna saya sendirian,  saya berjalan-jalan di area ruang tunggu gate tempat saya menunggu. Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan cukup mengagumkan. Desain bandara yang modern dan cantik.

Bandar Udara Sepinggan
Bandar Udara Sepinggan
Jalan menuju pesawat, di Bandara Sepinggan
Jalan menuju pesawat, di Bandara Sepinggan

Setelah lama menunggu, akhirnya pesawat menuju Manado datang. Tanpa menunggu lama, penumpang dipersilahkan memasuki pesawat. Perjalanan Balikpapan ke Manado sekitar 2 jam. Jadi saya sampai di Bandara Sam Ratulangi Sekitar pukul 3 lebih. Beruntung, waktu itu saya hanya berbekal action cam yang sangat kecil sehingga saya bisa mengabadikan momen pemandangan kepulauan Sulawesi dari dalam pesawat.

Cantiknya Indonesiaku Diatas Awan
Cantiknya Indonesiaku Diatas Awan

Mengagumkan! Indonesiaku cantik sekali!

Setibanya di Bandara Sam Ratulangi, the real journey has began. Saya harus menunggu saudara saya yang akan menjemput saya untuk ke pelabuhan Manado. Dengan berbekal ingatan, saya mulai mencari saudara saya yang wajahnya cukup saya ingat. Akhirnya kami bertemu dan segera menuju ke pelabuhan. Di pelabuhan Manado, kondisinya sangat macet, banyak orang yang akan menyebrang. Kami segera menuju tempat pembelian tiket kapal. Harga tiket kapal sekitar Rp. 160.000 untuk kamar barak ( Semua penumpang ada dalam satu ruangan –termasuk barang bawaan dan hewan-hewan– yang terdiri dari beberapa tempat tidur susun) .  I can’t take a good picture inside the ship, karena kondisi sangat padat dan ramai, juga panas.

Welcome To Manado :)
Welcome To Manado 🙂
Kondisi dalam kapal. Menyatu :D
Kondisi dalam kapal. Menyatu 😀

Perjalanan dari Manado ke Kep.Sangihe sekitar 12 jam  menggunakan kapal laut biasa. Tersedia juga kapal cepat, hanya setengah hari perjalanan, namun harus siap obat anti mabuk  yang banyak hehe.  Tiba di pelabuhan Tahuna, Selasa 5 Juli 2016  pukul 6 pagi waktu setempat, saya dan beberapa saudara sudah dijemput oleh saudara saya dari Sangihe. Tahuna merupakan ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe . That was wornderful feeling! Sebenarnya, untuk menempuh perjalanan dari Manado ke Tahuna, Kep.Sangihe, dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang. Namun untuk rute teresebut hanya dibuka di hari-hari tertentu. Dan saya tetap memilih kapal sebagai alat transportasi penyebrangan. Sesampainya di pelabuhan Tahuna, perjalanan kami sangat menyenangkan selalu melewati laut dan banyak kebun. Suasana begitu asri, damai, dan sejuk.

Kapal Laut Teratai
Kapal Laut Mercy Teratai
View sekitar Pelabuhan Tahuna
View sekitar Pelabuhan Tahuna

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang tidak cukup lama,  kami tiba dirumah opa Marthinus Adare. Disana saya mulai bertemu saudara-saudara yang belum pernah saya temui sebelumnya. Bahagia, karena saya merasa ada dirumah, bukan dimana-mana. Saya bukan berada dirumah orang asing, namun dirumah saudara saya sendiri. Saya  senang sekali!

Foto bersama ^^
Foto bersama ^^

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kerumah saudara saya di Manalu. Menempuh beberapa waktu, kami tiba dirumah kakak ibu saya, di Manalu, Kecamatan Tabukan Selatan. Kami dijamu dengan makanan khas orang Sangihe. Ikan laut , sagu, dan sambal dabu-dabu! Ikan lautnya masih segar. Hasil tangkapan nelayan disana dan langsung dijual dipasar. Makanan ini menjadi salah satu makanan favorit saya seumur hidup. Meskipun baru sekali ini saya pergi ke kampung halaman, namun di Solo, ibu saya sering membuat masakan khas orang Sangihe. Sampai-sampai harus minta kiriman sagu langsung dari saudara di Sangihe.

