Sebuah Kampung yang Tak Pernah Termakan Seiring Berkembangnya Zaman

Zamrud khatulistiwa…
Negeri seribu pulau…
Negeri seribu candi…
Gemah ripah loh jinawi…

Rasanya hampir sebagian dari kita tidak keberatan dengan berbagai istilah itu. Bahkan saya, anda, dan kita semua masih memiliki sejumlah julukan lain yang bisa diberikan kepada Indonesia. Berbagai budaya yang tak terhingga jumlahnya, berbagai masakan yang sangat nikmat dilidah, berbagai tarian yang membuat mata kita tercengang, hingga berbagai tempat wisata yang membuat kita enggan mengedipkan mata memang melekat erat pada Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke. Berbagai kesempatan yang memungkinkan saya melakukan perjalanan dari satu daerah ke daerah lainnya di Indonesia memang membuat saya semakin bersyukur dan berterimakasih atas rahmat Tuhan yang diberikan kepada Indonesia.

Selalu saja ada hal yang baru dan membuat saya berdecak kagum melihat kekayaan alam yang dimiliki negeri ini. Segala pancaindera yang saya miliki, mulai dari mata, hidung, telinga, lidah dan kulit tidak pernah berhenti untuk terus terkejut ketika melihat kekayaan Indonesia. Sayangnya, decak kagum yang tiada henti ini belum dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, apalagi internasional. Bukan karena mereka tidak mampu atau enggan merasakan pengalaman yang sama, melainkan karena memang belum mengenal Indonesia sepenuhnya. Melalui cerita inilah, saya mencoba memberikan inspirasi betapa hebatnya kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Indonesia.

Siapa sih yang gak tau Suku Baduy..?  Mulai dari Tukang pejalan hingga Sejarahwan pasti taulah Suku Baduy, iya merupakan suku asli Indonesia yang memiliki keunikan tersendiri. Suku Baduy sendir berasal dari kerajaan pajajaran/ bogor ,konon pada sekitar abad ke XI dan XII kerajaan pajajaran menguasai seluruh tanah pasundan yakni dari banten, bogor, priangan sampai ke wilayah Cirebon, pada waktu itu yang menjadi rajanya adalah PRABU BRAMAIYA MAISATANDRAMAN dengan gelar PRABU SILIWANGI, ( Masih Panjang sih, cuman kalo kepanjangan nanti kamu nya malah tidur bukan baca hehehe).

Menuju Kampung Suku Baduy gak terlalu rumit sih, tergantung dari mana asal tempat kamu aja, kalau masih sekitaran Jabodetabek sih aku nyaranin nya naik Commuter Line menuju Stasiun Rangkas Bitung lalu dilanjut naik Elf jurusan Ciboleger. Rumitnya itu nanti pas di Kampung Baduy Kamu Mau gak jalan kaki, wkwkwkwk.

Nah, Kenapa sih Aku lebih milih Trip ke Baduy..? Ada yang tau gak kenapa..? Ya yang jelas sih pengen coba aja dan ternyata Wisata Budaya itu lebih seru dan mengasikan ,selain itu kita bisa mendapatkan pelajaran yang berharga, apalagi Suku Baduy sendiri identik dengan kata “Bersatu Dengan Alam”.

 

Pada Bulan April lalu saya ditemani oleh 2 orang teman saya untuk bergegas menginjakan kaki di Kampung Baduy. Perjalanan dimulai dari kota yang istimewa yaitu kota Yogyakarta menuju Jakarta terlebih dahulu ada sedikit cerita sedih yang membuat aku makin bergairah menuju Kampung Baduy, (Cerita nya yaitu ketinggalan kereta yang gar- gara nya nungguin kawan plus memang hujan juga sih tepat pukul 14.10 aku baru berangkat dari kos menuju stasiun Lempuyangan, setelah tiba di Lempuyangan kereta yang aku naikin pun telah berangkat sekitar 5 menit yang lalu, mau gak mau aku pun memutuskan untuk membeli tiket kembali tetapi bukan tiket kereta melainkan tiket bus. Kalo gak salah Aku berangkat itu sekitar jam 5 sore dari salah satu terminal yang ada di Yogyakarta, ya perasaan’ku masih sedih lah karena duit hangus begitu saja, ya kalo dipikir-pikir mah bisa buat makan seminggu hahaha, maklum lah namanya juga anak rantau jadi makan itu perlu.

