Satu Hari di Kota Semarang

b-ls4
Lawang Sewu kebanggan Kota Semarang.

Semarang termasuk kota tujuan trip saya yang selalu masuk wacana aja, tapi mumpung ke Pulau Karimun Jawa transitnya di Kota Semarang, saya nggak mau melewatkannya. Memang saya terikat banget sama waktu hanya 1 hari 1 malam. Sulit juga mengatur waktu keliling Kota Semarang hanya 1 hari apalagi kalau ngeteng.

Lawang Sewu

b-ls1
Pelataran dalam Lawang Sewu.

Lawang Sewu yang berarti seribu pintu dalam bahasa Jawa, terletak di persimpangan tugu muda. Bangunan kuno art deco ini terawat dengan baik dan dibangun oleh Belanda dengan amat sangat matang tiap detailnya.Menunggu jadwal kereta peserta open trip Karimun yang lain kita mengunjungi bangunan Lawang Sewu. Tiket Rp 10.000,-/orang dengan guide lokal, kami diceritakan sejarah dan diajak berkeliling bangunan bekas kantor pusat Kereta Api Hindia Belanda ini.
Saya rangkum cerita ini dari cerita sang tour guide dan pengamatan saya (keren kan !). Saya berani klaim perhitungan matang, karena saat Belanda membangun Kantor Pusat Kereta Api ini mereka melihat aspek geografis Kota Semarang. Kota Semarang berada di tengah Pulau Jawa, aspek strategis itu yang menyebabkan kenapa Semarang dijadikan Kantor Pusat Perkeretaapian Hindia Belanda.
Sejak dulu Semarang dikenal banjir, tepatnya bajir rob, karena letaknya di pesisir utara pantai Laut Jawa, maka tidak heran jika air laut seringkali membanjiri pemukiman. Bahkan saat saya mengunjungi Semarang banjir rob tengah menggenangi jalan yang saya lewati. Orang Semarang beralasan karena pantai yang seharusnya menjadi jalur air laut malah dibangun pemukiman. Jadi, manusia kan yang salah !

banjir-rob
Mobil melewati banjir rob.

Jaman dahulu jalur laut merupakan transportasi paling popular antar pulau maupun luar negeri. Tanjung Mas Semarang, menjadi pintu gerbang perdagangan Hindia Belanda di Jawa Tengah saat itu. Untuk mendistribusikan ke sekitar pulau Jawa dibutuhkan kereta api mengangkutnya.
Ada 2 pintu masuk ke ruang bawah tanah tersebut. Hanya 1 yang dibuka dahulu, kenapa sudah ditutup ?! karena tiap pengunjung yang masuk pasti ada saja yang kesurupan, ngeri juga ya, maka tangga menuju ruang bawah tanah tersebut dicopot. Si bapak guide ini mengebu-gebu kalau nggak setuju ruang bawah tanah ditutup, karena menurutnya berpotensi sebagai wisata, misalnya wisata malam. Ah si bapak ada-ada aja, saya aja yang cuma liat lorong gelap itu merinding disko, ini malah wisata malam, ya nggak apa-apa sih, mungkin petugasnya jangan sampai capek ya sadarin orang kesurupan tiap hari.

b-bwhtnh
Pintu menuju ruang bawah tanah yang sekarang sudah tidak difungsikan lagi.

Karena itulah, Belanda membangun Lawang Sewu dengan banyak lubang dan saluran air di sekelilingnya. Konon ruang bawah tanah yang katanya sebagai penjara juga sebagai saluran air banjir. Ya ruang bawah tanah yang di acara TV muncul kuntilanaknya itu, beberapa waktu terakhir sudah ditutup untuk umum.

Lawang sewu nggak benar-benar punya pintu seribu, hanya mendekati seribu. Bangunan buatan Belanda di Indonesia identik memiliki pintu dan jendela yang tinggi dan banyak, karena iklim Indonesia yang tropis. Selain ruang kantor yang selalu ada keran air di tiap sudutnya, ada juga aula tempat orang-orang Belanda berpesta, ruang pengintai di atap gedung tanpa tiang pancang, menara gedung yang diatasnya terdapat tandon air hujan, bangunan sumur, dan toilet.

b-ls2
Menara yang dahulu difungsikan sebagai tandon air hujan.

Lawang Sewu juga menjadi saksi bisu pertempuran lima hari para pejuang Indonesia dari Belanda. Beberapa pejuang yang mati dikubur di pekarangan samping gedung, dengan bantalan kayu kereta api sebagai penandanya. Namun, jasad pejuang tersebut sudah dipindahkan ke Makam Pahlawan.Nah toilet ini paling mencuri perhatian saya, selain penasaran dari cerita dari tour guide. Berasa di film Harry Potter suasana toiletnya, desain wastafel yang lebar dengan keran yang asli cap Amsterdam Belanda, serta urinoir laki-laki yang nggak seperti pada umumnya

b-ls3
Pohon mangga lalijiwo peneduh pelataran Lawang Sewu.
atap
Rangka atap yang mirip kapal laut terbalik.
c-spda
Tempat parkir sepeda jaman dahulu bagi karyawan Belanda.
b-jndla
Jendela kaca patri wanita air dan api yang menjulang.

Sepertinya Pemkot Semarang memperhatikan betul gedung ini, terlihat dari bangunan yang terawat, bersih, dan nyaman dikunjungi. Tersedia guide yang siap menghantar wisatawan ke tiap sudut cerita, jadi tempat kece berfoto ria, dan atau hanya sekedar menikmati langsung musisi ditiap weekend.