Rumah Mama akang Rina, tempat saya tinggal selama di Manalu
Rumah Mama akang Rina, tempat saya tinggal selama di Manalu
Makanan Pembuka Terlezat Sedunia :D
Makanan Pembuka Terlezat Sedunia 😀

Setelah makan dan menaruh barang-barang,  saya dan sepupu – sepupu saya mulai memikirkan akan kemana setelah ini. Saya yang tidak tahu apa-apa soal Sangihe, cuma bisa senyum-senyum dan ikut aja kemanapun mereka pergi. Oya, saya terkendala bahasa. Karena lahir di Jawa, ibu saya sangat fasih berbahasa Jawa, namun saya tidak fasih berbahasa Sangihe. Saya sedikit tahu tentang bahasanya, namun untuk mengucapkannya sulit. Kalau kata orang Jawa “medok” . Tapi itu tidak menjadi masalah yang berarti, sebab bahasa Indonesia menyatukan semua suku, bukan begitu? 🙂 Jadi saya selalu berbahasa Indonesia saat berkomunikasi.

Dan akhirnya, petualangan kami dimulai di sebuah air terjun didaerah Bentung. Jaraknya sangat dekat dengan rumah saudara saya, sekitar 10 menit menggunakan mobil. Tapi jangan harap kami bisa sampai ke lokasi air terjun dengan mudah. Kami harus parkir mobil di sebuah sekolah didekat air terjun itu. Setelah itu perjalanan menuju lokasi air terjun kami lakukan dengan berjalan kaki. Jarak tempuh sekitar 20 menit. Jalannya lumayan jauh, melewati kebun-kebun, semak-semak, bahkan harus menyeberangi sungai-sungai kecil berbatu licin. Dengan sangat hati-hati kami berjalan dan sakhirnya tibalah kami di air terjun Bentung! Yeay!

 

Jalan menuju air terjun Bentung, melewati sungai berbatu
Jalan menuju air terjun Bentung, melewati sungai berbatu
Melewati semak-semak untuk sampai ke air terjun Bentung
Melewati semak-semak untuk sampai ke air terjun Bentung
Viola!
Viola!
Byurr!
Byurr!
Sorry, we collect moment :)
Sorry, we collect moment 🙂

Tempatnya sangat sepi, jelas masih alami.  Saudara-saudara saya yang laki-laki tanpa pikir panjang langsung melepas kaos dan byuur!! Saya dan sepupu saya yang wanita duduk di bebatuan sambil menikmati suasana. Tidak ada biaya kontribusi untuk memasuki area air terjun tersebut. Kalau boleh dibilang, ini benar-benar “bolang”, bocah petualang.

Puas menikmati keindahan air terjun Bentung, kami pulang dan bersantai di belakang rumah mama akang Rina.   Kalau di Jawa, sebutan Akang sama dengan Budhe/ Pakdhe. Di setiap rumah di Manalu, hampir semuanya terdapat pohon kelapa. Karena disana bahan bakar untuk memasak masih banyak yang menggunakan serabut kelapa, meskipun sudah ada juga yang menggunakan gas, namun cara tradisional ini masih banyak dijumpai. Termasuk dirumah mama akang. Di belakang rumah mama akang terdapat pohon kelapa yang sangat pendek, sehingga kami bisa mengambil buahnya untuk langsung disantap.. Hmm…. segar sekali…

Kelapa Muda Petik sendiri :D.
Kelapa Muda Petik sendiri :D.

Menjelang sore, saudara saya yang mengantar saya dari Manado sampai Manalu, akan pulang lagi ke Manado. Jadi, saya dan Mama Embo Utha mengantar saudara-saudara yang dari Manado untuk kembali ke pelabuhan Tahuna.  Di Jawa, sebutan Embo sama dengan Paklik/Bulik, atau om / tante. Sore itu, sebelum ke pelabuhan, Kami mampir ke sebuah puncak yang sedang hits akhir-akhir ini. Namanya Puncak Pusunge. Dari atas puncak ini, terlihat jelas pemandangan kota Tahuna. INDAH! Waktu tempuh dari rumah mama akang ke Puncak Pusunge lumayan jauh, hampir satu jam, namun terbayar dengan indahnya pemandangan disana. Kami hanya membayar ongkos parkir  mobil  lalu bebas berfoto ria .