Di perjalanan dari Yogyakarta menuju Jakarta aku sedikit berfikir mengenai perjalanan kali ini apa yang bakal aku dapatkan dari hal-hal  yang kecil hingga tak terhingga. Selama di perjalanan aku pun sangat menikmati mulai dari jalan berlubang hingga macet yang tak kunjung usai, lalu kami sempatkan jiwa raga ini untuk beristirahat. Tiba-tiba aku pun dibangunkan dengan pantulan cahaya mentari pagi, ketika aku membuka gorden bus tampak hamparan padang rumput yang luas diiringi dengan sumringah mentari pagi saat itu ketika berada di Subang, wajarlah hijaunya Jawa Barat gak akan ada yang bisa nandingin, kalo menurut aku tapi hehehe, ketika memasuki kawasan Jakarta dan sekitarnya sudah mulai muncul suasana panas beraroma polusi, selang 3 jam kemudian bus yang Aku naikin tiba juga dicipondoh, lalu aku pun langsung memesan uber *gratis sih sebenarnya Cuma gak enak hati aja jadi aku kasih deh sesuai dengan tarifnya* untuk menuju ketempat kediaman kawan’ku.

Pada esok hari kami berangkat dari stasiun Poris pada pukul 07.00 menuju Rangkas Bitung, selama di kereta menuju Rangkas Bitung kami tidak kebagian kursi, alhasil berdiri, capek juga ternyata 2 jam berdiri hehehe. Setibanya di Rangkas Bitung kami ke Terminal Mandala untuk menaiki Elf jurusan Ciboleger dengah merogoh kocek sebesar 30ribu /kepala, perjalanan dari Mandala ke Ciboleger memakan waktu kurang lebih sekitar 3 Jam. Selama diperjalan kita selalu disuguhkan hijaunya pepohonan pastinya.

Setibanya di Ciboleger aroma suasana dan logat Sunda halus amat terasa. Ketika hendak tiba di Ciboleger kami ditanya oleh seorang bapak yang satu Elf dengan kami dan bapak itu sudah cukup tua.

B: Mau kemana a..?
K: Mau ke Baduy Pak , jawab dengan serentak.
B: Ada yang bawa..?
K: Gak ada pak.


Selang beberapa menit kemdian kami disuruh turun dari Elf, ya kami kebigungan kok diturunin. Ternyata kita suruh tinggal di tempat adiknya bapak itu yang bernama Pak Urik, ya Alhamdulillah kami disambut dengan manis dan membuat kami makin penasaran. Pak Urik itu orang sangat baik, ramah dan pokoknya bos andalan kita lah kalo kata ajudan pribadi mah wkwkw.

Lalu pada malam hari kita diajak pak urik ketempat Pak Sarip sebagai ketua pelaksana kegitan Saba Budaya Kampung Baduy itu letaknya di Kampung Kedungpeuteng, Desa Kanekes atau bisa disebut Baduy Luar. Disana kita berbincang bincang mengenai Adat Budaya Suku Baduy. Sanking keasikan berbincang ternyata waktu cepat berlalu dan kami kembali lagi ke kediaman Pak Urik.

Ketika pagi menyambut kami langsung bergegas untuk menysurui Kampung Baduy Luar saja dikarenakan sedang terjadi kegiatan Puasa yang mana Pengunjung tidak boleh memasuki kawasan Baduy Dalam. Masyarakat Baduy sendiri terbagi menjadi 2 yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam, cara membedakan mana baduy luar dan mana baduy dilihat cara berpakaiannya kalo Masyarakat Baduy luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna Hitam. Suku Baduy Luar biasanya sudah banyak berbaur dengan masyarakat sunda lainnya. Selain itu mereka juga sudah mengenal kebudayaan luar seperti sekolah dan ada sebagian masyarakat Baduy luar yang menggunakan alat elektronik sedangkan jika Masyarakat Baduy Dalam mengenakan serba putih putih dan belum terisolasi dengan kebudayaan luar