Ada hal menarik dari si bapak tour guide Lawang Sewu saya, biar kelihatannya sudah tua dan lusuh tapi doi semangat banget cerita sejarahnya bahkan kalau coba saya revisi dia nggak mau terima 😀 dan doi juga pintar ambil angel foto buat tamunya dan mahir banget mengoperasikan Iphone bahkan ngatur kami buat ikutin gaya dia. Menurut saya itu full service si bapak sebagai tour guide, kerja tuntas memuaskan, matur nuwun nggih pak !

bjejer
Hasil jepretan bapak tour guide ala-ala candid.

Cari Hostel murah backpaker di Semarang

bhostel
Plang Imam Bonjol Hostel.

Setelah browsing tentang penginapan murah di Semarang, Hostel Imam Bonjol jadi pilihan kami karena tersedia 1 room 4 guest Rp 300.000,-/malam . Untungnya hostel hanya 500m dari Lawang Sewu. Terletak di Jalan Imam Bonjol Semarang, bangunan berbentuk ruko diatas Alfamart.

Tempatnya bersih, ibu resepsionisnya baik, kamar mandi ada 4, air mineral sepuasnya, kamar bersih dan AC, dan tempat strategis. Karena hostel backpacker, maka jangan heran kalau banyak bule di situ.

Simpang Lima

bsimpang5
Simpang Lima di malam hari.

Saya memesan tahu gimbal khas Semarang. Tahu gimbal berisi tahu putih goreng, bakwan udang, ketupat, dan kol mentah yang semuanya diiris dan disiram kuah sambel kacang, Rp 15.000,-/porsi. Teman saya yang lain memesan nasi kucing angkringan.

Sekeliling Simpang Lima berjejer tenda-tenda makan, tepat untuk kulineran.Setelah Isya saya beranjak ke Simpang Lima untuk berkeliling sekalian makan malam. Jalan raya di depan hostel saya tidak ada angkot yang langsung menuju Simpang Lima. Maka saya jalan kaki ke depan Lawang Sewu, disana rata-rata angkot menuju ke Simpang Lima. Ada Mikrolet, Trans Semarang, dan Shuttle gratis. Fyi, angkot dari Tugu Muda ke Simpang Lima Rp 3000,-.

btahu
Tahu gimbal khas Semarangan.
bkami
Jangan lupa bahagia !

Berburu Bandeng dan wingko babat

bjalan
JL Pandanaran di malam hari.

Kenyang, saya berkeliling Simpang Lima, banyak penyewaan sepeda lampu warna-warni. Kami memilih duduk di bangku taman menikmati satu malam di Simpang Lima. Tak terasa waktu menunjukan hampir jam 22:00, kami kembali ke hostel by taksi. Harga jauh-dekat Rp 20.000,-.

Hari ini, hari terakhir saya mengakhiri trip Karimun-Semarang. Saya hanya punya waktu setengah hari untuk menjelajah Semarang. Memang nggak cukup, rencana mengunjungi klenteng Sam Poo Kong tapi apa daya waktu saya terbatas.

Oiya saya sempat shuttle  gratis. Mobil ini tipe Elf 12 orang, kalau dilihat dari gambar stiker di bodi mobil ditujukan sebagai kendaraan wisata keliling Semarang. Kami hanya menunggu di halte shuttle yang sudah disediakan dan shuttle akan berangkat berapa pun jumlah penumpangnya. Sayangnya ini masih uji coba, jadi rute yang dilaluinya sangat pendek sebagai shuttle wisata. Pemkot Semarang baru berencana menambah pemberhentian wisata nanti. Oke fix nanti saya main lagi ke Semarang.

bshuttle
Shuttle gratis.

Saat ini shuttle gratis baru melayani pusat kuliner Batan, Jl MH Thamrin, Jl Pandanaran, Tugu Muda, dan kembali ke Pandanaran. Shuttle beroperasi dari jam 07:00 – 22:00 WIB dan kendaraan ini terbilang masih baru. Ya Pak Ganjar, gambar shuttlenya gereja blenduk Kota Lama, tapi shuttlenya nggak sampai sana.

Pusat oleh-oleh banyak berjejer di sepanjang jalan pandanaran. Shuttle gratis juga berhenti di sini. Apalagi kalau bukan Bandeng dan wingko yang kami borong untuk keluarga dan rekan kantor. Secukupnya aja sih biar nggak dibilang pelit, kalau aja orang tahu kalau namanya ngetrip atau traveling itu butuh budget yang nggak sedikit juga, biar kata temanya backpakeran. (malah curhat)

Saya terasa dikejar waktu, karena kereta berangkat jam 19:25. Si ibu hostel baik hati mengijinkan ransel kami dititipkan di meja resepsionisnya. Daripada kami belanja oleh-oleh sambil gendong ransel.

Rutinitas harian memanggil kami sebagai pegawai teladan, saya pamit untuk penutup yang manis di Kota Semarang. Menuju Stasiun Semarang Tawang yang nggak kalah eksotis bangunannya dan bikin kangen.

img_2424
Ruang tunggu stasiun Tawang rasa Eropa.
img_2429
Tampak depan stasiun Tawang.

FYI :

Hostel Imam Bonjol

Jl Imam Bojol 177B (alfamart) Semarang

500m dari Lawang Sewu

024-3562223, 085325283959

Si buruh perusahaan | Si ceriwis lewat tulisan | Penghayal tingkat tinggi | TouristTraveler | Pengaggum detail | VintageLover

Leave a Reply