Me, on the top of Pusunge
Me, on the top of Pusunge
My Family :)
My Family 🙂
Hello sunset...
Hello sunset…
Closer. Me and my cousins :)
Closer. Me and my cousins 🙂

Selain tempat yang indah , di area Puncak Pusunge terdapat beberapa warung yang menjual makanan dan minuman seperti kopi, teh, susu, pisang goreng, mie. Kami membeli beberapa porsi pisang goreng dan teh hangat serta tak lupa rica (sambal) sebagai pelengkap pisang goreng. Disana, pisang goreng dimakan bersama dengan sambal adahal hal yang wajar dan sangat nikmat. Apalagi dengan udara yang dingin di puncak…sedapp.

Pisang Goreng dan Sambal . Perfect !
Pisang Goreng dan Sambal . Perfect !
can't believe i've been here :)
can’t believe i’ve been here 🙂

Waktu menjelang malam dan kami bergegas menuju pelabuhan. Setelah mengantar saudara sampai mendapat tempat didalam kapal, saya dan mama embo kembali ke Manalu. Sebelum pulang ke rumah mama akang, tempat saya akan menginap, kami mampir dahulu kerumah sepupu perempuan saya, Nino, untuk menjemputnya. Saya baru sadar, saat itu sedang musim panen cengkih. Semua orang dikampung itu memiliki pohon cengkih! Tak terkecuali opa saya. Meski opa dan oma sudah sangat lama meninggal, kebun opa masih dirawat dengan sangat baik oleh keluarga disana. Dan waktu itu, panen cengkih sangat banyak dari kebun opa. Rumah Nino penuh cengkih! Wow, saya cuma bisa tercengang dan bersyukur. Hari itu diakhiri dengan indah. Pulang kerumah mama akang dengan semerbak bau cengkih kering disepanjang jalan. Wangi.

Lautan Cengkih :D
Lautan Cengkih 😀

Rabu, 6 Juli 2016 . Hari itu sangat cerah.  Selesai mandi dan sarapan, Nino ingin mengambil baju dirumahnya. Akhirnya kami berdua mengendarai motor untuk menuju rumah Nino. Ternyata, didekat rumah Nino, ada pantai berpasir hitam yang cukup sepi.  Namanya Pantai Ake Pakang. Jarak pantai dari rumanya hanya 5 menit. JALAN KAKI. Saya mau disinilah selamanya hahahaha… Siang itu, menunggu air laut surut, saya membantu Tante Omi dan saudara-saudara yang lain untuk membersihkan batang cengkih. Tante Omi adalah ibu dari Nino. Clear enough :). Cengkih yang dipanen bisa sampai berkarung-karung. Biasanya para tetangga terdekat membantu memisahkan batang cengkih dan bunganya. Cengkih kering dijual bisa mencapai Rp. 100.000,-/kilo. Proses penjemuran cengkih hingga kering biasanya memakan waktu2-3 hari jika cuaca benar benar cerah dan panas. Dan biasanya, mereka menjual cengkih pada saat tidak musim panen, sebab harganya bisa sangat tinggi.

Cengkih. Detail.
Cengkih. Detail.
Saya memilah bunga cengkih :)
Saya memilah bunga cengkih 🙂
Happiness.
Happiness.
Deretan cengkih yang dijemur dan sudah kering.
Deretan cengkih yang dijemur dan sudah kering.

Setelah membantu memilah-milah cengkih, kami makan dulu sebelum ke pantai. Menu masih sama. Sagu kelapa dan ikan laut ditambah pedasnya dabu-dabu. Sungguh siang hari yang membakar semangat 😀

Best Lunch!
Best Lunch!

Akhirnya, kami menengok di pantai, air telah surut, saya, Nino, Tante Omi dan suami, dan ada saudara yang lain bergegas ke pantai Ake pakang. Hanya berbekal jaket dan action cam, saya berjalan dengan penuh semangat menuju pantai. Papanya Nino membawa jala untuk mencari ikan, keponakan saya, Tias, membawa layang-layang untuk diterbangkan di pantai yang surut.

In frame, Nino
In frame, Nino
How great the Lord!
How great the Lord!

Dan benar saja, keadaan pantai benar-benar sepi, tidak begitu panas udaranya. Sejuk . Kami berjalan menyisir pantai. Tak lupa sambil berfoto bersama, mencari bintang laut dan kerang yang nantinya akan dimasak. Lalu saya, Nino, Tias dan yang lainnya sibuk mencari hewan-hewan laut.

Me, Tias, and Astrid.
Me, Tias, and Astrid. Behind me, papanya Nino dibelakang sana mencari ikan 😀
Bintang Laut hidup
Bintang Laut hidup
Kerang Mata Sapi, berprotein tiinggi. Sering dikonsumsi.
Kerang Mata Sapi, berprotein tiinggi. Sering dikonsumsi.