Pada masyarakat Baduy, laki-laki dan perempuan masing-masing memiliki peranan dan kedudukan yang peting, bahkan perempuan memiliki keunggulan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam masyarakat Baduy , Perempuan Baduy selain mempunyai fungsi dan peran yang sama dengan laki-lakinya, juga memiliki fungsi dan peran khas yang tidak boleh dilakukan oleh laki-laki. Dalam masyarakat Baduy dikenal dengan konsep Ambu. Kata ambu dalam bahasa Baduy digunakan dalam tataran mikrokosmos (Rumah Tangga) sebagai sebutan orang tua perempuan (ibu) maupun dalam tataran makrokosmos (Alam Semest ). Fungsi dan peranan Ambu dalam kedua tataran tersebut mirip yaitu sebagai pemeliharaan, pengayom dan pelindung. Oleh karena itu sosok Ambu dalam masyarakat Baduy sangat dihormati.

Dalam kehidupan sehari-hari, Ambu Baduy dapat dikatakan memiliki peranan ganda yakni dirumah tangga dan di ladang. Ambu baik dalam tataran mikrokosmos maupun makrokosmos tersebut mendudukkan perempuan pada posisi yang penting. Perempuan tidak menjadi “bawahan” laki-laki, melainkan berada dalam posisi yang lebih terhormat. Menghormati perempuan berarti pula menghormati Ambu. Berbuat kebajikan sesama makhluk dan lingkungan, serta menaati adat berarti juga menjunjung dan menghargai Ambu.

Dalam kegiatan pertanian di sawah atau ladang masyarakat Baduy menjunjung konsep Nyi Pohaci atau Nyi Pohaci Sang Hyang Asri (Nyi Sri) yang dianggap sebagai sumber atau pembawa kehidupan. Sebagai sumber kehidupan, Nyi Pohaci  menjadi pusat dan fokus pemujaan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Baduy yang bermata pencaharian utama berladang menanam padi. Rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas perladangan tersebut dianggap sebagai ibadah. Aktivitas Rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah dan mengasuh anak yang biasanya menjadi tugas khas dan pokok perempuan bagi laki-laki Baduy merupakan pekerjaan biasa, tidak tabu dan tidak malu untuk dilakukan. Khusus untuk pekerjaan yang berhubungan langsung dengan padi, menumbuk padi, mencuci beras dan memasak nasi harus dilakukan oleh perempuan Baduy, pekerjaan tersebut teu meunang tidak boleh atau tidak baik jika dikerjakan oleh laki-laki karena berkaitan dengan adat kesopanan kepada Nyi Pohaci . Selain itu perempuan Baduy belajar menenun pakaian dan membuat gula aren (kawung).

Dalam hubungan antar manusia, Masyarakat Baduy sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat. Sebagai suatu masyarakat yang pada dasarnya masih mencirikan masyarakat Egalitarian, kesetaraan sesama itu masih sangat terasa. Rumah, pakaian dan peralatan sehari-hari menunjukan kesamaan. Tidak ada perbedaan antara “penguasa” dan “rakyat biasa” dan tidak ada perbedaan pula antara “kaya” dan “miskin”.

Dalam kehidupan sekeluarga sehari-hari Masyarakat Baduy penuh rasa kasih dan tolong menolong. Laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab yang dipikul secara bersama-sama baik pekerjaan dirumah maupun di ladang. Bagi Masyarakat Baduy bekerja pada hakikatnya melaksanakan ibadah atau menjalankan ajaran dan ajuran “agama” dan adat. Oleh karena itu dalam masyarakat Baduy berkerja ( Beribadah ) bukan dilihat dari jenis kelamin apa, tetapi perbuatan atau pekerjaan yang bagaimana dilakukannya. Dengan begitu, perpisahan secara ketat atau deskriminasi pekerjaan bagi laki-laki dan perempuan Baduy pada dasarnya tidak dikenal.

Selain Kedudukan perempuan dalam Masyarakat Baduy yang sangat Istimewa, ada ritual yang sangat bernilai sakral yaitu ritual ngawalu tradisi ritual ini dikenal sebagai salah satu jenis upacara yang biasa dilakukan dalam rangka memperingati hasil panen, ritual ini biasanya dilakukan sebanyak tiga kali dalam setahun, masing-masing sekali dalam tiap-tiap bulan kawalu ini dikenal tiga macam: kawalu tembeuy, kawalu mitembeuy dan kawalu tutug. Lalu juga ada Ngalaksa adalah ritual lanjutan pasca upacara kawalu selesai. Bentuk ritual kegiatan upacara ini biasanya diisi dengan kegiatan upacara membuat laksa, yakni sejenis makanan adat mie tetapi lebih lebar atau seperti kwetiaw yang terbuat dari tepung beras. Jenis ritual ini wajib diikuti oleh seluruh masyarakat Baduy. Karena itu , keterlibatan warga sangat dijunjung tinggi pada saat upacara ngalaksa. Yang terakhir ada ritual seba ialah kegiatan silaturahmi pemerintahan Baduy kepada Pemerintahan nasional seperti Camat, Bupati hingga Gubernur. Tujuannya dari ketiga ritual tersebut adalah sebagai pengungkapan rasa syukur mereka atas segala anugerah yang diberikan Dewata Agung termasuk di dalamnya adalah hasil panen, serta meminta perlindungan pemerintah nasional agar selalu menjaga dan mempertahankan eksistensi daerah mereka agar tetap aman dan damai samapi kapan pun.

Sekarang waktunya buat mitos-mitosan tapi bukan sembarang mitos, mitos ini selalu dilakukan pada Masyarakat Baduy, yaitu mitos dalam arsitektur bangunan atau rumah, mitosnya apabila permukaan tanah tempat mendirikannya rumah ternyata tidak rata, maka bukan permukaan tanahnya yang diratakan, melainkan tiang panggung rumahnya yang disesuaikan tinggi atau rendahnya menurut kelerengan permukaan rumah. Lucu juga sih tapi inilah keunikan Masyarkat Baduy dalam membangun sebuah rumah.

Selain untuk mencari wawasan mengenai Adat dan Budaya Suku Baduy, ternyata banyak spot yang tidak dilewati oleh pengunjung yaitu Kampung Gajeboh yang sangat eksotis, jarak tempuhnya sekitar 2-3 kilometer dan bisa memakan waktu 1 jam, ternyata  jalan yang dilaluinya sangat turun naik –turun naik hehe.

Mungkin hanya itu sedikit cerita waktu di Kampung Baduy yang bisa aku tulis waktu dan semoga tulisan ku ini bisa bermanfaat bagi para pemmbaca. Sebenarnya masih banyak hal yang tidak bisa aku tulis disini bukan karena tidak mau menulis melainkan aku harus mendalami wawasan mengenai Adat dan Budaya Suku Baduy.

So, Kalian harus banget kesini untuk memahami mengenai Adat dan Budaya Suku Baduy karena Suku Baduy merupakan salah satu Suku di Indonesia yang hampir terancam punah, pokoknya kalian harus menjaga dan Melestarikan Adat Budaya Indonesia, karena Indoneisa gak cuma kaya akan alamnya saja melainkan Adat dan Budaya juga. Melalui cerita inilah, aku mencoba memberikan Inspirasi betapa hebatnya kekayaan yang dimiliki Indonesia. Sudah saatnya Indonesia tak hanya mengandalkan sumber daya alam saja, karena cepat atau lambat semua itu akan habis. Semoga keindahan alam dan Budaya yang ada diseluruh negeri ini bisa menjadi tumpuan hidup seluruh bangsa yang diberikan tuhan secara Cuma-Cuma.

Dan ada sepatah dua patah kata yang membuat aku makin cinta negeri ini,yaitu “Jika kamu bicara Indonesia, maka tidak akan ada habisnya” dan “Bawalah badanmu keliling dunia,tetapi tujukanlah jiwamu tetap kepada Tuhan dan Indonesia”

Tourism Stundent

Leave a Reply