Pantai ini dikelilingi oleh tumbuhan kelapa yang sangat tinggi. Itulah mengapa, Sulawesi Utara disebut sebagai Negri Nyiur Melambai, karena memang banyak terdapat pohon kelapa yang tumbuh. Bahkan dipinggir pantai, pohon kelapa banyak yang tumbang dengan sendirinya hingga bisa kami pakai untuk bergelantungan 😀 .

bpro0468-01

Nino and her sister
Nino and her sister
bpro0508
Rumah Nino , atap merah sebelah kiri. Kami sedang berjalan pulang dari Pantai Ake Pakang 😀

Sepulang dari pantai, kami istirahat sejenak. Sore harinya saya diajak mama ari ke makam oma. Makam oma dan opa letaknya jauh. Oma di manalu, opa di Toli-Toli, Sulawesi Tengah. Bentuk makam disana hampir mirip dengan makam-makam orang Tionghoa. Besar, bersih, dan terawat. Pun dengan makam oma, meski banyak ditumbuhi rumput-rumput liar disekelilingnya, tetap terlihat kokoh dan bagus. Hari itu berakhir dengan menyenangkan!

Makam Oma :)
Makam Oma 🙂
Makam Papa akang, dibelakang rumah mama akang :)
Makam Papa akang, dibelakang rumah mama akang 🙂

Kamis, 7 Juli 2016, saya dan Nino berencana untuk pergi ke pantai yang lain didaerah Manalu. Karna jaraknya lumayan jauh dan jalannya cukup menanjak, kami mengajak tiga sepupu laki-laki kami untuk ikut serta. Kami berangkat mengendarai motor pukul 9 pagi waktu setempat. Perjalanan cukup jauh. Jalannya naik turun. Sekitar 45 menit dari tempat kami tinggal. Pantai Malahi namanya. Hampir mendekati lokasi pantai, lautan sudah nampak biru dikejauhan .

I saw sea!
I saw sea!

Kami harus parkir motor dipinggir jalan, SEBAB, kami harus berjalan kaki untuk sampai ke Pantai Malahi. Jalan menuju pantainya bagaimana? Cukup curam. Tanah licin karena hujan yang turun beberapa hari sebelumnya. Bebatuan sangat sedikit sehingga sedikit pula tumpuan kaki kami. Hanya pohon yang bisa kami pegangi erat agar kami tidak jatuh. Perjuangan yang berat.

Sampai di bibir pantai, OH MY GOD! Saya cuma bisa tercengang, lagi dan lagi.

Vitamin Sea!
Vitamin Sea!

Sangihe sungguh menawan. Pantai Malahi masih perawan. Bersih, jernih, pasir putih. INDAH SEKALI.

Tidak ada orang satupun. Hanya kami berlima penghuninya. Desiran ombak terdengar keras, pasir putih luas, air biru cerah. Oh indahnya… Kami duduk sejenak dibawah pohon kelapa, sambil memakan bekal yang kami bawa dari rumah, kemudia berfoto bersama. Kami tak lama disana, karena cuaca sangat terik, dan saudara saya berkata ini cuaca yang tidak baik untuk berenang, akhirnya kami hanya satu jam dan kembali ke tujuan selanjutnya. Tapi Pantai Malahi membekas dihati :’)

W.O.W
W.O.W
Tim Bolang :D
Tim Bolang 😀
Me..
Me..
Berteduh dibawah poho kelapa.
Berteduh dibawah poho kelapa.
How can i describe this?
How can i describe this?

Selepas dari Pantai Malahi, kami pergi turun kebawah melanjutkan petualangan kami ke air terjun Kalagheng. Perjalanan sekitar 30 menit. Kami harus melewati kebun-kebun dan perkampungan warga untuk sampai kesana. Setelah mendekati area air terjun, motor kami titipkan dirumah warga dan kami kembali berjalan melewati rimbunnya semak-semak. Kali ini medan-nya lebih mengerikan. Jalan menuju air terjun sangatlah curam. Dengan tanah basah dan sedikitnya batu untuk pijakan, kami sangat berhati-hati melewatinya. Akar pohon besar jadi tumpuan. Saya hampir terpeleset karena licinnya jalan. Tapi Puji Tuhan kami berhasil turun dengan selamat :’) .

Welcome to air terjun Kalagheng
Welcome to air terjun Kalagheng
Hati-hati, ada ular :D
Hati-hati, ada ular 😀
Air terjun, hijau, tanah merah
Air terjun, hijau, tanah merah

Dan nampaklah suara air yang terjun dari tebing menuju kebawah. Tak sabar, sepupu saya melepas kaos dan byuurr! Mereka meloncat bebas dan berenang di bawah air terjun. Saya hanya berjalan-jalan di sekitarnya sambil mengambil beberapa foto. UNDESCRIBABLE. Jangan tanyakan berapa biaya kontribusinya.

Berenang lagi...
Berenang lagi…

Sebab Sangihe menyediakan begitu banyak pesona alam GRATIS. Kita hanya perlu MENJAGA dan MELESTARIKANNYA. Jangan kotori apalagi merusak pesonanya.

Puas berenang dan bermain air di air terjun Kalagheng, kami bergegas pulang dan kembali harus menaiki jalan yang sangat menanjak. Saya hampir menangis. Karena tubuh saya yang bisa dibilang tidak kurus, saya sangat lelah dan tidak kuat. Jalannya benar-benar mengerikan. Tapi berkat bahu membahu dengan saudara-saudara, kami berhasil naik. Yeaa!!!

Kami pulang dan makan siang dirumah mama akang, ternyata disana sudah menunggu opo Alfried. Dia adalah anak pertama mama akang. Setelah membersihkan badan, kami berbincang-bincang. Opo mengajak saya dan Nino untuk berkunjung ke kebun cengkih opa di Bowolaghu. Tanpa pikir panjang saya meng-iya-kan ajakan opo untuk kesana. Kapan lagi saya ke Sangihe? Saya berangkat bersama dengan opo, Nino, dan sepupu saya yang lain.

Perjalanan ke Bowolaghhu membonceng opo :)
Perjalanan ke Bowolaghhu membonceng opo 🙂
Nice scenary at Bowolaghu
Nice scenary at Bowolaghu

Sampai di Bowolaghu, opo menceritakan tentang opa. Ternyata kebun opa sangaaat luas. Pohon cengkihnya tinggi-tinggi. Banyak cerita yang diceritakan opo tentang keluarga kami di masa lalu. Saya bersyukur bisa mengetahui hal itu. Dan saya semakin cinta dengan tanah kelahiran ibu saya. 🙂

Kebuun cengkih opa di kanan kiri jalan
Kebun cengkih opa di kanan kiri jalan
Berfoto bersama nino di kebun cengkih opa.
Berfoto bersama nino di kebun cengkih opa.
Cengkih masih baru dipetik dari pohon,
Cengkih masih baru dipetik dari pohon,

Turun dari Bowolaghu, kami mampir ke puncak Lesebe. Dari puncak Lesebe nampak pulau-pulau kecil ditengah laut yang sangat indah. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya beruntung bisa ada disana waktu itu. :”). Hari kamis yang manis….

Jalan menuju puncak Lesebe
Jalan menuju puncak Lesebe
Indahnya :')
Indahnya, melihat kepulauan kecl diseberang sana :’)
bpro0556-01
High place, Puncak Lesebe, you rock!!

Jum’at 8 Juli 2016, hari terakhir saya di Sangihe. Sedih karna tak cukup punya banyak waktu untuk tinggal disana. Hari itu saya gunakan untuk berpamitan dengan saudara-saudara di Manalu. Setelah mengemasi barang-barang, saya berangkat ke pelabuhan Tahuna diantar oleh mama embo dan mama akang. It was emotional moment. Saya rasanya belum ingin pulang. Saya ingin tinggal lebih lama. Tapi saya harus pulang. :’)

ma ari Omi, ma akang Ria, ma embo Uta :)
Tante Omi, ma akang Ria,  embo Uta, terima kasih 🙂

Sangihe menyimpan berjuta pesona yang masih belum dijamah, namun indahnya tak terkatakan. Saya bangga menjadi salah satu manusia yang lahir dari ibu berdarah Sangihe. Saya ngga perlu kemana-mana lagi. Sangihe cukup indah untuk dikunjungi, Indonesia sangat indah untuk ditinggali..

Sampai jumpa dilain waktu, Manalu, Kep.Sangihe, Sulawesi Utara. 🙂

#KitaINA

Menikmati indahnya setiap detail Indonesia adalah mimpi dan cita-cita. Berada ditengah keluarga yang memiliki perbedaan latar belakang budaya, membuat saya mencintai Indonesia lebih dalam.

Leave a Reply